hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Ingkar Sunah

Tinggalkan komentar

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ingkar Sunah
1. Pengertian Ingkar
Kata ingkar sunah terdiri atas dua kata, yaitu ingkar dan sunah. Menurut Ahmad Warson Munawir (1984-1569), kata ingkar berasal dari ankara-yunkiru-inkaaran, yang berararti sulit, tidak menagkui, atau mengingkari. Anton Maulana Muhammad (1088-379) memberikan definisi ingkar sebagai berikut: ingkar berarti menyangkal, tidak membenarkan, tidak mengakui, mungkar dan tidak menepati. Contoh : ia berusaha membela diri dengan mengingkari tuduhan yang diberikan kepadanya. Mengingkari dalam pengertian diatas, berarti tidak mengakui (menyangkal).1
2. Pengertian as-sunnah
As-Sunnah adalah penjelas dan penerang bagi Al-Qur‟an, “As-Sunnah dari sisi makna kembali kepada Al-Qur‟an, karena sunnah merupakan perincian dan penjelasan ringkas dari Al-Qur‟an.
Ibnu Taimiyah berkata, “Jika seseorang bertanya apa metode tafsir terbaik ? maka jawabannya adalah metode paling shahih dalam hal ini adalah menafsirkan Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an. Namun jika tidak memungkinkan maka tafsirkan Al-Qur‟an dengan As-Sunnah. Karena As-Sunnah adalah penjelas bagi Al-Qur‟an.2
Menurut bahasa, seperti dikemukakan oleh Ahmad Wardson Munawwir, yaitu sebagai berikut:
a. As-Sunnah dengan makna jalan
b. As-Sunnah dengan makna tabi‟at atau watak
c. As-Sunnah dengan makna al-hadis
Masyfuk Zuhdi memberikan ta’rif as-snnah menurut bahasa, yaitu “jalan yang ditempuh”. Hal ini sebagaimana dalam sabda Nabi saw.:
Artinya: “Barang siapa yang mempelopori mengerjakan suatu pekerjaan yang baik, maka baginya mendapat pahala atas perbuatan itu dan menerima pahala
1 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.141
2 Ali Muhammad Ash-Shallabi, Perjalanan Hidup Khalifah yang Agung Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, Jakarta: Darul Haq, 2010, h.366
2
orang-orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat. Dan barang siapa mempelopori mengerjakan suatu perbuatan yang jahat, maka ia berdosa atas perbuatannya itu dan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim, Masyfuk Zuhdi, 993:13)
Menurut ahli hadis, sunnah adalah sabda, pekerjaan, ketetapan, sifat atau tingkah laku Nabi saw., baik sebelum menjadi maupun sesudahnya.
Menurut ahli-ahli ushul-fiqh, sunnah adalah sabda Nabi saw., yang bukan berasal dari Al-Qur‟an, pekerjaan atau ketetapannya. Masyfuk Zuhdi memberikan definisi As-sunah menurut istilah, yaitu sebagai berikut:3
مَا نَقَلَ عَنِ النَّبِى صَلَّى اللََُّّ عَلَيْوِ وَسَ لّمّ مِنْ قّوْلٍ اَوْ فِعْلٍ اَوْ تَقْرِيْرٍ اّوْ غَيْرُ ذَلِكَ
sunnah ialah yang dinukilkan dari Nabi saw., baik berupa perkataan, perbuatan, takrirnya atau selain itu.
Jadi, yang dimaksud dengan ingkar sunnah adalah orang-orang yang tidak mengakui (mengingkari) akan keberadaan as-sunnah atau al-hadis sebagai sumber hukum dalam islam.4
B. Argumentasi Kelompok Ingkar Sunnah
M. Syuhudi Ismail, mengemukakan bahwa memang cukup banyak argumen yang telah dikemukakan oleh para pengingkar sunnah, baik oleh mereka yang hidup pada zaman imam syafi‟i maupun oleh orang yang hidup pada zaman sesudahnya. Dari berbagai argumentasi yang jumlahnya banyak itu, ada berupa argumen-argumen naqli (Al-Qur‟an dan Al-Hadis) dan ada yang berupa argumen-argumen non-naqli.
a. Argumen-argumen Naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen naqli ialah alasan pengingkar sunnah yang menggunakan dalil, baik dari Al-Qur‟an maupun dari hadis Nabi.
