hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan


Meninggalkan komentar

Makalah Sinar – X


Sinar-x ditemukan pertamakali oleh Roentgen pada tahun 1895. Pada saat ditemukan,
sifat-sifat sinar-x tidak langsung dapat diketahui. Sifat-sifat alamiah (nature) sinar-x baru
secara pasti ditentukan pada th 1912 seiring dengan penemuan difraksi sinar-x oleh kristal.
Difraksi sinar-x ini dapat “melihat” atau “membedakan” objek yang berukuran kurang lebih1
angstroom.
untuk lebih jelasnya silahkan dowload makalah berikut yan telah diseminarkan oleh Kardiawarman, Ph. D.MAKALAH_SINAR-X (1)
Semoga bermanfaat ^-^


Meninggalkan komentar

Makalah Fisika Inti Reaktor Nuklir


BAB I
PENDDAHULUAN

A. Latar Belakang
Energi merupakan suatu kebutuhan bagi setiap Negara, terutama energi listrik Indonesia merupakan Negara berkembang, kebutuhan energi listrik setiap tahun makin bertambah dari kebutuhan energi listrik rumah tangga, industry, pabrik-pabrik dan lain-lain. Pemerintah sudah membangun pusat-pusat pembangkit listrik di berbagai daerah namun masih belum efisien disbanding dengan Negara-negara berkembang yang sudah menggunakan reactor nuklir maka kebutuhan energi listrik di Indonesia akan tercukupi oleh sebab itu makalah ini akan membahas tentang Reaktor Nuklir tersebut dan apa saja yang harus disiapkan Indonesia untuk membangun Reaktor Nuklir tersebut.

B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa itu reaktor nuklir?
2. Apa saja komponen-komponen reaktor nuklir dan fungsinya?
3. Bagaimana prinsip kerja reaktor nuklir?
4. Apa saja jenis-jenis reaktor nuklir?
5. Apa saja keunggulan dan kelemahan reaktor nuklir?

C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini antara lain:
1. Untuk mengetahui apa itu reaktor nuklir
2. Untuk mengetahui komponen-komponen dan fungsi rektor nuklir
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip kerja reaktor nuklir.
4. Untuk mengetahui jenis-jenis reakor nuklir
5. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan reaktor nuklir.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan kajian pustaka, yakni dengan mengkaji buku-buku yang sesuai dengan topik yaitu Reaktor Nuklir.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Reaktor Nuklir
Reaktor nuklir adalah suatu alat untuk mengendalikan reaksi fisi berantai dan sekaligus menjaga kesinambungan reaksi itu. Reaktor nuklir merupakan suatu alat dimana terjadi reaksi pembelahan berantai yang terkendali. Teknik pengendalian reaksi pembelahan ini merupakan dasar dari suatu rekator nuklir. Dalam suatu rekator nuklir, proses fisi dikendalikan dengan mengusahakan agar secara rata-rata hanya 1 neutron yang dihasilkan untuk melakuhkan fisi berikutnya. Dalam membuat fisi yang terkendali, ukuran bahan memegang peranan penting. Ukuran tertentu yang memungkinkan terjadinya fisi terkendali dinamakan ukuran kritis. Ukuran kritis bergantung pada kombinasi dari struktur material dan inti uranium yang digunakan. Diatas ukuran kritis, suatu reaksi berantai terkendali tidak dapat dipertahankan.
Disamping masalah ukuran kritis, masalah lain yang berhubungan dengan reaktor nuklir adalah penggunaan inti uranium. Sekitar 99,3% uranium alam terdiri dari -238, sisanya 0,7% adalah uranium-235 (uranium 234 juga ada, namun sedikit sekali). Jika hendak menggunakan uranium -238, kita harus menyediakan neutron cepat dalam reaktor. Hal ini sulit diperoleh karena neutron cepat mudah sekali kehilangan energy (menjadi lambat) ketika bertumbukan dengan inti uranium, sedangkan jika kita hendak menggunakan neutron lambat, kita harus menggunakan uranium -235 yang jarang terdapat di alam.
Ada reaktor nuklir yang menggunakan uranium -238. Reaktor jenis ini dinamakan reaktor cepat, tetapi kebanyaka reaktor nuklir menggunakan uranium -235. Pada reaktor yang bukan reaktor cepat, neutron lambat diperoleh dengan memperlambat neutron cepat. Neutron cepat biasanya akan diperlambat hingga kecepatan dan energinya sama dengan energy dan molekul gas pada suhu normal, (yaitu sekitar 0,025 ev). Neutron seperti ini dinamakan neutron termal. Itulah sebabnya reaktor jenis ini dinamakan reakor termal.

B. Komponen-komponen Reaktor Nuklir
Tujuan dari reaktor termal adalah untuk menghasilkan energi nuklir pada laju yang terkendali. Ada beberapa jenis reaktor termal, pada prinsipnya mereka semua sama, yang berbeda hanya desainnya saja. Gambar dibawah menunjukkan skema sebuah reaktor nuklir.

Gambar 7 : Skema reactor nuklir

Komponen-komponen utama dari suatu reaktor nuklir termal adalah:
a. Bahan bakar nuklir
b. Bahan Moderator
c. Batang pengontrol
d. Pendingin Reaktor
e. Batang Kendali Reaktor
f. Perangkat detektor
g. Reflektor
h. Perangkat penukar panas.

1. Bahan bakar nuklir
Terdapat dua jenis bahan bakar nuklir yaitu BAHAN FISIL dan BAHAN FERTIL. Bahan Fisil ialah: suatu unsur/atom yang langsung dapat memberi reaksi pembelahan apabila dirinya menangkap neutron. Contoh: 92U233, 92U235, 94PU239, 94PU241.
Bahan Fertil ialah: suatu unsur/atom yang setelah menangkap neutron tidak dapat langsung membelah, tetapi membentuk bahan fisil. Contoh: 90TH232 , 92U238
Pada kenyataannya sebagian besar bahan bakar nuklir yang berada dialam adalah bahan fertil, sebagai contoh isotop Thorium di alam adalah 100% Th-232, sedangkan isotop Uranium hanya 0,7% saja merupakan bahan fisis (U-235), selebihnya sebesar 99,35 adalah bahan fertil (U-238).
Karena alasan fisis, elemen bakar suatu reaktor dibuat dengan kadar isotop fisilnya lebih besar dari kondisi alamnya, isotop yang demikian disebut sebagai isotop yang diperkaya, sedangkan sebaliknya untuk kadar isotop fisil yang lebih kecil dari kondisi alamnya disebut isotop yang susut kadar, biasanya ditemui pada elemen bakar bekas. Selain perubahan kadar bahan fisilnya, elemen bakar biasanya dibuat dalam bentuk oksida atau paduan logam dan bahkan pada dasawarsa terakhir ini sudah banyak dikembangkan dalam bentuk silsida. Contoh komposisi elemen bakar yang banyak dipakai: UO2, U3O8-Al, UzrH, adalah agar diperoleh elemen bakar yang nilai bakarnya tinggi, titik lelehnya tinggi, penghantaran panasnya baik, tahan korosi, tidak mudah retak serta mampu menahan produk fisi yang terlepas.
Bahan bakar nuklir adalah semua jenis material yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi nuklir, demikian bila dianalogikan dengan bahan bakar kimia yang dibakar untuk menghasilkan energi. Siklus bahan bakar nuklir penting adanya karena terkait dengan PLTN dan senjata nuklir.

Gambar 3 : Proses pengolahan Uranium
Bahan bakar nuklir tradisional yang digunakan di USA dan beberapa negara yang tidak melakukan proses daur ulang bahan bakar nuklir bekas mengikuti empat tahapan seperti yang terdapat dalam gambar di atas. Proses di atas berdasarkan siklus bahan bakar nuklir. Pertama, uranium diperoleh dari pertambangan. Kedua, uranium diproses menjadi “Yellow Cake”. Langkah berikutnya adalah mengubah “Yellow Cake” menjadi UF6 untuk proses pengkayaan dan kemudian diubah menjadi uranium dioksida, atau tanpa proses pengkayaan untuk kemudian langsung ke tahap ke-4 sebagaimana yang terjadi untuk bahan bakar reaktor nuklir pada umumnya.

2. Bahan Moderator
Dalam reaksi fisi, neutron yang dapat menyebabkan reaksi pembelahan adalah neutron termal. Neutron tersebut memiliki energi sekitar 0,025 ev pada suhu 27ᵒC. Sementara neutron lahir dari reaksi pembelahan memiliki energi rata-rata 2 MeV, jauh lebih besar dari energi terrmalnya,
Syarat bahan moderator adalah atom dengan nomor massa kecil. Syarat lainnya memiliki tampang lintang serapat neutron (keboleh-jadian menyerap neutron) yang kecil, memiliki tambang lintang hamburan yang besar dan memiliki daya hantar panas yang baik, serta tidak korosif. Contoh bahan moderator : H2O, D2O (Grafit), Berilium (Be).
Syarat untuk memilih dan menentukan bahan moderator (dan reflector) adalah:
a. Pada tiap tumbukan terdapat kehilangan energy neutron yang besar.
b. Penampang penyerapan yang rendah
c. Penampang penghamburan yang tinggi.
3. Pendingin Reaktor
Pendingin reaktor berfungsi sebagai sarana pengambilan panas hasil fisi dari dalam elemen bakar untuk dipindahkan/dibuang ke tempat lain/lingkungan melalui perangkat penukar panas (H.E). sesuai dengan fungsinya maka bahan yang baik sebagai pendingin adalah fluida yang koefisien panasnya sangat bagus. Persyaratan lain yang harus dipenuhi agar tidak mengganggu kelancaran proses fisi pada elemen bakar adalah pendingin juga harus memiliki tampang lintang serapan neutron yang kecil, dan tampang lintang hamburan yang besar serta tidak korosif. Contoh fluida-fluida yang biasa dipakai sebagai pendingin adalah: H2O, D2O, Na cair gas He dan lain-lain.

4. Batang Kendali Reaktor
Batang kendali reaktor berfungsi sebagai pengendali jalannya operasi reaktor agar laju pembelahan/populasi neutron di dalam teras reaktor dapat diatur sesuai dengan kondisi operasi yang dikehendaki. Selain itu, batang kendali juga berfungsi untuk memadamkan reaktor/menghentikan reaksi pembelahan.
Sesuai dengan fungsinya, bahan batang kendali adalah material yang mempunyai tampang lintang serapan neutron yang sangat besaar, dan tampang lintang hamburan yang kecil. Bahan-bahan yyang sering dipakai adalah: Boron, cadmium, gadolinium dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut biasanya dicampur dengan bahan lain agar diperoleh sifat yang tahan radiasi, titik leleh yang tinggi dan tidak korosif.

Gambar 4 batang kendali boron
Prinsip kerja pengaturan operasi adalah dengan jalan teras reaktor. Jika batang kendali dimasukkan, maka sebagian besar neutron akan tertangkap olehnya, yang berarti populasi neutron di dalam reaktor akan berkurang dan kemudian padam. Sebaliknya jika batang kendali dikeluarkan dari teras, maka populasi neutron akan bertambah dan akan mencapai tingkat jumlah tertentu. Pertambahan/penurunan populasi neutron berkaitan langsung dengan perubahan daya reaktor.
5. Perangkat Detektor
Detector adalah komponen penunjang yang mutlak diperlukan di dalam reaktor nuklir. Semua informasi tentang kejadian fisis di dalam teras reaktor, yang meliputi popularitas neutron, laju pembelahan, suhu dan lain-lain hanya dapat dilihat melalui detector yang dipasang didalam teras.

6. Reflektor
Neutron yang keluar dari pembelahan bahan fisil, berjalan dengan kecepatan tinggi ke segala arah. Karena sifatnya yang tidak bermuatan listrik maka gerakannya bebas menembus medium dan tidak berkurang apabila menumbuk suatu inti atom medium. Karena sifat itu, sebagian neutron dapat lolos keluar teras reaktor, atau hilang dari system. Keadaan ini secara ekonomi berarti kerugian, karena neutron tidak dapat digunakan untuk proses fisis berikutnya.
Untuk mengurangi kejadian ini, maka sekeliling teras reaktor dipasang bahan pemantul neutron yang disebut reflector, sehingga neutron-neutron yang lolos akan bertahan dan dikembalikan ke dalam teras untuk dimanfaatkan lagi pada proses fifi berikutnya.
7. Bejana dan Prisai Reaktor
Bejana/tangki reaktor berfungsi untuk menampung fluida pendingin agar teras reaktor selalu terendam didalamnya. Bejana tersebut selain harus kuat menahan beban, juga harus tidak korosif bila berinteraksi dengan pendingin atau benda lain di dalam teras. Bahan yang biasa digunakan adalah: alumunium, dan stainless stell.
Perisai reaktor berfungsi untuk menahan/menghambat/menyerap radiasi yang lolos dari teras reaktor agar tidak menerobos keluar system reaktor. Karena reaktor adalah sumber radiasi yang sangat potensial, maka diperlukan suatu system perisai yang mampu menahan semua jenis radiasi. Umumnya perisai yang digunakan adalah lapisan beton berat.

8. Perangkat Penukar Panas
Perangkat penukar panas (Heat excharger) merupakan komponen penunjang yang berfungsi sebagai sarana pengalihan panas dari pendingin primer, yang menerima panas dari elemen bakar untuk diberikan pada fluida pendingin yang lain (skunder). Dengan system pengambilan panas tersebut maka integritas komponen teras akan selalu terjamin.
Pada jenis reaktor tertentu, terutama jenis PLTN, H.E. juga berfungsi sebagai pembangkit uap.

