hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Evaluasi dan Prestasi Belajar

Tinggalkan komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evaluasi sebagaimana kita ketahui merupakan pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.Evaluasi merupakan penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.
Evaluasi belajar memiliki tujuan dan fungsi yang dengannya akan dapat mengetahu hasil prestasi belajar siswa-siswinya begitupula dengan psikologis siswa-siswinya.Indikator prestasi belajar pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Ranah atau jenis indicator tersebut antara lain ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), ranah karsa (psikomotor). Hasil keberhasilan prestasi belajar para siswa-siswi dapat dilihat melalui batas minimal prestasi belajar yang telah ditentukan. Berdasarkan pemaparan diatas, maka dalam makalah ini penulis ingin membahas apa itu pengertian evaluasi dan prestasi belajar, ragam evaluasi, dan indikator prstasi belajar.

B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa itu Evaluasi dan Prestasi Belajar?
2. Apa saja Ragam Evaluasi?
3. Apa itu Indikator Prestasi Belajar dan Batas Minimal Prestasi Belajar?
4. Bagaimana mengukur keberhasilan siswa melalui Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikotor.

C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu hakikat itu Evaluasi dan Prestasi Belajar.
2. Untuk mengetahui Ragam Evaluasi.
3. Untuk mengetahui Indikator Prestasi Belajar.
4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan prestasi belajar melalui Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikotor.

D. Metode Penulisan
Metode penuisan makalah ini adalah dengan menggunakan kajian pustaka, yaknidengan mengkaji buku-buku yang sesuai dengan topik yaitu Evaluasi dan Prestasi Belajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi Pendidikan.
Evaluasi merupakan pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode materil dan lain-lain . Adapun pengertian evaluasi pendidikan menurut beberapa tokoh antara lain:
1. Bloom.
Evaluasi, sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.
2. Stufflebeam.
Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.
3. Cronbach.
Evaluasi merupakan suatu proses terus menerus sehingga di dalam proses kegiatannya dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan adanya suatu kesalahan.

Selain istilah evaluasi seperti yang tercantum dalam definisi di atas, kita dapati pula istilah pengukuran dan penilaian. Ketiga istilah tersebut pada umumnya cenderung diartikan sama. Padahal sebenarnya ketiga istilah tersebut tidak sama artinya. Setidak-tidaknya ada kaitan antara ketiga istilah tersebut.

Sebagai contoh:
Pasar, merupakan suatu tempat bertemunya orang-orang yang akan menjual dan membeli. Sebelum menentukan barang yang akan dibelinya, seorang pembeli akan memilih dahulu mana barang yang lebih baik menurut ukurannya. Apabila ia akan membeli jeruk, dipilihnya jeruk yang besar, kuning dan kulitnya halus. Semuanya itu dipertimbangkan karena menurut pengalaman sebelumnya. Jenis jeruk-jeruk yang demikian ini rasanya akan manis. Sedangkan jeruk yang masih kecil, hijau dan kulitnya agak kasar, biasanya rasanya masam.
Dari contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa sebelum menentukan pilihan, kita mengadakan penilaian terhadap benda-benda yang akan kita pilih. Sebenarnya kita juga mengukur, yakni membandingkan jeruk-jeruk yang ada dengan ukuran tertentu.Setelah itu kita menilai, menentukan pilihan mana jeruk yang paling memenuhi ukuran itulah yang kita ambil.
Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itulah yang disebut mengadakan evaluasi, yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran.
1. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
2. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
3. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah yang di atas yakni mengukur dan menilai.
Di dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation.Dari kata evaluation inilah di peroleh kata indonesia evaluasi yang berarti menilai.
Evaluasi mempunyai arti yang berbeda untuk guru yang berbeda. Berikut beberapa arti yang telah telah secara luas dapat diterima oleh para guru di lapangan.
“Evaluation is a process which determines the extent to which objectives have been achieved (Cross, 1973: 5)”. “Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai”.
Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, mengomonikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambil keputusan.
Dalam berbagai firman Allah SWT memberitahukan kepada kita, bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidikan. Hal ini misalnya dapat dipahami dari ayat yang berbunyi sebagai berikut:
•
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” 32. mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Sedangkan prestasi belajarialahhasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif.
B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
1. Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua,yaitu :
a. Unuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan perserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan kurikuler.
b.Untuk mengukur dan menilai sampai dimanakah efektivitas mengajar dan metode-metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik, serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik.
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah :
a. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
b. Untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
2. Fungsi Evaluasi
Disamping memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
a. Fungsi administrative untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku raport.
b. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelusan.
c. Fungsi diagnostic untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dan merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
d. Sumber data BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan (BP).
e. Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode data dan alat-alat PBM.

