hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan


Meninggalkan komentar

Penciptaan Manusia dan Berbakti kepada Orang Tua


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur`an sebagai pendoman hidup manusia. Ayat-ayat dalam al-Qur`an sudah menjelaskan tentang segala sesuatu di muka bumi ini, termasuk mengenai proses penciptaan manusia. Bagaimana seorang manusia dapat tercipta di dunia ini sebagai makhluk yang paling mulia di bumi.
Ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, ada pula ayat-ayat yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, tembikar, Lumpur, sari pati tanah, sari pati air yang hina, air yang tertumpah, dan mani yang dipancarkan. Untuk lebih mengetahui mengenai hal tersebut maka dengan judul Penciptaan manusia kami paparkan bagaima penciptaan manusia.
Islam telah mengajarkan kepada kita agar berbakti kepada orang tua, mengingat banyak dan besarnya pengorbanan serta kebaikan orang tua terhadap anak, yaitu memelihara dan mendidik kita dejak kecil tanpa perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak mengharapkan balasan sedikit pun dari anak, meskipun anak sudah mandiri dan bercukupan tetapi orang tua tetap memperlihatkan kasih sayangnya, oleh karena itu seorang anak memiliki macam-macam kewajiban terhadap orang tuanya menempati urutan kedua setelah Allah Swt, dan kita juga dilarang durhaka kepada orang tua. Dalam makalah ini, pemakalah akan memaparkan tentang birrul walidain dan ‘uququl walidain.

B. Rumusan Masalah
1. Sebutkan hadis tentang proses penciptaan manusia?
2. Bagaimana proses penciptaan manusia?
3. Sebutkan hadis tentang berbakti kepada orang tua?
4. Apakah yang dimaksud dengan berbakti kepada orang tua?
5. Bagaimana kedudukan birul walidain?
6. Sebutkan macam-macam birul walidain?
7. Sebutkan doa anak untuk orang tua?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui hadis tentang proses penciptaan manusia
2. Mengetahui proses penciptaan manusia
3. Mengetahui hadis tentang berbakti kepada orang tua
4. Mengetahui definisi berbakti kepada orang tua
5. Mengetahui kedudukan birul walidain
6. Mengetahui macam-macam birul walidain
7. Mengetahui doa anak untuk orang tua

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadist Tentang Penciptaan Manusia

حد يث ءَ بْدِ اللهِ يْنِ مَسْعُودِز قَالَ : حَدَّ ثَنَا رَسُو لُ اللهِ صلى الله عليه وسليم, وَهْوَ الصَّادِ قُ الْمَصْدُ وقُ, قَالَ: أِ نَّ أَحْدَ كُمْ يُحْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّ أَمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْ مَا. ثُمَّ يَكُو نُ عَلَقَةُ مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يَكُو ن مُضْغَةً مِثْلَ ذ لِكَ. ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ مَلَكُا فَيُؤْ مَرُ بِأَ رْ بَعِ كُلِمَا تِ, وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِّ أَوْ سَعِيدٌ. ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَأِ نَّ الرَّ جُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُُ حَتَّى مَا يَكُو نُ يَنْنَهُ وَ بَيْنَ اَلجنَّةِ أِلاَّذِرَاعٌ, فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَا بُهُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ يًنْهُ وَبَيْنَ النَّا رِ أِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ اَلجْنَّةِ
Artinya :
Abdullah bin Mas’uud r.a berakta. Rasulullah SAW yang benar dan harus dibenarkan telah menerangkan kepada kami: sesungguhnya seseorang terkumpul kejadiannya dalam perut ibunya empat puluh haru beruma mani, kemudian berupa sekepal darah darah selama itu juga, kemudian berubah berupa sekepal daging selama itu juga, kemudian Allah mengutus Malaikat yang diperintah mencatata empat kalimat dan diperintah : Tulislah amalan, rizqinya, ajalnya dan nasib baiknya atau sial (celaka), kemudian ditiup ruh kepadanya. Maka sesungguhnya adakalanya seorang dari kamu melakukan amala ahli sorga sehingga antaranya dengan sorga hanya sehasta, tetapi ada ketentuan dalam surat pertama, tiba-tiba melakukan amal ahli neraka, dan adalanya seorang berbuat amal ahli neraka sehingga antaranya dengan neraka hanya sehasta, tiba-tiba dalam ketentuan suratannya ia berubah mengerjakan amal ahli sorga (Bukhari, Muslim)
Allah memberi tahu kepada makhluk yang telah tercipta lebih terdahulu, terutama para malaikat, bahwa Dia akan menciptakan khalifah (penguasa atau Petugas) di muka bumi. Yang dimaksud dengan khalifah adalah makhluk manusia dan yang pertamanya diberi nama Adam. Al-Quran telah menyatakan bahwa Allah telah menciptakan seorang yang bernama Adam, yang merupakan asal jenis manusia. Dan bahwa jenis manusia itu diciptakan dari tanah kemudian ditiupkan rohnya maka jadilah wujud manusia. Di samping itu penciptaan manusia pertama tidak melalui proses dari kecil atau bayi kemudian membesar yang memakan waktu dari hari ke hari bahkan dari bulan ke bulan atau tahun ke tahun akan tetapi, ia tercipta secara “instan” langsung dalam bentuk besarnya yang sempurna seperti yang ada. Dalam al-Quran juga dijelaskan bahwa generasi manusia berikutnya setelah Adam tidak lagi diciptakan dari tanah. Tetapi terbentuk dari sperma yang sekalipun bila ditelusuri ia berasal dari tanah juga. Sebagaimana difirmankan dalam al-Quran surat As-Sadjah ayat 7-9:
Artinya: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
 ProsesPenciptaan manusia
Manusia setelah Adam diciptakan melalui beberapa fase penahapan, fertilisasi atau pembuahan adalah peleburan antara inti sel telur dengan inti sel sperma. Dari ratusan juta sperma hanya satu yang berhasil membuahi sel telur. Fertilisasi berlangsung di saluran telur, saat fertilisasi kepala sperma menembus dinding sel telur sedangkan ekornya tertinggal di luar. Selanjutnya inti telur dan inti sperma bersatu setelah bersatu ovum menjadi zygote. Tahap-tahap perkembangan embrio menjadi janin dan menjadi bayi yang siap dilahirkan adalah sebagai berikut. Perkembangan janin dibagi dalam tiga tahapan besar. Pertama adalah perkembangan pada triwulan I, mulai dari zygote terbentuk sampai janin berusia tiga bulan; perkembangan terpusat pada perkembangan fungsi-fungsi organ, seperti otak, jantung, paru-paru. Pada triwulan II (bulan empat, lima dan enam) pertumbuhan terpusat pada anggota tubuh yaitu kaki, tangan, jari-jari, pada triwulan III, dapat dikatakan bahwa pembentukan sebagian organ telah lengkap. Dari sperma hingga menjadi bentuk janin memakan waktu selama 120 hari yakni sebagai berikut:
a. Tahap pertama, dalam bentuk sperma yang meresap dalam tubuh perempuan atau kandungan ibu. Melalui proses selama empat puluh hari (masa ngidam);
b. Tahap kedua, adalah dalam bentuk ‘alaqah yakni pembekuan atau penggumpalan darah dan menempel di dinding rahim, melalui proses selama empat puluh hari;
c. Tahap ketiga, adalah dalam bentuk mudhgah (embrio) yang melalui proses selama empat puluh hari, sehingga semua proses tersebut berjumlah 120 hari atau empat bulan; dan kemudian;
d. Tahap keempat; adalah adanya roh atau jiwa pada janin dan jadilah manusia.
Dengan demikian manusia setelah Adam dan Hawa, tidak lagi tercipta dari tanah secara instan langsung menjadi manusia dewasa. Akan tetapi ia tercipta dari sperma dan melalui proses dalam rahim di perut seorang ibu. Kemudian manusia terlahir ke dunia dan menuju kematangan yang memakan waktu cukup lama. Bahkan makhluk hewan lebih cepat matang dari manusia. Berbeda dengan hewan, untuk bisa bicara dan makan serta berbicara, manusia memerlukan waktu yang relatif tidak sedikit

B. Birul Walidain (Berbakti Kepada Orang Tua)
1) Hadis Tentang Birul Walidain (Berbakti Kepada Orang Tua)
 Hadis Abdullah ibnu Umar tentang ridho Allah terletak pada ridho orang tua.

عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

 Hadis Abu Hurairah tentang siapakah yang berhak dipergauli dengan baik.
عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ (اخرجه البخاري)
Artinya: dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “ Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “ Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “ Bapakmu!”(H.R.Bukhari).

 Hadis Abdullah bin Mas’ud tentang amal yang paling disukai Allah SWT.
عَبْدُ الله بن مَسْعُودٍ قال سَاَ لْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ايُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الى الله قال: الصَّلَاةُ على وَقْتِهَا قال: ثم اي قال:ثُمَّ بِرُّ الْوَالْدَيْنِ قال: ثم اي قال: الجِهَادُ فى سَبِيْلِ الله (اخرجه البخاري و مسلم)
Artinya: “ dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: “ Saya bertanya kepada Nabi saw: amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” beliau menjawab: “ shalat pada waktunya. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berbuat baik kepada kedua orang tua. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berjihad(berjuang) di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 Hadis Al-Mughirah bin Su’bah tentang Allah mengharamkan durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya.
عن المغيرة بن شعبة قال النبي صلى الله عليه وسلم : ان الله حرم عليكم عقوق الامهات ووأد البنات ومنع وهات وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال واضاعة المال (اخرجه البخاري)
Artinya: dari Al-Mughirah bin Syu’ban r.a. ia berkata, Nabi Saw telah bersabda: “ Sungguh Allah ta’ala mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya dan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Allah juga membenci orang yang banyak bicara, banyak pertanyaan dan menyia-nyiakan harta.” (H.R.Bukhari).

 Hadis Abdullah ibnu Umar tentang dosa-dosa besar.
عن عبد الله بن عمر ورضى الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان من اكبر الكبا ئر ان يلعن الر جل والديه . قيل رسول الله.و كيف يلعن لر جل والديه ؟ قا ل: يسب الرجل ابا لرجل فيسب أبا لرجل فيسب أبا ه و يسب ( أخر جه امام بخاري)
Artinya: “ dari Abdullah bin ‘amr bin al-ash ia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda: “ diantara dosa-dosa besar yaitu seseorang memaki kedua orang tuanya. “ para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang memaki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “ Ya, apabila seseorang memaki ayah orang lain, kemudian orang itu membalas memaki ayahnya kemudian ia memaki ibu orang lain, dan orang itu memaki ibunya. (H.R. Bukhari).

2) Definisi Birrul Walidain
Istilah Birrul Walidain terdiri dari kata Birru dan al-Walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Jadi, Birrul Walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua.
3) Kedudukan Birrul Walidain
Birrul Walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam. Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina. Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses reproduksi dan regenerasi umat manusia.
Secara khusus Allah juga mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, menyusui, merawat dan mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak ikut mengandung tapi dia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya, sehingga mempu berdiri bahkan sampai waktu yang sangat tidak terbatas.
Berdasarkan semuanya itu, tentu sangat wajar dan logis saja, kalau si anak dituntut untuk berbuat kebaikan kepada orang tuanya dan dilarang untuk mendurhakainya.
4) Bentuk-Bentuk Birrul Walidain
Adapun bentuk-bentuk Birrul Walidain di antaranya:
a. Taat dan patuh terhadap perintah kedua orang tua, taat dan patuh orang tua dalam nasihat, dan perintahnya selama tidak menyuruh berbuat maksiat atau berbuat musyrik, bila kita disuruhnya berbuat maksiat atau kemusyrikan, tolak dengan cara yang halus dan kita tetap menjalin hubungan dengan baik.
b. Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap hormat, sopan santun, baik dalam tingkah laku maupun bertutur kata, memuliakan keduanya, terlebih di usia senja.
c. Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh, maupun masalah lainnya. Selama keinginan dan saran-saran itu sesuai dengan ajaran Islam.
d. Membantu Ibu Bapak secara fisik dan materil. Misalnya, sebelum berkeluarga dan mampu berdiri sendiri anak-anak membantu orang tua terutama ibu. Dan mengerjakan pekerjaan rumah.
e. Mendoakan Ibu Bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirta.
f. Menjaga kehormatan dan nama baik mereka.
g. Menjaga, merawat ketika mereka sakit, tua dan pikun.
h. Setelah orang tua meninggal dunia, Birrul Walidain masih bisa diteruskan dengan cara antara lain:
– Mengurus jenazahnya dengan sebaik-baiknya
– Melunasi semua hutang-hutangnya
– Melaksanakan wasiatnya
– Meneruskan sillaturrahmi yang dibinanya sewaktu hidup
– Memuliakan sahabat-sahabatnya
– Mendoakannya.
5) Doa Anak untuk Orang Tua
Seorang anak yang ingin mendoakan kedua orang tuanya dapat mengambil contoh dari ayat suci Alquran yaitu, doa Nabi Ibrahim as ketika mengajukan permohonan kepada Allah Swt agar dapat lah kiranya Allah memberi ampunan pada kedua orang tuanya dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat.
Doa Nabi Ibrahim as dalam Q.S.Ibrahim:41
41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
Permohonan Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Israa’: 24
24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1) Hadis tentang proses penciptann manusia
حد يث ءَ بْدِ اللهِ يْنِ مَسْعُودِز قَالَ : حَدَّ ثَنَا رَسُو لُ اللهِ صلى الله عليه وسليم, وَهْوَ الصَّادِ قُ الْمَصْدُ وقُ, قَالَ: أِ نَّ أَحْدَ كُمْ يُحْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّ أَمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْ مَا. ثُمَّ يَكُو نُ عَلَقَةُ مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يَكُو ن مُضْغَةً مِثْلَ ذ لِكَ. ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ مَلَكُا فَيُؤْ مَرُ بِأَ رْ بَعِ كُلِمَا تِ, وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِّ أَوْ سَعِيدٌ. ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَأِ نَّ الرَّ جُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُُ حَتَّى مَا يَكُو نُ يَنْنَهُ وَ بَيْنَ اَلجنَّةِ أِلاَّذِرَاعٌ, فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَا بُهُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ يًنْهُ وَبَيْنَ النَّا رِ أِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ اَلجْنَّةِ
Artinya :
Abdullah bin Mas’uud r.a berakta. Rasulullah SAW yang benar dan harus dibenarkan telah menerangkan kepada kami: sesungguhnya seseorang terkumpul kejadiannya dalam perut ibunya empat puluh haru beruma mani, kemudian berupa sekepal darah darah selama itu juga, kemudian berubah berupa sekepal daging selama itu juga, kemudian Allah mengutus Malaikat yang diperintah mencatata empat kalimat dan diperintah : Tulislah amalan, rizqinya, ajalnya dan nasib baiknya atau sial (celaka), kemudian ditiup ruh kepadanya. Maka sesungguhnya adakalanya seorang dari kamu melakukan amala ahli sorga sehingga antaranya dengan sorga hanya sehasta, tetapi ada ketentuan dalam surat pertama, tiba-tiba melakukan amal ahli neraka, dan adalanya seorang berbuat amal ahli neraka sehingga antaranya dengan neraka hanya sehasta, tiba-tiba dalam ketentuan suratannya ia berubah mengerjakan amal ahli sorga (Bukhari, Muslim)