C. Prinsip Dasar Reaktor Nuklir
Pelepasan energi di dalam peristiwa inti individu seperti pemancaran-α, secara kasar adalah sejuta kali lebih besar daripada pelepasan energi di dalam peristiwa kimia, yang dihitung berdasarkan setiap setiap atom. Akan tetapi, untuk menggunakan tenaga inti besar, kita harus mengaturnya sedemikian rupa sehingga satu peristiwa akan memicu peristiwa inti yang lain yang berada disekitarnya sampai proses tersebut menyebar di seluruh materi seperti nyala api melalui sebuah balok kayu yang terbakar. Kenyataan bahwa lebih banyak neutron dihasilkan di dalam fisi daripada yang dihabiskan (lihat persamaan 55-1), menaikkan kemungkinan seperti ini, neutron yang dihasilkan dapat menyebabkan fisi di dalam inti yang berdekatan dengan neutron ini dan dengan cara ini maka sebuah rantai peristiwa fisi akan merambat sendiri. Proses seperti itu dinamakan reaksi berantai (chain reaction). Reaksi berantai ini dapat berlangsung cepat dan tak terkontrol seperti di dalam sebuah bom nuklir, atau dapat dikontrol seperti di dalam reactor nuklir.
Terdapat kesukaran-kesukaran serius untuk membuat supaya sebuah reaksi berantai dapat “berlangsung”. Disini kita sebutkan tiga dari antara kesukaran-kesukaran tersebut, bersama-sama dengan pemecahannya:
1. Masalah Kebocoran Neutron
Suatu presentasi dari neutron yang dihasilkan akan bocor ke luar dari teras reactor dan akan merupakan kehilangan kepada reaksi berantai tersebut. Jika terlalu banyak neutron yang bocor keluar, maka reactor itu tidak akan bekerja. Kebocoran adalah sebuah efek permukaan, yang besarnya sebanding dengan kuadrat dari dimensi teras reactor khas (4πr2 untu sebuah bola). Akan tetapi, produksi neutron adalah sebuah efek volume, yang sebanding dengan pangkat tiga dari sebuah dimensi khas (4/3 πr3 untuk sebuah bola). Bagian dari neutron yang hilang karena kebocoran dapat dibuat sekecil yang kita inginkan dengan membuat teras reactor cukup besar, dan dengan demikian akan mengurangi nilai banding permukaan terhadap volume (3/r untuk sebuah bola).
2. Masalah Energi Neutron
Neutron yang dihasilkan oleh fisi adalah neutron cepat, dengan energy kinetic sebesar ~ 2MeV. Akan tetapi, fisi diinduksi secara paling efektif oleh neutron lambat. Neutron cepat dapat diperlambat dengan mencampur bahan bakar uranium dengan sebuah zat yang mempunyai sifat-sifat berikut:
a. Zat itu efektif dalam menyebabkan kehilangan energy kinetic oleh tumbukan elastis
b. Zat itu tidak menyerap neutron secara berlebihan, dan dengan demikian akan menghilangkan neutron dari rantai fisi. Zat seperti itu dinamakan moderator.
Kebanyakan reactor daya di negeri ini sekarang menggunakan air sebagai moderator, di mana inti hydrogen (proton) berperan sebagai elemen moderator yang efektif
3. Masalah Penangkapan Neutron
Neutron dapat ditangkap oleh inti dengan berbagai cara yang tidak mengakibatkan fisi, dan penangkapan dengan pemancaran sinar-X adalah kemungkinan yang paling lazim. Khususnya, sewaktu neutron cepat (energy kinetik ~ 2MeV) yang dihaasilkan di dalam proses fisi diperlambat di dalam moderator ke kesetimbangan termal (energi kinetik ~ 0,04 eV) di dalam mana neutron itu khususnya mudah tertangkap dengan proses non-fisi oleh 238U.
Untuk meminimumkan penangkapan resonansi seperti itu, sebagaimana penangkapan itu dinamakan, maka bahan bakar uranium dan moderator (air) tidak dicampur secara baik sekali tetapi “dirumpunka”, yang tetap bersentuhan rapat satu sama lain tetapi menempati daerah yang berbeda-beda dari volume reactor tersebut. Harapan kita adalah bahwa sebuah neutron fisi cepat, yang dihasilkan di dalam sebuah “rumpun” uranium (yang dapat berupa sebuah tongkat bahan bakar), dengan kemungkinan yang tinggi akan menemukan dirinya sendiri di dalam moderator sewaktu lewat melalui jangkauan energy resonansi yang “berbahaya” tersebut. Sekali neutron itu telah mencapai energy termal, maka neutron itu sangat mungkin berkeluyuran kembali kedalam serumpun bahan bakar dan akan menghasilkan sebuah peristiwa fisi. Kelihatannya jelas bahwa mencari susunan geometric yang optimum dari bahan bakar dan moderator bukan merupakan masalah sederhana.

Gambar 55-6
Sebuah uraian mengenai satu siklus regenerasi lengkap untuk 1000 neutron cepat di dalam sebuah reactor nuklir khas, yang menggunakan uranium alam sebagai bahan bakar

Gambar 55-7
Sebuah rancangan tata ruang dari sebuah stasiun pembangkit daya nuklir di dasarkan pada reactor air tekan.

D. Jenis-jenis Reaktor Nuklir
Klasifikasi reaktor dibedakan berdasarkan kegunaan, tenaga neutron dan nama komponen serta parameter operasinya.
1. Menurut kegunaan :
a. Reaktor Daya
b. Reaktor Riset, termasuk uji material dan latihan
c. Reaktor Produksi Isotop yang kadang-kadang digol0ngkan juga kedalam reaktor riset.
2. Ditinjau dari tenaga neutron yang melangsungkan reaksi pembelahan, reaktor dibedakan atas:
a. Reaktor Cepat : GCFBR, LMFBR, SCFBR
b. Reaktor Thermal : PWR, BWR, PHWR, GCR
3. Berdasarkan parameter yang lain:
a. Reaktor Berreflektor Grafit: GCR, AGCR
b. Reaktor Berpendingin Air Ringan : PWR, BWR
c. Reaktor Suhu Tinggi : HTGR
4. Reaktor Fisi
Reaktor fisi merupakan instalasi yang menghasilkan daya panas secara konstan dengan memanfaatkan reaksi fisi berantai. Istilah ini dibedakan dengan reaktor fusi yang memanfaatkan panas dari reaksi fusi. Dimungkinkan adanya reaktor yang memadukan kedua jenis tersebut (reaktor hybrid).

5. Reaktor Fusi
Reaktor fusi adalah suatu instalasi untuk mengubah energi yang terjadi pada reaksi fusi menjadi energi panas atau listrik yang mudah dimanfaatkan. Teaksi fusi merupakan reaksi penggabungan inti atom ringan, misalnya reaksi antara deuterium dan tritium. Deuterium sangat melimpah dialam, namun tritium tidak ada di alam ini. Oleh karena itu bahan yang mengandung Li-6 digunakan sebagai selimut, selanjutnya direaksikan dengan neutron yang terjadi dari reaksi fusi untuk menghasilkan tritium, sehingga diperoleh siklus bahan bakar. System reaktor fusi terdiri dari bagian plasma teras, selimut, bejana vakum, magnet superkonduktor, dan lain-lain. Dibandingkan dengan reactor fisi, reactor fusi tidak akan mengalami lepas kendali, dan sedikit menghasilkan produk radioaktif, sehingga memiliki tingkat keselamatan yang tinggi.
6. Reactor Penelitian
Reactor riset/penelitian adalah suatu reactor yang dimanfaatkan untuk berbagai macam tujuan penelitian. Misalnya reactor uji material yang digunakan secara khusus untuk uji iradiasi, reaktor untuk eksperimen kekristisan, reaktor untuk pendidikan dan pelatihan. Di antara reaktor-reaktor tersebut yang disebut reaktor risetpun terdiri dari berbagai macam, misalnya reactor untuk eksperimen bekas neutron dan uji iradiasi material, reactor untuk eksperimen perisai, reactor untuk uji pulsa dan lain-lain. Tipe-tipe reactor riset antara lain tipe kolam berpendingin dan bermoderator air ringan dan tipe kolam berpendingin air dan bermoderator air berat.

Salah satu jenis PLTN adalah Pressurized Water Reactor (PWR), Reaktor jenis ini adalah reaktor paling umum, 230 PLTN di seluruh dunia menggunakan jenis ini. Adapun gambar skemanya adalah sebagai berikut :

E. Keunggulan dan Kelemahan Reaktor Nuklir
Energy nuklir sebagai salah satu sumber energy, dimana paling ditakutkan karena bahayanya bagi keselamatan dan kesehatan hidup manusia. Berikut ini adalah beberapa kelemahan dan kelebihan energy nuklir sebagai sumber energy:
1. Keunggulan
a. Bahan bakarnya tidak mahal
b. Mudah untuk dipindahkan (dengan system keamanan yang ketat)
c. Energinya sangat tinggi dan tidak mempunyai efek rumah kaca dan hujan asam
2. Kelemahan
a. Butuh biaya yang besar untuk system penyimpanannya disebabkan dari bahaya radiasi energy nuklir itu sendiri.
b. Bahaya masal dari produk buangannya yang sangat radioaktif.
c. Nuklir sebagai senjata pemusnah.

BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
1. Reaktor nuklir adalah suatu alat untuk mengendalikan reaksi fisi berantai dan sekaligus menjaga kesinambungan reaksi itu. Reaktor nuklir merupakan suatu alat dimana terjadi reaksi pembelahan berantai yang terkendali. Teknik pengendalian reaksi pembelahan ini merupakan dasar dari suatu rekator nuklir. Dalam suatu rekator nuklir, proses fisi dikendalikan dengan mengusahakan agar secara rata-rata hanya 1 neutron yang dihasilkan untuk melakuhkan fisi berikutnya.
2. Komponen-komponen utama dari suatu reaktor nuklir termal adalah:
Bahan bakar nuklir, Bahan Moderator, Batang pengontrol, Pendingin Reaktor, Batang Kendali Reaktor, Perangkat detector, Reflektor, Perangkat penukar panas.
3. Pelepasan energi di dalam peristiwa inti individu seperti pemancaran-α, secara kasar adalah sejuta kali lebih besar daripada pelepasan energi di dalam peristiwa kimia, yang dihitung berdasarkan setiap setiap atom. Akan tetapi, untuk menggunakan tenaga inti besar, kita harus mengaturnya sedemikian rupa sehingga satu peristiwa akan memicu peristiwa inti yang lain yang berada disekitarnya sampai proses tersebut menyebar di seluruh materi seperti nyala api melalui sebuah balok kayu yang terbakar.
4. Klasifikasi reaktor dibedakan berdasarkan kegunaan, tenaga neutron dan nama komponen serta parameter operasinya.
5. Keunggulan reaktor nuklir (bahan bakarnya tidak mahal, mudah untuk dipindahkan (dengan system keamanan yang ketat), energinya sangat tinggi dan tidak mempunyai efek rumah kaca dan hujan asam) dan Kelemahan reaktor nulir (Butuh biaya yang besar untuk system penyimpanannya disebabkan dari bahaya radiasi energy nuklir itu sendiri, bahaya masal dari produk buangannya yang sangat radioaktif, nuklir sebagai senjata pemusnah).
b. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Halliday, Resnick, 1986. Fiska Moderen edisi ke-3, Jakarta: Erlangga.
Santiani. 2011. Nuklir, Fisika Inti dan Politik Energi Nuklir. Malang. Inti Media.
Surya, Yohanes.2009. Fisika Moderen. Tangerang. PT Kandel.
http://joe-proudly-present.blogspot.com/2010/06/perkembangan-upaya-pemanfaatan-energi.html
http//myhobis.blogspot.com/2013/03/makalah-reaktor-nuklir.html
http://netsains.com/2009/04/energi-nuklir-pengertian-dan-pemanfaatannya/.html

anda bisa mendowload file doc nya pada link berikut Reaktor Nuklir finish


Meninggalkan komentar

Penciptaan Manusia dan Berbakti kepada Orang Tua


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur`an sebagai pendoman hidup manusia. Ayat-ayat dalam al-Qur`an sudah menjelaskan tentang segala sesuatu di muka bumi ini, termasuk mengenai proses penciptaan manusia. Bagaimana seorang manusia dapat tercipta di dunia ini sebagai makhluk yang paling mulia di bumi.
Ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, ada pula ayat-ayat yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, tembikar, Lumpur, sari pati tanah, sari pati air yang hina, air yang tertumpah, dan mani yang dipancarkan. Untuk lebih mengetahui mengenai hal tersebut maka dengan judul Penciptaan manusia kami paparkan bagaima penciptaan manusia.
Islam telah mengajarkan kepada kita agar berbakti kepada orang tua, mengingat banyak dan besarnya pengorbanan serta kebaikan orang tua terhadap anak, yaitu memelihara dan mendidik kita dejak kecil tanpa perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak mengharapkan balasan sedikit pun dari anak, meskipun anak sudah mandiri dan bercukupan tetapi orang tua tetap memperlihatkan kasih sayangnya, oleh karena itu seorang anak memiliki macam-macam kewajiban terhadap orang tuanya menempati urutan kedua setelah Allah Swt, dan kita juga dilarang durhaka kepada orang tua. Dalam makalah ini, pemakalah akan memaparkan tentang birrul walidain dan ‘uququl walidain.

