hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Hadits Dha’if

Tinggalkan komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ilmu hadits merupakan salah satu pilar-pilar tsaqofah islam yang memang sudah selayaknya dimiliki oleh setiap kaum muslim. Dewasa ini, begitu banyak opini umum yang berkembang yang mengatakan bahwa ilmu hadits hanya cukup dipelajari oleh para salafus sholeh yang memang benar-benar memilki kredibilitas dalam ilmu agama sehingga stigma ini membuat sebagian kaum muslim merasa tidak harus untuk mempelajari ilmu hadits.
Hal ini tentu sangat tidak dibenarkan karena dapat membuat masyarakat muslim menjadi kurang tsaqofah islamnya terutama dalam menjalankan sunnah-sunnah rosul. Terlebih dengan keadaan saat ini dimana sangat bayak beredar hadits-hadits dho’if dan hadits palsu yang beredar di tengah-tengah kaum uslim dan tentunya hal ini akan membuat kaum muslimin menjadi pelaku bid’ah. Jika kaum muslim masih memandang remeh tentang ilmu hadits ini maka tentu ini adalah suatu hal yang sangat berbahaya bagi aqidah kaumm muslimin dalam menjalankah sunnah rosul. Oleh karena itulah, perlunya kita sebagai umat muslim memilki pengetahuan yang luas tentang ilmu hadits.
Seperti yang telah diketahui bahwa hadits dho’if adalah hadits yang lemah atau hadits yang tidak memilki syarat-syarat hadits shohih dan hadits hasan. Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits dhiof ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah namun sebagian ulama yang lainnya juga ada yang berpendapat bahwa hadits dhoif ini dapat digunakan sebagai hujjah. Dengan adanya khilafiah atau perbedaan pendapat diantara para ulama,maka sangat perlulah kita sebagai umat muslim mengetahui bagaimana cara kita bersikap dalam menghadapi hadits dhoif tersebut karena hal ini akan langsung berkaitan dengan aqidah dan ibadah-ibadah kita kepada Allah SWT.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Hadits Dha’if ?
2. Apa saja kriteria Hadits Dha’if ?
3. Apa saja macam-macam Hadits Dha’if ?
4. Bagaimana status kehujahan Hadits Dha’if ?
5. Kitab-kitab yang Memuat Hadits Dhaif ?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian Hadits Dha’if
2. Untuk mengetahui kriteria Hadits Dha’if
3. Untuk mengetahui macam-macam Hadits Dha’if
4. Untuk mengetahui status kehujahan Hadits Dha’if
5. Untuk mengetahui Kitab-kitab yang Memuat Hadits Dhaif

D. BATASAN MASALAH
Mengingat begitu banyaknya materi maupun hal-hal yang berhubungan dengan rumusan masalah diatas, maka penulis membatasi pembahasan ini sesuai yang terdapat dalam rumusan masalah. Mengenai hal lain yang tidak memiliki hubungan dengan hal-hal yang tercantum pada rumusan masalah diatas tidak penulis uraikan pada makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hadits Dha’if
Hadits dha’if menurut bahasa berarti hadist yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasullullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadits dha’if:
اَلْحَدِيْثُ الضَّعِيْفُ هُوَ الْحَدِيْثُ الّذِىْ لَم يُجْمِعْ صِفَاتِ الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ وَلَا صِفَاتِ الْحَدِيْثِ
Artinya :
“Hadits dha’if adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
Seperti yang kita ketahui, bahwa syarat-syarat dalam hadits shahih ialah: harus bersambung sanadnya (ittishal al-Sanad), rawi-rawinya adil (‘adalah al-Ruwat), rawi harus mempunyai hafalan dan daya ingat yang kuat (dhabth al-Ruwat), tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih (‘adam al-Syudzudz), tidak mengandung penyakit (‘adam al-Illlah).
Dengan memperhatikan beberapa syarat dalam hadits shahih ini, maka sebuah hadits dinyatakan dha’if (lemah) bila:
1) Ada sebuah Hadits yang tidak bersambung sanadnya,atau
2) Ada sebagian rawinya yang tidak adil, atau
3) Ada sebagian rawi dalam Hadits yang tidak dhadith, atau
4) Haditsnya mengandung illat (penyakit), atau
5) Haditsnya bertentangan dengan hadist lain (syadz).
B. Kriteria Hadits Dha’if
Kriteria hadits dha’if yaitu hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadits sahih dan hasan. Dengan demikian, hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadist hasan. Pada hadits dha’if itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
Kehati-hatian dari para ahli hadits dalam menerima hadits sehingga mereka menjadikan tidak adanya petunjuk keaslian hadits itu sebagai alasan yang cukup untuk menolak hadits dan menghukuminya sebagai hadits dhaif. Padahal tidak adanya petunjuk atas keaslian hadits itu bukan suatu bukti yang pasti atas adanya kesalahan atau kedustaan dalam perawiannya atau kedustaan dalam periwayatan hadits, seperti kedhaifan hadits yang disebabkan oleh rendahnya daya hafal rawinya atau kesalahan yang dilakuhkan dalam meriwayatkan suatu hadits, padahal sebetulnya ia jujur dan dapat dipercaya. Hal ini tidak memastikan bahwa rawi itu salah pula dalam meriwayatkan hadits yang dimaksud, bahkan mungkin sekali ia benar. Akan tetapi karena ada kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadits yang dimaksud, maka mereka menetapkan untuk menolaknya .