2. Prose penciptaan manusia
a. Tahap pertama, dalam bentuk sperma yang meresap dalam tubuh perempuan atau kandungan ibu. Melalui proses selama empat puluh hari (masa ngidam);
b. Tahap kedua, adalah dalam bentuk ‘alaqah yakni pembekuan atau penggumpalan darah dan menempel di dinding rahim, melalui proses selama empat puluh hari;
c. Tahap ketiga, adalah dalam bentuk mudhgah (embrio) yang melalui proses selama empat puluh hari, sehingga semua proses tersebut berjumlah 120 hari atau empat bulan; dan kemudian;
d. Tahap keempat; adalah adanya roh atau jiwa pada janin dan jadilah manusia.
3. Hadis tengan birul walidain
3. عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
4. Definisi birul walidain
Istilah Birrul Walidain terdiri dari kata Birru dan al-Walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Jadi, Birrul Walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua.
5. Kedudukan birul walidain
Birrul Walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam. Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina. Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses reproduksi dan regenerasi umat manusia.
6. Macam-macam birul walidain
a. Taat dan patuh terhadap perintah kedua orang tuab.
b. Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua
c. Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan
d. Membantu Ibu Bapak secara fisik dan materil.
e. Mendoakan Ibu Bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirta.
f. Menjaga kehormatan dan nama baik mereka.
g. Menjaga, merawat ketika mereka sakit, tua dan pikun.
h. Setelah orang tua meninggal dunia.
7. Doa Anak untuk Orang Tua
Doa Nabi Ibrahim as dalam Q.S.Ibrahim:41
41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
Permohonan Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Israa’: 24
24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

DAFTAR PUSTAKA

http//wwwfile:///E:/my%20DOKUMEN/SEMESTER%206/HADIS%20TARBAWI/HADITS%20TENTANG%20BERBAKTI%20KEPADA%20ORANG%20TUA%20_%20Islamic%20Centre.htm

http//wwwfile:///E:/my%20DOKUMEN/SEMESTER%206/HADIS%20TARBAWI/Hadist%20tarbawi%20%28TAHAPAN%20PENCIPTAAN%20MANUSIA%20_%20www.AmaArul.co.cc.htm


Meninggalkan komentar

Menyekutukan Tuhan dan 7 Dosa Besar


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Tidak akan luput dari masalah dan dosa. Besar kemungkinan masalah-masalah ini sebab tidak kuatnya seseorang dalam menahan hawa nafsu, terutama nafsu yang mengajak kepada kesesatan (Nafsu Lawwamah). Setiap salah ataupun dosa pasti akan menjadi tanggungan bagi si pelakunya baik di dunia maupun di akhirat kelak, karena setiap perbuatan dosa pasti akan mendapatkan balasan (siksa). Sekecil apapun perbuatan dosa pasti akan di pertanggung jawabkan terlebih lagi perbuatan yang termasuk ke dalam dosa besar. Apakah dosa itu? Dan, apa saja pulakah yang tergolong dosa-dosa besar? Berkaitan dengan hal tersebut Pada kesempatan kali ini pemakalah bermaksud memaparkan mengenai dosa-dosa besar menurut Hadist bersasarkan Rosulallah SAW.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan menyekutukan Tuhan?
2. Apa sajakah 7 dosa besar yang disebutkan dalam hadist?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang menyekutukan Tuhan
2. mengetahui 7 dosa besar yang disebutkan dalam hadist

BAB II
PEMBAHASAN
A. Menyekutukan Tuhan
Hadist :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ وَهْبَ بْنَ جَرِيرٍ وَعَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ إِبْرَاهِيمَ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَبَائِرِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ تَابَعَهُ غُنْدَرٌ وَأَبُو عَامِرٍ وَبَهْزٌ وَعَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ شُعْبَةَ
Arti Hadits :
(BUKHARI – 2459) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Munir dia mendengar Wahb bin Jarir dan ‘Abdul Malik bin Ibrahim keduanya berkata, telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari ‘Ubaidullah bin Abi Bakar bin Anas dari Anas radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang kaba’ir (dosa-dosa besar). Maka Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua, membunuh orang dan bersumpah palsu”. Hadits ini diikuti pula oleh Ghundar, Abu ‘Amir, Bahz dan ‘Abdush Shamad dari Syu’bah.
Apabila kita melihat keadaan manusia pada hari ini, kita dapati bahawa –masyaAllah- memang manusia sudah mencapai kemajuan dari sudut keduniaan, teknologi, juga kebendaan. Namun dalam masa yang sama, dalam kemajuan kebendaan itu, kita dapati masih ada lagi pemikiran-pemikiran kolot dan ketinggalan zaman yang rusak dan menyimpang di kalangan manusia secara umumnya dan di kalangan Umat Islam secara khasnya; iaitu manusia masih lagi percaya kepada kuasa-kuasa, benda-benda yang secara Syarak dan secara logiknya pun jelas bahawa ianya menyimpang.
Kekurangan dan ketinggalan dari segi pemikiran dan kesucian akidah masyarakat Islam yang masih lagi tercemar, rosak dan lemah menunjukkan kepada kita bahawa perlunya usaha diambil untuk dibetulkan dan ditambahkan mana yang kurang, khususnya dalam perkara-perkara akidah, kerana ia menjadi tunjang kepada Agama Islam.
Mereka yang mendakwa bahawa Umat Islam tidak perlu lagi didedahkan atau diajar tentang perkara-perkara Tauhid dan Akidah, mereka yang mendakwa bahawa perkara-perkara ini telah diajar dan telah khatam ketika sekolah rendah, jelas bahawa dakwaan-dakwaan seperti ini adalah salah.
Bahkan ada yang mengatakan bahawa kita tidak perlu lagi membahaskan tentang perkara Tauhid, sebaliknya kita perlu maju terus membincangkan perkara-perkara yang lebih penting yang melibatkan masalah Umat, contohnya masalah rasuah, penyelewengan, atau masalah politik. Semua ingin membincangkan masalah politik. Tetapi masalah Akidah yang membabitkan Tauhid serta apa yang bercanggah dengannya iaitu Syirik, masyarakat Islam masih lagi ketinggalan.
Buktinya ialah masyarakat Islam masih percaya kepada Bomoh, Sihir, Tangkal, dan seumpamanya.
B. 7 Dosa Besar Yang disebutkan dalam Hadist
Hadist :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Arti Hadist :
(BUKHARI – 6351) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Tsaur bin Zaid dari Abul Ghaits dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan.” Para sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apa saja tujuh dosa besar yang membinasakan itu? ‘ Nabi menjawab; “menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukmin baik-baik melakukan perzinahan.”

Penjelasan Hadits :
Mengapa ketujuh dosa yang disebutkan diatas disebut dosa besar yang membinasakan, mungkin karena dampak mudhorot yang di timbulkan sangatlah besar, setiap kejahatan yang mudharatnya lebih besar, maka ia disebut sebagai dosa-dosa besar yang membinasakan dan siksanya pun sangat berat. Adapun kejahatan yang mudharatnya lebih rendah dari itu, maka ia tergolong kepada dosa-dosa kecil yang dapat terhapus dengan jalan menjauhi dosa-dosa besar.
Allah Ta’ala berfirman,
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS An-Nisa 31)

Dalam penjelasan hadis di atas, pada dasarnya adalah seruan kepada agar menjauhi tujuh dosa yang membinasakan. Tujuh dosa ini bukan berarti pembatasan (hanya tujuh perkara) atas dosa-dosa yang membinasakan. Tetapi hal ini sebagai peringatan atas dosa-dosa yang lainnya.
Dari penjelasan hadist diatas ada 7 macam dosa besar yang beberap pada pembahsan sebelumnya telah di bahasa yaitu syirik dan membunuh jiwa. Berikut ini penejalasannya :
1. Syirik (Mensekutukan Allah)
Syirik adalah menyamakah selain Allah dengan Allah, Syirik ada dua macam; pertama Syirik dalam Rububiyyah, yaitu menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta, sebagaimana Allah berfirman :
                          � 
Artinya : Katakanlah: “serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.

Kedua ; Syirik dalam uluhiyyah. Yaitu beribadah atau berdoa kepada selain Allah baik dalam bentuk do’a ibdadah maupun do’a masalah
Syirik dalam pembahasan ini adalah syirik besar bukan syirik kecil (riya), syirik disini adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, yaitu memuji-muja dan menyembah makhluk-Nya seperti pada batu besar, kayu, matahari, bulan, nabi, kyai (alim ulama), bintang, raja dan lain-lain.
Syirik dikategorikan sebagai dosa paling besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
•   �    �         
     
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

Syirik adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya yang merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Perbuatan lain yang termasuk juga dosa besar adalah durhaka terhadap ayah bunda, membunuh jiwa manusia, dan menjadi saksi palsu.
Rasulullah juga memperingatkan agar kita jangan sampai terperosok ke dalam tujuh macam perbuatan dosa yang menghancurkan, terutama perbuatan menduakan Allah. Sebab, syirik adalah dosa yang paling besar, dan perbuatan syirik ibarat menghina Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh alam ini. Apabila seseorang menjadikan Tuhan selain Allah, berarti ia menganggap Allah itu lemah, yang sudah barang tentu merupakan perbuatan kurang ajar terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

2. Sihir

Apa itu sihir ? sihir berasal dari kata sahara yaitu waktu malam yang paling akhir dan permulaan munculnya siang, saat gelap bercampur dengan cahaya dan segala sesuatu manjadi tidak kelihatan dengan jelas. Seperti itulah hakikat sihir, sesuatu yang menurut khayalan nyata, namun sebenarnya tidak nyata. Dia bertumpu pada dua hal yaitu menyihir mata dan membuatnya melihat sesuatu kenyataan. Akan Tetapi dia sebenarnya tidak mengubah tabiat sesuatu. Oleh karenanya allah SWT berfirman tetnang sihir Firaun :
     �  ••   �  
Artinya Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan).

Sihir yang dimaksud dalam bahasan ini adalah tata cara yang bertujuan merusak rumah tangga orang lain atau menghancurkan orang lain dengan jalan meminta bantuan kepada setan, mengapa digolongkan kepada dosa besar karena sihir berarti kita mempercayai adanya kekuatan yang besar selain allah. Maka pantaslah atas balasan siksa atas sihir.

3. Membunuh Jiwa Manusia
Maksud membunuh dalam pembahasan ini adalah membunuh jiwa yang diharamkan tanpa hak dengan sengaja (Q.S. 25: 68 -70). Orang yang berbuat seperti itu akan dimasukkan ke neraka jahanam dan kekal didalamnya. Sebagaimana firman Allah:
     •       
   
Artinya :
“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisa: 93)

4. Memakan Harta Riba
Riba menurut Bahasa adalah tambahan, sedangkan mengenai definisi riba menurut syara para ulama berbeda pendapat. Akan tetapi, secara umum riba diartikan sebagai utang-piutang atau pinjam meminjam atau barang yang disertai dengan tambahan bunga.
Agama Islam dengan tegas melarang umatnya memakan riba: Sebagaimana firman-Nya.
     �    •    
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali-Imran: 130)
Hal itu, antara lain, karena riba merugikan dan mencekik pihak yang berhutang. Ia diharuskan membayar dengan bunga yang berlipat. Seandainya terlambat membayar, bunganya pun akin terus berlipat. Perbuatan seperti itu telah banyak dilakukan pada zaman jahiliyyah, dan para ulama menyebutnya istilah riba nasiah. Adapun bentuk riba lainnya adalah riba riba fadhal, yakni menukar barang dengan barang sejenis, namun salah satunya lebih banyak atau lebih sedikit daripada yang lainnya.
5. Memakan Harta Anak Yatim
Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya ketika ia masih kecil atau dengan kata lain ditinggal mati oleh orang yang menanggung nafkahnya. Dengan demikian, anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya tidak dikatakan yatim. Ini karena dalam Islam, penanggung jawab untuk mencari nafkah adalah ayah. Sebutan yang lazim di kalangan masyarakat bagi anak kecil yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya adalah yatim piatu.
Memakan harta anak yatim dilarang apabila dilakukan secara zalim. Seperti firman Allah SWT:
•            
 � 
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)
Dengan demikian apabila dilakukan dengan cara yang patut (baik), orang yang memelihara anak yatim boleh mengambil sedikit harta anak tersebut (QS. 6: 152) yaitu mengambil sebatas biaya pemeliharaannya. Itupun kalau si anak sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, apabila mampu, sebaiknya ia tidak mengambil harta yatim tersebut (QS. 4: 6).
Islam sangat memperhatikan nasib anak yatim. Allah SWT akan memberikan pahala yang besar kepada siapa saja yang memelihara anak yatim. Nabi akan berada di sisi orang yang memelihara anak yatim dan jarak antara beliau dengannya bagaikan antara dua jari. Selain itu, Allah pun akan mencukupkan orang yang memelihara anak yatim, dan menjanjikan pahala surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Barang siapa yang menanggung makan dan minum (memelihara) anak yatim dari orang Islam, Allah SWT akan mencukupkan dia dan menghasurkannya masuk surga, kecuali ia melakukan dosa yang tak terampunkan.” (HR. Turmudzi)

6. Melarikan Diri Dari Perang (Jihad)
Islam mewajibkan umatnya untuk memelihara, menjaga, mempertahankan, dan membela agamanya. Jika islam diserang dan diperangi musuh, umat Islam diwajibkan berperang. (QS. 22: 39)
Islam melarang umatnya untuk berpaling atau melarikan diri dari medan perang, sebagaimana firman-Nya:
Artinya :
   �  �   �      
   •   � 
“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al-Anfal: 16)
Orang yang lari dari perang (jihad) telah menipu dirinya sendiri dan telah berkhianat kepada Allah SWT dan ia dianggap tidak lagi meyakini kemahakuasaan Allah SWT yang senantiasa menolong setiap hamba-Nya yang sedang berjuang menegakkan agama Allah SWT.
Oleh karena itu, meninggalkan medan jihad tanpa alasan yang dapat diterima akal termasuk dosa besar dan pelakunya akan mendapat azab Allah SWT

7. Menuduh Wanita Mukminat Yang Baik-Baik (Berkeluarga) Dengan Tuduhan Zina.
Perempuan baik-baik dalam Islam ialah seorang mukminat yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan menjaga kehormatannya dari perbuatan keji (zina).
Apabila wanita seperti itu dituduh zina tanpa disertai syarat yang telah ditetapkan syara’, seperti mendatangkan empat saksi an menyaksikan dengan kepala sendiri, maka penuduhnya wajib didera delapan puluh kali dan kesaksiannya tidak boleh diterima selama-lamanya. Allah SWT berfirman:
 �      ¬    
   ¬      
Artinya :
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 4)

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Apabila kita melihat keadaan manusia pada hari ini, kita dapati bahawa –masyaAllah- memang manusia sudah mencapai kemajuan dari sudut keduniaan, teknologi, juga kebendaan. Namun dalam masa yang sama, dalam kemajuan kebendaan itu, kita dapati masih ada lagi pemikiran-pemikiran kolot dan ketinggalan zaman yang rusak dan menyimpang di kalangan manusia secara umumnya dan di kalangan Umat Islam secara khasnya; iaitu manusia masih lagi percaya kepada kuasa-kuasa, benda-benda yang secara Syarak dan secara logiknya pun jelas bahawa ianya menyimpang

2. Perbuatan dosa besar adalah suatu larangan dari allah dan Rosulallah dari penjabaran hadist diatas, dosa besar itu jumlahnya ada banyak diantaranya : syirik, sihir, membunuh jiwa tanpa hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh zina kepada wanita-wanita mukminin yang senantiasa memelihara dirinya. Dosa dosa tersrbut merupakan dosa yang besar dan pastinya mempunyai hukuman yang berat bagi pelakunya, baik hokum di dunia maupun di akhirat kelak yang tidak dapat seorangpun yang dapat mengelak dari hokum Allah.