B. Rumusan Masalah
1. Sebutkan hadis tentang proses penciptaan manusia?
2. Bagaimana proses penciptaan manusia?
3. Sebutkan hadis tentang berbakti kepada orang tua?
4. Apakah yang dimaksud dengan berbakti kepada orang tua?
5. Bagaimana kedudukan birul walidain?
6. Sebutkan macam-macam birul walidain?
7. Sebutkan doa anak untuk orang tua?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui hadis tentang proses penciptaan manusia
2. Mengetahui proses penciptaan manusia
3. Mengetahui hadis tentang berbakti kepada orang tua
4. Mengetahui definisi berbakti kepada orang tua
5. Mengetahui kedudukan birul walidain
6. Mengetahui macam-macam birul walidain
7. Mengetahui doa anak untuk orang tua

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadist Tentang Penciptaan Manusia

حد يث ءَ بْدِ اللهِ يْنِ مَسْعُودِز قَالَ : حَدَّ ثَنَا رَسُو لُ اللهِ صلى الله عليه وسليم, وَهْوَ الصَّادِ قُ الْمَصْدُ وقُ, قَالَ: أِ نَّ أَحْدَ كُمْ يُحْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّ أَمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْ مَا. ثُمَّ يَكُو نُ عَلَقَةُ مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يَكُو ن مُضْغَةً مِثْلَ ذ لِكَ. ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ مَلَكُا فَيُؤْ مَرُ بِأَ رْ بَعِ كُلِمَا تِ, وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِّ أَوْ سَعِيدٌ. ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَأِ نَّ الرَّ جُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُُ حَتَّى مَا يَكُو نُ يَنْنَهُ وَ بَيْنَ اَلجنَّةِ أِلاَّذِرَاعٌ, فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَا بُهُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ يًنْهُ وَبَيْنَ النَّا رِ أِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ اَلجْنَّةِ
Artinya :
Abdullah bin Mas’uud r.a berakta. Rasulullah SAW yang benar dan harus dibenarkan telah menerangkan kepada kami: sesungguhnya seseorang terkumpul kejadiannya dalam perut ibunya empat puluh haru beruma mani, kemudian berupa sekepal darah darah selama itu juga, kemudian berubah berupa sekepal daging selama itu juga, kemudian Allah mengutus Malaikat yang diperintah mencatata empat kalimat dan diperintah : Tulislah amalan, rizqinya, ajalnya dan nasib baiknya atau sial (celaka), kemudian ditiup ruh kepadanya. Maka sesungguhnya adakalanya seorang dari kamu melakukan amala ahli sorga sehingga antaranya dengan sorga hanya sehasta, tetapi ada ketentuan dalam surat pertama, tiba-tiba melakukan amal ahli neraka, dan adalanya seorang berbuat amal ahli neraka sehingga antaranya dengan neraka hanya sehasta, tiba-tiba dalam ketentuan suratannya ia berubah mengerjakan amal ahli sorga (Bukhari, Muslim)
Allah memberi tahu kepada makhluk yang telah tercipta lebih terdahulu, terutama para malaikat, bahwa Dia akan menciptakan khalifah (penguasa atau Petugas) di muka bumi. Yang dimaksud dengan khalifah adalah makhluk manusia dan yang pertamanya diberi nama Adam. Al-Quran telah menyatakan bahwa Allah telah menciptakan seorang yang bernama Adam, yang merupakan asal jenis manusia. Dan bahwa jenis manusia itu diciptakan dari tanah kemudian ditiupkan rohnya maka jadilah wujud manusia. Di samping itu penciptaan manusia pertama tidak melalui proses dari kecil atau bayi kemudian membesar yang memakan waktu dari hari ke hari bahkan dari bulan ke bulan atau tahun ke tahun akan tetapi, ia tercipta secara “instan” langsung dalam bentuk besarnya yang sempurna seperti yang ada. Dalam al-Quran juga dijelaskan bahwa generasi manusia berikutnya setelah Adam tidak lagi diciptakan dari tanah. Tetapi terbentuk dari sperma yang sekalipun bila ditelusuri ia berasal dari tanah juga. Sebagaimana difirmankan dalam al-Quran surat As-Sadjah ayat 7-9:
Artinya: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
 ProsesPenciptaan manusia
Manusia setelah Adam diciptakan melalui beberapa fase penahapan, fertilisasi atau pembuahan adalah peleburan antara inti sel telur dengan inti sel sperma. Dari ratusan juta sperma hanya satu yang berhasil membuahi sel telur. Fertilisasi berlangsung di saluran telur, saat fertilisasi kepala sperma menembus dinding sel telur sedangkan ekornya tertinggal di luar. Selanjutnya inti telur dan inti sperma bersatu setelah bersatu ovum menjadi zygote. Tahap-tahap perkembangan embrio menjadi janin dan menjadi bayi yang siap dilahirkan adalah sebagai berikut. Perkembangan janin dibagi dalam tiga tahapan besar. Pertama adalah perkembangan pada triwulan I, mulai dari zygote terbentuk sampai janin berusia tiga bulan; perkembangan terpusat pada perkembangan fungsi-fungsi organ, seperti otak, jantung, paru-paru. Pada triwulan II (bulan empat, lima dan enam) pertumbuhan terpusat pada anggota tubuh yaitu kaki, tangan, jari-jari, pada triwulan III, dapat dikatakan bahwa pembentukan sebagian organ telah lengkap. Dari sperma hingga menjadi bentuk janin memakan waktu selama 120 hari yakni sebagai berikut:
a. Tahap pertama, dalam bentuk sperma yang meresap dalam tubuh perempuan atau kandungan ibu. Melalui proses selama empat puluh hari (masa ngidam);
b. Tahap kedua, adalah dalam bentuk ‘alaqah yakni pembekuan atau penggumpalan darah dan menempel di dinding rahim, melalui proses selama empat puluh hari;
c. Tahap ketiga, adalah dalam bentuk mudhgah (embrio) yang melalui proses selama empat puluh hari, sehingga semua proses tersebut berjumlah 120 hari atau empat bulan; dan kemudian;
d. Tahap keempat; adalah adanya roh atau jiwa pada janin dan jadilah manusia.
Dengan demikian manusia setelah Adam dan Hawa, tidak lagi tercipta dari tanah secara instan langsung menjadi manusia dewasa. Akan tetapi ia tercipta dari sperma dan melalui proses dalam rahim di perut seorang ibu. Kemudian manusia terlahir ke dunia dan menuju kematangan yang memakan waktu cukup lama. Bahkan makhluk hewan lebih cepat matang dari manusia. Berbeda dengan hewan, untuk bisa bicara dan makan serta berbicara, manusia memerlukan waktu yang relatif tidak sedikit

B. Birul Walidain (Berbakti Kepada Orang Tua)
1) Hadis Tentang Birul Walidain (Berbakti Kepada Orang Tua)
 Hadis Abdullah ibnu Umar tentang ridho Allah terletak pada ridho orang tua.

عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

 Hadis Abu Hurairah tentang siapakah yang berhak dipergauli dengan baik.
عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ (اخرجه البخاري)
Artinya: dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “ Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “ Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “ Bapakmu!”(H.R.Bukhari).

 Hadis Abdullah bin Mas’ud tentang amal yang paling disukai Allah SWT.
عَبْدُ الله بن مَسْعُودٍ قال سَاَ لْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ايُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الى الله قال: الصَّلَاةُ على وَقْتِهَا قال: ثم اي قال:ثُمَّ بِرُّ الْوَالْدَيْنِ قال: ثم اي قال: الجِهَادُ فى سَبِيْلِ الله (اخرجه البخاري و مسلم)
Artinya: “ dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: “ Saya bertanya kepada Nabi saw: amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” beliau menjawab: “ shalat pada waktunya. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berbuat baik kepada kedua orang tua. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berjihad(berjuang) di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 Hadis Al-Mughirah bin Su’bah tentang Allah mengharamkan durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya.
عن المغيرة بن شعبة قال النبي صلى الله عليه وسلم : ان الله حرم عليكم عقوق الامهات ووأد البنات ومنع وهات وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال واضاعة المال (اخرجه البخاري)
Artinya: dari Al-Mughirah bin Syu’ban r.a. ia berkata, Nabi Saw telah bersabda: “ Sungguh Allah ta’ala mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya dan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Allah juga membenci orang yang banyak bicara, banyak pertanyaan dan menyia-nyiakan harta.” (H.R.Bukhari).

 Hadis Abdullah ibnu Umar tentang dosa-dosa besar.
عن عبد الله بن عمر ورضى الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان من اكبر الكبا ئر ان يلعن الر جل والديه . قيل رسول الله.و كيف يلعن لر جل والديه ؟ قا ل: يسب الرجل ابا لرجل فيسب أبا لرجل فيسب أبا ه و يسب ( أخر جه امام بخاري)
Artinya: “ dari Abdullah bin ‘amr bin al-ash ia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda: “ diantara dosa-dosa besar yaitu seseorang memaki kedua orang tuanya. “ para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang memaki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “ Ya, apabila seseorang memaki ayah orang lain, kemudian orang itu membalas memaki ayahnya kemudian ia memaki ibu orang lain, dan orang itu memaki ibunya. (H.R. Bukhari).

2) Definisi Birrul Walidain
Istilah Birrul Walidain terdiri dari kata Birru dan al-Walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Jadi, Birrul Walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua.
3) Kedudukan Birrul Walidain
Birrul Walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam. Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina. Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses reproduksi dan regenerasi umat manusia.
Secara khusus Allah juga mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, menyusui, merawat dan mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak ikut mengandung tapi dia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya, sehingga mempu berdiri bahkan sampai waktu yang sangat tidak terbatas.
Berdasarkan semuanya itu, tentu sangat wajar dan logis saja, kalau si anak dituntut untuk berbuat kebaikan kepada orang tuanya dan dilarang untuk mendurhakainya.
4) Bentuk-Bentuk Birrul Walidain
Adapun bentuk-bentuk Birrul Walidain di antaranya:
a. Taat dan patuh terhadap perintah kedua orang tua, taat dan patuh orang tua dalam nasihat, dan perintahnya selama tidak menyuruh berbuat maksiat atau berbuat musyrik, bila kita disuruhnya berbuat maksiat atau kemusyrikan, tolak dengan cara yang halus dan kita tetap menjalin hubungan dengan baik.
b. Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap hormat, sopan santun, baik dalam tingkah laku maupun bertutur kata, memuliakan keduanya, terlebih di usia senja.
c. Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh, maupun masalah lainnya. Selama keinginan dan saran-saran itu sesuai dengan ajaran Islam.
d. Membantu Ibu Bapak secara fisik dan materil. Misalnya, sebelum berkeluarga dan mampu berdiri sendiri anak-anak membantu orang tua terutama ibu. Dan mengerjakan pekerjaan rumah.
e. Mendoakan Ibu Bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirta.
f. Menjaga kehormatan dan nama baik mereka.
g. Menjaga, merawat ketika mereka sakit, tua dan pikun.
h. Setelah orang tua meninggal dunia, Birrul Walidain masih bisa diteruskan dengan cara antara lain:
– Mengurus jenazahnya dengan sebaik-baiknya
– Melunasi semua hutang-hutangnya
– Melaksanakan wasiatnya
– Meneruskan sillaturrahmi yang dibinanya sewaktu hidup
– Memuliakan sahabat-sahabatnya
– Mendoakannya.
5) Doa Anak untuk Orang Tua
Seorang anak yang ingin mendoakan kedua orang tuanya dapat mengambil contoh dari ayat suci Alquran yaitu, doa Nabi Ibrahim as ketika mengajukan permohonan kepada Allah Swt agar dapat lah kiranya Allah memberi ampunan pada kedua orang tuanya dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat.
Doa Nabi Ibrahim as dalam Q.S.Ibrahim:41
41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
Permohonan Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Israa’: 24
24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1) Hadis tentang proses penciptann manusia
حد يث ءَ بْدِ اللهِ يْنِ مَسْعُودِز قَالَ : حَدَّ ثَنَا رَسُو لُ اللهِ صلى الله عليه وسليم, وَهْوَ الصَّادِ قُ الْمَصْدُ وقُ, قَالَ: أِ نَّ أَحْدَ كُمْ يُحْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّ أَمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْ مَا. ثُمَّ يَكُو نُ عَلَقَةُ مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يَكُو ن مُضْغَةً مِثْلَ ذ لِكَ. ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ مَلَكُا فَيُؤْ مَرُ بِأَ رْ بَعِ كُلِمَا تِ, وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِّ أَوْ سَعِيدٌ. ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَأِ نَّ الرَّ جُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُُ حَتَّى مَا يَكُو نُ يَنْنَهُ وَ بَيْنَ اَلجنَّةِ أِلاَّذِرَاعٌ, فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَا بُهُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ يًنْهُ وَبَيْنَ النَّا رِ أِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ اَلجْنَّةِ
Artinya :
Abdullah bin Mas’uud r.a berakta. Rasulullah SAW yang benar dan harus dibenarkan telah menerangkan kepada kami: sesungguhnya seseorang terkumpul kejadiannya dalam perut ibunya empat puluh haru beruma mani, kemudian berupa sekepal darah darah selama itu juga, kemudian berubah berupa sekepal daging selama itu juga, kemudian Allah mengutus Malaikat yang diperintah mencatata empat kalimat dan diperintah : Tulislah amalan, rizqinya, ajalnya dan nasib baiknya atau sial (celaka), kemudian ditiup ruh kepadanya. Maka sesungguhnya adakalanya seorang dari kamu melakukan amala ahli sorga sehingga antaranya dengan sorga hanya sehasta, tetapi ada ketentuan dalam surat pertama, tiba-tiba melakukan amal ahli neraka, dan adalanya seorang berbuat amal ahli neraka sehingga antaranya dengan neraka hanya sehasta, tiba-tiba dalam ketentuan suratannya ia berubah mengerjakan amal ahli sorga (Bukhari, Muslim)

2. Prose penciptaan manusia
a. Tahap pertama, dalam bentuk sperma yang meresap dalam tubuh perempuan atau kandungan ibu. Melalui proses selama empat puluh hari (masa ngidam);
b. Tahap kedua, adalah dalam bentuk ‘alaqah yakni pembekuan atau penggumpalan darah dan menempel di dinding rahim, melalui proses selama empat puluh hari;
c. Tahap ketiga, adalah dalam bentuk mudhgah (embrio) yang melalui proses selama empat puluh hari, sehingga semua proses tersebut berjumlah 120 hari atau empat bulan; dan kemudian;
d. Tahap keempat; adalah adanya roh atau jiwa pada janin dan jadilah manusia.
3. Hadis tengan birul walidain
3. عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
4. Definisi birul walidain
Istilah Birrul Walidain terdiri dari kata Birru dan al-Walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Jadi, Birrul Walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua.
5. Kedudukan birul walidain
Birrul Walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam. Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina. Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses reproduksi dan regenerasi umat manusia.
6. Macam-macam birul walidain
a. Taat dan patuh terhadap perintah kedua orang tuab.
b. Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua
c. Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan
d. Membantu Ibu Bapak secara fisik dan materil.
e. Mendoakan Ibu Bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirta.
f. Menjaga kehormatan dan nama baik mereka.
g. Menjaga, merawat ketika mereka sakit, tua dan pikun.
h. Setelah orang tua meninggal dunia.
7. Doa Anak untuk Orang Tua
Doa Nabi Ibrahim as dalam Q.S.Ibrahim:41
41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
Permohonan Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Israa’: 24
24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