Argumen dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang mereka gunakan, antara lain sebagai berikut:
3 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.141-142
4 Ibid, h.142
3
1. Q.S. An-Nahl ayat 89










Dan Kami turunkan kitab Al-Qur’an kepadamu untk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)5
2. Q.S. Al-An‟am ayat 38











Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan didalam kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.6
3. Hadis
مَا جَاءَعَنٌىِ فَ أعَْرِضُوه عَلَى كِتَبَ الٌلَّ فَمَا وَافَقَوُ فَأنََاقُلْتوُ Artinya: “Apa yang datang kepadamu dari saya, maka konfirmasikanlah dengan kitabullah, maka hal itu berarti aku telah mengatakannya, dan suatu yang menyalahi Al-Qur’an, berarti aku tidak mengatakannya”
Menurut pengingkar sunnah, dengan dua ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia telah menerangkan dan memerinci segala sesuatu sehingga tidak perlu keterangan lain seperti sunnah. Seandainya Al-Qur‟an belum lengkap, apa maksud dari ayat tersebut? Jika demikian, berarti Allah menyalahi pemberitaan-Nya sendiri. Hal ini sangatlah mustahil. Padahal menurut para ulama, kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur‟an mencakup segala sesuatu yang berkenaan dengan urusan agama, mencakup hukum-hukumnya dunia akhirat.7
b. Argumen-argumen non-naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen non-naqli ialah argumen-argumen yang tidak berupa Alquran dan hadis-hadis Nabi. Walaupun sebagian
5 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002, h.278
6 Ibid, h. 133
7 Badri Khaeruman, Ulum Hadis, cet.1, Bandung:Pustaka Setia, 2010, h. 203
4
argumen-argumen itu ada yang menyinggung sisi tertentu dari ayat Al-Qur‟an ataupun Al-Hadis, tetapi karena yang dibahasnya bukanlah ayat ataupun matan hadisnya secara khusus, maka argumen-argumen tersebut dimasukkan kedalam argumen-argumen non-naqli.
Diantara argumen non-naqli yang diungkapkan oleh pengingkar sunnah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Al-qur‟an diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad (melalui Malaikat Jibril) dalam bahasa arab. Orang-orang mengerti secara langsung, tanpa harus memerlukan penjelasan dari hadis Nabi. Dengan demikian, hadis Nabi tidak diperlukan untuk memahami petunjuk Al-Qur‟an.
2. Dalam sejarah, umat Islam telah mengalami kemunduran. Umat Islam mundur karena umat Islam terpecah-pecah. Perpecahan itu terjadi karena umat Islam berpegang kepada hadis Nabi. Jadi, menurut para pengingkar sunnah, hadis Nabi merupakan sumber kemunduran umat Islam. Agar umat Islam maju, maka umat Islam harus meninggalkan hadis Nabi.
3. Asal mula hadis Nabi yang dihimpun dalam kitab-kitab hadis adalah dongeng-dongeng semata. Dinyatakan demikian, karena hadis-hadis Nabi lahir setelah Nabi wafat.8
C. Perkembangan Ingkar Sunnah
Sebelumnya, pada masa sahabat sudah ada orang-orang yang kurang memperhatikan kedudukan sunnah, tetapi mereka masih bersifat perorangan. Kemudian, menjelang abad kedua, muncullah golongan yang mengingkari sunnah yang di-mutawatirkan-saja.
Ada beberapa golongan yang menyikapi sunnah Nabi secara universal, dan ada pula yang menolak hadis atau sunnah karena diriwayatkan oleh sahabat tertentu. Golongan yang pro dan kontra terhadap sunnah ialah golongan khawarij, golongan mu‟tajilah dan golongan syi‟ah.
1. Sikap khawarij terhadap sunnah
8 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.144
5
Kata khawarij merupakan bentuk jamak dari kata kharij yang berarti sesuatu yang keluar. Sementara menurut pengertian terminologis khawarij adalah kelompok atau golongan yang pertama keluar dan tidak loyal terhadap pimpinan yang sah.