2 Komentar

Adab dan Etika dalam Menuntut Ilmu


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan adalah sebaik-baik sesuatu yang disukai, sepenting-penting sesuatu yang dicari dan merupakan sesuatu yang paling bermanfaat, dari pada selainnya. Kemuliaan akan didapat bagi pemiliknya dan keutamaan akan diperoleh oleh orang yang memburunya. Allah SWT berfirman :
          
Artinya: Katakanlah” (Wahai Muhammad) Adakah sama orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu.” (Q.s Az-Zumar :9)

Dengan ayat ini Allah SWT, tidak mau menyamakan orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, disebabkan oleh manfaat dan keutamaan ilmu itu sendiri dan manfaat dan keutamaan yang akan didapat oleh orang yang berilmu

Dalam kehidupan dunia, ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan memberikan kemudahan bagi kehidupan baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan bermasyarakat. Menurut al-Ghazali dengan ilmu pengetahuan akan diperoleh segala bentuk kekayaan, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, jabatan, dan kekuasaan. Apa yang dapat diperoleh seseorang sebagai buah dari ilmu pengetahuan, bukan hanya diperoleh dari hubungannya dengan sesama manusia, para binatangpun merasakan bagaimana kemuliaan manusia, karena ilmu yang ia miliki. Dari sini, dengan jelas dapat disimpulkan bahwa kemajuan peradaban sebuah bangsa tergantung kemajuan ilmu pengetahuan yang melingkupi.

Dalam kehidupan beragama, ilmu pengetahuan adalah sesutau yang wajib dimiliki, karena tidak akan mungkin seseorang mampu melakukan ibadah yang merupakan tujuan diciptakannya manusia oleh Allah, tanpa didasari ilmu. Minimal, ilmu pengetahuan yang akan memberikan kemampuan kepada dirinya, untuk berusaha agar ibadah yang dilakukan tetap berada dalam aturan-aturan yang telah ditentukan. Dalam agama, ilmu pengetahuan, adalah kunci menuju keselamatan dan kebahagiaan akhirat selama-lamanya.
Uraian di atas hanyalah uraian singkat betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, baik untuk kehidupan dirinya pribadi, maupun dalam hubungan dirinya dengan benda-benda di sekitarnya. Baik bagi kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Ada banyak hadits, firman Allah, dan pendapat para ulama tentang pentingnya ilmu pengetahuan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah keutamaan ilmu dan pandangan para ulama dalam perspektif hadis?
2. Bagaimanakah Anjuran Menuntut Ilmu dalam Perspektif Hadist?
3. Bagaimanakah Adab menuntut ilmu dalam Perspektif Hadist?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui keutamaan ilmu dan pandangan para ulama dalam perspektif hadis
2. Mengetahui Anjuran Menuntut Ilmu dalam Perspektif Hadist
3. Mengetahui Adab menuntut ilmu dalam perspektif Hadis


BAB II
PEMBAHASAN
A. Keutamaan Menuntut Ilmu
1. Hadis & Terjemah
Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah SWT mengajarkan kepada adam dan semua keturunannya. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas sebagai khalifah maupun tugas ubudiah . Oleh karena itu, Rasulullah SAW menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan ini ditemukan hadis, yaitu sebagai berikut.
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ فَاءِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَا نِ فِى فَرِ يضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَ حَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada oraang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban, mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’”(HR. Ad-Daruquthni, dan Al-bahaqi) .
Dalam hadis ini ada tiga perintah belajar, yaitu perintah mempelajari al-‘ilm, al-fara’id, dan Al-Quran. Menurut Ibnu Mas’ud, ilmu yang dimaksudkan di sini adalah ilmu syariat dan segala jenisnya. Al-Fara’id adalah ketentuan-ketentuan, baik ketentuan islam secara umum maupun ketentuan tentang harta warisan. Mempelajari Al-Quran mencakup menghafalnya. Setelah dipelajari ajarkan pula kepada orang lain supaya lebih sempurna. Beliau memerintahkan agar sahabat mempelajari ilmu karena beliau sendiri adalah manusia seperti manusia pada umumnya. Pada suatu saat, beliau akan wafat. Dengan adanya orang mempelajari ilmu, ilmu pengetahuan itu tidak akan hilang.
Mengingat pentingnya ilmu pengetahuan dalam hadis di atas, setelah mempelajari, ilmu harus diajarkan kepada orang lain. Rasulullah SAW mengkhawatirkan apabila beliau telah wafat dan orang-orang tidak peduli dengan ilmu pengetahuan,maka tidak ada lagi orang yang mengerti agama, sehingga umat akan kebingungan.
Selain perintah menuntut ilmu pengetahuan dalam hadis di atas, masih ada lagi hadis yang lebih tegas tentang kewajiban menuntut ilmu, yaitu sebagai berikut.
عَنْ حُسَيْن بنِ عَلِّي قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Husain bin Ali meriwayatkan bahwa rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, abu Ya’la, Al-Qqudha’i, dan Abu Nu’aim Al-Ashbahani) .
Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menegaskan dengan dengan menggunakan kata faridhah (wajib atau harus). Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar urgen dalam kehidupan manusia, terutama orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik menurut ukuran ajaran Islam. Apabila ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau mencari ilmu, maka ia dipandang telah melakukan suatu pelanggaran, yaitu tidak mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Akibatnya, tentu mendapatkan kemurkaan-Nya dan akhirnya akan masuk ke dalam neraka. Karena pentingnya ilmu pengetahuan itu, Rasulullah mewajibkan umatnya belajar .
Adapun hadis-hadis lain yang berhubungan dengan keutamaan menuntut ilmu antara lain.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِ يقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِ يقًا إِ لَى الْجَنَّةِ
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Barang siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, akan dimudahkan Allah SWT untuknya ke surga.”( HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Baihaqi) .
Menurut Ibnu Hajar, Kata طَرِيْقًا diungkapkan dalam bentuk nakirah (indefinit), begitu juga dengan kata ilmu agama, baik sedikit maupun banyak.
Kalimat سَهَّل اللَّهُ لَهُ طَرِ يقًا (Allah memudahkan baginya jalan), yaitu Allah memudahkan baginya jalan di akhirat kelak atau memudahkan baginya jalan di dunia dengan cara memberi hidayah untuk melakukan perbuatan baik yang dapat mengantarkan menuju surga. Hal ini mengandung berita gembira bagi orang yang menuntut ilmu, bahwa Allah memudahkan mereka untuk mencari dan mendapatkannya, karena menuntut ilmu adalah salah satu jalan menuju surga .
عَنْ أَ بِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِ لَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الْمَلَا ئِكَىةَ لَتَضَعُ أَ جْنِحَـَهَا رِضَاءً لِطَا لِبِ الْعِلْمِ وَ إِنَّ الْعَلِمَ لَييَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الحِيتَا نُ فِي الْمَاءِوَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِكَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَا ءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوادِينَارًاوَلَا دِرْ هَمًا إِنَّمَا وَرَّ ثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَ خَذَ بِحَظًّ وَافِرٍ
Abu Ad-Darda’, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’Barang siapa yang menempuh jalan menari ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke surga. Sesungguhnya , malaikat merentangkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya, pencari ilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada dilangit dan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan alim terhadap abid adalah bagaikan keutamaan bulan diantara semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Mereka tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu, hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya.”’ (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Daud, dan Ad- Darimi)
Dalam hadis di atas terdapat lima keutamaan orang menuntut ilmu, yaitu (1) mendapat kemudahan untuk menuju sorga, (2) disenangi oleh para malaikat, (3) dimohonkan ampun oleh makhluk Allah yang lain, (4) lebih utama daripada ahli ibadah, dan (5) menjadi pewaris nabi. Menurut ilmu yang dimaksud di sini, menurut pengarang Tuhfah Al-Ahwazi adalah mencari ilmu, baik sedikit maupun banyak dan menempuh jarak yang dekat atau jauh .
Ayat Al-Quran yang berhubungan dengan keutamaan menuntut ilmu antara lain:
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS.Al-‘Alaq : 1-5)
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!, 32. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”, 33. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?( QS. Al-Baqarah: 31-33)
أَمَّنۡ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ سَاجِدٗا وَقَآئِمٗا يَحۡذَرُ ٱلۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٩
9. (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Q.S Az-zumar :9)
B. Anjuran Menuntut Ilmu
عَنْ أَ نَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِ يْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ (أخرحه ابن عبد البر)
Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW bersabda :”Carilah ilmu walaupun dinegeri Cina. Sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi pencari ilmu karena rida dengan apa yang dicari.” (HR. Ibnu Abd al-Barr) .
وفى روا يت : طَلَبُل عِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ إِنَّ طَا لِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْئٍ حَتَّى الْحِيْتَانُ فِى الْبَحْرِ (ابن عبد البرفي العلم عن أنس حد يث صحيح)
Dalam riwayat:”Mencari Ilmu wajib terhadap setiap orang Islam. Sesungguhnya pencari ilmu dimohonkan kepadanya oleh segala sesuatu sehingga ikan dalam lautan.”(HR. Ibn Abdil Barr dari Anas Hadis Shahih).
Hadis diatas ditampilkan dalam hadis tarbawi sebagai referensi sekalipun di perselisihkan kualitasnya oleh para ulama tetapi terkenal dikalangan para pelajar, santri dan mahasiswa dimana saja berada. Dalam ilmu hadis disebut masyhur non-isthilahiy artinya terkenal dikalangan kelompok tertentu sekalipun perawinya kurang dari tiga orang pada setiap tingkatan sanad .
Ada beberapa pokok pesan dalam hadis di atas, sebagi berikut:
اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
“Carilah ilmu walaupun di negeri China.”
Mencari ilmu suatu keajaiban sekalipun dimana saja dan dalam keadaan bagaimanapun pula, tidak ada alasan seseorang meninggalkan ilmu atau tidak mencarinya. Makna walaw dalam bahasa Arab menunjuk batas maksimal apapun yang terjadi (li al-ghayah). para ulama memberi penjelasan makna walaupun dinegeri china dalam hadis tersebut antara lain:
1. Al-Manawiy dalam kitab al-Taysir Syarah al-Jami’ al-Shaghir memberikan arti kesimpulan sangat jauh (mubalaghah fi al-bu’di) dengan alasan kewajiban menuntutnya sebagaimana hadis lanjutannya. Oleh karena itu, Jabir bin Abdillah seorang sahabat Rasulullah mengadakan rihlah (perjalanan) yang jauh dari Madinah ke Mesir hanya untuk mendapatkan satu hadis dari seseorang disana selama satu bulan.
2. Faydh al-Qadir memberikan arti yang sama, yakni walaupun tercapainya ilmu harus mengadakan perjalanan yang sangat jauh seperti perjalanan ke China dan sangat menderita. Orang yang tidak sabar penderitaan dalam mencari ilmu kehidupannya buta dalam kebodohan dan orang yang sabar atasnya akan meraih kemuliaan dunia akhirat.
3. Abdullah bin Baz dalam Majmu’ Fatawanya; anjuran mencari ilmu walaupun di tempat yang sangat jauh bukan berarti Chinanya. Hadis menyebutkan walau di negeri China, karena China negeri yang jauh dari Arab. Ini jika benar khabar shahih.
4. Muhammad Abduh dalam al-Manar memberikan komentar mencari ilmu dengan siapa saja atau darimana saja sekalipun bukan negeri muslim. Di China pada saat itu belum ada seorang Muslim, penduduknya penyembah berhala (watsaniyun) tidak Majusi. Bahkan Syekh Yusuf al-Qardhawi menunjuk makna hadis belajar ilmu pengetahuan sekalipun di Barat atau negara maju tingkat ilmu pengetahuan atau sains dan tekhnologinya .