DAFTAR PUSTAKA

http//wwwfile:///E:/my%20DOKUMEN/SEMESTER%206/HADIS%20TARBAWI/HADITS%20TENTANG%20BERBAKTI%20KEPADA%20ORANG%20TUA%20_%20Islamic%20Centre.htm

http//wwwfile:///E:/my%20DOKUMEN/SEMESTER%206/HADIS%20TARBAWI/Hadist%20tarbawi%20%28TAHAPAN%20PENCIPTAAN%20MANUSIA%20_%20www.AmaArul.co.cc.htm


Meninggalkan komentar

Menyekutukan Tuhan dan 7 Dosa Besar


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Tidak akan luput dari masalah dan dosa. Besar kemungkinan masalah-masalah ini sebab tidak kuatnya seseorang dalam menahan hawa nafsu, terutama nafsu yang mengajak kepada kesesatan (Nafsu Lawwamah). Setiap salah ataupun dosa pasti akan menjadi tanggungan bagi si pelakunya baik di dunia maupun di akhirat kelak, karena setiap perbuatan dosa pasti akan mendapatkan balasan (siksa). Sekecil apapun perbuatan dosa pasti akan di pertanggung jawabkan terlebih lagi perbuatan yang termasuk ke dalam dosa besar. Apakah dosa itu? Dan, apa saja pulakah yang tergolong dosa-dosa besar? Berkaitan dengan hal tersebut Pada kesempatan kali ini pemakalah bermaksud memaparkan mengenai dosa-dosa besar menurut Hadist bersasarkan Rosulallah SAW.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan menyekutukan Tuhan?
2. Apa sajakah 7 dosa besar yang disebutkan dalam hadist?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang menyekutukan Tuhan
2. mengetahui 7 dosa besar yang disebutkan dalam hadist

BAB II
PEMBAHASAN
A. Menyekutukan Tuhan
Hadist :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ وَهْبَ بْنَ جَرِيرٍ وَعَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ إِبْرَاهِيمَ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَبَائِرِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ تَابَعَهُ غُنْدَرٌ وَأَبُو عَامِرٍ وَبَهْزٌ وَعَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ شُعْبَةَ
Arti Hadits :
(BUKHARI – 2459) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Munir dia mendengar Wahb bin Jarir dan ‘Abdul Malik bin Ibrahim keduanya berkata, telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari ‘Ubaidullah bin Abi Bakar bin Anas dari Anas radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang kaba’ir (dosa-dosa besar). Maka Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua, membunuh orang dan bersumpah palsu”. Hadits ini diikuti pula oleh Ghundar, Abu ‘Amir, Bahz dan ‘Abdush Shamad dari Syu’bah.
Apabila kita melihat keadaan manusia pada hari ini, kita dapati bahawa –masyaAllah- memang manusia sudah mencapai kemajuan dari sudut keduniaan, teknologi, juga kebendaan. Namun dalam masa yang sama, dalam kemajuan kebendaan itu, kita dapati masih ada lagi pemikiran-pemikiran kolot dan ketinggalan zaman yang rusak dan menyimpang di kalangan manusia secara umumnya dan di kalangan Umat Islam secara khasnya; iaitu manusia masih lagi percaya kepada kuasa-kuasa, benda-benda yang secara Syarak dan secara logiknya pun jelas bahawa ianya menyimpang.
Kekurangan dan ketinggalan dari segi pemikiran dan kesucian akidah masyarakat Islam yang masih lagi tercemar, rosak dan lemah menunjukkan kepada kita bahawa perlunya usaha diambil untuk dibetulkan dan ditambahkan mana yang kurang, khususnya dalam perkara-perkara akidah, kerana ia menjadi tunjang kepada Agama Islam.
Mereka yang mendakwa bahawa Umat Islam tidak perlu lagi didedahkan atau diajar tentang perkara-perkara Tauhid dan Akidah, mereka yang mendakwa bahawa perkara-perkara ini telah diajar dan telah khatam ketika sekolah rendah, jelas bahawa dakwaan-dakwaan seperti ini adalah salah.
Bahkan ada yang mengatakan bahawa kita tidak perlu lagi membahaskan tentang perkara Tauhid, sebaliknya kita perlu maju terus membincangkan perkara-perkara yang lebih penting yang melibatkan masalah Umat, contohnya masalah rasuah, penyelewengan, atau masalah politik. Semua ingin membincangkan masalah politik. Tetapi masalah Akidah yang membabitkan Tauhid serta apa yang bercanggah dengannya iaitu Syirik, masyarakat Islam masih lagi ketinggalan.
Buktinya ialah masyarakat Islam masih percaya kepada Bomoh, Sihir, Tangkal, dan seumpamanya.
B. 7 Dosa Besar Yang disebutkan dalam Hadist
Hadist :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Arti Hadist :
(BUKHARI – 6351) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Tsaur bin Zaid dari Abul Ghaits dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan.” Para sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apa saja tujuh dosa besar yang membinasakan itu? ‘ Nabi menjawab; “menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukmin baik-baik melakukan perzinahan.”

Penjelasan Hadits :
Mengapa ketujuh dosa yang disebutkan diatas disebut dosa besar yang membinasakan, mungkin karena dampak mudhorot yang di timbulkan sangatlah besar, setiap kejahatan yang mudharatnya lebih besar, maka ia disebut sebagai dosa-dosa besar yang membinasakan dan siksanya pun sangat berat. Adapun kejahatan yang mudharatnya lebih rendah dari itu, maka ia tergolong kepada dosa-dosa kecil yang dapat terhapus dengan jalan menjauhi dosa-dosa besar.
Allah Ta’ala berfirman,
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS An-Nisa 31)

Dalam penjelasan hadis di atas, pada dasarnya adalah seruan kepada agar menjauhi tujuh dosa yang membinasakan. Tujuh dosa ini bukan berarti pembatasan (hanya tujuh perkara) atas dosa-dosa yang membinasakan. Tetapi hal ini sebagai peringatan atas dosa-dosa yang lainnya.
Dari penjelasan hadist diatas ada 7 macam dosa besar yang beberap pada pembahsan sebelumnya telah di bahasa yaitu syirik dan membunuh jiwa. Berikut ini penejalasannya :
1. Syirik (Mensekutukan Allah)
Syirik adalah menyamakah selain Allah dengan Allah, Syirik ada dua macam; pertama Syirik dalam Rububiyyah, yaitu menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta, sebagaimana Allah berfirman :
                          � 
Artinya : Katakanlah: “serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.

Kedua ; Syirik dalam uluhiyyah. Yaitu beribadah atau berdoa kepada selain Allah baik dalam bentuk do’a ibdadah maupun do’a masalah
Syirik dalam pembahasan ini adalah syirik besar bukan syirik kecil (riya), syirik disini adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, yaitu memuji-muja dan menyembah makhluk-Nya seperti pada batu besar, kayu, matahari, bulan, nabi, kyai (alim ulama), bintang, raja dan lain-lain.
Syirik dikategorikan sebagai dosa paling besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
•   �    �         
     
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

Syirik adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya yang merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Perbuatan lain yang termasuk juga dosa besar adalah durhaka terhadap ayah bunda, membunuh jiwa manusia, dan menjadi saksi palsu.
Rasulullah juga memperingatkan agar kita jangan sampai terperosok ke dalam tujuh macam perbuatan dosa yang menghancurkan, terutama perbuatan menduakan Allah. Sebab, syirik adalah dosa yang paling besar, dan perbuatan syirik ibarat menghina Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh alam ini. Apabila seseorang menjadikan Tuhan selain Allah, berarti ia menganggap Allah itu lemah, yang sudah barang tentu merupakan perbuatan kurang ajar terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

2. Sihir

Apa itu sihir ? sihir berasal dari kata sahara yaitu waktu malam yang paling akhir dan permulaan munculnya siang, saat gelap bercampur dengan cahaya dan segala sesuatu manjadi tidak kelihatan dengan jelas. Seperti itulah hakikat sihir, sesuatu yang menurut khayalan nyata, namun sebenarnya tidak nyata. Dia bertumpu pada dua hal yaitu menyihir mata dan membuatnya melihat sesuatu kenyataan. Akan Tetapi dia sebenarnya tidak mengubah tabiat sesuatu. Oleh karenanya allah SWT berfirman tetnang sihir Firaun :
     �  ••   �  
Artinya Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan).

Sihir yang dimaksud dalam bahasan ini adalah tata cara yang bertujuan merusak rumah tangga orang lain atau menghancurkan orang lain dengan jalan meminta bantuan kepada setan, mengapa digolongkan kepada dosa besar karena sihir berarti kita mempercayai adanya kekuatan yang besar selain allah. Maka pantaslah atas balasan siksa atas sihir.

3. Membunuh Jiwa Manusia
Maksud membunuh dalam pembahasan ini adalah membunuh jiwa yang diharamkan tanpa hak dengan sengaja (Q.S. 25: 68 -70). Orang yang berbuat seperti itu akan dimasukkan ke neraka jahanam dan kekal didalamnya. Sebagaimana firman Allah:
     •       
   
Artinya :
“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisa: 93)

4. Memakan Harta Riba
Riba menurut Bahasa adalah tambahan, sedangkan mengenai definisi riba menurut syara para ulama berbeda pendapat. Akan tetapi, secara umum riba diartikan sebagai utang-piutang atau pinjam meminjam atau barang yang disertai dengan tambahan bunga.
Agama Islam dengan tegas melarang umatnya memakan riba: Sebagaimana firman-Nya.
     �    •    
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali-Imran: 130)
Hal itu, antara lain, karena riba merugikan dan mencekik pihak yang berhutang. Ia diharuskan membayar dengan bunga yang berlipat. Seandainya terlambat membayar, bunganya pun akin terus berlipat. Perbuatan seperti itu telah banyak dilakukan pada zaman jahiliyyah, dan para ulama menyebutnya istilah riba nasiah. Adapun bentuk riba lainnya adalah riba riba fadhal, yakni menukar barang dengan barang sejenis, namun salah satunya lebih banyak atau lebih sedikit daripada yang lainnya.
5. Memakan Harta Anak Yatim
Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya ketika ia masih kecil atau dengan kata lain ditinggal mati oleh orang yang menanggung nafkahnya. Dengan demikian, anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya tidak dikatakan yatim. Ini karena dalam Islam, penanggung jawab untuk mencari nafkah adalah ayah. Sebutan yang lazim di kalangan masyarakat bagi anak kecil yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya adalah yatim piatu.
Memakan harta anak yatim dilarang apabila dilakukan secara zalim. Seperti firman Allah SWT:
•            
 � 
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)
Dengan demikian apabila dilakukan dengan cara yang patut (baik), orang yang memelihara anak yatim boleh mengambil sedikit harta anak tersebut (QS. 6: 152) yaitu mengambil sebatas biaya pemeliharaannya. Itupun kalau si anak sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, apabila mampu, sebaiknya ia tidak mengambil harta yatim tersebut (QS. 4: 6).
Islam sangat memperhatikan nasib anak yatim. Allah SWT akan memberikan pahala yang besar kepada siapa saja yang memelihara anak yatim. Nabi akan berada di sisi orang yang memelihara anak yatim dan jarak antara beliau dengannya bagaikan antara dua jari. Selain itu, Allah pun akan mencukupkan orang yang memelihara anak yatim, dan menjanjikan pahala surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Barang siapa yang menanggung makan dan minum (memelihara) anak yatim dari orang Islam, Allah SWT akan mencukupkan dia dan menghasurkannya masuk surga, kecuali ia melakukan dosa yang tak terampunkan.” (HR. Turmudzi)

6. Melarikan Diri Dari Perang (Jihad)
Islam mewajibkan umatnya untuk memelihara, menjaga, mempertahankan, dan membela agamanya. Jika islam diserang dan diperangi musuh, umat Islam diwajibkan berperang. (QS. 22: 39)
Islam melarang umatnya untuk berpaling atau melarikan diri dari medan perang, sebagaimana firman-Nya:
Artinya :
   �  �   �      
   •   � 
“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al-Anfal: 16)
Orang yang lari dari perang (jihad) telah menipu dirinya sendiri dan telah berkhianat kepada Allah SWT dan ia dianggap tidak lagi meyakini kemahakuasaan Allah SWT yang senantiasa menolong setiap hamba-Nya yang sedang berjuang menegakkan agama Allah SWT.
Oleh karena itu, meninggalkan medan jihad tanpa alasan yang dapat diterima akal termasuk dosa besar dan pelakunya akan mendapat azab Allah SWT

7. Menuduh Wanita Mukminat Yang Baik-Baik (Berkeluarga) Dengan Tuduhan Zina.
Perempuan baik-baik dalam Islam ialah seorang mukminat yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan menjaga kehormatannya dari perbuatan keji (zina).
Apabila wanita seperti itu dituduh zina tanpa disertai syarat yang telah ditetapkan syara’, seperti mendatangkan empat saksi an menyaksikan dengan kepala sendiri, maka penuduhnya wajib didera delapan puluh kali dan kesaksiannya tidak boleh diterima selama-lamanya. Allah SWT berfirman:
 �      ¬    
   ¬      
Artinya :
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 4)

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Apabila kita melihat keadaan manusia pada hari ini, kita dapati bahawa –masyaAllah- memang manusia sudah mencapai kemajuan dari sudut keduniaan, teknologi, juga kebendaan. Namun dalam masa yang sama, dalam kemajuan kebendaan itu, kita dapati masih ada lagi pemikiran-pemikiran kolot dan ketinggalan zaman yang rusak dan menyimpang di kalangan manusia secara umumnya dan di kalangan Umat Islam secara khasnya; iaitu manusia masih lagi percaya kepada kuasa-kuasa, benda-benda yang secara Syarak dan secara logiknya pun jelas bahawa ianya menyimpang

2. Perbuatan dosa besar adalah suatu larangan dari allah dan Rosulallah dari penjabaran hadist diatas, dosa besar itu jumlahnya ada banyak diantaranya : syirik, sihir, membunuh jiwa tanpa hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh zina kepada wanita-wanita mukminin yang senantiasa memelihara dirinya. Dosa dosa tersrbut merupakan dosa yang besar dan pastinya mempunyai hukuman yang berat bagi pelakunya, baik hokum di dunia maupun di akhirat kelak yang tidak dapat seorangpun yang dapat mengelak dari hokum Allah.