C. Macam-macam Hadits Dhaif
Secara garis besar yang menyebabkan suatu hadits digolongkan menjadi hadits dha’if dikarenakan dua hal, yaitu: gugurnya rawi dalam sanadnya dan adanya cacat pada rawi atau matan.

1. Hadits Dhaif Karena Gugurnya Rawi
a. Hadits Mursal
Hadits Mursal, menurut bahasa berarti hadits yang terlepas. Para ulama memberikan batasan hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya diakhir sanad. Yang dimaksud disini adalah rawi pada tingkat sahabat. Jadi hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah.
Contoh hadits Mursal:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ك: بَيْنَن وَبَيْنَ الْمُنَافِقِيْنَ ثُهُوْدُ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ لَايَسْتَطِيْعُوْنَ. (رواه مالك)
Artinya:
“Rasulullah bersabda, “Antara kita dengan kaum munafik (ada batasan), yaitu menghindari jamaah Isya dan Shubuh; mereka tidak sanggup menghindarinya”
Hadits tersebut diriwatkan Imam Malik, dari Abdurrahman, dari Harmalah, dan dari Said bin Mutsayyab. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Said Bin Mutsyyab, tidaklah disebutkan dalam sanad diatas.
b. Hadits Munqati
Menurut bahasa, hadits munqati’ adalah hadits yang terputus. Para ulama memberi batasan hadits munqati adalah hadits yang gugur satu atau dua rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawinya diakhir sanadnya adalah sahabat Nabi, maka rawi menjelang akhir sanadnya adalaha tabiin. Jadi hadits munqati’ bukanlah rawi ditingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabiin.
Contoh hadits munqati’ :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَاذَخَلَ الْمَسْجِدَ قَالَ : بِسْمِ اللهِ وَالسَّلَاُمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اللّهُمَّ اغْفِرْلىِ ذُنُوْبِى وَافْتَحْ لِى اَبْوَابَرَحْمَتِكَ. (رواه ابن ماجه)
Artinya:
“Rasulullah SAW. Bila masuk kedalam masjid, membaca: dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampinilah segala dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatmu.” (HR. Ibnu Majah)
c. Hadits Mudal
Menurut bahasa, hadits mudal berarti hadits yang sulit dipahami. Para ulama memberi batasan hadits mudal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya atau lebih secara beriringan dalam sanadnya.
Contoh hadits nudal adalah hadits Imam Maliki hak hamba dalam kitab AL-Muwata. Dalam kitab tersebut Imam Malik berkata, “Telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda:
لِلْمُلُوْكَ طعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بِلْمَعْرُوْفِ. (رواه مالك)
Artinya: “ Budak itu harus diberi makanan dan pakaian secara baik” (HR. Malik)
Imam Malik dalam kitabnya tidak menyebut dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Dua orang rawi yang gugur itu diketahui melalui riwayat Imam Malik diluar kitab Al-Muawata’. Malik meriwayatkan hadits yang sama yaitu: “Dari Muhammad bin Ajlan dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah”. Dua rawi yang gugur secara beriringan adalah Muhammad bin Ajlan dan Ayahnya.
d. Hadits Muallaq
Hadits muallaq menurut bahasa, berarti hadits yang tergantung. Dari segi istilah, hadits muallaq adalah hadits yang gugur satu rawi atau lebih diawal sanad. Juga termasuk hadits muallaq, bila semua rawinya digugurkan (tidak disebutkan).
Contoh hadits muallaq
Bukhari berkata, kata Malik, dari Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:
لَاتَفَاضَلُوْا بَيْنَ الْاَنْبِيَاءِ. (رواه البخارى)
Artinya:
“Janganlah kamu melebihkan sebagian Nabi dan sebagian yang lain”. (HR.Bukhari)
2. Hadits Dha’if Karena Cacat pada Rawi atau Matan
Hadits yang bercacat rawi atau mutannya, atau kedua-duanya digolongkan hadits dha’if. Banyaknya macam cacat yang dapat menimpa para rawi ataw menimpa matan, di antaranya pendusta, pernah berdusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah, merupakan cacat, yang masing-masig dapat menghilangkan sifat dabit rawi. Banyak keliru, banyakfaham, buruk hapalan, lalu mengusahakan hapalan dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya, merupakan cacat-cacat, yang masing-masingnya terdapat sisipan ditengah-tengah lafaz hadits atau lafaz hadits itu diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dengan maksud lafaz yang sebagainya. Diantara hadits dha’if yang cacat perawi atau matannya adalah:
a. Hadits Maudu’
Dari segi bahasa, hadits maudu’ berarti palsu atau hadits yang dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan hadits maudu’ adalah hadits yang bukan hadits Rasulullah SAW, tetapi disandarkan kepada beliau oleh orang secara dusta dan sengaja atau secara keliru tanpa sengaja.
Hadits maudu’ merupakan seburuk-buruk hadits dha’if. Siapa yang telah mengetahui kepalsuan suatu hadits, maka ia tidak boleh meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasulullah SAW, kecuali dengan maksud untuk menjelaskan kepalsuannya. Rasulullah SAW memberikan peringatan sebagai berikut:

