hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Hadis Maudhu’

Tinggalkan komentar

BAB : II
PEMBAHASAN

Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam yang mengandung ayat-ayat yang bersifat mujmal, mutlak dan ‘am. Oleh karenanya kehadiran hadis berfungsi untuk “tabay’in wa taudhih terhadap ayat-ayat tersebut. Tanpa kehadiran hadis umat Islam tidak akan mampu menangkap dan merealisasikan hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Qur’an secara mendalam. Ini menunjukkan hadis menduduki posisi penting dalam literatur sumber hukum Islam.
Sungguh pun hadis mempunyai fungsi dan kedudukan begitu besar, namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang secara resmi telah ditulis pada zaman nabi dan dibukukan pada masa khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq. Hadis baru di tulis dan di bukukan pada masa kekhalifahan Umar ‘ibn ‘Abd Al-Aziz (abad ke-2 H) melalui perintahnya kepada Gubernur Abu BAkar Muhammad bin ‘Amr bin hazm dan bahkan kepada tani’in wanita Amrah binti Abd Al-Rahman.
Kesenjangan waktu antara sepeninggal rasulullah SAW dengan waktu pembukuan hadis (hampir 1 abad) merupakan kesempatan yang baik bagi orang-orag atau kelompok tertentu untuk memulai aksinya membuat dan mengatakan sesuatu yang kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Dengan alasan yang di buat-buat. Penisbatan sesuatu kepada Rasulullah SAW.seperti inilah yang selanjutnyaa dikenal dengaan hadis palsu atau hadis maudhu’.
Hadis maudhu’ ini sebenarnya tidak pantas untuk disebut sebagai sebuah hadis, karena ia sudah jelas bukan sebuah hadis yang bisa disandarkan pada Nabi SAW. Lain halnya dengan hadis dha’if yang diperkirakan masih ada kemungkinan ittishal pada nabi. Hadis maudhu ini berbeda dengan hadis dha’if. Hadis maudhu sudah ada kejelasan akan kepalsuannya sementara hadis dha’if belum jelas, hanya samar-samar. Sehingga karena kesamarannya, hadis tersebut disebut dengan dha’if. Tapi ada juga yang memasukkan pembahasan hadis maudhu’ ini ke dalam bahasan hadis Dha’if.
A. Pengertian hadis Maudhu’
Hadis Maudhu’ adalah hadist yang di buat-buat atau diciptakan atau didustakan atas nama Nabi. Menurut Ahmad Amin hadis maudhu’ sudah ada sejak masa Rasulullah.

Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah tempatnya di neraka (HR. Bukhari).
Ulama hadis lain berpendapat bahwa munculnya hadis maudhu adalah pada tahun 40 H, pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertikaian politik.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa hadis maudhu itu sebetulnya bukan hadis yang bersumber dari rasul atau dengan kata lain bukan dari hadis Rasul, paling tidak sebagian hanya saja disandarkan kepada Rasul.
B. Munculnya hadis maudhu’ dan faktor penyebab munculnya hadist maudhu’
1. Awal mula munculnya hadis maudhu’
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai terjadinya pemalsuaan hadist. Berikut ini akan dikemukakan pendapat mereka yakni :
a. Menurut Ahmad Amin bahwa hadis maudhu’ terjadi sejak masa Rasulullah masih hidup. Alasan yang dijadikan argumentasi adalah sabda Rasulullah.