Dan yang dimaksud dengan khawarij disini adalah golongan tertentu yang memisahkan diri dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib r.a. Ada sumber yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat sebelum terjadinya fitnah yang mengakibatkan terjadinya perang saudara. Yaitu perang jamal (antara sahabat Ali r.a dengan Aisyah) dan perang Siffin ( antara sahabat Ali r.a dengan Mu‟awiyah r.a). Dengan alasan bahwa sebelum kejadian tersebut para sahabat dinilai sebagai orang-orang yang „adil (muslim yang sudah akil-baligh, tidak suka berbuat maksiat, dan selalu menjaga martabatnya). Namun, sesudah kejadian fitnah tersebut, kelompok khawarij menilai mayoritas sahabat Nabi SAW sudah keluar dari islam. Akibatnya, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat setelah kejadian tersebut mereka tolak.9
Golongan khawarij memakai sunnah dan mempercayainya sebagai sumber hukum Islam, hanya saja ada sumber-sumber yang menyebutkan bahwa mereka menolak hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat tertentu, khususnya setelah peristiwa tahkim. As-siba‟i mengemukakan bahwa khawarij dengan berbagai kelompoknya yang berbeda itu, sebelum terjadinya perang saudara antara sahabat, menganggap semua sahabat Nabi dapat dipercaya, kemudian mereka mengkafirkan Ali, Utsman, para pengikut Perang Onta, dua orang utusan perdamaian (tahkim) dan orang-orang yang membenarkan salah seorang atau dua utusan perdamaian tadi.10
2. Sikap syi‟ah terhadap sunnah
Kata syiah berarti „para pengikut‟ atau para pendukung. Sementara menurut istilah ,syiah adalah golongan yang menganggap Ali bin Abi Thalib lebih utama daripada khalifah yang sebelumnya, dan berpendapat bahwa al-bhait lebih berhak menjadi khalifah daripada yang lain. Golongan syiah terdiri dari berbagai kelompok dan tiap kelompok menilai kelompok yang lain sudah keluar dari islam. Sementara kelompok yang masih eksis hingga sekarang
9 http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)
10Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia,2010, h.145
6
adalah kelompok Itsna „asyariyah. Kelompok ini menerima hadits nabawi sebagai salah satu syariat islam. Hanya saja ada perbedaan nmendasar antara kelompok syiah ini dengan golongan ahl sunnah (golongan mayoritas umat islam), yaitu dalam hal penetapan hadits. Golongan syiah menganggap bahwa sepeninggal Nabi SAW mayoritas para sahabat sudah murtad kecuali beberapa orang saja yang menurut menurut merekamasih tetap muslim. Karena itu, golongan syiah menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mayoritas para sahabat tersebut. Syiah hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahli baiat saja.
Sebagian besar golongan syi‟ah yang dimaksud disini adalah mereka yang masih berbeda dalam lingkungan Islam, mendiskualifikasikan (menganggap tidak cakap dan mampu) kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, serta umumnya para sahabat yang mengikuti mereka, Mu‟awiyah dan Amr ibn Ash, serta sahabat lain yang terlibat dalam perampasan kekhalifahan Ali. Lebih jauh, kaum syiah sesungguhnya mendiskualifikasikan umumnya para sahabat, kecuali beberapa orang yang dikenal kecintaannya kepada Ali. Mereka menolak sunnah umumnya dari sahabat, kecuali yang diturunkan oleh para pengikut Ali.11
3. Ingkar sunnah masa kini
Sesudah abad kedua Hijriyah, tidak ada catatan sejarah yang menyatakan kelompok muslim yang menolak hadis. Namun ketika negara-negara Barat menjajah negara Islam, mereka mulai menyebar benih-benih busuk untuk melumpuhkan kekuatan Islam. Pada saat itulah, di Irak muncul orang yang menolak as-sunnah, sedangkan di Mesir, hal itu muncul pada masa Muhammad Abduh mengatakan bahwa “ Umat Islam saat ini tidak mempunyai pemimpin lain, kecuali Al-Qur‟an. Islam yang benar adalah Islam tempo dulu, sebelum munculnya perpecahan dalam tubuh muslimin.12
D. Penyebab Ingkar Sunnah
Latar belakang yang menyebabkan ingkar sunnah adalah karena beberapa faktor, antara lain sebagai berikut :
1. Salah paham terhadap penafsiran Al-Qur‟an. Hal ini terlihat dalam memahami surat al-An‟am ayat 38
11 Ibid, h.145
12 Ibid, h.146
7






Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan didalam kitab13
Disamping adanya salah faham terhadap penafsiran surat al-An‟am tersebut, mereka (pengingkar sunnah) terlalu sempit dalam meneliti al-Qur‟an. Hal ini terbukti dengan adanya pemikiran yang terlalu parsial.