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna mencari ilmu sekalipun di negeri China adalah sekalipun jauh dari tempat tinggal, sekalipun menderita dan sulit, sekalipun datang dari non-Muslim atau sekalipun dinegara minoritas muslim yang sudah maju. Sebagian pendapat China sudah mengalami kemajuan pada waktu itu seperti membuat kertas dan lain-lain. Dr. Luthfi Fathullah memberi komentar bahwa matan hadis ini banyak dipertanyakan dan diragukan orang dengan mempertanyakannya, benarkah Nabi Muhammad SAW mengetahuinya adalah sangat besar. Pertama, dari sudut sejarah, baginda adalah pedangang antar bangsa, beliau waktu usia muda pernah dua kali minimal pergi ke Syam sebagai kota perdagangan. Di kota itu sudah ada kebudayaan Romawi dan tentu saja sudah berinteraksi dengan budaya lain. Jadi, tidak mustahil dalam perjalanan itu baginda mendengar tentang peradaban negeri Cina yang sudah tinggi .
Kedua, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, tidaklah berhenti pada pengetahuan beliau saja, tetapi ada unsur wahyu Allah yang berperan. Jika kemungkinan ini diambil, dan hal ini sangatlah mungkin, maka unsur kejanggalan matan. Hadis ini tidak akan muncul lagi. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kata negeri China disini. Pertama, negeri atau kekaisaran yang populer dikalangan awam pada saat itu adalah Romawi dan Kisra. Jarak kekuasaan kedua kekaisaran ini tidaklah terlalu jauh dari dunia islam. Bahkan Rasulullah sendiri pernah menuliskan surat untuk mereka dan kerajaan dan kekaisaran lain. Walhasil, Nabi ingin memberitakan kepada umat islam bahwa ada negeri lain yang juga sudah memiliki peradaban yang maju .
Hukum menuntut ilmu sebagaimana disebutkan pada hadis berikut:
طَلَبُل عِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
Hukum mencari ilmu wajib bagi seluruh kaum Muslimin baik laki-laki dan perempuan, makna wajib disini adakalanya wajib’ ain dan adakalanya wajib kifayah. Kata “Muslim” berbentuk mudzakar (laki-laki), tetapi maknanya mencakup mudzakar dan muannats (perempuan). Maksudnya orang Muslim yang mukalaf yakni Muslim, berakal, balig, laki-laki, dan perempuan. Dari sekian banyak buku hadis penulis tidak menjumpai kata muslimatiin setelah kata Muslim diatas. Hukum mencari ilmu fardhu bagi setiap orang islam baik laki-laki maupun perempuan.
Hukum mencari ilmu wajib sebagaimana hadis diatas. Masa mencari ilmu seumur hidup (long life of education) sebagaimana kata Ki Hajar Dewantara, bahwa menuntut ilmu sejak lahir sampai mati. Sebagian ulama salaf berkata:
اُطْلُبِ الْعِلْمِ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
“Carilah ilmu dari ayunan sampai lubang kubur.”
Sedang diantara manfaat menuntut ilmu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Imam Syafi’i berkata sebagaimana yang dikutip oleh al-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat (1): 74):
مَنْ أَرَادَ الْدَّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَا دَالْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa yang menghendaki dunia hendaknya dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki akhirat hendaknya dengan ilmu”.
Maksud ilmu di sini secara umum baik ilmu Syara’ maupun ilmu pengetahuan. Keduanya penting untuk mencari kemaslahatan dunia dan akhirat. Sedang maksud ilmu yang wajib dituntut sebagaimana hadis diatas adalah ilmu syara’ dan kewajibannya adakalanya fardu’ain dan adkalanya fardu kifayah. Ibn al-Mubarak ketika ditanya tentang makna hadis di atas menjawab; maknanya tidak seperti yang mereka duga, tetapi apa yang terjadi pada seseorang dari urusan agamanya akan dimintai pertanggungjawaban sehingga ia harus mengetahui ilmunya. Al-Baydhawiy menjelaskan bahwa maksud ilmu disini adalah ilmu yang tidak ada jalan lain kecuali harus mengetahuinya seperti mengetahui sang pencipta alam dan ke-Esaan-Nya, mengetahui kenabian Muhammad SAW dan mengetahui cara shalat, semua ini hukumnya fardu’ain. Al-Gazali dalam al-Manhaj menjelaskan bahwa mencari ilmu ada tiga ilmu sebagai berikut :
1. Ilmu tauhid, ilmu mengetahui pokok-pokok agama seperti mengetahui sifat-sifat Tuhan Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Menghendak, dan Maha Mendengar. Tuhan memiliki segala sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat alam. Ilmu juga mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan membenarkan segala apa yang disampaikan.
2. Ilmu sirr, ilmu hati dan pergerakannya, yakni mengetahui kewajiban hati serta mengetahui larangan-larangan sehingga mendapatkan keikhlasan niat dan keabsahan amal.
3. Ilmu Syari’ah, segala ilmu yang wajib diketahui untuk melaksanakan syari’ah dan ibadah. Selain tiga di atas hukumnya wajib kifayah.
4. Di antara para ulama seperti al-Zarnuzjiy dalam kitabnya Ta’alim al-Muta’allim, al-Gazali dalam kitabnya Ihya Ulum al-din dan al-Manawiy dalam al-Taysir bi Syarh al-Jami al-Shaghir membagi hukum mencari ilmu adakalanya wajib, haram, sunah, mubah, dan makruh bergantung manfaat dan mudaratnya. Hukum wajib’ain seperti ilmu wudhu’, puasa, dan lain-lain yang menyangkut amal wajib. Seseorang yang berharta wajib mengetahui ilmu zakat, seorang yang melakukan transaksi jual beli wajib mengetahui hukum muamalah, seorang beristri wajib mengetahui pergaulan dengan wanita dengan baik dan lain-lain.
Al-Zarnujiy menyebutnya ilmu al-hal, yakni ilmu yang wajib dilakukan sekarang baik menyangkut akidah, ibadah, dan akhlak atau diartikan ilmu tingkah laku. Sedang wajib kifayah, jika sudah ada sebagian di antara umat islam yang melakukannya, maka yang lain gugur dosanya seperti ilmu falak atau ilmu astronomi untuk mengetahui rukyat al-hilal melihat bulan sebagai penetapan awal bulan dan lain-lain, ilmu saintek atau pendukung tegaknya pelaksanaan agama atau untuk kemajuan umat islam dan lain-lain. Menurut al-Zarnujiy termasuk wajib kifayah adalah ilmu mustaqbal, yakni belajar ilmu yang tidak segera dikerjakan seperti orang miskin belajar tentang zakat dan haji atau mempelajari ilmu sekalipun syara’ tetapi tidak untuk diamalkan segera. Penyebutan istilah ilmu itu tersebut ahli didik beragam Ibnu Khaldun menyebut ilmu aqliyah dan naqliyah, al-Gazali menyebut ilmu syariat dan aqliyah, al-Attas menyebutkan ilmu fardu’ain dan ilmu fardu kifayah, sedangkan seminar pendidikan internasional di Mekkah al-Mukarramah 1977 menyebutkan ilmu wahyu dan ilmu muktasab (ilmu yang diperoleh hasil research).
Demikian urgensi ilmu yang amat tinggi bagi keselamatan jiwa manusia dan alam jagad raya. Dengan ilmu alam tenang dan jika lenyap ilmu, maka lenyap pula alam. Karena ilmu inilah pencari dan pengajarnya dimuliakan Allah dan dimuliakan seluruh makhluk, diampuni segala dosanya dan didengar doanya .
C. Adab Menuntut Ilmu
Ta’dib secara Etimologi merupakan bentuk masdar kata kerja addaba yang berari ‘mendidik, melatih berdisiplin, memperbaiki, mengambil tindakan, beradab, sopan, berbudi baik, mengikuti jejak akhlaknya.
Dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda:
أدًّبّي رَبِّي فأحْسَنَ تَأديي(أخر جه العسكري عن علي)
“Tuhanku mengajarkan adab kepadaku maka Dialah yang memperindah adabku.”(HR. al-‘Askariy dari Ali)
Al-Zarkasiy dalam Faydh al-Qadir Syarah al-Jami ‘al-Shaghir menyebutkan bahwa Hadis ini sekalipun dha’if tetapi maknanya shahih.
Kata ta’dib pada umumnya lebih banyak digunakan pada pendidikan yang bersifat keterapilan lahir yakni latihan dan keterampilan. Ia berasal dari kata adab, yang berarti etika, sopan santun, dan budi pekerti lebih tepat diartikan mengajarkan adab atau diartikan memberi pelajaran atau hukuman .
Ayat Al-Quran yang berhubungan dengan adab menuntut ilmu antara lain:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١
11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Mujadillah:11)

Menurut Ibn Qayyim, kata adab berasal dari kata ma’dubah. Kata ma’dubah berarti’jamuan atau hidangan’, dengan kata kerja ”adaba-ya’dibu’’ yang berarti ‘menjamu atau menghidangkan makanan. Kata adab dalam tradisi Arab kuno merupakan symbol kedermawanan, dimana al-Adib (pemiik hidangan) mengundang banyak orang untuk duduk bersana menyantap hidangan di rumahnya. Sebagaimana yang terdapat dalam perkataan Tharafah bin Abdul Bakri al-Wa’illi, “Pada musim paceklik (musim kesulitan pangan), kami mengundang orang-orang ke perjamuan makan, dan engkau tidak akan melihat para penjamu dari kalangan kami memilih-milih orang yang diundang”.
Kemudian kata ini berkembang seiring dengan perkembangan peradaban islam, sebagai sebuah simbol nilai agung yang ada dalam islam. Hal ini bisa kita lihat dalam hadist berikut ini, yang menjelaskan kata adab sebagai hidangan yang ada di dalamnya syarat dengan nilai. “sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah dimuka bumi, oleh karena itu Belajarlah kalian pada sumber peradaban-nya.”
Kata ta’dib atau al-adab ini dipopulerkan oleh Imam al-Bukhari dalam adab al-mufrad, al-mawardi dalam kitabnya Adab al-Muallimin wa al-Rawi wa Adab al-sami’ serta Ibn Jama’ah dalam kitabnya Tadzkirah al- sami’ wa al-Mutakallim fii Adab al-Alim wa al-Muta’allim.
Sementara itu, kata adab juga sering dipakai dalam hadits untuk menunjuk kata pendidikan. Hal itu sebagaimana sabda Nabi saw. Berikut ini, “Tuhan telah mendidikku, dan telah membuat pendidikanku itu sebaik-baiknya”, “Setiap pendidik akan menyukai diberikan alat mendidik, dan sesungguhnya pendidikan dari Allah itu adalah Al-Qur’an, aka janganlah kalian menjauhinya”.
Menurut al-attas, istilah ta’dib adalah istilah yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan Islam bertujuan untuk melahirkan manusia yang beradab. Sementara istilah tarbiyah terlalu luas karena pendidikan, dalam istilah ini mencakup pendidikan untuk hewan. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa istila Ta’dib merupakan masdar kata kerja addaba yang berarti pendidikan. Kemudian, dari kata addaba ini diturunkan juga kata adabun. Menurut al-attas, adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniyah seseorang. Al-attas mengatakan bahwa adab adalah pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan derajat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta. Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan, seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. Keduanya sia-sia karena yang satu menyifatkan ketiadasadaran dan kejahilan .
Berdasarkan pengerian adab seperti itu, al-Attas mendifinisikan pendidikan menurut islam sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan wujud, sehingga hal ini membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat tuhan yang tepat didalam tatanan wujud tersebut.
Pendapat al-Attas mengenai Ta’dib, dikuatkan oleh Sa’dudin Mansur Muhammad. Ia beralasan bahwa istilah Ta’dib merupakan istilah yang mencakup semua aspek dalam pendidikan baik unsure tarbiyah maupun taklim. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa istilah ta’dib sudah dikenal sejak zaman jahiliah dan dikuatkan setelah datangnya Nabi Muhammad saw.
Alasan yang lebih mendasar yang melatar belakangi al-Attas memilih istilah ta’dib adalah, adab berkaitan erat dengan ilmu, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik, kecuali jika orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang.
Kemudian, konsep pendidikan Islam yang hanya terbatas pada makna tarbiyah dan taklim itu telah dirasuki pandangan hidup barat yang berlandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanism, dan sofisme, sehingga nilai-nilai adab menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah Ilahiah. Kekaburan makna adab tersebut mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan kegilaan. Kezaliman yang dimaksud disini adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, sementara kebodohan adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai hasil tujuan tertentu, dan kegilian adalah perjuangan yang berdasarkan tujuan dan maksud yang salah.
Istilah adab juga merupakan salah satu istilah yang identik dengan pendidikan akhlak, bahkan Ibn Qayyim berpendapat bahwa adab adalah inti dari akhlak, karena didalamnya mencakup semua kebaikan. Lebih dari itu, konsep adab ini, pada akhirnya berperan sebagai pembeda antara pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak. Orang berkarakter tidaklah cukup, karena pendidikan karakter hanya berdimensi pada nilai-nilai dan norma-norma kemanusian aja (makhluk), tanpa memperhatikan dimensi ketauhidan Ilahiyah (khaliq). Sehingga orang berkarakter belum bias disebut berakhlak, karena bisa jadi orang berkarakter “toleransi” ia mengikuti paham pluralism sehingga memukul rata semua agama tanpa batasan norma syari’at. Sementara dalam pendidikan akhlak mengintegrasikan kedua dimensi tersebut, yakni nilai kemanusiaan (makhluk) dan nilai uluhiyah (khaliq) adalah hal yang wajib, dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Sehingga orang berakhlak, secara langsung mencakup orang yang berkarakter. Dengan demikian, pendidikan akhlak atau adab adalah lebih syumul ‘mencakup’ daripada pendidikan karakter.
Adab menuntut ilmu terbagi antara lain,
1. Adab Penuntut Ilmu terhadap Dirinya Sendiri (Adab al-Muta’allim fii Nafsihi)
a. Menyucikan hati dari segala sifat-sifat tercela, agar mudah menyerap ilmu.
b. Meluruskan niat dalam mencari ilmu, yakni ikhlas hanya karena ingin mendapat ridha Allah.
c. Menghargai waktu, dengan cara mencurahkan segala perhatian untuk urusan ilmu.
d. Memiliki sifat qana’ah dalam kehidupannya, dengan menerima apa adanya dalam urusan makan dan pakaian, serta sabar dalam kondisi kekurangan.
e. Membuat jadwal kegiatan harian secara teratur, sehingga alokasi waktu yang dihabiskan jelas dan tidak terbuang sia-sia.
f. Hendaknya memperhatikan makanan yang dikonsumsi, harus dari yang halal dan tidak terlalu kenyang sehingga tidak berlebih-lebihan. Karena, makanan haram dan mengkonsumsi berlebihan menyebabkan terhalang dari ilmu.
g. Bersifat wara’, yaitu menjaga diri dari segala sifatnya syubhat dan syahwat hawa nafsu.
h. Menghindari diri dari segala makanan yang dapat menyebabkan kebodohan dan lemahnya hafalan, seperti apel, asam, dan cuka.
i. Mengurangi waktu tidur, karena terlalu banyak tidur dapat menyia-nyiakan usia dan terhalang dari faedah.
j. Menjaga pergaulan, yaitu hanya bergaul dengan orang-orang saleh yang memiliki antusias dan cita-cita tinggi dalam ilmu, dan meninggalkan pergaulan dengan orang yang buruk akhlaknya, karena hal itu berdampak buruk terhadap perkembangan ilmunya.

2. Adab Penuntut Ilmu terhadap Gurunya (Adab al-Muta’allim Ma,a Syaikhihi)
a. Memilih guru yang berkualitas, baik dari segi keilmuan dan akhlaknya.
b. Menaati perintah dan nasihat guru, sebagaimana taatnya pasien terhadap dokter sepesialis.
c. Mengagungkan dan menghormati guru sebagaimana para ulama salaf mengagungkan para guru mereka. Sebagai contohnya adalah apa yang pernah dilakukan oleh Imam Syafi’i terhadap gurunya (Imam Malik), dimana beliau membuka buku pelajaran secara perlahan-lahan tanpa terdengar suara lembaran kertas, karena mengagungkan gurunya, dan agar tidak mengganggu konsentrasi gurunya yang sedang melangsungkan pengajarannya. Bahkan, di antara ulama salaf ada yang bersedekah terlebih dahulu sebelum berangkat ke majelis gurunya, seraya berdo’a, “yea Allah, tutupilah aib guruku dan jangan engkau halangi keberkahan ilmunya untukku.”
d. Menjaga hak-hak gurunya dan mengingat jasa-jasanya, sepanjang hidupnya, dan setelah wafatnya, seperti mendoakan kebaikan bagi sang guru dan menghormati keluarganya.
e. Sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak yang buruk dari gurunya. Jika hal seperti ini terjadi pada dirinya, hendaknya ia bersikap lapang dada dan memaafkannya serta tidak berlaku su’uzhan terhadap gurunya tersebut.
f. Menunjukan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada gurunya yang telah mengasuhnya dalam naungan keilmuan.
g. Meminta izin terlebih dahulu kepada guru, jika ingin mengunjunginya atau duduk di majelisnya.
h. Hendaknya duduk dengan sopan di hadapan guru. Ibn Jama’ah mencontohkan duduk sopan tersebut, dengan cara duduk bersila dengan penuh tawadhu’, tenang, diam, sedapat mungkin mengambil posisi terdekat dengan guru, penuh perhatian terhadap penjelasan guru, tidak dibenarkan menoleh kesana-kemari tanpa keperluan yang jelas, dan seterusnya.
i. Berkomunikasi dengan guru secara santun dan lemah lembut.
j. Ketika guru menyampaikan suatu pembahasanyang telah didengar atau sudah dihafal oleh murid, hendaknya ia tetap mendengarkannya dengan penuh antusias, seakan-akan dirinya belum pernah mendengar pembahasan tersebut.
k. Penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru menjawab atas pertanyaan, baik dari guru atau dari peserta, sampai ada isyarat dari guru untuk menjawabnya.
l. Dalam hubungan membantu guru, hendaknya sang murid melakukannya dengan tangan kanan.
m. Ketika bersama dengan guru dalam perjalanan, hendaknya murid berlaku sopan dan senantiasa menjaga keamanan serta kenyamanan perjalanan sang guru.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah SWT mengajarkan kepada adam dan semua keturunannya. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas sebagai khalifah maupun tugas ubudiah. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan ini ditemukan hadis, yaitu sebagai berikut.
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ فَاءِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَا نِ فِى فَرِ يضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَ حَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada oraang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban, mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’”(HR. Ad-Daruquthni, dan Al-bahaqi)
2. “ carilah ilmu walawpun di negeri cina”.
Mencari ilmu suatu keajaiban sekalipun dimana saja dan dalam keadaan bagaimanapun pula, tidak ada alasan seseorang meninggalkan ilmu atau tidak mencarinya. Makna walaw dalam bahasa Arab menunjuk batas maksimal apapun yang terjadi.
3. Adab menuntut ilmu ada dua macam yaitu adab menuntut ilmu terhadap dirinya sendiri dan adab menuntut ilmu terhadap gurunya.