Meurut hadis tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan pada zaman Rasulullah telah terjadi pemalsuan hadis. Alasan yang dikemukakan oleh Ahmad Amin sebetulnya hanya merupakan dugaan yang tersirat dalam hadis tersebut, sebab dia tidak memiliki alasan historis dan tidak pula tercantum alam kitab-kitab standart yag berkaitan dengan asbab al-wurud.
b. Salah al-Din al-Dlabi mengatakan bahwa pemalsuan hadis berkenaan dengan masalah keduniaan telah terjadi pada masa Rsulullah. Alasan yag dia kemukakan adalah hadis riwayat at-Thahawi dan at-Thabrani.
c. Menurut jumhur al-Muhaddisin bahwa pemalsuan hadis itu terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, mereka beralasan bahwa keadaan hadis sejak zaman Nabi hingga sebelum terjadinya pertentangan antara ‘Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan masih terhindar dari pemalsuan-pemalsuan.
2. Faktor penyebab munculnya hadis Maudhu’
Berdasarkan data sejarah yang ada, pemalsuan hadis tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam akan tetaapi juga dilakukana oleh orang-orang non- muslim. Ada beberapa motif yang mendorong mereka membuat hadis palsu, diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Pertentangan politik
Perpecahan umat Islam yang diakibatkan politik yang terjadi pada kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib besar sekali pengaruhnya terhadap pemunculan hadis-hadis palsu. Masing-masing golongan berusaha mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang tertentu. Dari akibat perpecahan politik ini yang pertama-tama membuat hadis palsu ini adalah dari golongan Syi’ah hal ini disampaikan oleh Ibnu Abi al-Hadid.
2. Usaha kaum zindiq, yaitu golongan yang beusaha merusak Islam dari dalam, seperti dilakukan oleh Abdul karim Ibn al-Auja’ yang mengaku telah membuat 4000 hadis palsu.
3. Sikap fanatik terhadap suku dan bangsa (ashabiyah).
4. Perselisihan dalam fiqih dan ilmu kalam.
Munculnya hadis-hadis palsu dalam masalah fiqih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut mazhab. Mereka berani melakukan pemalsuan hadis karena didorong sifat fanatik dan ingin menguatkan mazhabnya masing-masing.
Di antara hadis-hadis palsu tentang masalah ini, yaitu siapa yang mengangkat kedua tangannya ketika dalam shalat, maka shalatnya tidak sah.
5. Membangkitkan Gairah beribadat, tanpa mengerti apa yang dilakukan.
Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan dan bahkan mengira usahanya itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dan menjunjung tinggi agamanya. Mereka mengatakan “kami berdosa semata-mata untuk menjunjung tinggi nama Rasulullah dan bukan sebaliknya”. Nuh bin Abi maryam telah membuat hadis berkenaan dengan fadilah membaca surat-surat tertentu dalam al-Qur’an.
6. Menjilat penguasa
Seperti yang dilakukan Ghiyats bin Ibrahim pada masa pemerintahan al-Mahdi. Dia menambahkan perkataanya sendiri dalam hadis nabi hanya untuk menyenangkan khalifah.
C. Usaha penyelamatan hadis maudhu’
1. Menyusun kaidah penelitian hadis, khususnya kaidah tentang kesahihan sanadnya.
2. Menyusun kitab-kitab yang memuat tentang hadis maudu’ antara lain: al-Maudhu’ al-Kubra yang disusun oleh Abu al-Fajri.
D. Kaidah-kaidah untuk mengetahui hadis maudhu’
1. Atas dasar pengakuan para pembuat hadis palsu, sebagaimana pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia telah membuat hadis tentang fadilah membaca al-Quran, surat demi surat, Ghoyas bin Ibrahim dan lain-lain.
2. Ma’nanya rusak. Ibnu Hajar menerangkan bahwa kejelasan lafadz ini dititik beratkan pada kerusakan arti, sebab dalam sejarah tercatat “periwayatan hadis tidak mesti bi al-lafdzi akan tetapi ada yang bi al-ma’na, terkecuali bila dikatakan bahwa lafadznya dari Nabi, baru dikatakan hadis palsu. Contoh hadis maudhu’ tentang masalah ini antara lain:

3. Matannya bertentangan dengan akal atau kenyataan, bertentangan dengan al-Quran atau hadis yang lebih kuat, atau ijma’. Seperti hadis yang menyebutkan bahwa umur dunia 7000 tahun. Hadis ini bertentangan dengan al-Quran surat al-A’raf ayat 187, yang intinyabahwa umur dunia hanya ketahui oleh Allah.
4. Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil. Seperti hadis yang menyatakan bahwa anak hasil perzinahan tidak masuk surge hingga tujuh turunan. Ini menyalahi al-Quran surat al-An’am ayat 164 yang menyatakan bahwa Tidaklah seseorang (yang bersalah) memikul dosa orang lain.
5. Perawinya dikenal seorang pendusta.
Untuk menyelamatkan hadis Nabi di tengah-tengah gencarnya pembuatan hadis palsu, Ulama hadis menyusun berbagai kaidah penelitian hadis. Tujuan penyusunan kaidah-kaidah tersebut untuk mengetahui keadaan matan hadis. Dan untuk kepentingan penyusunan matan hadis tersebut, disusunlah kaidah kesahihan sanad hadis. bersamaan dengan ini muncullah berbagai macam ilmu hadis. Khusus ilmu hadis yang dikaitkan dengan penelitian sanad hadis, antara lain ialah ilmu rijal al-hadis dan ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil.
Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis, di samping telah dibukukannya hadis, mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu sangat sempit. Selain itu, hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. Dengan menggunakan berbagai kaidah dan ilmu hadis itu, Ulama telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu dalam kitab-kitab khusus.

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s