2 Komentar

Adab dan Etika dalam Menuntut Ilmu


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan adalah sebaik-baik sesuatu yang disukai, sepenting-penting sesuatu yang dicari dan merupakan sesuatu yang paling bermanfaat, dari pada selainnya. Kemuliaan akan didapat bagi pemiliknya dan keutamaan akan diperoleh oleh orang yang memburunya. Allah SWT berfirman :
          
Artinya: Katakanlah” (Wahai Muhammad) Adakah sama orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu.” (Q.s Az-Zumar :9)

Dengan ayat ini Allah SWT, tidak mau menyamakan orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, disebabkan oleh manfaat dan keutamaan ilmu itu sendiri dan manfaat dan keutamaan yang akan didapat oleh orang yang berilmu

Dalam kehidupan dunia, ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan memberikan kemudahan bagi kehidupan baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan bermasyarakat. Menurut al-Ghazali dengan ilmu pengetahuan akan diperoleh segala bentuk kekayaan, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, jabatan, dan kekuasaan. Apa yang dapat diperoleh seseorang sebagai buah dari ilmu pengetahuan, bukan hanya diperoleh dari hubungannya dengan sesama manusia, para binatangpun merasakan bagaimana kemuliaan manusia, karena ilmu yang ia miliki. Dari sini, dengan jelas dapat disimpulkan bahwa kemajuan peradaban sebuah bangsa tergantung kemajuan ilmu pengetahuan yang melingkupi.

Dalam kehidupan beragama, ilmu pengetahuan adalah sesutau yang wajib dimiliki, karena tidak akan mungkin seseorang mampu melakukan ibadah yang merupakan tujuan diciptakannya manusia oleh Allah, tanpa didasari ilmu. Minimal, ilmu pengetahuan yang akan memberikan kemampuan kepada dirinya, untuk berusaha agar ibadah yang dilakukan tetap berada dalam aturan-aturan yang telah ditentukan. Dalam agama, ilmu pengetahuan, adalah kunci menuju keselamatan dan kebahagiaan akhirat selama-lamanya.
Uraian di atas hanyalah uraian singkat betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, baik untuk kehidupan dirinya pribadi, maupun dalam hubungan dirinya dengan benda-benda di sekitarnya. Baik bagi kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Ada banyak hadits, firman Allah, dan pendapat para ulama tentang pentingnya ilmu pengetahuan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah keutamaan ilmu dan pandangan para ulama dalam perspektif hadis?
2. Bagaimanakah Anjuran Menuntut Ilmu dalam Perspektif Hadist?
3. Bagaimanakah Adab menuntut ilmu dalam Perspektif Hadist?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui keutamaan ilmu dan pandangan para ulama dalam perspektif hadis
2. Mengetahui Anjuran Menuntut Ilmu dalam Perspektif Hadist
3. Mengetahui Adab menuntut ilmu dalam perspektif Hadis


BAB II
PEMBAHASAN
A. Keutamaan Menuntut Ilmu
1. Hadis & Terjemah
Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah SWT mengajarkan kepada adam dan semua keturunannya. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas sebagai khalifah maupun tugas ubudiah . Oleh karena itu, Rasulullah SAW menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan ini ditemukan hadis, yaitu sebagai berikut.
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ فَاءِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَا نِ فِى فَرِ يضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَ حَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada oraang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban, mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’”(HR. Ad-Daruquthni, dan Al-bahaqi) .
Dalam hadis ini ada tiga perintah belajar, yaitu perintah mempelajari al-‘ilm, al-fara’id, dan Al-Quran. Menurut Ibnu Mas’ud, ilmu yang dimaksudkan di sini adalah ilmu syariat dan segala jenisnya. Al-Fara’id adalah ketentuan-ketentuan, baik ketentuan islam secara umum maupun ketentuan tentang harta warisan. Mempelajari Al-Quran mencakup menghafalnya. Setelah dipelajari ajarkan pula kepada orang lain supaya lebih sempurna. Beliau memerintahkan agar sahabat mempelajari ilmu karena beliau sendiri adalah manusia seperti manusia pada umumnya. Pada suatu saat, beliau akan wafat. Dengan adanya orang mempelajari ilmu, ilmu pengetahuan itu tidak akan hilang.
Mengingat pentingnya ilmu pengetahuan dalam hadis di atas, setelah mempelajari, ilmu harus diajarkan kepada orang lain. Rasulullah SAW mengkhawatirkan apabila beliau telah wafat dan orang-orang tidak peduli dengan ilmu pengetahuan,maka tidak ada lagi orang yang mengerti agama, sehingga umat akan kebingungan.
Selain perintah menuntut ilmu pengetahuan dalam hadis di atas, masih ada lagi hadis yang lebih tegas tentang kewajiban menuntut ilmu, yaitu sebagai berikut.
عَنْ حُسَيْن بنِ عَلِّي قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Husain bin Ali meriwayatkan bahwa rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, abu Ya’la, Al-Qqudha’i, dan Abu Nu’aim Al-Ashbahani) .
Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menegaskan dengan dengan menggunakan kata faridhah (wajib atau harus). Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar urgen dalam kehidupan manusia, terutama orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik menurut ukuran ajaran Islam. Apabila ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau mencari ilmu, maka ia dipandang telah melakukan suatu pelanggaran, yaitu tidak mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Akibatnya, tentu mendapatkan kemurkaan-Nya dan akhirnya akan masuk ke dalam neraka. Karena pentingnya ilmu pengetahuan itu, Rasulullah mewajibkan umatnya belajar .
Adapun hadis-hadis lain yang berhubungan dengan keutamaan menuntut ilmu antara lain.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِ يقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِ يقًا إِ لَى الْجَنَّةِ
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Barang siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, akan dimudahkan Allah SWT untuknya ke surga.”( HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Baihaqi) .
Menurut Ibnu Hajar, Kata طَرِيْقًا diungkapkan dalam bentuk nakirah (indefinit), begitu juga dengan kata ilmu agama, baik sedikit maupun banyak.
Kalimat سَهَّل اللَّهُ لَهُ طَرِ يقًا (Allah memudahkan baginya jalan), yaitu Allah memudahkan baginya jalan di akhirat kelak atau memudahkan baginya jalan di dunia dengan cara memberi hidayah untuk melakukan perbuatan baik yang dapat mengantarkan menuju surga. Hal ini mengandung berita gembira bagi orang yang menuntut ilmu, bahwa Allah memudahkan mereka untuk mencari dan mendapatkannya, karena menuntut ilmu adalah salah satu jalan menuju surga .
عَنْ أَ بِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِ لَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الْمَلَا ئِكَىةَ لَتَضَعُ أَ جْنِحَـَهَا رِضَاءً لِطَا لِبِ الْعِلْمِ وَ إِنَّ الْعَلِمَ لَييَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الحِيتَا نُ فِي الْمَاءِوَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِكَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَا ءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوادِينَارًاوَلَا دِرْ هَمًا إِنَّمَا وَرَّ ثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَ خَذَ بِحَظًّ وَافِرٍ
Abu Ad-Darda’, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’Barang siapa yang menempuh jalan menari ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke surga. Sesungguhnya , malaikat merentangkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya, pencari ilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada dilangit dan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan alim terhadap abid adalah bagaikan keutamaan bulan diantara semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Mereka tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu, hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya.”’ (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Daud, dan Ad- Darimi)
Dalam hadis di atas terdapat lima keutamaan orang menuntut ilmu, yaitu (1) mendapat kemudahan untuk menuju sorga, (2) disenangi oleh para malaikat, (3) dimohonkan ampun oleh makhluk Allah yang lain, (4) lebih utama daripada ahli ibadah, dan (5) menjadi pewaris nabi. Menurut ilmu yang dimaksud di sini, menurut pengarang Tuhfah Al-Ahwazi adalah mencari ilmu, baik sedikit maupun banyak dan menempuh jarak yang dekat atau jauh .
Ayat Al-Quran yang berhubungan dengan keutamaan menuntut ilmu antara lain:
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS.Al-‘Alaq : 1-5)
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!, 32. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”, 33. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?( QS. Al-Baqarah: 31-33)
أَمَّنۡ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ سَاجِدٗا وَقَآئِمٗا يَحۡذَرُ ٱلۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٩
9. (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Q.S Az-zumar :9)
B. Anjuran Menuntut Ilmu
عَنْ أَ نَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِ يْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ (أخرحه ابن عبد البر)
Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW bersabda :”Carilah ilmu walaupun dinegeri Cina. Sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi pencari ilmu karena rida dengan apa yang dicari.” (HR. Ibnu Abd al-Barr) .
وفى روا يت : طَلَبُل عِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ إِنَّ طَا لِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْئٍ حَتَّى الْحِيْتَانُ فِى الْبَحْرِ (ابن عبد البرفي العلم عن أنس حد يث صحيح)
Dalam riwayat:”Mencari Ilmu wajib terhadap setiap orang Islam. Sesungguhnya pencari ilmu dimohonkan kepadanya oleh segala sesuatu sehingga ikan dalam lautan.”(HR. Ibn Abdil Barr dari Anas Hadis Shahih).
Hadis diatas ditampilkan dalam hadis tarbawi sebagai referensi sekalipun di perselisihkan kualitasnya oleh para ulama tetapi terkenal dikalangan para pelajar, santri dan mahasiswa dimana saja berada. Dalam ilmu hadis disebut masyhur non-isthilahiy artinya terkenal dikalangan kelompok tertentu sekalipun perawinya kurang dari tiga orang pada setiap tingkatan sanad .
Ada beberapa pokok pesan dalam hadis di atas, sebagi berikut:
اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
“Carilah ilmu walaupun di negeri China.”
Mencari ilmu suatu keajaiban sekalipun dimana saja dan dalam keadaan bagaimanapun pula, tidak ada alasan seseorang meninggalkan ilmu atau tidak mencarinya. Makna walaw dalam bahasa Arab menunjuk batas maksimal apapun yang terjadi (li al-ghayah). para ulama memberi penjelasan makna walaupun dinegeri china dalam hadis tersebut antara lain:
1. Al-Manawiy dalam kitab al-Taysir Syarah al-Jami’ al-Shaghir memberikan arti kesimpulan sangat jauh (mubalaghah fi al-bu’di) dengan alasan kewajiban menuntutnya sebagaimana hadis lanjutannya. Oleh karena itu, Jabir bin Abdillah seorang sahabat Rasulullah mengadakan rihlah (perjalanan) yang jauh dari Madinah ke Mesir hanya untuk mendapatkan satu hadis dari seseorang disana selama satu bulan.
2. Faydh al-Qadir memberikan arti yang sama, yakni walaupun tercapainya ilmu harus mengadakan perjalanan yang sangat jauh seperti perjalanan ke China dan sangat menderita. Orang yang tidak sabar penderitaan dalam mencari ilmu kehidupannya buta dalam kebodohan dan orang yang sabar atasnya akan meraih kemuliaan dunia akhirat.
3. Abdullah bin Baz dalam Majmu’ Fatawanya; anjuran mencari ilmu walaupun di tempat yang sangat jauh bukan berarti Chinanya. Hadis menyebutkan walau di negeri China, karena China negeri yang jauh dari Arab. Ini jika benar khabar shahih.
4. Muhammad Abduh dalam al-Manar memberikan komentar mencari ilmu dengan siapa saja atau darimana saja sekalipun bukan negeri muslim. Di China pada saat itu belum ada seorang Muslim, penduduknya penyembah berhala (watsaniyun) tidak Majusi. Bahkan Syekh Yusuf al-Qardhawi menunjuk makna hadis belajar ilmu pengetahuan sekalipun di Barat atau negara maju tingkat ilmu pengetahuan atau sains dan tekhnologinya .