B. Saran


Meninggalkan komentar

Al-Jarh Wa Ta’dil


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Al-Jarh Wa Ta’dil
Al-jarh menurut bahasa merupakan bentuk masdar dari jaraha-yajrahu, yang berarti “seseorang membuat luka pada tubuh orang lain yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu”. Dikatakan juga dengan hakim atau yang lain melontarkan sesuatu yang menjatuhkan sifat adil saksi, berupa kedustaan dan sebagainya.
Sedangkan menurut istilah ahli hadis adalah:
ظُهُوْرُصِفَةُفِى الرَّوِى يُفْسِدُعَدَ الَةِ اَوْحِيْلَ يُفْطِه وَ طَبَتُهُ مَا يُتَرَتِبُ عَا سُقُوُ طِ رِ وَ ا يَتِهِ اَوْ طَعْفُهَا وُ رُدَ هَا
Tampak suatu sifat pada perawi yang merusakkan keadilannya, hafalannya, karena gugurlah riwayatnya atau dipandang lemah (‘Ajaj al-khatib,1989: 260).
Di samping istilah tersebut, ada juga yang dinamakan dengan tarijh.
Tarijh menurut bahasa, berarti tsaqiq (melakukan) atau ta’jib (menggalibkan) (Idris Marbawi, tt : 324). Sedangkan menurut istilah ahli hadis , tarijh ialah :
وَصِفَةِ الرَّ ا وِ ى بِصِفا تِ تَقْضِى تضْعِيْف رِ وَبَتِهِ اَ وْ عَدَ مِ قيو لما
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menyebabkan lemah riwayatnya atau tidak diterima riwayatnya .(Ibid, 1981: 204).
Atau dengan perkataan lain tarjih adalah :
اِظْهَا رُ عَيْبُ يُرَ وِ يَهُ ا لرِ وَ ا يَةِ
Menempatkan suatu sifat cacat, yang karenanya ditolak riwayatnya (Hasbi,1981: 204).
Pengertian ta’dil dalam masalah periwayatan, dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :
1. Ta’dil dalam arti al- Tawsiyah (menyamakan) (Al-Munjid,491).
2. Ta’dil menurut istilah ahli hadis adalah :
وَ صفَةُ ا لرَّ ا وِ ى بِصِفَا تِ نَزْ كِيْهِ فَيُطَهِّرُ عَدَ ا لَةِ وَ نُقْبَلُ خَي هُ
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menetapkan kebersihannnya, maka tampaklah keadilannya, dan diterima riwayatnya. (Hasbi, 1981:205)

Sedangkan ‘urfuahli hadis memberikan batasan tentang pengertian ta’dil dengan:
ا لاِ عْتِرَ ا وِ بِعَدَ ا لَةِ ا لرَ ا وِ ى وَ طَبْطِهِ وَ ثِقَتِهِ
Mengakui keadilan seseorang ke- dhibit-annya dan kepercayaannya. (Hasbi, 1981 : 204)

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ilmu jarh wa al-ta’dil adalah sebagai berikut :
ا لعِلْمُ الَّذِ ى جُب فِى اَحْوَ ا لِ وَ ا هْ مِنْ قَبْلِ رِ وَ ا يَتِهِمْ
Ilmu yang mempelajari keadaan para perawi dari segi diterima atau ditolaknya riwayatannya. (Faturrahman,1907:204)

B. Pertumbuhan Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil
Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan hadis dalam islam, karena untuk mengetahui hadis yang shahih dan keadaan para perawinya, sehingga dengan ilmu ini memungkinkan menetapkan kebenaran seorang perawi atau kedustaannya sampai mereka bisa membedakan antara yang diterima dan yang ditolak (maqbul dan mardud).Karena itu para ulama menanyakan pertama kali tentang keadaan para perawi, meneliti kehidupannya, dan mengetahui segala keadaan mereka, setiap yang lebih hapal, lebih kuat ingatannya dan lebih lama menyertai gurunya.
Demikianlah ilmu ini tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan, untuk menentukan bobot dan kualitas daripada suatu hadis. Sejak dahulu para ulama menerangkan tentang cacat atau tidaknya seorang perawi hadis sehingga membuka tabir kegelapan dalam menetukan nilai atau kualitas hadis bagi ulama berikutnya.

C. Pensyariatan Jarh Wa Ta’dil
Para ulama menganjurkan untuk melakukan Jarh dan Ta’dil. Dan tidak menganggap hal itu sebagai perbuatan ghibah yang terlarang berdasarkan dalil-dalil berikut ini, antara lain:
a. Sabda Rasulullah Saw. Kepada seorang laki-laki
“(Dia) itu seburuk-buruknya saudara di tangah-tengah keluarga-nya”.
b. Sabda Rasulullah Saw. Kepada Fatimah binti Qaisyang menanyakan tentang Muawiyah bin Abi Al-Jahm yang tengah melamarnya,
“Adapun Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (suka memukul), sedangkan Muawiyah seorang miskin tidak mempunyai harta.” (HR. Muslim)

seseorang, namun menunjukan dibolehkannya mencela kepada orang-orang yang lemah guna menjelaskan kelemahan mereka, dan menampakan cela dalam perkara yang berkenaan dengan halal dan haram-yaitu hadis-lebih utama daripada menjelaskan cela dalam konteks memberi saran tertentu.
Dan dalam ta’dil Rasulullah Saw. bersabda :
“sebaik-baiknya hamba Allah Khalid bin Walid, salah satu pedang diantara pedang-pedang Allah.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dan oleh sebab itu, para ulama membolehkan Jarh Wa Ta’dil guna menjaga syariat/agama ini, bukan untuk mencela manusia. Dan sebagaiman adibolehkan jarh dalam persaksian, maka pada perawipun juga dibolehkan, bahkan memperteguh dan mencari kebenaran dalam masalah agama lebih utama daripada masalah hak dan harta.
Faidah mengetahui ilmu Jarh Wa Ta’dil ialah menetapkan apakah periwayatan seorang rawi dapat diterima atau ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi dijarh oleh para ahli sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya harus ditolak dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil, niscaya periwayatannya diterima, selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist dipenuhi.

D. Jalan Mengetahui Keadilan dan Kecacatan Perawi dan Masalahnya
Menta’dilkan (menganggap adil seorang perawi) adalah memuji perawi dengan sifat-sifat yang membawa ke’adalahannya, yakni sifat-sifat yang dijadikan dasar penerimaan riwayat.
Keadilan seorang perawi itu dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketetapan berikut :
a. Dengan kepopulerannya dikalangan para ahli ilmu bahwa dia terkenal sebagai seorang yang adil. Seperti ketenarannya sebagai orang yang adil dikalangan para ahli ilmu bagi Anas ibn Malik, Sufyan Ats-Tsaury, Syu’bah ibn AL-Hajjaj, As-Syafi’i, Ahmad dan lain sebagainya. Oleh karena mereka sudah terkenal sebagai orang adil dikalangan para ahli ilmu, maka mereka tidak perlu lagi untuk diperbincangkan keadilannya.
b. Dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah). Yakni ditetapkan sebagai perawi yang adil oleh orang yang adil, yang semula perawi yang dita’dilkan itu belum dikenal sebagai perawi yang adil.

Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah dapat dilakukan oleh :
1. Seorang rawi yang adil. Jadi tidak perlu dikaitkan dengan banyaknya orang yang menta’dilkan. Sebab jumlah itu tidak menjadi syarat untuk penerimaan riwayat (hadist). Oleh karena itu jumlah tersebut tidak menjadi syarat pula untuk menta’dilkan seorang rawi. Demikian menurut pendapat kebanyakan muhadditsin. Berlainan dengan pendapat para fuqaha’ yang mengsyaratkan sekurang-kurangnya dua orang dalam mentazkiyahkan seorang rawi.
2. Setiap orang yang dapat diterima periwatannya, baik ia laki-laki maupun perempuan dan baik orang yang merdeka maupun budak, selama ia mengetahui sebab-sebab yang dapat mengadilkannya.

Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan:
1. Berdasarkan berita tentang ketenaran seorang perawi dalam keaibannya. Seorang perawi yang sudah dikenal sebagai orang yang fasiq atau pendusta dikalangan masyarakat, tidak perlu lagi dipersoalkan. Cukuplah ketenaran itu sebagai jalan untuk menetapkan kecacatannya.
2. Berdasarkan pentajrihan dari seorang yang adil yang telah mengetahui sebab-sebabnya dia cacat. Demikian ketetapan yang dipegangi oleh para muhadditsin. Sedangkan menurut fuqaha’ , sekurang-kurangnya harus ditajrih oleh dua orang laki-laki yang adil.

Adapun syarat-syarat bagi oarang yang menta’dilkan dan mentajrihkan yaitu:
1) Berilmu pengetahuan
2) Taqwa
3) Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat, dan dosa-dosa kecil dan makruhat/yang dibenci)
4) Jujur
5) Menjauhi fanatik golongan
6) Mengetahui sebab-sebab untuk menta’dilkan dan mentajrihkan.

Jumlah yang dipandang cukup menta’dilkan dan mentajrihkan perawi pun diperselisihkan:
a) Minimal dua orang, baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. Demikianlah pendapat kebanyakan fuqaha’Madinah dan lainnya.
b) Cukup seorang saja dan soal riwayah bukan dalam soal syahadah. Dikarenakan bilangan itu tidak menjadi syarat dalam penerimaan hadist, mka tidak pula disyaratkan dalam menta’dilkan dan mentajrihkan perawi.
c) Cukup seorang saja, baik dalam soal riwayah maupun dalam soal syahadah.

E. Sifat-Sifat yang Menyebabkan Seorang Perawi Dinilai Jarh
Seorang perawi hadis dapat diterima periwayatannya manakala terdapat suatu sifat atau beberapa sifat yang dapat menggugurkan keadilannya, yang akibatnya tidak dapat diterima periwayatannya. Sifat-sifat tersebut antara lain :
1. Dusta
Yang dimaksud dengan dusta dalam hal ini ialah bahwa orang itu pernah berbuat dusta terhadap sesuatu atau beberapa hadis. Dalam pengertian, seorang perawi berbuat dusta terhadap Rasulullah SAW, seperti membuat hadis palsu, pernah menjadi saksi palsu, kecuali ia sudah tobat.
Menetapkan kepalsuan suatu hadis yang diriwayatkan oleh orang yang pernah berbuat dusta adalah berdasarkan keyakinan yang kuat, bukan atas dasar sangkaan, sehingga mungkin suatu saat ia berbuat dusta dan dalam keadaan lain ia berkata sebenarnya. Dalam masalah ini ulama berpendapat menurut Imam Ahmad dan Abu Bakar al-Humaidi, guru Imam al-Bukhari, riwayatnya tidak dapat diterima meski ia sudah bertobat. Pendapat ini dikutip oleh Mudhaafar al Sam’any, sedangkan al Nawawi me-nasakh-kan atau menerima riwayatnya apabila ia betul telah bertobat.

2. Tertuduh Berbuat Dusta
Yang dimaksud dengan tertuduh dengan berbuat dusta adalah seorang perawi sudah tenar dikalangan masyarakat sebagai orang berdusta. Periwayatan orang yang tertuduh dusta dapat diterima apabila ia betul-betul telah bartaubat sehingga masyarakat tidak lagi menuduh pendusta.

3. Fasik (melanggar ketentuan syarak)
Yang dimaksud fasik disini ialah fasik dalam perbuatan yang tampak secara lahiriah, bukan dalam hal I’tiqiyah, nama tetap periwayatannya ditolak, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah (Q.S Al-Hujarat : 7)

•

“dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (Q.S Al-Hujarat :7)

4. Jahalah
Yang dimaksud dengan Jahalah adalah perawi hadis itu tidak diketahui kepribadiannya, apakah ia seorang yang atau tercacat (jarih). Dengan tidak diketahuinya itu, menjadi alasan untuk tidak diterima riwayatnya, kecuali dari golongan sahabat atau orang yang disebut dengan lafal yang menyebutkan atau menunjukkan kepada kepercayaaan, seperti dengan lafal hadatsan, tsiqan, atau akhbarnya ‘adlun dan sebagainya.