2. Faktor dari sebab-sebab adanya ingkar sunnah ialah terkait dengan adanya larangan Nabi.
3. Mereka (pengingkar sunnah) merasa angkuh dan gengsi. Karena pada prinsipnya para pengingkar sunnah tidak mengakui ayat lain atau hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu.14
E. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengingkar Sunnah
Imam Baihaqi, seperti yang dikemukakan oleh Jalaludin as Suyuti (1997;39) tentang penjelasan oleh sebagian orang yang bersikap menolak sunah Rasulullah, yaitu yang diriwayatkan oleh orang-orang hadisnya dinilai Dha’if. Maksudnya, dengan hadist tersebut untuk menolak sunnah Rasulullah dan terbatas hanya menerima al-Qur‟an saja.
Sebagaiman telah disinggung dalam pembahasan diatas, bahwa umat Islam sejak zaman Nabi saw. meyakini bahwa al-hadits merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Dasar utama dari keyakinan itu, menurut M. Syuhudi Ismail adalah berbagai petunjuk al-Qur‟an, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Al-Qur‟an Surat al-Hasyr ayat 7

















Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.
13 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002, h.133
14 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.146-147
8
2. Al-Qur‟an Surat Ali-Imran ayat 32













Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.
3. Al-Qur‟an Surat Al-Nisa ayat 80







Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. 15
Berdasarkan dalil-dalil diatas, pengingkar sunnah termasuk sesat karena tidak sesuai dengan ajaran al-Qur‟an, dimana mereka tidak konsekuen dalam melaksanakan secara total dan menyeluruh, dan mereka tidak mengakui kebenaran As-Sunnah dan mereka juga membenci As-Sunnah, maka mereka bukan termasuk umat Nabi saw . Seperti sabda Nabi saw.:
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُ نَّ تِى ف لَ يسَ مِ نّى )متفق عليو(
Artinya : “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (Muttafaqun Alaih)16
F. Pandangan Orientalis tentang Hadis Sebagai Sumber Hukum
Menurut Joseph Schacht, tujuan Muhammad selaku Nabi bukanlah untuk membuat sistem hukum yang baru, tetapi sekedar mengajarkan manusia bagaimana harus bertindak agar selamat menghadapi perhitungan pada hari pembalasan dan agar masuk surga.
Menurut Anderson, bahwa Muhammad tidak berusaha menyelesaikan sistem hukum yang komprehensif, tetapi hanya melakukan sedikit amandemen terhadap hukum adat yang sudah ada.
Snouck Hurgronje juga menyatakan bahwa Muhammad sangat menyadari batapa kurang memenuhi syaratnya untuk menyelesaikan urusan dibidang hukum, kecuali kalau benar-benar mendesak. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh
15 Ibid, h.147-149
16 Muhammad Nashiruddin Albani, Takhrij Kitab Sunnah, Jak-Sel: Najla Press, Desember, 2003, h.43
9
E. Tyan bahwa jika seseorang melihat sepintas karya Muhammad, maka akan dengan mudah meyakini bahwa Muhammad tidak bermaksud untuk membuat hukum baru.
Beberapa pandangan diatas menunjukkan bahwa dimata para orientalis, Nabi Muhammad tidak memiliki kapasitas dan otoritas dalam menetapkan hukum. Mereka menolak adanya penetapan hukum yang sistematis dari Nabi, yang konsekuensinya pada penolakan sunnah sebagai sumber hukum islam. Kalaupun ada sunnah yang menjadi sumber hukum islam, maka hal itu bukan sesuatu yang berasal dari Nabi, tetapi berasal dari tradisi yang sudah ada danberkembang dalam masyarakat.
Terlebih lagi, para orientalis beranggapan bahwa Al-Qur‟an adalh perkataan Nabi Muhammad dan sunnah atau hadis adalah buatan para sahabat, tabi‟in, dan para ulama atau fuqaha. Mereka menganggap bahwa dasar hukum Islam diambil dari hukum-hukum gereja Timur. Bahkan merekamenuduh bahwa hukum Islam mengacu kepada hukum perundang-undangan Romawi.