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna mencari ilmu sekalipun di negeri China adalah sekalipun jauh dari tempat tinggal, sekalipun menderita dan sulit, sekalipun datang dari non-Muslim atau sekalipun dinegara minoritas muslim yang sudah maju. Sebagian pendapat China sudah mengalami kemajuan pada waktu itu seperti membuat kertas dan lain-lain. Dr. Luthfi Fathullah memberi komentar bahwa matan hadis ini banyak dipertanyakan dan diragukan orang dengan mempertanyakannya, benarkah Nabi Muhammad SAW mengetahuinya adalah sangat besar. Pertama, dari sudut sejarah, baginda adalah pedangang antar bangsa, beliau waktu usia muda pernah dua kali minimal pergi ke Syam sebagai kota perdagangan. Di kota itu sudah ada kebudayaan Romawi dan tentu saja sudah berinteraksi dengan budaya lain. Jadi, tidak mustahil dalam perjalanan itu baginda mendengar tentang peradaban negeri Cina yang sudah tinggi .
Kedua, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, tidaklah berhenti pada pengetahuan beliau saja, tetapi ada unsur wahyu Allah yang berperan. Jika kemungkinan ini diambil, dan hal ini sangatlah mungkin, maka unsur kejanggalan matan. Hadis ini tidak akan muncul lagi. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kata negeri China disini. Pertama, negeri atau kekaisaran yang populer dikalangan awam pada saat itu adalah Romawi dan Kisra. Jarak kekuasaan kedua kekaisaran ini tidaklah terlalu jauh dari dunia islam. Bahkan Rasulullah sendiri pernah menuliskan surat untuk mereka dan kerajaan dan kekaisaran lain. Walhasil, Nabi ingin memberitakan kepada umat islam bahwa ada negeri lain yang juga sudah memiliki peradaban yang maju .
Hukum menuntut ilmu sebagaimana disebutkan pada hadis berikut:
طَلَبُل عِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
Hukum mencari ilmu wajib bagi seluruh kaum Muslimin baik laki-laki dan perempuan, makna wajib disini adakalanya wajib’ ain dan adakalanya wajib kifayah. Kata “Muslim” berbentuk mudzakar (laki-laki), tetapi maknanya mencakup mudzakar dan muannats (perempuan). Maksudnya orang Muslim yang mukalaf yakni Muslim, berakal, balig, laki-laki, dan perempuan. Dari sekian banyak buku hadis penulis tidak menjumpai kata muslimatiin setelah kata Muslim diatas. Hukum mencari ilmu fardhu bagi setiap orang islam baik laki-laki maupun perempuan.
Hukum mencari ilmu wajib sebagaimana hadis diatas. Masa mencari ilmu seumur hidup (long life of education) sebagaimana kata Ki Hajar Dewantara, bahwa menuntut ilmu sejak lahir sampai mati. Sebagian ulama salaf berkata:
اُطْلُبِ الْعِلْمِ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
“Carilah ilmu dari ayunan sampai lubang kubur.”
Sedang diantara manfaat menuntut ilmu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Imam Syafi’i berkata sebagaimana yang dikutip oleh al-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat (1): 74):
مَنْ أَرَادَ الْدَّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَا دَالْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa yang menghendaki dunia hendaknya dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki akhirat hendaknya dengan ilmu”.
Maksud ilmu di sini secara umum baik ilmu Syara’ maupun ilmu pengetahuan. Keduanya penting untuk mencari kemaslahatan dunia dan akhirat. Sedang maksud ilmu yang wajib dituntut sebagaimana hadis diatas adalah ilmu syara’ dan kewajibannya adakalanya fardu’ain dan adkalanya fardu kifayah. Ibn al-Mubarak ketika ditanya tentang makna hadis di atas menjawab; maknanya tidak seperti yang mereka duga, tetapi apa yang terjadi pada seseorang dari urusan agamanya akan dimintai pertanggungjawaban sehingga ia harus mengetahui ilmunya. Al-Baydhawiy menjelaskan bahwa maksud ilmu disini adalah ilmu yang tidak ada jalan lain kecuali harus mengetahuinya seperti mengetahui sang pencipta alam dan ke-Esaan-Nya, mengetahui kenabian Muhammad SAW dan mengetahui cara shalat, semua ini hukumnya fardu’ain. Al-Gazali dalam al-Manhaj menjelaskan bahwa mencari ilmu ada tiga ilmu sebagai berikut :
1. Ilmu tauhid, ilmu mengetahui pokok-pokok agama seperti mengetahui sifat-sifat Tuhan Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Menghendak, dan Maha Mendengar. Tuhan memiliki segala sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat alam. Ilmu juga mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan membenarkan segala apa yang disampaikan.
2. Ilmu sirr, ilmu hati dan pergerakannya, yakni mengetahui kewajiban hati serta mengetahui larangan-larangan sehingga mendapatkan keikhlasan niat dan keabsahan amal.
3. Ilmu Syari’ah, segala ilmu yang wajib diketahui untuk melaksanakan syari’ah dan ibadah. Selain tiga di atas hukumnya wajib kifayah.
4. Di antara para ulama seperti al-Zarnuzjiy dalam kitabnya Ta’alim al-Muta’allim, al-Gazali dalam kitabnya Ihya Ulum al-din dan al-Manawiy dalam al-Taysir bi Syarh al-Jami al-Shaghir membagi hukum mencari ilmu adakalanya wajib, haram, sunah, mubah, dan makruh bergantung manfaat dan mudaratnya. Hukum wajib’ain seperti ilmu wudhu’, puasa, dan lain-lain yang menyangkut amal wajib. Seseorang yang berharta wajib mengetahui ilmu zakat, seorang yang melakukan transaksi jual beli wajib mengetahui hukum muamalah, seorang beristri wajib mengetahui pergaulan dengan wanita dengan baik dan lain-lain.
Al-Zarnujiy menyebutnya ilmu al-hal, yakni ilmu yang wajib dilakukan sekarang baik menyangkut akidah, ibadah, dan akhlak atau diartikan ilmu tingkah laku. Sedang wajib kifayah, jika sudah ada sebagian di antara umat islam yang melakukannya, maka yang lain gugur dosanya seperti ilmu falak atau ilmu astronomi untuk mengetahui rukyat al-hilal melihat bulan sebagai penetapan awal bulan dan lain-lain, ilmu saintek atau pendukung tegaknya pelaksanaan agama atau untuk kemajuan umat islam dan lain-lain. Menurut al-Zarnujiy termasuk wajib kifayah adalah ilmu mustaqbal, yakni belajar ilmu yang tidak segera dikerjakan seperti orang miskin belajar tentang zakat dan haji atau mempelajari ilmu sekalipun syara’ tetapi tidak untuk diamalkan segera. Penyebutan istilah ilmu itu tersebut ahli didik beragam Ibnu Khaldun menyebut ilmu aqliyah dan naqliyah, al-Gazali menyebut ilmu syariat dan aqliyah, al-Attas menyebutkan ilmu fardu’ain dan ilmu fardu kifayah, sedangkan seminar pendidikan internasional di Mekkah al-Mukarramah 1977 menyebutkan ilmu wahyu dan ilmu muktasab (ilmu yang diperoleh hasil research).
Demikian urgensi ilmu yang amat tinggi bagi keselamatan jiwa manusia dan alam jagad raya. Dengan ilmu alam tenang dan jika lenyap ilmu, maka lenyap pula alam. Karena ilmu inilah pencari dan pengajarnya dimuliakan Allah dan dimuliakan seluruh makhluk, diampuni segala dosanya dan didengar doanya .
C. Adab Menuntut Ilmu
Ta’dib secara Etimologi merupakan bentuk masdar kata kerja addaba yang berari ‘mendidik, melatih berdisiplin, memperbaiki, mengambil tindakan, beradab, sopan, berbudi baik, mengikuti jejak akhlaknya.
Dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda:
أدًّبّي رَبِّي فأحْسَنَ تَأديي(أخر جه العسكري عن علي)
“Tuhanku mengajarkan adab kepadaku maka Dialah yang memperindah adabku.”(HR. al-‘Askariy dari Ali)
Al-Zarkasiy dalam Faydh al-Qadir Syarah al-Jami ‘al-Shaghir menyebutkan bahwa Hadis ini sekalipun dha’if tetapi maknanya shahih.
Kata ta’dib pada umumnya lebih banyak digunakan pada pendidikan yang bersifat keterapilan lahir yakni latihan dan keterampilan. Ia berasal dari kata adab, yang berarti etika, sopan santun, dan budi pekerti lebih tepat diartikan mengajarkan adab atau diartikan memberi pelajaran atau hukuman .
Ayat Al-Quran yang berhubungan dengan adab menuntut ilmu antara lain:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١
11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Mujadillah:11)

Menurut Ibn Qayyim, kata adab berasal dari kata ma’dubah. Kata ma’dubah berarti’jamuan atau hidangan’, dengan kata kerja ”adaba-ya’dibu’’ yang berarti ‘menjamu atau menghidangkan makanan. Kata adab dalam tradisi Arab kuno merupakan symbol kedermawanan, dimana al-Adib (pemiik hidangan) mengundang banyak orang untuk duduk bersana menyantap hidangan di rumahnya. Sebagaimana yang terdapat dalam perkataan Tharafah bin Abdul Bakri al-Wa’illi, “Pada musim paceklik (musim kesulitan pangan), kami mengundang orang-orang ke perjamuan makan, dan engkau tidak akan melihat para penjamu dari kalangan kami memilih-milih orang yang diundang”.
Kemudian kata ini berkembang seiring dengan perkembangan peradaban islam, sebagai sebuah simbol nilai agung yang ada dalam islam. Hal ini bisa kita lihat dalam hadist berikut ini, yang menjelaskan kata adab sebagai hidangan yang ada di dalamnya syarat dengan nilai. “sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah dimuka bumi, oleh karena itu Belajarlah kalian pada sumber peradaban-nya.”
Kata ta’dib atau al-adab ini dipopulerkan oleh Imam al-Bukhari dalam adab al-mufrad, al-mawardi dalam kitabnya Adab al-Muallimin wa al-Rawi wa Adab al-sami’ serta Ibn Jama’ah dalam kitabnya Tadzkirah al- sami’ wa al-Mutakallim fii Adab al-Alim wa al-Muta’allim.
Sementara itu, kata adab juga sering dipakai dalam hadits untuk menunjuk kata pendidikan. Hal itu sebagaimana sabda Nabi saw. Berikut ini, “Tuhan telah mendidikku, dan telah membuat pendidikanku itu sebaik-baiknya”, “Setiap pendidik akan menyukai diberikan alat mendidik, dan sesungguhnya pendidikan dari Allah itu adalah Al-Qur’an, aka janganlah kalian menjauhinya”.
Menurut al-attas, istilah ta’dib adalah istilah yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan Islam bertujuan untuk melahirkan manusia yang beradab. Sementara istilah tarbiyah terlalu luas karena pendidikan, dalam istilah ini mencakup pendidikan untuk hewan. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa istila Ta’dib merupakan masdar kata kerja addaba yang berarti pendidikan. Kemudian, dari kata addaba ini diturunkan juga kata adabun. Menurut al-attas, adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniyah seseorang. Al-attas mengatakan bahwa adab adalah pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan derajat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta. Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan, seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. Keduanya sia-sia karena yang satu menyifatkan ketiadasadaran dan kejahilan .
Berdasarkan pengerian adab seperti itu, al-Attas mendifinisikan pendidikan menurut islam sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan wujud, sehingga hal ini membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat tuhan yang tepat didalam tatanan wujud tersebut.
Pendapat al-Attas mengenai Ta’dib, dikuatkan oleh Sa’dudin Mansur Muhammad. Ia beralasan bahwa istilah Ta’dib merupakan istilah yang mencakup semua aspek dalam pendidikan baik unsure tarbiyah maupun taklim. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa istilah ta’dib sudah dikenal sejak zaman jahiliah dan dikuatkan setelah datangnya Nabi Muhammad saw.
Alasan yang lebih mendasar yang melatar belakangi al-Attas memilih istilah ta’dib adalah, adab berkaitan erat dengan ilmu, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik, kecuali jika orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang.
Kemudian, konsep pendidikan Islam yang hanya terbatas pada makna tarbiyah dan taklim itu telah dirasuki pandangan hidup barat yang berlandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanism, dan sofisme, sehingga nilai-nilai adab menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah Ilahiah. Kekaburan makna adab tersebut mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan kegilaan. Kezaliman yang dimaksud disini adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, sementara kebodohan adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai hasil tujuan tertentu, dan kegilian adalah perjuangan yang berdasarkan tujuan dan maksud yang salah.
Istilah adab juga merupakan salah satu istilah yang identik dengan pendidikan akhlak, bahkan Ibn Qayyim berpendapat bahwa adab adalah inti dari akhlak, karena didalamnya mencakup semua kebaikan. Lebih dari itu, konsep adab ini, pada akhirnya berperan sebagai pembeda antara pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak. Orang berkarakter tidaklah cukup, karena pendidikan karakter hanya berdimensi pada nilai-nilai dan norma-norma kemanusian aja (makhluk), tanpa memperhatikan dimensi ketauhidan Ilahiyah (khaliq). Sehingga orang berkarakter belum bias disebut berakhlak, karena bisa jadi orang berkarakter “toleransi” ia mengikuti paham pluralism sehingga memukul rata semua agama tanpa batasan norma syari’at. Sementara dalam pendidikan akhlak mengintegrasikan kedua dimensi tersebut, yakni nilai kemanusiaan (makhluk) dan nilai uluhiyah (khaliq) adalah hal yang wajib, dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Sehingga orang berakhlak, secara langsung mencakup orang yang berkarakter. Dengan demikian, pendidikan akhlak atau adab adalah lebih syumul ‘mencakup’ daripada pendidikan karakter.
Adab menuntut ilmu terbagi antara lain,
1. Adab Penuntut Ilmu terhadap Dirinya Sendiri (Adab al-Muta’allim fii Nafsihi)
a. Menyucikan hati dari segala sifat-sifat tercela, agar mudah menyerap ilmu.
b. Meluruskan niat dalam mencari ilmu, yakni ikhlas hanya karena ingin mendapat ridha Allah.
c. Menghargai waktu, dengan cara mencurahkan segala perhatian untuk urusan ilmu.
d. Memiliki sifat qana’ah dalam kehidupannya, dengan menerima apa adanya dalam urusan makan dan pakaian, serta sabar dalam kondisi kekurangan.
e. Membuat jadwal kegiatan harian secara teratur, sehingga alokasi waktu yang dihabiskan jelas dan tidak terbuang sia-sia.
f. Hendaknya memperhatikan makanan yang dikonsumsi, harus dari yang halal dan tidak terlalu kenyang sehingga tidak berlebih-lebihan. Karena, makanan haram dan mengkonsumsi berlebihan menyebabkan terhalang dari ilmu.
g. Bersifat wara’, yaitu menjaga diri dari segala sifatnya syubhat dan syahwat hawa nafsu.
h. Menghindari diri dari segala makanan yang dapat menyebabkan kebodohan dan lemahnya hafalan, seperti apel, asam, dan cuka.
i. Mengurangi waktu tidur, karena terlalu banyak tidur dapat menyia-nyiakan usia dan terhalang dari faedah.
j. Menjaga pergaulan, yaitu hanya bergaul dengan orang-orang saleh yang memiliki antusias dan cita-cita tinggi dalam ilmu, dan meninggalkan pergaulan dengan orang yang buruk akhlaknya, karena hal itu berdampak buruk terhadap perkembangan ilmunya.