Contoh Hadits Maudu’:
مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مَتَعَمِّدًافَلْيَتَبَوَّوأْمَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. (رواه البخارى ومسلم وغيرهما)
Artinya:
“Barang siapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menepati tempat duduknya di neraka”. (HR. Bukhari Muslim dan lain-lain.

Banyak tanda untuk menetapkan suatu hadis maudu’. Petunjuk terpenting adalah makna hadis tersebut adalah rusak atau batil, yakni: tidak masuk akal, bertentangan dengan akal sehat, bertentangan dengan kebenaran yang sudah dapatdipastikan secara ilmiah/historis, bertentangan dengan hadis-hadis yang lebih kuat, atau bertentangan dengan ayat Al-Quran.
Berikut contoh hadis maudu’
لَايَدْخُلُ وَلَدُ الزِّنَا الْجَنَّةَ اِلَى سَبْعِ اَبْتَاءٍ
Artinya:
“ Anak zina itu tidak masuk surga hingga tujuh turunan”

Hadits tersebut bertentangan dengan ayat Al-qur’an/ Firman Allah SWT:
وَلَاتَزِرُوَازِرَتٌ وِزْرَ اُخْرى . ( الانعام : 164)
Artinya:
“Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa orang lain”. (QS.Al-An’am : 164)

b. Hadits Matruk atau Hadits Matruh
Dari segi bahasa, hadits matruk berarti yang ditinggalkan dan hadits matruh berarti dibuang. Para ulama memberikan batasan hadits matruk (hadits matruh) adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh pernah berdusta (baik berkenaan dengan hadits atau mengenai urusan lain), atau tertuduh pernah mengerjakan maksiat, atau lalai, atau banyak fahamnya.
Contoh:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْلَاالنِّسَاءُلَعُبِدَاللهُ حَقًّا.
Artinya:
“ Rasulullah bersabda, “Sekiranya tidak ada wanita, tentu Allah disembah (ditaati) dengan sungguh-sungguh”.