C. Ragam Evaluasi
Pada prinsipnya, evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan.Oleh karena itu, ragamnya pun banyak, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.
1. Pre test dan post test
Kegiatan pre test dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi baru. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan. Evaluasi seperti ini berlangsung singkat dan sering tidak memerlukan instrument tertulis.Sedangkan post test adalah kebalikan dari pre test, yakni kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh guru pada setiap akhir penyajian materi.Tujuannya adalah untuk mengetahui taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan.
2. Evaluasi Prasyarat
Evaluasi jenis ini mirip dengan pre test. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan. Contoh evaluasi penguasaan penjumlahan bilangan sebelum memulai pelajaran perkalian bilangan, karena penjumlahan merupakan prasyarat atau dasar perkalian .
3. Evaluasi Diagnostic
Evaluasi ini dilakukan setelah selasai penyajian satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentuyang belumdikuasai siswa. Instrumentevaluasi jenis ini dititik beratkan pada bahasan tertentu yang di pandang telah membuat siswa mendapatkan kesulitan.
4. Evaluasi Formatif
Evaluasi ini dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul.Tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik, yakni untuk mendiagnosis (mengetahui penyakit / kesulitan) kesulitan belajar siswa.Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebgai bahan pertimbangan rekayasa pengajaran remedial (perbaikan).
5. Evaluasi Submatif
Ragam penilaian submatif dilakukan untuk mengukur kinerja akademi atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran.Evaluasi ini lazim dilakukan di setiap akhir semester atau akhir ajaran.Hasilnya dijadikan bahan laporan resmi mengenai kinerja akademi siswa dan bahan penentu naik atau tidaknya siswa ke kelas yang lebih tinggi.
6. EBTA dan EBTANAS
EBTA (Evaluasa Belajar Tahap Akhir) dan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa, namun, EBTA dan EBTANAS ini dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas tinggi pada suatu jenjang pendidikan tertentu seperti jenjang SD dan MI (Madrasah Ibtidaiyah), dan seterusnya .

D. Indikator Prestasi Belajar
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit.Hal ini disebabkan oleh perubahan hasil belajar yang bersifat intangible (tidak dapat diraba).Oleh karena itu yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah dengan mengetahui garis – garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) yang dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.

E. Batas Minimal Prestasi Belajar
Selain indikator belajar seorang guru juga perlu mengetahui bagaimana kita menetapkan batas minimal keberhasilan belajar para siswanya.Hal ini penting karena mempertimbangkan batas terendah prestasi siswa yang dianggap berhasil dalam arti luas bukanlah perkara mudah.Keberhasilan dalam arti luas berarti keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.
Ranah-ranah psikologi, walaupun berkaitan satu sama lain, kenyataannya sukar diungkapkan sekaligus bila hanya melihat perubahan yang terjadi pada salah satu ranah. Contoh; seorang siswa memiliki nilai tinggi dalam bidang studi agama islam misalnya, belum tentu rajin beribadah shalat . Sebaliknya, siswa lain yang hanya mendapat nilai cukup dalam bidang studi tersebut, justru menunjukkan perilaku yang baik dalam kehidupan beragama sehari-hari.
Menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar. Ada beberapa alternative norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar-mengajar. diantara norma-norma pengukuran tersebut ialah:
1) Norma skala angka dari 0 sampai 10;
2) Norma skala angka dari 0 sampai 100;
Angka terendah yang menyatakan kelulusan atau keberhasilan belajar (passing grade) skala 0-10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0-100 menyelesaikan lebih dari separuh tugas atau dapat menjawab lebih dari setengah instrument evaluasi dengan benar, ia dianggap telah memenuhi target minimal keberhasilan belajar. Namun demikian, kiranya perlu dipertimbangkan oleh para guru sekolah penetapan passing grade yang lebih tinggi (misalnya 65 atau 70) untuk pelajaran-pelajaran inti (core subject). Pelajaran inti antara lain meliputi matematika dan bahasa, karena kedua bidang studi ini (tanpa mengurangi pentingnya bidang-bidang studi lainnya). Merupakan “kunci pintu” pengetahuan-pengetahuan lainnya.
Selain norma-norma diatas, terdapat norma lain yang ada dinegara kita yakni di perguruan tinggi, yaitu norma prestasi belajar dengan menggunakan symbol huruf-huruf A, B, C, D dan E. symbol huruf ini dapat dipandang sebagai terjemahan dari symbol angka-angka.