5. Ahli Bid’ah
Yang dimaksud dengan ahli Bid’ah yaitu perawi yang tergolong melakukan bid’ah dalam hal I’tikad yang menyebabakan ia kufur, maka riwayatnya ditolak.
6. Hukum MenJarh Seorang Perawi
An-Nawawi Muqaddimah Sahih Muslim mengatakan bahwa ulama telah sepakat membolehkan seseorang untuk mencacat (menjarh) orang lain. Hal ini didasarkan karena memelihara agama sehingga terhindar dari ketidakbenaran dalam menentukan kualitas suatu hadis (Muslim jil.I), mencacat ataumenjarh seperti ini tidaklah termasuk mengumpat atau mencela orang lain, melainkan dianggap sebagai nasihat yang harus diterima dengan lapang dada dan sesuatu yang kita lakukan demi kepentingan agama.
Martabat jarh dan ta’dil serta lafal-lafal yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Dengan kata yang menunjukkan tercelanya seorang perawi yakni mensifati perawidengan suatu sifat yang menunjukkan sifat yang sangat dusta atau menuduh memalsukan suatu hadis, misalnya dengan ungkapan berikut :
– ‘si fulan orang yang paling dusta.” (فلا ن ا كتن لفا س)
– “si fulan yang paling banyak membuat atau memalsukan hadis.”
(فلا ن ا وضع الفاس)
– “Dia tiang tonggak dusta” (هو ر كن ا لد دب)
– “Dias sumber Dusta” (هو ضع ا لد ب)
Dengan kata-kata sebagai berikut :
– Dia dajjal atau perusak
– Dia orang yang banyak memalsukan hadis.
– Dia orang yang sangat dusta.

b. Me-nafsihi perawi dengan salah satusifat dusta dan memalsukan hadis, tetapi tidak terlalu menekankan atau bersifat dengan yang agak kurang atau ringan keburukannya dari dusta dan memalsukan hadis, misalnya :
– Fulan tertuduh berdusta.(فلا ن منهم با لكد ا ب)
– Fulan memalsukan hadis (فلا ن منهم با لو ضع)
– Fulan seorang yang gugur (فلا ن سا قط )

c. Memakai dengan sebutan sebagai berikut
– Fulan membuang hadisnya (فلا ن القو ا حد يثه)
– Fulan dhaif sekali (فلا ن ضعيف جدا)
– Fulan orang yang ditolak (فلا ن ر دا)

d. Memakai sebutan-sebutan sebagai berikut
– Fulan tidak diambil hujjah-nya (فلا ن لا يحفج به)
– Fulan munkirul hadis (فلا ن منكر الحد يث)
– Fulan melemahkannya (فلا نضعفو ه)

e. Menggunakan kata-kata sebagai berikut
– Fulan dilemahkan (فلا ن فيه ضعيف)
– Fulan pada hadisnya ada kelemahan (فلا ن فى حيثة ضعف)
– Fulan padanya ada cacat (فلا ن فيه مقا ل)
Sebagai mana pada jarh, maka dalam ta’dil pun terdapat martabat pada lafal-lafal yang digunakan dalam menilai seseorang perawi hadis. Untuk menentukan martabat dalam ta’dil, para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan ada empat (pendapat Ibnu Abi Hatim, Ibnu Soleh, Nawawi), sedangkan Adz Dzahabi dan Iraq mengatakan ada lima martabat dan menurut pendapat al- Hafidh Ibnu Hajar adalah sebagai berikut :
a. Tiap-tiap ibarat yang masuk pada fi’il tafdil serta menyerupai fi”il tafdil, yang menunjukkan pada mubaligh, seperti lafal :
– fulan orang yang dipercaya
– fulan orang yang paling kuat hafalannya
– kepadanyalah segala kesudahan

b. tiap ibarat yang menunnjukkan derajat para perawi dengan mengulangi lafal yang menunjukan keadilan dua kali atau lebih, misalnya lafal
– kepercayaan-kepercayaan.
– Kepercayaan, kuat hafalan.

c. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi, dengan suatu lafal yang berarti pengertian bahwa perawi itu, kekuatannya seperti ungkapan berikut :
– Fulan orang yang teguh hati dan ibadah
– Fulan teguh hati dan baik riwayatnya
– Fulan orang teguh hati hafalannya

d. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan suatu lafal yang tidak memberi pengertian bahwa ia adalah orang yang kuat ingatannya, misalnya perkataan sebagai berikut :
– Fulan orang yang sangat benar .(فلا ن صد و ق)
– Fulan boleh dipegang perkataannya.(فلا ن ما مو ن)
– fulan boleh tidak ada cacat padanya

e. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan sifat yang memberi pengertian, bahwa ia kuat ingatan dan amanahnya. Misalnya sebagai berikut :
– Fulan adalah orang yang dapat dipandang benar (فلا ن محله الاصد ق)
– Fulan orang yang suka pertengkaran.(فلا ن وسط )
– Fulan orang yang pertengahan dan syekh. (فلا ن و سط شيخ)


Meninggalkan komentar

Hadis Maudhu’


BAB : II
PEMBAHASAN

Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam yang mengandung ayat-ayat yang bersifat mujmal, mutlak dan ‘am. Oleh karenanya kehadiran hadis berfungsi untuk “tabay’in wa taudhih terhadap ayat-ayat tersebut. Tanpa kehadiran hadis umat Islam tidak akan mampu menangkap dan merealisasikan hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Qur’an secara mendalam. Ini menunjukkan hadis menduduki posisi penting dalam literatur sumber hukum Islam.
Sungguh pun hadis mempunyai fungsi dan kedudukan begitu besar, namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang secara resmi telah ditulis pada zaman nabi dan dibukukan pada masa khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq. Hadis baru di tulis dan di bukukan pada masa kekhalifahan Umar ‘ibn ‘Abd Al-Aziz (abad ke-2 H) melalui perintahnya kepada Gubernur Abu BAkar Muhammad bin ‘Amr bin hazm dan bahkan kepada tani’in wanita Amrah binti Abd Al-Rahman.
Kesenjangan waktu antara sepeninggal rasulullah SAW dengan waktu pembukuan hadis (hampir 1 abad) merupakan kesempatan yang baik bagi orang-orag atau kelompok tertentu untuk memulai aksinya membuat dan mengatakan sesuatu yang kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Dengan alasan yang di buat-buat. Penisbatan sesuatu kepada Rasulullah SAW.seperti inilah yang selanjutnyaa dikenal dengaan hadis palsu atau hadis maudhu’.
Hadis maudhu’ ini sebenarnya tidak pantas untuk disebut sebagai sebuah hadis, karena ia sudah jelas bukan sebuah hadis yang bisa disandarkan pada Nabi SAW. Lain halnya dengan hadis dha’if yang diperkirakan masih ada kemungkinan ittishal pada nabi. Hadis maudhu ini berbeda dengan hadis dha’if. Hadis maudhu sudah ada kejelasan akan kepalsuannya sementara hadis dha’if belum jelas, hanya samar-samar. Sehingga karena kesamarannya, hadis tersebut disebut dengan dha’if. Tapi ada juga yang memasukkan pembahasan hadis maudhu’ ini ke dalam bahasan hadis Dha’if.
A. Pengertian hadis Maudhu’
Hadis Maudhu’ adalah hadist yang di buat-buat atau diciptakan atau didustakan atas nama Nabi. Menurut Ahmad Amin hadis maudhu’ sudah ada sejak masa Rasulullah.

Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah tempatnya di neraka (HR. Bukhari).
Ulama hadis lain berpendapat bahwa munculnya hadis maudhu adalah pada tahun 40 H, pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertikaian politik.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa hadis maudhu itu sebetulnya bukan hadis yang bersumber dari rasul atau dengan kata lain bukan dari hadis Rasul, paling tidak sebagian hanya saja disandarkan kepada Rasul.
B. Munculnya hadis maudhu’ dan faktor penyebab munculnya hadist maudhu’
1. Awal mula munculnya hadis maudhu’
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai terjadinya pemalsuaan hadist. Berikut ini akan dikemukakan pendapat mereka yakni :
a. Menurut Ahmad Amin bahwa hadis maudhu’ terjadi sejak masa Rasulullah masih hidup. Alasan yang dijadikan argumentasi adalah sabda Rasulullah.

Meurut hadis tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan pada zaman Rasulullah telah terjadi pemalsuan hadis. Alasan yang dikemukakan oleh Ahmad Amin sebetulnya hanya merupakan dugaan yang tersirat dalam hadis tersebut, sebab dia tidak memiliki alasan historis dan tidak pula tercantum alam kitab-kitab standart yag berkaitan dengan asbab al-wurud.
b. Salah al-Din al-Dlabi mengatakan bahwa pemalsuan hadis berkenaan dengan masalah keduniaan telah terjadi pada masa Rsulullah. Alasan yag dia kemukakan adalah hadis riwayat at-Thahawi dan at-Thabrani.
c. Menurut jumhur al-Muhaddisin bahwa pemalsuan hadis itu terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, mereka beralasan bahwa keadaan hadis sejak zaman Nabi hingga sebelum terjadinya pertentangan antara ‘Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan masih terhindar dari pemalsuan-pemalsuan.
2. Faktor penyebab munculnya hadis Maudhu’
Berdasarkan data sejarah yang ada, pemalsuan hadis tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam akan tetaapi juga dilakukana oleh orang-orang non- muslim. Ada beberapa motif yang mendorong mereka membuat hadis palsu, diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Pertentangan politik
Perpecahan umat Islam yang diakibatkan politik yang terjadi pada kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib besar sekali pengaruhnya terhadap pemunculan hadis-hadis palsu. Masing-masing golongan berusaha mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang tertentu. Dari akibat perpecahan politik ini yang pertama-tama membuat hadis palsu ini adalah dari golongan Syi’ah hal ini disampaikan oleh Ibnu Abi al-Hadid.
2. Usaha kaum zindiq, yaitu golongan yang beusaha merusak Islam dari dalam, seperti dilakukan oleh Abdul karim Ibn al-Auja’ yang mengaku telah membuat 4000 hadis palsu.
3. Sikap fanatik terhadap suku dan bangsa (ashabiyah).
4. Perselisihan dalam fiqih dan ilmu kalam.
Munculnya hadis-hadis palsu dalam masalah fiqih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut mazhab. Mereka berani melakukan pemalsuan hadis karena didorong sifat fanatik dan ingin menguatkan mazhabnya masing-masing.
Di antara hadis-hadis palsu tentang masalah ini, yaitu siapa yang mengangkat kedua tangannya ketika dalam shalat, maka shalatnya tidak sah.
5. Membangkitkan Gairah beribadat, tanpa mengerti apa yang dilakukan.
Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan dan bahkan mengira usahanya itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dan menjunjung tinggi agamanya. Mereka mengatakan “kami berdosa semata-mata untuk menjunjung tinggi nama Rasulullah dan bukan sebaliknya”. Nuh bin Abi maryam telah membuat hadis berkenaan dengan fadilah membaca surat-surat tertentu dalam al-Qur’an.
6. Menjilat penguasa
Seperti yang dilakukan Ghiyats bin Ibrahim pada masa pemerintahan al-Mahdi. Dia menambahkan perkataanya sendiri dalam hadis nabi hanya untuk menyenangkan khalifah.
C. Usaha penyelamatan hadis maudhu’
1. Menyusun kaidah penelitian hadis, khususnya kaidah tentang kesahihan sanadnya.
2. Menyusun kitab-kitab yang memuat tentang hadis maudu’ antara lain: al-Maudhu’ al-Kubra yang disusun oleh Abu al-Fajri.
D. Kaidah-kaidah untuk mengetahui hadis maudhu’
1. Atas dasar pengakuan para pembuat hadis palsu, sebagaimana pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia telah membuat hadis tentang fadilah membaca al-Quran, surat demi surat, Ghoyas bin Ibrahim dan lain-lain.
2. Ma’nanya rusak. Ibnu Hajar menerangkan bahwa kejelasan lafadz ini dititik beratkan pada kerusakan arti, sebab dalam sejarah tercatat “periwayatan hadis tidak mesti bi al-lafdzi akan tetapi ada yang bi al-ma’na, terkecuali bila dikatakan bahwa lafadznya dari Nabi, baru dikatakan hadis palsu. Contoh hadis maudhu’ tentang masalah ini antara lain:

3. Matannya bertentangan dengan akal atau kenyataan, bertentangan dengan al-Quran atau hadis yang lebih kuat, atau ijma’. Seperti hadis yang menyebutkan bahwa umur dunia 7000 tahun. Hadis ini bertentangan dengan al-Quran surat al-A’raf ayat 187, yang intinyabahwa umur dunia hanya ketahui oleh Allah.
4. Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil. Seperti hadis yang menyatakan bahwa anak hasil perzinahan tidak masuk surge hingga tujuh turunan. Ini menyalahi al-Quran surat al-An’am ayat 164 yang menyatakan bahwa Tidaklah seseorang (yang bersalah) memikul dosa orang lain.
5. Perawinya dikenal seorang pendusta.
Untuk menyelamatkan hadis Nabi di tengah-tengah gencarnya pembuatan hadis palsu, Ulama hadis menyusun berbagai kaidah penelitian hadis. Tujuan penyusunan kaidah-kaidah tersebut untuk mengetahui keadaan matan hadis. Dan untuk kepentingan penyusunan matan hadis tersebut, disusunlah kaidah kesahihan sanad hadis. bersamaan dengan ini muncullah berbagai macam ilmu hadis. Khusus ilmu hadis yang dikaitkan dengan penelitian sanad hadis, antara lain ialah ilmu rijal al-hadis dan ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil.
Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis, di samping telah dibukukannya hadis, mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu sangat sempit. Selain itu, hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. Dengan menggunakan berbagai kaidah dan ilmu hadis itu, Ulama telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu dalam kitab-kitab khusus.


Meninggalkan komentar

Ingkar Sunah


1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ingkar Sunah
1. Pengertian Ingkar
Kata ingkar sunah terdiri atas dua kata, yaitu ingkar dan sunah. Menurut Ahmad Warson Munawir (1984-1569), kata ingkar berasal dari ankara-yunkiru-inkaaran, yang berararti sulit, tidak menagkui, atau mengingkari. Anton Maulana Muhammad (1088-379) memberikan definisi ingkar sebagai berikut: ingkar berarti menyangkal, tidak membenarkan, tidak mengakui, mungkar dan tidak menepati. Contoh : ia berusaha membela diri dengan mengingkari tuduhan yang diberikan kepadanya. Mengingkari dalam pengertian diatas, berarti tidak mengakui (menyangkal).1
2. Pengertian as-sunnah
As-Sunnah adalah penjelas dan penerang bagi Al-Qur‟an, “As-Sunnah dari sisi makna kembali kepada Al-Qur‟an, karena sunnah merupakan perincian dan penjelasan ringkas dari Al-Qur‟an.
Ibnu Taimiyah berkata, “Jika seseorang bertanya apa metode tafsir terbaik ? maka jawabannya adalah metode paling shahih dalam hal ini adalah menafsirkan Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an. Namun jika tidak memungkinkan maka tafsirkan Al-Qur‟an dengan As-Sunnah. Karena As-Sunnah adalah penjelas bagi Al-Qur‟an.2
Menurut bahasa, seperti dikemukakan oleh Ahmad Wardson Munawwir, yaitu sebagai berikut:
a. As-Sunnah dengan makna jalan
b. As-Sunnah dengan makna tabi‟at atau watak
c. As-Sunnah dengan makna al-hadis
Masyfuk Zuhdi memberikan ta’rif as-snnah menurut bahasa, yaitu “jalan yang ditempuh”. Hal ini sebagaimana dalam sabda Nabi saw.:
Artinya: “Barang siapa yang mempelopori mengerjakan suatu pekerjaan yang baik, maka baginya mendapat pahala atas perbuatan itu dan menerima pahala
1 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.141
2 Ali Muhammad Ash-Shallabi, Perjalanan Hidup Khalifah yang Agung Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, Jakarta: Darul Haq, 2010, h.366
2
orang-orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat. Dan barang siapa mempelopori mengerjakan suatu perbuatan yang jahat, maka ia berdosa atas perbuatannya itu dan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim, Masyfuk Zuhdi, 993:13)
Menurut ahli hadis, sunnah adalah sabda, pekerjaan, ketetapan, sifat atau tingkah laku Nabi saw., baik sebelum menjadi maupun sesudahnya.
Menurut ahli-ahli ushul-fiqh, sunnah adalah sabda Nabi saw., yang bukan berasal dari Al-Qur‟an, pekerjaan atau ketetapannya. Masyfuk Zuhdi memberikan definisi As-sunah menurut istilah, yaitu sebagai berikut:3
مَا نَقَلَ عَنِ النَّبِى صَلَّى اللََُّّ عَلَيْوِ وَسَ لّمّ مِنْ قّوْلٍ اَوْ فِعْلٍ اَوْ تَقْرِيْرٍ اّوْ غَيْرُ ذَلِكَ
sunnah ialah yang dinukilkan dari Nabi saw., baik berupa perkataan, perbuatan, takrirnya atau selain itu.
Jadi, yang dimaksud dengan ingkar sunnah adalah orang-orang yang tidak mengakui (mengingkari) akan keberadaan as-sunnah atau al-hadis sebagai sumber hukum dalam islam.4
B. Argumentasi Kelompok Ingkar Sunnah
M. Syuhudi Ismail, mengemukakan bahwa memang cukup banyak argumen yang telah dikemukakan oleh para pengingkar sunnah, baik oleh mereka yang hidup pada zaman imam syafi‟i maupun oleh orang yang hidup pada zaman sesudahnya. Dari berbagai argumentasi yang jumlahnya banyak itu, ada berupa argumen-argumen naqli (Al-Qur‟an dan Al-Hadis) dan ada yang berupa argumen-argumen non-naqli.
a. Argumen-argumen Naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen naqli ialah alasan pengingkar sunnah yang menggunakan dalil, baik dari Al-Qur‟an maupun dari hadis Nabi.
Argumen dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang mereka gunakan, antara lain sebagai berikut:
3 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.141-142
4 Ibid, h.142
3
1. Q.S. An-Nahl ayat 89