Hadits tersebut diriwayatkan Yaqub bin Sufyan bin Asyim dengan sanad terdiri serentetan rawi: Muhammad bin Imran, Isa bin Ziyad, Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya, Said bin Musayyab, dan Umar bin Khattab. Diantara nama-nama dalam sanad itu, Abdur Rahim dan ayahnya tertuduh pernah berdusta, oleh karena itu, hadits diatas dikenal dengan sebutan hadits matruk atau matruh.
c. Hadits Munkar
Hadits munkar, dari segi bahasa, berarti hadits yang diingkari atau hadits yang tidak dikenal. Para ulama meberikan batasan hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah yang menyalahi (berlawanan dengan) rawi yang kuat (keparcayaan).
Contoh:
مَنْ اَقَامَ الصَّلَاةَ وَ ا تَى الزَّ كَاةَ وَحَجَّ وَصَامَ وَقَرَى الضَّيْفَف (اَضَافَهُ وَاَكْرَمَهُ) دَخَلَ الْجَنَّةَ . (رواه ابن الب حاتم)
Artinya:
“ Barang siapa yang mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan haji, berpuasa dan menghormati tamu, niscaya masuk surga”. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Hadits di atas berasal dari rasulullah, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari serangkaian rawi-rawi yang lemah. Ibnu Abi Hatim sendiri memendang hadits tersebut sebagai hadits munkar, karena rawi-rawinya lemah dan matannya berlainan dengan matan hadits-hadits yang lebih kuat.

d. Hadits Muallal
Muallah, dari segi bahasa berarti yang terkena illat (penyakit atau bencana). Para ulama memberi batasan hadits muallah adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi (tidak mudah untuk diketahui) yang menjatuhkan derajatnya.
Illat yang menjatuhkan derajat hadits itu bisa terdapat pada sanad atau matan serta bisa pada keduanya.
Contoh:

Hadits tersebut diriwayatkan Yala bin Ubaid bersanad Sufyan Ats-Tsauri, dari Amru bin Dinar, dari Ibnu Umar. Matan hadits diatas sahih, tetapi sanadnya memiliki illat. Seharusnya bukan dari Amru bin Dinar, melainkan dari Abdullah bin Dinar.

e. Hadits Mudraj
Hadits Mudraj, dari segi bahasa, berarti hadits yang dimasuki sisipan. Dari segi istilah hadits mudraj adalah hadits yang dimasuki sisipan, yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. Sisipan itu pada sanad, matan dan bisa pada keduanya.
Contoh:
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ : اَ نَا زَعِيْمٌ وَالزَّعِيْمُ الحَمِيْلُ لِمَنْ امَنَ لبِ وَاَسْلَمَ وَخَاهَدَ فِى سَبِلِ اللهِ يَبِيْتُ فِى
رَيضِ الْجَنَّةِ. (رواه النّسائ)
Artinya:
“ rasulullah bersabda, “ Saya adalah zaim dan zaim itu adalah penanggung jawab bagi orang yang berimankepadaku, taat dan berjuang di jalan Allah, dia bertempat tinggal di taman surga”.(HR. Nasai)
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Nasai, dan disebut hadis mudraj, karena ungkapan وَالزَّعِيْمُ الحَمِيْلُ adalah sisipan, tidak berasal dari sabda Rasulullah SAW.
f. Hadits Maqlub
Dari segi bahasa, hadits maqlub berarti hadits yang diputar balik. Dari segi istilah hadits maqlub adalah hadits yang terjadi pemutarbalikan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain.
Bila hadits sebenarnya diriwayatkan oleh Kaab bin Murrah (misalnya), tetapi Kaab bin Murrah itu dibalik mejadi Murrah bin Kaab, maka hadits itu disebut hadits maqlub.
Contoh:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا امَرْتُكُمْ بِشَىْءٍفَاجتَنِبُوْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ
(رواه الطبرانى)
Artinya:
“Rasulullah bersabda, “ Apabila aku menyuruh kami mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah dia; apabila aku melarang kamu dari sesuatu, maka jauhilah dia sesuai dengan kesanggupan kamu.” (HR.Thabrani)
Matan hadist diatas, merupakan pemutarbalikan. Berdasarkan hadis bukhari dan muslim, seharusnya hadis itu berbunyi:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَرَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَانَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَ مَا اَ مَرْ تُكَمْ بِهِ فَا فْعَلُوْهُ مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. (رواه البخارى ومسلم)
Artinya:
“ Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “ Apa-apa yang kami cegah dari kamu semua maka jauhilah dan apa-apa yang kami perintahkan kepadamu sekalian perbuatlah menurut kemampuannya”. (HR. Bukhari-Muslim)