2. Adab Penuntut Ilmu terhadap Gurunya (Adab al-Muta’allim Ma,a Syaikhihi)
a. Memilih guru yang berkualitas, baik dari segi keilmuan dan akhlaknya.
b. Menaati perintah dan nasihat guru, sebagaimana taatnya pasien terhadap dokter sepesialis.
c. Mengagungkan dan menghormati guru sebagaimana para ulama salaf mengagungkan para guru mereka. Sebagai contohnya adalah apa yang pernah dilakukan oleh Imam Syafi’i terhadap gurunya (Imam Malik), dimana beliau membuka buku pelajaran secara perlahan-lahan tanpa terdengar suara lembaran kertas, karena mengagungkan gurunya, dan agar tidak mengganggu konsentrasi gurunya yang sedang melangsungkan pengajarannya. Bahkan, di antara ulama salaf ada yang bersedekah terlebih dahulu sebelum berangkat ke majelis gurunya, seraya berdo’a, “yea Allah, tutupilah aib guruku dan jangan engkau halangi keberkahan ilmunya untukku.”
d. Menjaga hak-hak gurunya dan mengingat jasa-jasanya, sepanjang hidupnya, dan setelah wafatnya, seperti mendoakan kebaikan bagi sang guru dan menghormati keluarganya.
e. Sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak yang buruk dari gurunya. Jika hal seperti ini terjadi pada dirinya, hendaknya ia bersikap lapang dada dan memaafkannya serta tidak berlaku su’uzhan terhadap gurunya tersebut.
f. Menunjukan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada gurunya yang telah mengasuhnya dalam naungan keilmuan.
g. Meminta izin terlebih dahulu kepada guru, jika ingin mengunjunginya atau duduk di majelisnya.
h. Hendaknya duduk dengan sopan di hadapan guru. Ibn Jama’ah mencontohkan duduk sopan tersebut, dengan cara duduk bersila dengan penuh tawadhu’, tenang, diam, sedapat mungkin mengambil posisi terdekat dengan guru, penuh perhatian terhadap penjelasan guru, tidak dibenarkan menoleh kesana-kemari tanpa keperluan yang jelas, dan seterusnya.
i. Berkomunikasi dengan guru secara santun dan lemah lembut.
j. Ketika guru menyampaikan suatu pembahasanyang telah didengar atau sudah dihafal oleh murid, hendaknya ia tetap mendengarkannya dengan penuh antusias, seakan-akan dirinya belum pernah mendengar pembahasan tersebut.
k. Penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru menjawab atas pertanyaan, baik dari guru atau dari peserta, sampai ada isyarat dari guru untuk menjawabnya.
l. Dalam hubungan membantu guru, hendaknya sang murid melakukannya dengan tangan kanan.
m. Ketika bersama dengan guru dalam perjalanan, hendaknya murid berlaku sopan dan senantiasa menjaga keamanan serta kenyamanan perjalanan sang guru.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah SWT mengajarkan kepada adam dan semua keturunannya. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas sebagai khalifah maupun tugas ubudiah. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan ini ditemukan hadis, yaitu sebagai berikut.
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ فَاءِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَا نِ فِى فَرِ يضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَ حَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada oraang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban, mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’”(HR. Ad-Daruquthni, dan Al-bahaqi)
2. “ carilah ilmu walawpun di negeri cina”.
Mencari ilmu suatu keajaiban sekalipun dimana saja dan dalam keadaan bagaimanapun pula, tidak ada alasan seseorang meninggalkan ilmu atau tidak mencarinya. Makna walaw dalam bahasa Arab menunjuk batas maksimal apapun yang terjadi.
3. Adab menuntut ilmu ada dua macam yaitu adab menuntut ilmu terhadap dirinya sendiri dan adab menuntut ilmu terhadap gurunya.

B. Saran


Meninggalkan komentar

Al-Jarh Wa Ta’dil


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Al-Jarh Wa Ta’dil
Al-jarh menurut bahasa merupakan bentuk masdar dari jaraha-yajrahu, yang berarti “seseorang membuat luka pada tubuh orang lain yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu”. Dikatakan juga dengan hakim atau yang lain melontarkan sesuatu yang menjatuhkan sifat adil saksi, berupa kedustaan dan sebagainya.
Sedangkan menurut istilah ahli hadis adalah:
ظُهُوْرُصِفَةُفِى الرَّوِى يُفْسِدُعَدَ الَةِ اَوْحِيْلَ يُفْطِه وَ طَبَتُهُ مَا يُتَرَتِبُ عَا سُقُوُ طِ رِ وَ ا يَتِهِ اَوْ طَعْفُهَا وُ رُدَ هَا
Tampak suatu sifat pada perawi yang merusakkan keadilannya, hafalannya, karena gugurlah riwayatnya atau dipandang lemah (‘Ajaj al-khatib,1989: 260).
Di samping istilah tersebut, ada juga yang dinamakan dengan tarijh.
Tarijh menurut bahasa, berarti tsaqiq (melakukan) atau ta’jib (menggalibkan) (Idris Marbawi, tt : 324). Sedangkan menurut istilah ahli hadis , tarijh ialah :
وَصِفَةِ الرَّ ا وِ ى بِصِفا تِ تَقْضِى تضْعِيْف رِ وَبَتِهِ اَ وْ عَدَ مِ قيو لما
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menyebabkan lemah riwayatnya atau tidak diterima riwayatnya .(Ibid, 1981: 204).
Atau dengan perkataan lain tarjih adalah :
اِظْهَا رُ عَيْبُ يُرَ وِ يَهُ ا لرِ وَ ا يَةِ
Menempatkan suatu sifat cacat, yang karenanya ditolak riwayatnya (Hasbi,1981: 204).
Pengertian ta’dil dalam masalah periwayatan, dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :
1. Ta’dil dalam arti al- Tawsiyah (menyamakan) (Al-Munjid,491).
2. Ta’dil menurut istilah ahli hadis adalah :
وَ صفَةُ ا لرَّ ا وِ ى بِصِفَا تِ نَزْ كِيْهِ فَيُطَهِّرُ عَدَ ا لَةِ وَ نُقْبَلُ خَي هُ
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menetapkan kebersihannnya, maka tampaklah keadilannya, dan diterima riwayatnya. (Hasbi, 1981:205)

Sedangkan ‘urfuahli hadis memberikan batasan tentang pengertian ta’dil dengan:
ا لاِ عْتِرَ ا وِ بِعَدَ ا لَةِ ا لرَ ا وِ ى وَ طَبْطِهِ وَ ثِقَتِهِ
Mengakui keadilan seseorang ke- dhibit-annya dan kepercayaannya. (Hasbi, 1981 : 204)

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ilmu jarh wa al-ta’dil adalah sebagai berikut :
ا لعِلْمُ الَّذِ ى جُب فِى اَحْوَ ا لِ وَ ا هْ مِنْ قَبْلِ رِ وَ ا يَتِهِمْ
Ilmu yang mempelajari keadaan para perawi dari segi diterima atau ditolaknya riwayatannya. (Faturrahman,1907:204)

B. Pertumbuhan Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil
Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan hadis dalam islam, karena untuk mengetahui hadis yang shahih dan keadaan para perawinya, sehingga dengan ilmu ini memungkinkan menetapkan kebenaran seorang perawi atau kedustaannya sampai mereka bisa membedakan antara yang diterima dan yang ditolak (maqbul dan mardud).Karena itu para ulama menanyakan pertama kali tentang keadaan para perawi, meneliti kehidupannya, dan mengetahui segala keadaan mereka, setiap yang lebih hapal, lebih kuat ingatannya dan lebih lama menyertai gurunya.
Demikianlah ilmu ini tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan, untuk menentukan bobot dan kualitas daripada suatu hadis. Sejak dahulu para ulama menerangkan tentang cacat atau tidaknya seorang perawi hadis sehingga membuka tabir kegelapan dalam menetukan nilai atau kualitas hadis bagi ulama berikutnya.

C. Pensyariatan Jarh Wa Ta’dil
Para ulama menganjurkan untuk melakukan Jarh dan Ta’dil. Dan tidak menganggap hal itu sebagai perbuatan ghibah yang terlarang berdasarkan dalil-dalil berikut ini, antara lain:
a. Sabda Rasulullah Saw. Kepada seorang laki-laki
“(Dia) itu seburuk-buruknya saudara di tangah-tengah keluarga-nya”.
b. Sabda Rasulullah Saw. Kepada Fatimah binti Qaisyang menanyakan tentang Muawiyah bin Abi Al-Jahm yang tengah melamarnya,
“Adapun Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (suka memukul), sedangkan Muawiyah seorang miskin tidak mempunyai harta.” (HR. Muslim)

seseorang, namun menunjukan dibolehkannya mencela kepada orang-orang yang lemah guna menjelaskan kelemahan mereka, dan menampakan cela dalam perkara yang berkenaan dengan halal dan haram-yaitu hadis-lebih utama daripada menjelaskan cela dalam konteks memberi saran tertentu.
Dan dalam ta’dil Rasulullah Saw. bersabda :
“sebaik-baiknya hamba Allah Khalid bin Walid, salah satu pedang diantara pedang-pedang Allah.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dan oleh sebab itu, para ulama membolehkan Jarh Wa Ta’dil guna menjaga syariat/agama ini, bukan untuk mencela manusia. Dan sebagaiman adibolehkan jarh dalam persaksian, maka pada perawipun juga dibolehkan, bahkan memperteguh dan mencari kebenaran dalam masalah agama lebih utama daripada masalah hak dan harta.
Faidah mengetahui ilmu Jarh Wa Ta’dil ialah menetapkan apakah periwayatan seorang rawi dapat diterima atau ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi dijarh oleh para ahli sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya harus ditolak dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil, niscaya periwayatannya diterima, selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist dipenuhi.

D. Jalan Mengetahui Keadilan dan Kecacatan Perawi dan Masalahnya
Menta’dilkan (menganggap adil seorang perawi) adalah memuji perawi dengan sifat-sifat yang membawa ke’adalahannya, yakni sifat-sifat yang dijadikan dasar penerimaan riwayat.
Keadilan seorang perawi itu dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketetapan berikut :
a. Dengan kepopulerannya dikalangan para ahli ilmu bahwa dia terkenal sebagai seorang yang adil. Seperti ketenarannya sebagai orang yang adil dikalangan para ahli ilmu bagi Anas ibn Malik, Sufyan Ats-Tsaury, Syu’bah ibn AL-Hajjaj, As-Syafi’i, Ahmad dan lain sebagainya. Oleh karena mereka sudah terkenal sebagai orang adil dikalangan para ahli ilmu, maka mereka tidak perlu lagi untuk diperbincangkan keadilannya.
b. Dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah). Yakni ditetapkan sebagai perawi yang adil oleh orang yang adil, yang semula perawi yang dita’dilkan itu belum dikenal sebagai perawi yang adil.

Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah dapat dilakukan oleh :
1. Seorang rawi yang adil. Jadi tidak perlu dikaitkan dengan banyaknya orang yang menta’dilkan. Sebab jumlah itu tidak menjadi syarat untuk penerimaan riwayat (hadist). Oleh karena itu jumlah tersebut tidak menjadi syarat pula untuk menta’dilkan seorang rawi. Demikian menurut pendapat kebanyakan muhadditsin. Berlainan dengan pendapat para fuqaha’ yang mengsyaratkan sekurang-kurangnya dua orang dalam mentazkiyahkan seorang rawi.
2. Setiap orang yang dapat diterima periwatannya, baik ia laki-laki maupun perempuan dan baik orang yang merdeka maupun budak, selama ia mengetahui sebab-sebab yang dapat mengadilkannya.

Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan:
1. Berdasarkan berita tentang ketenaran seorang perawi dalam keaibannya. Seorang perawi yang sudah dikenal sebagai orang yang fasiq atau pendusta dikalangan masyarakat, tidak perlu lagi dipersoalkan. Cukuplah ketenaran itu sebagai jalan untuk menetapkan kecacatannya.
2. Berdasarkan pentajrihan dari seorang yang adil yang telah mengetahui sebab-sebabnya dia cacat. Demikian ketetapan yang dipegangi oleh para muhadditsin. Sedangkan menurut fuqaha’ , sekurang-kurangnya harus ditajrih oleh dua orang laki-laki yang adil.

Adapun syarat-syarat bagi oarang yang menta’dilkan dan mentajrihkan yaitu:
1) Berilmu pengetahuan
2) Taqwa
3) Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat, dan dosa-dosa kecil dan makruhat/yang dibenci)
4) Jujur
5) Menjauhi fanatik golongan
6) Mengetahui sebab-sebab untuk menta’dilkan dan mentajrihkan.

Jumlah yang dipandang cukup menta’dilkan dan mentajrihkan perawi pun diperselisihkan:
a) Minimal dua orang, baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. Demikianlah pendapat kebanyakan fuqaha’Madinah dan lainnya.
b) Cukup seorang saja dan soal riwayah bukan dalam soal syahadah. Dikarenakan bilangan itu tidak menjadi syarat dalam penerimaan hadist, mka tidak pula disyaratkan dalam menta’dilkan dan mentajrihkan perawi.
c) Cukup seorang saja, baik dalam soal riwayah maupun dalam soal syahadah.

E. Sifat-Sifat yang Menyebabkan Seorang Perawi Dinilai Jarh
Seorang perawi hadis dapat diterima periwayatannya manakala terdapat suatu sifat atau beberapa sifat yang dapat menggugurkan keadilannya, yang akibatnya tidak dapat diterima periwayatannya. Sifat-sifat tersebut antara lain :
1. Dusta
Yang dimaksud dengan dusta dalam hal ini ialah bahwa orang itu pernah berbuat dusta terhadap sesuatu atau beberapa hadis. Dalam pengertian, seorang perawi berbuat dusta terhadap Rasulullah SAW, seperti membuat hadis palsu, pernah menjadi saksi palsu, kecuali ia sudah tobat.
Menetapkan kepalsuan suatu hadis yang diriwayatkan oleh orang yang pernah berbuat dusta adalah berdasarkan keyakinan yang kuat, bukan atas dasar sangkaan, sehingga mungkin suatu saat ia berbuat dusta dan dalam keadaan lain ia berkata sebenarnya. Dalam masalah ini ulama berpendapat menurut Imam Ahmad dan Abu Bakar al-Humaidi, guru Imam al-Bukhari, riwayatnya tidak dapat diterima meski ia sudah bertobat. Pendapat ini dikutip oleh Mudhaafar al Sam’any, sedangkan al Nawawi me-nasakh-kan atau menerima riwayatnya apabila ia betul telah bertobat.

2. Tertuduh Berbuat Dusta
Yang dimaksud dengan tertuduh dengan berbuat dusta adalah seorang perawi sudah tenar dikalangan masyarakat sebagai orang berdusta. Periwayatan orang yang tertuduh dusta dapat diterima apabila ia betul-betul telah bartaubat sehingga masyarakat tidak lagi menuduh pendusta.

3. Fasik (melanggar ketentuan syarak)
Yang dimaksud fasik disini ialah fasik dalam perbuatan yang tampak secara lahiriah, bukan dalam hal I’tiqiyah, nama tetap periwayatannya ditolak, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah (Q.S Al-Hujarat : 7)

•

“dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (Q.S Al-Hujarat :7)

4. Jahalah
Yang dimaksud dengan Jahalah adalah perawi hadis itu tidak diketahui kepribadiannya, apakah ia seorang yang atau tercacat (jarih). Dengan tidak diketahuinya itu, menjadi alasan untuk tidak diterima riwayatnya, kecuali dari golongan sahabat atau orang yang disebut dengan lafal yang menyebutkan atau menunjukkan kepada kepercayaaan, seperti dengan lafal hadatsan, tsiqan, atau akhbarnya ‘adlun dan sebagainya.