Dan Kami turunkan kitab Al-Qur’an kepadamu untk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)5
2. Q.S. Al-An‟am ayat 38











Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan didalam kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.6
3. Hadis
مَا جَاءَعَنٌىِ فَ أعَْرِضُوه عَلَى كِتَبَ الٌلَّ فَمَا وَافَقَوُ فَأنََاقُلْتوُ Artinya: “Apa yang datang kepadamu dari saya, maka konfirmasikanlah dengan kitabullah, maka hal itu berarti aku telah mengatakannya, dan suatu yang menyalahi Al-Qur’an, berarti aku tidak mengatakannya”
Menurut pengingkar sunnah, dengan dua ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia telah menerangkan dan memerinci segala sesuatu sehingga tidak perlu keterangan lain seperti sunnah. Seandainya Al-Qur‟an belum lengkap, apa maksud dari ayat tersebut? Jika demikian, berarti Allah menyalahi pemberitaan-Nya sendiri. Hal ini sangatlah mustahil. Padahal menurut para ulama, kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur‟an mencakup segala sesuatu yang berkenaan dengan urusan agama, mencakup hukum-hukumnya dunia akhirat.7
b. Argumen-argumen non-naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen non-naqli ialah argumen-argumen yang tidak berupa Alquran dan hadis-hadis Nabi. Walaupun sebagian
5 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002, h.278
6 Ibid, h. 133
7 Badri Khaeruman, Ulum Hadis, cet.1, Bandung:Pustaka Setia, 2010, h. 203
4
argumen-argumen itu ada yang menyinggung sisi tertentu dari ayat Al-Qur‟an ataupun Al-Hadis, tetapi karena yang dibahasnya bukanlah ayat ataupun matan hadisnya secara khusus, maka argumen-argumen tersebut dimasukkan kedalam argumen-argumen non-naqli.
Diantara argumen non-naqli yang diungkapkan oleh pengingkar sunnah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Al-qur‟an diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad (melalui Malaikat Jibril) dalam bahasa arab. Orang-orang mengerti secara langsung, tanpa harus memerlukan penjelasan dari hadis Nabi. Dengan demikian, hadis Nabi tidak diperlukan untuk memahami petunjuk Al-Qur‟an.
2. Dalam sejarah, umat Islam telah mengalami kemunduran. Umat Islam mundur karena umat Islam terpecah-pecah. Perpecahan itu terjadi karena umat Islam berpegang kepada hadis Nabi. Jadi, menurut para pengingkar sunnah, hadis Nabi merupakan sumber kemunduran umat Islam. Agar umat Islam maju, maka umat Islam harus meninggalkan hadis Nabi.
3. Asal mula hadis Nabi yang dihimpun dalam kitab-kitab hadis adalah dongeng-dongeng semata. Dinyatakan demikian, karena hadis-hadis Nabi lahir setelah Nabi wafat.8
C. Perkembangan Ingkar Sunnah
Sebelumnya, pada masa sahabat sudah ada orang-orang yang kurang memperhatikan kedudukan sunnah, tetapi mereka masih bersifat perorangan. Kemudian, menjelang abad kedua, muncullah golongan yang mengingkari sunnah yang di-mutawatirkan-saja.
Ada beberapa golongan yang menyikapi sunnah Nabi secara universal, dan ada pula yang menolak hadis atau sunnah karena diriwayatkan oleh sahabat tertentu. Golongan yang pro dan kontra terhadap sunnah ialah golongan khawarij, golongan mu‟tajilah dan golongan syi‟ah.
1. Sikap khawarij terhadap sunnah
8 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.144
5
Kata khawarij merupakan bentuk jamak dari kata kharij yang berarti sesuatu yang keluar. Sementara menurut pengertian terminologis khawarij adalah kelompok atau golongan yang pertama keluar dan tidak loyal terhadap pimpinan yang sah.
Dan yang dimaksud dengan khawarij disini adalah golongan tertentu yang memisahkan diri dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib r.a. Ada sumber yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat sebelum terjadinya fitnah yang mengakibatkan terjadinya perang saudara. Yaitu perang jamal (antara sahabat Ali r.a dengan Aisyah) dan perang Siffin ( antara sahabat Ali r.a dengan Mu‟awiyah r.a). Dengan alasan bahwa sebelum kejadian tersebut para sahabat dinilai sebagai orang-orang yang „adil (muslim yang sudah akil-baligh, tidak suka berbuat maksiat, dan selalu menjaga martabatnya). Namun, sesudah kejadian fitnah tersebut, kelompok khawarij menilai mayoritas sahabat Nabi SAW sudah keluar dari islam. Akibatnya, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat setelah kejadian tersebut mereka tolak.9
Golongan khawarij memakai sunnah dan mempercayainya sebagai sumber hukum Islam, hanya saja ada sumber-sumber yang menyebutkan bahwa mereka menolak hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat tertentu, khususnya setelah peristiwa tahkim. As-siba‟i mengemukakan bahwa khawarij dengan berbagai kelompoknya yang berbeda itu, sebelum terjadinya perang saudara antara sahabat, menganggap semua sahabat Nabi dapat dipercaya, kemudian mereka mengkafirkan Ali, Utsman, para pengikut Perang Onta, dua orang utusan perdamaian (tahkim) dan orang-orang yang membenarkan salah seorang atau dua utusan perdamaian tadi.10
2. Sikap syi‟ah terhadap sunnah
Kata syiah berarti „para pengikut‟ atau para pendukung. Sementara menurut istilah ,syiah adalah golongan yang menganggap Ali bin Abi Thalib lebih utama daripada khalifah yang sebelumnya, dan berpendapat bahwa al-bhait lebih berhak menjadi khalifah daripada yang lain. Golongan syiah terdiri dari berbagai kelompok dan tiap kelompok menilai kelompok yang lain sudah keluar dari islam. Sementara kelompok yang masih eksis hingga sekarang
9 http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)
10Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia,2010, h.145
6
adalah kelompok Itsna „asyariyah. Kelompok ini menerima hadits nabawi sebagai salah satu syariat islam. Hanya saja ada perbedaan nmendasar antara kelompok syiah ini dengan golongan ahl sunnah (golongan mayoritas umat islam), yaitu dalam hal penetapan hadits. Golongan syiah menganggap bahwa sepeninggal Nabi SAW mayoritas para sahabat sudah murtad kecuali beberapa orang saja yang menurut menurut merekamasih tetap muslim. Karena itu, golongan syiah menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mayoritas para sahabat tersebut. Syiah hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahli baiat saja.
Sebagian besar golongan syi‟ah yang dimaksud disini adalah mereka yang masih berbeda dalam lingkungan Islam, mendiskualifikasikan (menganggap tidak cakap dan mampu) kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, serta umumnya para sahabat yang mengikuti mereka, Mu‟awiyah dan Amr ibn Ash, serta sahabat lain yang terlibat dalam perampasan kekhalifahan Ali. Lebih jauh, kaum syiah sesungguhnya mendiskualifikasikan umumnya para sahabat, kecuali beberapa orang yang dikenal kecintaannya kepada Ali. Mereka menolak sunnah umumnya dari sahabat, kecuali yang diturunkan oleh para pengikut Ali.11
3. Ingkar sunnah masa kini
Sesudah abad kedua Hijriyah, tidak ada catatan sejarah yang menyatakan kelompok muslim yang menolak hadis. Namun ketika negara-negara Barat menjajah negara Islam, mereka mulai menyebar benih-benih busuk untuk melumpuhkan kekuatan Islam. Pada saat itulah, di Irak muncul orang yang menolak as-sunnah, sedangkan di Mesir, hal itu muncul pada masa Muhammad Abduh mengatakan bahwa “ Umat Islam saat ini tidak mempunyai pemimpin lain, kecuali Al-Qur‟an. Islam yang benar adalah Islam tempo dulu, sebelum munculnya perpecahan dalam tubuh muslimin.12
D. Penyebab Ingkar Sunnah
Latar belakang yang menyebabkan ingkar sunnah adalah karena beberapa faktor, antara lain sebagai berikut :
1. Salah paham terhadap penafsiran Al-Qur‟an. Hal ini terlihat dalam memahami surat al-An‟am ayat 38
11 Ibid, h.145
12 Ibid, h.146
7






Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan didalam kitab13
Disamping adanya salah faham terhadap penafsiran surat al-An‟am tersebut, mereka (pengingkar sunnah) terlalu sempit dalam meneliti al-Qur‟an. Hal ini terbukti dengan adanya pemikiran yang terlalu parsial.
2. Faktor dari sebab-sebab adanya ingkar sunnah ialah terkait dengan adanya larangan Nabi.
3. Mereka (pengingkar sunnah) merasa angkuh dan gengsi. Karena pada prinsipnya para pengingkar sunnah tidak mengakui ayat lain atau hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu.14
E. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengingkar Sunnah
Imam Baihaqi, seperti yang dikemukakan oleh Jalaludin as Suyuti (1997;39) tentang penjelasan oleh sebagian orang yang bersikap menolak sunah Rasulullah, yaitu yang diriwayatkan oleh orang-orang hadisnya dinilai Dha’if. Maksudnya, dengan hadist tersebut untuk menolak sunnah Rasulullah dan terbatas hanya menerima al-Qur‟an saja.
Sebagaiman telah disinggung dalam pembahasan diatas, bahwa umat Islam sejak zaman Nabi saw. meyakini bahwa al-hadits merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Dasar utama dari keyakinan itu, menurut M. Syuhudi Ismail adalah berbagai petunjuk al-Qur‟an, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Al-Qur‟an Surat al-Hasyr ayat 7

















Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.
13 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002, h.133
14 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.146-147
8
2. Al-Qur‟an Surat Ali-Imran ayat 32













Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.
3. Al-Qur‟an Surat Al-Nisa ayat 80







Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. 15
Berdasarkan dalil-dalil diatas, pengingkar sunnah termasuk sesat karena tidak sesuai dengan ajaran al-Qur‟an, dimana mereka tidak konsekuen dalam melaksanakan secara total dan menyeluruh, dan mereka tidak mengakui kebenaran As-Sunnah dan mereka juga membenci As-Sunnah, maka mereka bukan termasuk umat Nabi saw . Seperti sabda Nabi saw.:
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُ نَّ تِى ف لَ يسَ مِ نّى )متفق عليو(
Artinya : “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (Muttafaqun Alaih)16
F. Pandangan Orientalis tentang Hadis Sebagai Sumber Hukum
Menurut Joseph Schacht, tujuan Muhammad selaku Nabi bukanlah untuk membuat sistem hukum yang baru, tetapi sekedar mengajarkan manusia bagaimana harus bertindak agar selamat menghadapi perhitungan pada hari pembalasan dan agar masuk surga.
Menurut Anderson, bahwa Muhammad tidak berusaha menyelesaikan sistem hukum yang komprehensif, tetapi hanya melakukan sedikit amandemen terhadap hukum adat yang sudah ada.
Snouck Hurgronje juga menyatakan bahwa Muhammad sangat menyadari batapa kurang memenuhi syaratnya untuk menyelesaikan urusan dibidang hukum, kecuali kalau benar-benar mendesak. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh
15 Ibid, h.147-149
16 Muhammad Nashiruddin Albani, Takhrij Kitab Sunnah, Jak-Sel: Najla Press, Desember, 2003, h.43
9
E. Tyan bahwa jika seseorang melihat sepintas karya Muhammad, maka akan dengan mudah meyakini bahwa Muhammad tidak bermaksud untuk membuat hukum baru.
Beberapa pandangan diatas menunjukkan bahwa dimata para orientalis, Nabi Muhammad tidak memiliki kapasitas dan otoritas dalam menetapkan hukum. Mereka menolak adanya penetapan hukum yang sistematis dari Nabi, yang konsekuensinya pada penolakan sunnah sebagai sumber hukum islam. Kalaupun ada sunnah yang menjadi sumber hukum islam, maka hal itu bukan sesuatu yang berasal dari Nabi, tetapi berasal dari tradisi yang sudah ada danberkembang dalam masyarakat.
Terlebih lagi, para orientalis beranggapan bahwa Al-Qur‟an adalh perkataan Nabi Muhammad dan sunnah atau hadis adalah buatan para sahabat, tabi‟in, dan para ulama atau fuqaha. Mereka menganggap bahwa dasar hukum Islam diambil dari hukum-hukum gereja Timur. Bahkan merekamenuduh bahwa hukum Islam mengacu kepada hukum perundang-undangan Romawi.
Anggapan dasar para orientalis yang keliru tersebt, para ulama sangat jauh berbeda dengan pandangan dan keyakinan umat Islam bahwa Al-Qur‟an adalah wahyu dan firman Allah sedangkan hadis atau sunnah adalah perkataan, perbuatan atau persetujuan Nabi. Karena itu, pandangan orientalis bahwa hukum agama Islam itu mengacu pada hukum dan perundang-undangan Romawi atau diambil dari hukum gereja-gereja Timur, juga sangat bertentangan dengan pendapat seluruh ulama dan umat Islam. Bahwa hukum Islam bersumber dari Al-Qur‟an, Al-Hadis, Ijma‟ dan Qiyas.17
G. Kritik, Koreksi Terhadap Pandangan Orientalis dan Bantahan Para Ulama
Mengenai tuduhan mereka mengenai adanya larangan penulisan hadis oleh Nabi dan tidak adanya peninggalan tertulis, Shubhi al-Shalih mengatakan bahwa larangan penulisan tersebut disampaikan secara umum pada awal turunnya wahyu Al-Qur‟an karena Nabi khawatir hadis tercampur dengan Al-Qur‟an tetapi setelah sebagian besar Al-Qur‟an telah diturunkan, maka Nabi memberikan izin penulisan hadis secara umum kepada para sahabat.18 Abd Allah bin Mas‟ud berpendapat bahwa orang yang menghindari sunnah tidak termasuk orang beriman bahkan dia orang kafir. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, sebagai berikut: “Jika kamu
17 Idri, Studi Hadis, cet.1, Jakarta: Prenada Media Group, oktober 2010, h. 319-320
18 Ibid, h.321
10
bersembahyang di rumah-rumah kamu dan kamu tinggalkan masjid-masjid kamu, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan berarti kamu kufur.” (H.R. Abu Dawud :91). Allah SWT telah menetapkan untuk mentaati Rasul, dan tidak ada alasan dari siapa pun untuk menentang perintah yang diketahui berasal dari Rasul. Allah telah membuat semua manusia (beriman) merasa butuh kepadanya dalam segala persoalan agama dan memberikan bukti bahwa sunnah menjelaskan setiap makna dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah dalam kitabnya. Sunnah Rasul mempunyai tugas yang amat besar, yakni untuk memberikan pemahaman tentang Kitabullah, baik dari segi ayat maupun hukumnya. Orang yang ingin mempedalam pemahaman Al-Quran, ia harus mengetahui hal-hal yang ada dalam sunnah , baik dalam maknanya, penafsiran bentuknya, maupun dalam pelaksanaan hukum-hukumnya. Contoh yang paling baik dalam hal ini adalah masalah ibadah shalat. Tegasnya setiap bagian Sunnah Rasul SAW. Berfungsi menerangkan semua petunjuk maupun perintah yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran. Siapa saja yang bersedia menerima apa yang ditetapkan Al-Quran dengan sendirinya harus pula menerima petunjuk-petunjuk Rasul dalam Sunnahnya. Allah sendiri telah memerintahkan untuk selalu taat dan setia kepada keputusan Rasul. Barang siapa tunduk kepada Rasul berarti tunduk kepada Allah, karena Allah jugalah yang menyuruh untuk tunduk kepadaNya. Menerima perintah Allah dan Rasul sama nilainya, keduanya berpangkal kepada sumber yang sama (yaitu Allah SWT). Dengan demikian, jelaslah bahwa menolak atau mengingkari sunnah sama saja dengan menolak ketentuan-ketentuan Al-Quran, karena Al-Quran sendiri yang memerintahkan untuk menerima dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.19
19 http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)
11
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas dapat ditegaskan di sini bahwa alasan mendasar yang mereka kemukakan untuk menolak keberadaan hadis Nabi saw. sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur‟an adalah statement al-Qur‟an yang menyatakan bahwa al-Qur‟an telah menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Islam (QS. al-Nahl [16]: 89). Di samping itu mereka juga meragukan keabsahan kitab-kitab hadis (yang memuat hadis-hadis Nabi saw.) yang kodifikasinya baru dilakukan jauh setelah Nabi saw. wafat. Menurut para ulama, seperti al-Syafi‟i, argumentasi mereka tersebut adalah keliru. Kekeliruan sikap mereka itu sejauh ini diidentifikasi sebagai akibat kedangkalan mereka dalam memahami Islam dan ajarannya secara keseluruhan.
12
DAFTAR PUSTAKA
Albani, Nashiruddin, Muhammad, Takhrij Kitab Sunnah, Jak-Sel: Najla Press, Desember, 2003
Ash-Shallabi, Ali, Muhammad , Perjalanan Hidup Khalifah yang Agung Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, Jakarta: Darul Haq, 2010
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002
Idri, Studi Hadis, cet.1, Jakarta: Prenada Media Group, oktober 2010
Khaeruman, Badri, Ulum Hadis, cet.1, Bandung:Pustaka Setia, 2010
Sahrani, Sohari, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010
http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)