g. Hadits Syaz
Menurut bahasa, hadits syaz berarti hadits yang ganjil. Para ulama memberi batasan hadits syaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya, tetapi haditsnya itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. Hadits tersebut mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits lain yang kuat. Keganjilan itu dapat berupa pada sanad, matan atau pada keduannya.
Contoh:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَوْمُ عَرَفَةَ وَاَيَّامُ التَّشْرِيْقِ اَيَّامُ اَكْلٍ وَشُرْبٍ (رواه موسى بن على)
Artinya:
“Rasulullah bersabda, “ Hari Arafah dan hari tasyrik adalah hari-hari makan dan minum”. (HR. Musa bin Ali)
Hadis diatas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Kubah dengan sanad dari serentetan rawi yang dipercaya, namun matan hadis tersebut ganjil, jika dibandingkan dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya. Pada hadis-hadis lain tidak dijumpai ungkapan يَوْمُ عَرَفَةَ Keganjilan hadis di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut.

D. Status Kehujaahan Hadits Dha’if
Cacat-cacat hadits dhaif berbeda-beda, baik macamnya maupun berat ringannya. Oleh karena itu tingkatan (martabat) hadits-hadits dhaif tersebut juga berbeda. Dari hadits-hadits yang mengandung cacat pada rawi (sanad) atau matannya, yang paling rendah martabatnya adalah hadits maudu’, kemudian hadits matruk, hadits munkar, hadits muallal, hadits mudraj, hadits maqlub dan hadits-hadits lain. Dari hadits-hadits yang gugur rawi atau sejumlah rawinya, yang paling lemah adalah hadits muallaq (kecuali hadits-hadits sahih, yang diriwayatkan secara muallaq oleh Bukhari dalam kitab sahihnya), hadits mudal, lalu hadits munqati, kemudian hadits mursal.
Bila suatu hadits dhaif dimungkinkan bahwa rawinya benar-benar hapal dan menyampaikannya dengan cara yang benar, maka hal ini telah mengandung perbedaan pendapat yang serius dikalangan ulama sehubungan dengan pengalamannya.
Pendapat yang pertama; hadits dhaif tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkenaan dengan masalah halal haram, maupun kewajiban, dengan syarat tidak ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa imam, seperti; Imam Ahmad bin Hambal, Abu Dawud dan sebagainnya.
Pendapat ini tentunya berkenaan dengan hadits yang tidak terlalu dhaif, karena hadits yang sangat dhaif itu ditinggalkan oleh para ulama. Disamping itu, hadits dhaif yang dimaksud tidak boleh bertentangan dengan hadits lain.
Pendapat kedua; dipandang baik mengamalkan hadits dhaif dalam fadailul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.
Pendapat ketiga; hadits dhaif sama sekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadailil amal maupun yang berkaitan dengan halal-haram. Pendapat ini dinisbatkan kepada Qadi Abu Bakar Ibnu Arabi.
Selanjutnya yang disebut hadits maudu’ (palsu) adalah pernyataan yang sesungguhnya bukanlah hadits Nabi, tetapi beberapa kalangan menyebutnya sebagai hadits Nabi. Isi hadits palsu tidaklah selalu buruk atau bertentangan dengan ketentuan umum ajaran Islam.
Sebagian ulama memasukkan hadits maudu’ (palsu) kedalam salah satu jenis hadits dhaif, dalam hal ini adalah jenis yang paling buruk dan sebagian ulama lagi tidak memasukkannya kedalam jenis hadits.