5. Ahli Bid’ah
Yang dimaksud dengan ahli Bid’ah yaitu perawi yang tergolong melakukan bid’ah dalam hal I’tikad yang menyebabakan ia kufur, maka riwayatnya ditolak.
6. Hukum MenJarh Seorang Perawi
An-Nawawi Muqaddimah Sahih Muslim mengatakan bahwa ulama telah sepakat membolehkan seseorang untuk mencacat (menjarh) orang lain. Hal ini didasarkan karena memelihara agama sehingga terhindar dari ketidakbenaran dalam menentukan kualitas suatu hadis (Muslim jil.I), mencacat ataumenjarh seperti ini tidaklah termasuk mengumpat atau mencela orang lain, melainkan dianggap sebagai nasihat yang harus diterima dengan lapang dada dan sesuatu yang kita lakukan demi kepentingan agama.
Martabat jarh dan ta’dil serta lafal-lafal yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Dengan kata yang menunjukkan tercelanya seorang perawi yakni mensifati perawidengan suatu sifat yang menunjukkan sifat yang sangat dusta atau menuduh memalsukan suatu hadis, misalnya dengan ungkapan berikut :
– ‘si fulan orang yang paling dusta.” (فلا ن ا كتن لفا س)
– “si fulan yang paling banyak membuat atau memalsukan hadis.”
(فلا ن ا وضع الفاس)
– “Dia tiang tonggak dusta” (هو ر كن ا لد دب)
– “Dias sumber Dusta” (هو ضع ا لد ب)
Dengan kata-kata sebagai berikut :
– Dia dajjal atau perusak
– Dia orang yang banyak memalsukan hadis.
– Dia orang yang sangat dusta.

b. Me-nafsihi perawi dengan salah satusifat dusta dan memalsukan hadis, tetapi tidak terlalu menekankan atau bersifat dengan yang agak kurang atau ringan keburukannya dari dusta dan memalsukan hadis, misalnya :
– Fulan tertuduh berdusta.(فلا ن منهم با لكد ا ب)
– Fulan memalsukan hadis (فلا ن منهم با لو ضع)
– Fulan seorang yang gugur (فلا ن سا قط )

c. Memakai dengan sebutan sebagai berikut
– Fulan membuang hadisnya (فلا ن القو ا حد يثه)
– Fulan dhaif sekali (فلا ن ضعيف جدا)
– Fulan orang yang ditolak (فلا ن ر دا)

d. Memakai sebutan-sebutan sebagai berikut
– Fulan tidak diambil hujjah-nya (فلا ن لا يحفج به)
– Fulan munkirul hadis (فلا ن منكر الحد يث)
– Fulan melemahkannya (فلا نضعفو ه)

e. Menggunakan kata-kata sebagai berikut
– Fulan dilemahkan (فلا ن فيه ضعيف)
– Fulan pada hadisnya ada kelemahan (فلا ن فى حيثة ضعف)
– Fulan padanya ada cacat (فلا ن فيه مقا ل)
Sebagai mana pada jarh, maka dalam ta’dil pun terdapat martabat pada lafal-lafal yang digunakan dalam menilai seseorang perawi hadis. Untuk menentukan martabat dalam ta’dil, para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan ada empat (pendapat Ibnu Abi Hatim, Ibnu Soleh, Nawawi), sedangkan Adz Dzahabi dan Iraq mengatakan ada lima martabat dan menurut pendapat al- Hafidh Ibnu Hajar adalah sebagai berikut :
a. Tiap-tiap ibarat yang masuk pada fi’il tafdil serta menyerupai fi”il tafdil, yang menunjukkan pada mubaligh, seperti lafal :
– fulan orang yang dipercaya
– fulan orang yang paling kuat hafalannya
– kepadanyalah segala kesudahan

b. tiap ibarat yang menunnjukkan derajat para perawi dengan mengulangi lafal yang menunjukan keadilan dua kali atau lebih, misalnya lafal
– kepercayaan-kepercayaan.
– Kepercayaan, kuat hafalan.

c. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi, dengan suatu lafal yang berarti pengertian bahwa perawi itu, kekuatannya seperti ungkapan berikut :
– Fulan orang yang teguh hati dan ibadah
– Fulan teguh hati dan baik riwayatnya
– Fulan orang teguh hati hafalannya

d. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan suatu lafal yang tidak memberi pengertian bahwa ia adalah orang yang kuat ingatannya, misalnya perkataan sebagai berikut :
– Fulan orang yang sangat benar .(فلا ن صد و ق)
– Fulan boleh dipegang perkataannya.(فلا ن ما مو ن)
– fulan boleh tidak ada cacat padanya

e. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan sifat yang memberi pengertian, bahwa ia kuat ingatan dan amanahnya. Misalnya sebagai berikut :
– Fulan adalah orang yang dapat dipandang benar (فلا ن محله الاصد ق)
– Fulan orang yang suka pertengkaran.(فلا ن وسط )
– Fulan orang yang pertengahan dan syekh. (فلا ن و سط شيخ)


Meninggalkan komentar

Hadis Maudhu’


BAB : II
PEMBAHASAN

Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam yang mengandung ayat-ayat yang bersifat mujmal, mutlak dan ‘am. Oleh karenanya kehadiran hadis berfungsi untuk “tabay’in wa taudhih terhadap ayat-ayat tersebut. Tanpa kehadiran hadis umat Islam tidak akan mampu menangkap dan merealisasikan hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Qur’an secara mendalam. Ini menunjukkan hadis menduduki posisi penting dalam literatur sumber hukum Islam.
Sungguh pun hadis mempunyai fungsi dan kedudukan begitu besar, namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang secara resmi telah ditulis pada zaman nabi dan dibukukan pada masa khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq. Hadis baru di tulis dan di bukukan pada masa kekhalifahan Umar ‘ibn ‘Abd Al-Aziz (abad ke-2 H) melalui perintahnya kepada Gubernur Abu BAkar Muhammad bin ‘Amr bin hazm dan bahkan kepada tani’in wanita Amrah binti Abd Al-Rahman.
Kesenjangan waktu antara sepeninggal rasulullah SAW dengan waktu pembukuan hadis (hampir 1 abad) merupakan kesempatan yang baik bagi orang-orag atau kelompok tertentu untuk memulai aksinya membuat dan mengatakan sesuatu yang kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Dengan alasan yang di buat-buat. Penisbatan sesuatu kepada Rasulullah SAW.seperti inilah yang selanjutnyaa dikenal dengaan hadis palsu atau hadis maudhu’.
Hadis maudhu’ ini sebenarnya tidak pantas untuk disebut sebagai sebuah hadis, karena ia sudah jelas bukan sebuah hadis yang bisa disandarkan pada Nabi SAW. Lain halnya dengan hadis dha’if yang diperkirakan masih ada kemungkinan ittishal pada nabi. Hadis maudhu ini berbeda dengan hadis dha’if. Hadis maudhu sudah ada kejelasan akan kepalsuannya sementara hadis dha’if belum jelas, hanya samar-samar. Sehingga karena kesamarannya, hadis tersebut disebut dengan dha’if. Tapi ada juga yang memasukkan pembahasan hadis maudhu’ ini ke dalam bahasan hadis Dha’if.
A. Pengertian hadis Maudhu’
Hadis Maudhu’ adalah hadist yang di buat-buat atau diciptakan atau didustakan atas nama Nabi. Menurut Ahmad Amin hadis maudhu’ sudah ada sejak masa Rasulullah.

Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah tempatnya di neraka (HR. Bukhari).
Ulama hadis lain berpendapat bahwa munculnya hadis maudhu adalah pada tahun 40 H, pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertikaian politik.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa hadis maudhu itu sebetulnya bukan hadis yang bersumber dari rasul atau dengan kata lain bukan dari hadis Rasul, paling tidak sebagian hanya saja disandarkan kepada Rasul.
B. Munculnya hadis maudhu’ dan faktor penyebab munculnya hadist maudhu’
1. Awal mula munculnya hadis maudhu’
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai terjadinya pemalsuaan hadist. Berikut ini akan dikemukakan pendapat mereka yakni :
a. Menurut Ahmad Amin bahwa hadis maudhu’ terjadi sejak masa Rasulullah masih hidup. Alasan yang dijadikan argumentasi adalah sabda Rasulullah.

Meurut hadis tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan pada zaman Rasulullah telah terjadi pemalsuan hadis. Alasan yang dikemukakan oleh Ahmad Amin sebetulnya hanya merupakan dugaan yang tersirat dalam hadis tersebut, sebab dia tidak memiliki alasan historis dan tidak pula tercantum alam kitab-kitab standart yag berkaitan dengan asbab al-wurud.
b. Salah al-Din al-Dlabi mengatakan bahwa pemalsuan hadis berkenaan dengan masalah keduniaan telah terjadi pada masa Rsulullah. Alasan yag dia kemukakan adalah hadis riwayat at-Thahawi dan at-Thabrani.
c. Menurut jumhur al-Muhaddisin bahwa pemalsuan hadis itu terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, mereka beralasan bahwa keadaan hadis sejak zaman Nabi hingga sebelum terjadinya pertentangan antara ‘Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan masih terhindar dari pemalsuan-pemalsuan.
2. Faktor penyebab munculnya hadis Maudhu’
Berdasarkan data sejarah yang ada, pemalsuan hadis tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam akan tetaapi juga dilakukana oleh orang-orang non- muslim. Ada beberapa motif yang mendorong mereka membuat hadis palsu, diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Pertentangan politik
Perpecahan umat Islam yang diakibatkan politik yang terjadi pada kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib besar sekali pengaruhnya terhadap pemunculan hadis-hadis palsu. Masing-masing golongan berusaha mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang tertentu. Dari akibat perpecahan politik ini yang pertama-tama membuat hadis palsu ini adalah dari golongan Syi’ah hal ini disampaikan oleh Ibnu Abi al-Hadid.
2. Usaha kaum zindiq, yaitu golongan yang beusaha merusak Islam dari dalam, seperti dilakukan oleh Abdul karim Ibn al-Auja’ yang mengaku telah membuat 4000 hadis palsu.
3. Sikap fanatik terhadap suku dan bangsa (ashabiyah).
4. Perselisihan dalam fiqih dan ilmu kalam.
Munculnya hadis-hadis palsu dalam masalah fiqih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut mazhab. Mereka berani melakukan pemalsuan hadis karena didorong sifat fanatik dan ingin menguatkan mazhabnya masing-masing.
Di antara hadis-hadis palsu tentang masalah ini, yaitu siapa yang mengangkat kedua tangannya ketika dalam shalat, maka shalatnya tidak sah.
5. Membangkitkan Gairah beribadat, tanpa mengerti apa yang dilakukan.
Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan dan bahkan mengira usahanya itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dan menjunjung tinggi agamanya. Mereka mengatakan “kami berdosa semata-mata untuk menjunjung tinggi nama Rasulullah dan bukan sebaliknya”. Nuh bin Abi maryam telah membuat hadis berkenaan dengan fadilah membaca surat-surat tertentu dalam al-Qur’an.
6. Menjilat penguasa
Seperti yang dilakukan Ghiyats bin Ibrahim pada masa pemerintahan al-Mahdi. Dia menambahkan perkataanya sendiri dalam hadis nabi hanya untuk menyenangkan khalifah.
C. Usaha penyelamatan hadis maudhu’
1. Menyusun kaidah penelitian hadis, khususnya kaidah tentang kesahihan sanadnya.
2. Menyusun kitab-kitab yang memuat tentang hadis maudu’ antara lain: al-Maudhu’ al-Kubra yang disusun oleh Abu al-Fajri.
D. Kaidah-kaidah untuk mengetahui hadis maudhu’
1. Atas dasar pengakuan para pembuat hadis palsu, sebagaimana pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia telah membuat hadis tentang fadilah membaca al-Quran, surat demi surat, Ghoyas bin Ibrahim dan lain-lain.
2. Ma’nanya rusak. Ibnu Hajar menerangkan bahwa kejelasan lafadz ini dititik beratkan pada kerusakan arti, sebab dalam sejarah tercatat “periwayatan hadis tidak mesti bi al-lafdzi akan tetapi ada yang bi al-ma’na, terkecuali bila dikatakan bahwa lafadznya dari Nabi, baru dikatakan hadis palsu. Contoh hadis maudhu’ tentang masalah ini antara lain:

3. Matannya bertentangan dengan akal atau kenyataan, bertentangan dengan al-Quran atau hadis yang lebih kuat, atau ijma’. Seperti hadis yang menyebutkan bahwa umur dunia 7000 tahun. Hadis ini bertentangan dengan al-Quran surat al-A’raf ayat 187, yang intinyabahwa umur dunia hanya ketahui oleh Allah.
4. Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil. Seperti hadis yang menyatakan bahwa anak hasil perzinahan tidak masuk surge hingga tujuh turunan. Ini menyalahi al-Quran surat al-An’am ayat 164 yang menyatakan bahwa Tidaklah seseorang (yang bersalah) memikul dosa orang lain.
5. Perawinya dikenal seorang pendusta.
Untuk menyelamatkan hadis Nabi di tengah-tengah gencarnya pembuatan hadis palsu, Ulama hadis menyusun berbagai kaidah penelitian hadis. Tujuan penyusunan kaidah-kaidah tersebut untuk mengetahui keadaan matan hadis. Dan untuk kepentingan penyusunan matan hadis tersebut, disusunlah kaidah kesahihan sanad hadis. bersamaan dengan ini muncullah berbagai macam ilmu hadis. Khusus ilmu hadis yang dikaitkan dengan penelitian sanad hadis, antara lain ialah ilmu rijal al-hadis dan ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil.
Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis, di samping telah dibukukannya hadis, mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu sangat sempit. Selain itu, hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. Dengan menggunakan berbagai kaidah dan ilmu hadis itu, Ulama telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu dalam kitab-kitab khusus.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.202 pengikut lainnya.