Meninggalkan komentar

Evaluasi dan Prestasi Belajar


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evaluasi sebagaimana kita ketahui merupakan pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.Evaluasi merupakan penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.
Evaluasi belajar memiliki tujuan dan fungsi yang dengannya akan dapat mengetahu hasil prestasi belajar siswa-siswinya begitupula dengan psikologis siswa-siswinya.Indikator prestasi belajar pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Ranah atau jenis indicator tersebut antara lain ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), ranah karsa (psikomotor). Hasil keberhasilan prestasi belajar para siswa-siswi dapat dilihat melalui batas minimal prestasi belajar yang telah ditentukan. Berdasarkan pemaparan diatas, maka dalam makalah ini penulis ingin membahas apa itu pengertian evaluasi dan prestasi belajar, ragam evaluasi, dan indikator prstasi belajar.

B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa itu Evaluasi dan Prestasi Belajar?
2. Apa saja Ragam Evaluasi?
3. Apa itu Indikator Prestasi Belajar dan Batas Minimal Prestasi Belajar?
4. Bagaimana mengukur keberhasilan siswa melalui Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikotor.

C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu hakikat itu Evaluasi dan Prestasi Belajar.
2. Untuk mengetahui Ragam Evaluasi.
3. Untuk mengetahui Indikator Prestasi Belajar.
4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan prestasi belajar melalui Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikotor.

D. Metode Penulisan
Metode penuisan makalah ini adalah dengan menggunakan kajian pustaka, yaknidengan mengkaji buku-buku yang sesuai dengan topik yaitu Evaluasi dan Prestasi Belajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi Pendidikan.
Evaluasi merupakan pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode materil dan lain-lain . Adapun pengertian evaluasi pendidikan menurut beberapa tokoh antara lain:
1. Bloom.
Evaluasi, sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.
2. Stufflebeam.
Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.
3. Cronbach.
Evaluasi merupakan suatu proses terus menerus sehingga di dalam proses kegiatannya dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan adanya suatu kesalahan.

Selain istilah evaluasi seperti yang tercantum dalam definisi di atas, kita dapati pula istilah pengukuran dan penilaian. Ketiga istilah tersebut pada umumnya cenderung diartikan sama. Padahal sebenarnya ketiga istilah tersebut tidak sama artinya. Setidak-tidaknya ada kaitan antara ketiga istilah tersebut.

Sebagai contoh:
Pasar, merupakan suatu tempat bertemunya orang-orang yang akan menjual dan membeli. Sebelum menentukan barang yang akan dibelinya, seorang pembeli akan memilih dahulu mana barang yang lebih baik menurut ukurannya. Apabila ia akan membeli jeruk, dipilihnya jeruk yang besar, kuning dan kulitnya halus. Semuanya itu dipertimbangkan karena menurut pengalaman sebelumnya. Jenis jeruk-jeruk yang demikian ini rasanya akan manis. Sedangkan jeruk yang masih kecil, hijau dan kulitnya agak kasar, biasanya rasanya masam.
Dari contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa sebelum menentukan pilihan, kita mengadakan penilaian terhadap benda-benda yang akan kita pilih. Sebenarnya kita juga mengukur, yakni membandingkan jeruk-jeruk yang ada dengan ukuran tertentu.Setelah itu kita menilai, menentukan pilihan mana jeruk yang paling memenuhi ukuran itulah yang kita ambil.
Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itulah yang disebut mengadakan evaluasi, yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran.
1. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
2. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
3. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah yang di atas yakni mengukur dan menilai.
Di dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation.Dari kata evaluation inilah di peroleh kata indonesia evaluasi yang berarti menilai.
Evaluasi mempunyai arti yang berbeda untuk guru yang berbeda. Berikut beberapa arti yang telah telah secara luas dapat diterima oleh para guru di lapangan.
“Evaluation is a process which determines the extent to which objectives have been achieved (Cross, 1973: 5)”. “Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai”.
Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, mengomonikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambil keputusan.
Dalam berbagai firman Allah SWT memberitahukan kepada kita, bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidikan. Hal ini misalnya dapat dipahami dari ayat yang berbunyi sebagai berikut:
•
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” 32. mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Sedangkan prestasi belajarialahhasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif.
B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
1. Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua,yaitu :
a. Unuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan perserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan kurikuler.
b.Untuk mengukur dan menilai sampai dimanakah efektivitas mengajar dan metode-metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik, serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik.
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah :
a. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
b. Untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
2. Fungsi Evaluasi
Disamping memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
a. Fungsi administrative untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku raport.
b. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelusan.
c. Fungsi diagnostic untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dan merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
d. Sumber data BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan (BP).
e. Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode data dan alat-alat PBM.

C. Ragam Evaluasi
Pada prinsipnya, evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan.Oleh karena itu, ragamnya pun banyak, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.
1. Pre test dan post test
Kegiatan pre test dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi baru. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan. Evaluasi seperti ini berlangsung singkat dan sering tidak memerlukan instrument tertulis.Sedangkan post test adalah kebalikan dari pre test, yakni kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh guru pada setiap akhir penyajian materi.Tujuannya adalah untuk mengetahui taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan.
2. Evaluasi Prasyarat
Evaluasi jenis ini mirip dengan pre test. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan. Contoh evaluasi penguasaan penjumlahan bilangan sebelum memulai pelajaran perkalian bilangan, karena penjumlahan merupakan prasyarat atau dasar perkalian .
3. Evaluasi Diagnostic
Evaluasi ini dilakukan setelah selasai penyajian satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentuyang belumdikuasai siswa. Instrumentevaluasi jenis ini dititik beratkan pada bahasan tertentu yang di pandang telah membuat siswa mendapatkan kesulitan.
4. Evaluasi Formatif
Evaluasi ini dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul.Tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik, yakni untuk mendiagnosis (mengetahui penyakit / kesulitan) kesulitan belajar siswa.Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebgai bahan pertimbangan rekayasa pengajaran remedial (perbaikan).
5. Evaluasi Submatif
Ragam penilaian submatif dilakukan untuk mengukur kinerja akademi atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran.Evaluasi ini lazim dilakukan di setiap akhir semester atau akhir ajaran.Hasilnya dijadikan bahan laporan resmi mengenai kinerja akademi siswa dan bahan penentu naik atau tidaknya siswa ke kelas yang lebih tinggi.
6. EBTA dan EBTANAS
EBTA (Evaluasa Belajar Tahap Akhir) dan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa, namun, EBTA dan EBTANAS ini dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas tinggi pada suatu jenjang pendidikan tertentu seperti jenjang SD dan MI (Madrasah Ibtidaiyah), dan seterusnya .

D. Indikator Prestasi Belajar
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit.Hal ini disebabkan oleh perubahan hasil belajar yang bersifat intangible (tidak dapat diraba).Oleh karena itu yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah dengan mengetahui garis – garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) yang dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.

E. Batas Minimal Prestasi Belajar
Selain indikator belajar seorang guru juga perlu mengetahui bagaimana kita menetapkan batas minimal keberhasilan belajar para siswanya.Hal ini penting karena mempertimbangkan batas terendah prestasi siswa yang dianggap berhasil dalam arti luas bukanlah perkara mudah.Keberhasilan dalam arti luas berarti keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.
Ranah-ranah psikologi, walaupun berkaitan satu sama lain, kenyataannya sukar diungkapkan sekaligus bila hanya melihat perubahan yang terjadi pada salah satu ranah. Contoh; seorang siswa memiliki nilai tinggi dalam bidang studi agama islam misalnya, belum tentu rajin beribadah shalat . Sebaliknya, siswa lain yang hanya mendapat nilai cukup dalam bidang studi tersebut, justru menunjukkan perilaku yang baik dalam kehidupan beragama sehari-hari.
Menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar. Ada beberapa alternative norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar-mengajar. diantara norma-norma pengukuran tersebut ialah:
1) Norma skala angka dari 0 sampai 10;
2) Norma skala angka dari 0 sampai 100;
Angka terendah yang menyatakan kelulusan atau keberhasilan belajar (passing grade) skala 0-10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0-100 menyelesaikan lebih dari separuh tugas atau dapat menjawab lebih dari setengah instrument evaluasi dengan benar, ia dianggap telah memenuhi target minimal keberhasilan belajar. Namun demikian, kiranya perlu dipertimbangkan oleh para guru sekolah penetapan passing grade yang lebih tinggi (misalnya 65 atau 70) untuk pelajaran-pelajaran inti (core subject). Pelajaran inti antara lain meliputi matematika dan bahasa, karena kedua bidang studi ini (tanpa mengurangi pentingnya bidang-bidang studi lainnya). Merupakan “kunci pintu” pengetahuan-pengetahuan lainnya.
Selain norma-norma diatas, terdapat norma lain yang ada dinegara kita yakni di perguruan tinggi, yaitu norma prestasi belajar dengan menggunakan symbol huruf-huruf A, B, C, D dan E. symbol huruf ini dapat dipandang sebagai terjemahan dari symbol angka-angka.

Table 1
Perbandingan Nilai Angka dan Huruf
Simbol-Simbol Nilai Angka dan Huruf Predikat
Angka Huruf
8 – 10 = 80 – 100 = 3,1 – 4 A Sangat Baik
7 – 7,9 = 70 – 79 = 2,1 – 3 B Baik
6 – 6,9 = 60 – 69 = 1,1 – 2 C Cukup
5 – 5,9 = 50 – 59 = 1 D Kurang
0 – 4,9 = 0 – 49 = 0 E Gagal

F. Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikomotor
1. Evaluasi Prestasi Kognitif
Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin banyaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang face to face (berhadapan langsung).
Dampak negative yang tak jarang muncul akibat tes yang face to face ialah sikap dan perlakuan yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukanpun tingkat kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Disatu pihak ada siswa yang diberi soal yang mudah dan terarah (sesuai dengan topic) sedangkan di pihak lain ada pula siswa yang ditanyai masalah yang sukar bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.
Untuk mengatasi masah subjektivitas tersebut, semua jenis tes tertulis baik yang berbentuk subjektif maupun objektif (kecuali tes B-S), seyogyanya dipakai sebaik-baiknya oleh para guru.Namun demikian, apabila menghendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S, tes pilihan berganda juga sebaiknya tidak digunakan.Sebagai gantinya, sangat dianjurkan untuk menggunakan tes pencocokan (matching test), tes isian, tes esai.Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sistesis siswa, juga lebih dianjurkan menggunakan tes esai, karena tes ini adalah satu-satunya instrument evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa tersebut .

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى
رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.[17]

2. Evaluasi Prestasi Afektif
Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seyogyanya dapat perhatian khusus.Karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.


3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Salah satu bentuk ranah rasa yang popular ialah “Skala Likert” (likert Scale) yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan atau sikap mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skala ini diberi ekor 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung dengan kebutuhan dengan cacatan skor-skor itu dapat dicerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai “sanga tidak”. Perlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecendrungan efektif siswa yang represntatif, iten-item skala sikap sebaliknya dilengkapi dengan identitas sikap yang meiputi: 1)doktrin; 2)komitmen; 3)penghayatan; 4)wawasan.
4. Evaluasi Prestasi Psikomotorik
Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi.Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah diartikan sebagai sejenis tes mengenai peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Namun observasi harus dibedakan dari eksperimen, karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi.
Guru yang hendak melakukan observasi perilaku psikomotor siswa-siswanya seyogyanya mempersiapkan langkah-langkah yang cermat dan sistematis menurut pedoman yang terdapat dalam lembar format observasi itu sendiri .

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Evaluasi merupakan pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode materil dan lain-lain. Sedangkan Prestasi belajar ialahhasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif.
2. Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah (a) untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan;(b)untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan. Selain itu fungsi-fungsi sebagai berikut (a)Fungsi administrative; (b) Fungsi promosi; (c) Fungsi diagnostic; (d) Sumber data BP; (e) Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode data dan alat-alat PBM.
3. Macam ragam evaluasi sendiri antara lain: Pre test dan post test, Evaluasi Prasyarat, Evaluasi Diagnostic, Evaluasi Formatif, Evaluasi Submatif, EBTA dan EBTANAS.
4. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah dengan mengetahui garis – garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) yang dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.
Menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar.
5. Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seyogyanya dapat perhatian khusus. Kemudian mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakuhkan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan dan arahan serta saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Gito Supriadi. 2011, Evaluasi Pembelajaran. Malang: Intimedia.
Muhibbin Syah. 2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya Offset.
Nana Sudjana.2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Karya Offset.
Sukardi.2011. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta Timur: Bumi Aksara.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.193 pengikut lainnya.