Table 1
Perbandingan Nilai Angka dan Huruf
Simbol-Simbol Nilai Angka dan Huruf Predikat
Angka Huruf
8 – 10 = 80 – 100 = 3,1 – 4 A Sangat Baik
7 – 7,9 = 70 – 79 = 2,1 – 3 B Baik
6 – 6,9 = 60 – 69 = 1,1 – 2 C Cukup
5 – 5,9 = 50 – 59 = 1 D Kurang
0 – 4,9 = 0 – 49 = 0 E Gagal

F. Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikomotor
1. Evaluasi Prestasi Kognitif
Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin banyaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang face to face (berhadapan langsung).
Dampak negative yang tak jarang muncul akibat tes yang face to face ialah sikap dan perlakuan yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukanpun tingkat kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Disatu pihak ada siswa yang diberi soal yang mudah dan terarah (sesuai dengan topic) sedangkan di pihak lain ada pula siswa yang ditanyai masalah yang sukar bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.
Untuk mengatasi masah subjektivitas tersebut, semua jenis tes tertulis baik yang berbentuk subjektif maupun objektif (kecuali tes B-S), seyogyanya dipakai sebaik-baiknya oleh para guru.Namun demikian, apabila menghendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S, tes pilihan berganda juga sebaiknya tidak digunakan.Sebagai gantinya, sangat dianjurkan untuk menggunakan tes pencocokan (matching test), tes isian, tes esai.Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sistesis siswa, juga lebih dianjurkan menggunakan tes esai, karena tes ini adalah satu-satunya instrument evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa tersebut .

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى
رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.[17]

2. Evaluasi Prestasi Afektif
Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seyogyanya dapat perhatian khusus.Karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.


3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Salah satu bentuk ranah rasa yang popular ialah “Skala Likert” (likert Scale) yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan atau sikap mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skala ini diberi ekor 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung dengan kebutuhan dengan cacatan skor-skor itu dapat dicerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai “sanga tidak”. Perlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecendrungan efektif siswa yang represntatif, iten-item skala sikap sebaliknya dilengkapi dengan identitas sikap yang meiputi: 1)doktrin; 2)komitmen; 3)penghayatan; 4)wawasan.
4. Evaluasi Prestasi Psikomotorik
Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi.Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah diartikan sebagai sejenis tes mengenai peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Namun observasi harus dibedakan dari eksperimen, karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi.
Guru yang hendak melakukan observasi perilaku psikomotor siswa-siswanya seyogyanya mempersiapkan langkah-langkah yang cermat dan sistematis menurut pedoman yang terdapat dalam lembar format observasi itu sendiri .

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Evaluasi merupakan pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode materil dan lain-lain. Sedangkan Prestasi belajar ialahhasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif.
2. Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah (a) untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan;(b)untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan. Selain itu fungsi-fungsi sebagai berikut (a)Fungsi administrative; (b) Fungsi promosi; (c) Fungsi diagnostic; (d) Sumber data BP; (e) Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode data dan alat-alat PBM.
3. Macam ragam evaluasi sendiri antara lain: Pre test dan post test, Evaluasi Prasyarat, Evaluasi Diagnostic, Evaluasi Formatif, Evaluasi Submatif, EBTA dan EBTANAS.
4. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah dengan mengetahui garis – garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) yang dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.
Menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar.
5. Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seyogyanya dapat perhatian khusus. Kemudian mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakuhkan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan dan arahan serta saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Gito Supriadi. 2011, Evaluasi Pembelajaran. Malang: Intimedia.
Muhibbin Syah. 2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya Offset.
Nana Sudjana.2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Karya Offset.
Sukardi.2011. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta Timur: Bumi Aksara.

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s