E. Kitab-kitab yang Memuat Hadits Dhaif
Para Imam hadits telah menyusun berbagai kitab yang menjelaskan hadits-hadits maudu’. Untuk itu, mereka mencurahkan segala kemampuan untuk membela kaum muslimin agar tidak terjerumus dalam kebatilan dan untuk memurnikan agama.
Diantara kitab-kitab sumber hadits maudu’ yang terpenting adalah:
1. Al-maudu’at, karya Al Imam Al-Hafiz Abdul Faraj Abdur Rahman bin Al-Jauzi (W.597 H). Kitab ini merupaka kitab yang pertama dan paling luas bahasannya dibidang ini. Akan tetapi kekurangan kitab ini adalah banyak sekali memuat hadits yang tidak dapat dibuktikan kepalsuannya, melainkan hanya berstatus dhaif bahkan ada diantaranya yang berstatus hasan dan sahih. Hal ini melebihi batas dan hanya dikira-kira saja.
2. Al-Laali Al-Masnuah fi Al-Mauduah, karya Al-Hafizh Jalaludin Al-Suyuti (w. 911 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ibnu Al-Jauzi disertai penjelasan tentang kedudukan hadits-hadits yang bukan maudu’ dan ditambah dengan hadits-hadits maudu’ yang belum disebutkan oleh Ibnu Al-Juzi. Dengan demikian, kitab ini sangat komplit dan besar manfaatnya.
3. Tanzih Al-Syariah Al-Marfuah an Al-Ahadis Al-Syaniah Al-Mauduah, karya Al-Hafizh Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bun Iraq Al-Kannani (w.963 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ibnu Al-Jauzi dan tambahan Al-Suyuti serta tambahan ulama lainnya dalam kitab mereka. Kitab ini diberi muqqadimah yang menyebutkan nama-nama rawi yang pendusta yang jumlahnya lebih dari 1900 orang, dan hal ini merupakan suatu ilmu yang sangat berharga yang terkandung dalam kitab ini.
4. Al-Manar Al-Munif fi Al-Sahih wa Al-Daif, karya Al-Hafizh Ibnul Qayyim Al-Juziyah (w. 751 H).
5. Al-Masnu fi Al-Hadis Al-Maudu’, karya Ali Al-Qari (w. 1014 H). Kedua kitab terakhir ini ringkas dan sangat bermanfaat.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Hadits dha’if menurut bahasa berarti hadist yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasullullah SAW. Sedangkan menurut para ulama “Hadits dha’if adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
2. Kriteria hadits dha’if yaitu hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadits sahih dan hasan. Dengan demikian, hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadist hasan. Pada hadits dha’if itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
3. Secara garis besar yang menyebabkan suatu hadits digolongkan menjadi hadits dha’if dikarenakan dua hal, yaitu: gugurnya rawi dalam sanadnya dan adanya cacat pada rawi atau matan.
4. Cacat-cacat hadits dhaif berbeda-beda, baik macamnya maupun berat ringannya. Oleh karena itu tingkatan (martabat) hadits-hadits dhaif tersebut juga berbeda. Bila suatu hadits dhaif dimungkinkan bahwa rawinya benar-benar hapal dan menyampaikannya dengan cara yang benar, maka hal ini telah mengandung perbedaan pendapat yang serius dikalangan ulama sehubungan dengan pengalamannya.
5. Diantara kitab-kitab sumber hadits maudu’: Al-maudu’at, karya Al Imam Al-Hafiz Abdul Faraj Abdur Rahman bin Al-Jauzi (W.597 H), Al-Laali Al-Masnuah fi Al-Mauduah, Tanzih Al-Syariah Al-Marfuah an Al-Ahadis Al-Syaniah Al-Mauduah, Al-Manar Al-Munif fi Al-Sahih wa Al-Daif, Al-Masnu fi Al-Hadis Al-Maudu’

B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

H. Munzier Suparta. Ilmu Hadis. Jakara: PT. Raja Grafindo Persada. 2001.

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s