Anggapan dasar para orientalis yang keliru tersebt, para ulama sangat jauh berbeda dengan pandangan dan keyakinan umat Islam bahwa Al-Qur‟an adalah wahyu dan firman Allah sedangkan hadis atau sunnah adalah perkataan, perbuatan atau persetujuan Nabi. Karena itu, pandangan orientalis bahwa hukum agama Islam itu mengacu pada hukum dan perundang-undangan Romawi atau diambil dari hukum gereja-gereja Timur, juga sangat bertentangan dengan pendapat seluruh ulama dan umat Islam. Bahwa hukum Islam bersumber dari Al-Qur‟an, Al-Hadis, Ijma‟ dan Qiyas.17
G. Kritik, Koreksi Terhadap Pandangan Orientalis dan Bantahan Para Ulama
Mengenai tuduhan mereka mengenai adanya larangan penulisan hadis oleh Nabi dan tidak adanya peninggalan tertulis, Shubhi al-Shalih mengatakan bahwa larangan penulisan tersebut disampaikan secara umum pada awal turunnya wahyu Al-Qur‟an karena Nabi khawatir hadis tercampur dengan Al-Qur‟an tetapi setelah sebagian besar Al-Qur‟an telah diturunkan, maka Nabi memberikan izin penulisan hadis secara umum kepada para sahabat.18 Abd Allah bin Mas‟ud berpendapat bahwa orang yang menghindari sunnah tidak termasuk orang beriman bahkan dia orang kafir. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, sebagai berikut: “Jika kamu
17 Idri, Studi Hadis, cet.1, Jakarta: Prenada Media Group, oktober 2010, h. 319-320
18 Ibid, h.321
10
bersembahyang di rumah-rumah kamu dan kamu tinggalkan masjid-masjid kamu, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan berarti kamu kufur.” (H.R. Abu Dawud :91). Allah SWT telah menetapkan untuk mentaati Rasul, dan tidak ada alasan dari siapa pun untuk menentang perintah yang diketahui berasal dari Rasul. Allah telah membuat semua manusia (beriman) merasa butuh kepadanya dalam segala persoalan agama dan memberikan bukti bahwa sunnah menjelaskan setiap makna dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah dalam kitabnya. Sunnah Rasul mempunyai tugas yang amat besar, yakni untuk memberikan pemahaman tentang Kitabullah, baik dari segi ayat maupun hukumnya. Orang yang ingin mempedalam pemahaman Al-Quran, ia harus mengetahui hal-hal yang ada dalam sunnah , baik dalam maknanya, penafsiran bentuknya, maupun dalam pelaksanaan hukum-hukumnya. Contoh yang paling baik dalam hal ini adalah masalah ibadah shalat. Tegasnya setiap bagian Sunnah Rasul SAW. Berfungsi menerangkan semua petunjuk maupun perintah yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran. Siapa saja yang bersedia menerima apa yang ditetapkan Al-Quran dengan sendirinya harus pula menerima petunjuk-petunjuk Rasul dalam Sunnahnya. Allah sendiri telah memerintahkan untuk selalu taat dan setia kepada keputusan Rasul. Barang siapa tunduk kepada Rasul berarti tunduk kepada Allah, karena Allah jugalah yang menyuruh untuk tunduk kepadaNya. Menerima perintah Allah dan Rasul sama nilainya, keduanya berpangkal kepada sumber yang sama (yaitu Allah SWT). Dengan demikian, jelaslah bahwa menolak atau mengingkari sunnah sama saja dengan menolak ketentuan-ketentuan Al-Quran, karena Al-Quran sendiri yang memerintahkan untuk menerima dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.19
19 http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)
11
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas dapat ditegaskan di sini bahwa alasan mendasar yang mereka kemukakan untuk menolak keberadaan hadis Nabi saw. sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur‟an adalah statement al-Qur‟an yang menyatakan bahwa al-Qur‟an telah menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Islam (QS. al-Nahl [16]: 89). Di samping itu mereka juga meragukan keabsahan kitab-kitab hadis (yang memuat hadis-hadis Nabi saw.) yang kodifikasinya baru dilakukan jauh setelah Nabi saw. wafat. Menurut para ulama, seperti al-Syafi‟i, argumentasi mereka tersebut adalah keliru. Kekeliruan sikap mereka itu sejauh ini diidentifikasi sebagai akibat kedangkalan mereka dalam memahami Islam dan ajarannya secara keseluruhan.
12
DAFTAR PUSTAKA
Albani, Nashiruddin, Muhammad, Takhrij Kitab Sunnah, Jak-Sel: Najla Press, Desember, 2003
Ash-Shallabi, Ali, Muhammad , Perjalanan Hidup Khalifah yang Agung Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, Jakarta: Darul Haq, 2010
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002
Idri, Studi Hadis, cet.1, Jakarta: Prenada Media Group, oktober 2010
Khaeruman, Badri, Ulum Hadis, cet.1, Bandung:Pustaka Setia, 2010
Sahrani, Sohari, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010
http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s