hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Al-Jarh Wa Ta’dil

Tinggalkan komentar

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Al-Jarh Wa Ta’dil
Al-jarh menurut bahasa merupakan bentuk masdar dari jaraha-yajrahu, yang berarti “seseorang membuat luka pada tubuh orang lain yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu”. Dikatakan juga dengan hakim atau yang lain melontarkan sesuatu yang menjatuhkan sifat adil saksi, berupa kedustaan dan sebagainya.
Sedangkan menurut istilah ahli hadis adalah:
ظُهُوْرُصِفَةُفِى الرَّوِى يُفْسِدُعَدَ الَةِ اَوْحِيْلَ يُفْطِه وَ طَبَتُهُ مَا يُتَرَتِبُ عَا سُقُوُ طِ رِ وَ ا يَتِهِ اَوْ طَعْفُهَا وُ رُدَ هَا
Tampak suatu sifat pada perawi yang merusakkan keadilannya, hafalannya, karena gugurlah riwayatnya atau dipandang lemah (‘Ajaj al-khatib,1989: 260).
Di samping istilah tersebut, ada juga yang dinamakan dengan tarijh.
Tarijh menurut bahasa, berarti tsaqiq (melakukan) atau ta’jib (menggalibkan) (Idris Marbawi, tt : 324). Sedangkan menurut istilah ahli hadis , tarijh ialah :
وَصِفَةِ الرَّ ا وِ ى بِصِفا تِ تَقْضِى تضْعِيْف رِ وَبَتِهِ اَ وْ عَدَ مِ قيو لما
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menyebabkan lemah riwayatnya atau tidak diterima riwayatnya .(Ibid, 1981: 204).
Atau dengan perkataan lain tarjih adalah :
اِظْهَا رُ عَيْبُ يُرَ وِ يَهُ ا لرِ وَ ا يَةِ
Menempatkan suatu sifat cacat, yang karenanya ditolak riwayatnya (Hasbi,1981: 204).
Pengertian ta’dil dalam masalah periwayatan, dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :
1. Ta’dil dalam arti al- Tawsiyah (menyamakan) (Al-Munjid,491).
2. Ta’dil menurut istilah ahli hadis adalah :
وَ صفَةُ ا لرَّ ا وِ ى بِصِفَا تِ نَزْ كِيْهِ فَيُطَهِّرُ عَدَ ا لَةِ وَ نُقْبَلُ خَي هُ
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menetapkan kebersihannnya, maka tampaklah keadilannya, dan diterima riwayatnya. (Hasbi, 1981:205)

Sedangkan ‘urfuahli hadis memberikan batasan tentang pengertian ta’dil dengan:
ا لاِ عْتِرَ ا وِ بِعَدَ ا لَةِ ا لرَ ا وِ ى وَ طَبْطِهِ وَ ثِقَتِهِ
Mengakui keadilan seseorang ke- dhibit-annya dan kepercayaannya. (Hasbi, 1981 : 204)

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ilmu jarh wa al-ta’dil adalah sebagai berikut :
ا لعِلْمُ الَّذِ ى جُب فِى اَحْوَ ا لِ وَ ا هْ مِنْ قَبْلِ رِ وَ ا يَتِهِمْ
Ilmu yang mempelajari keadaan para perawi dari segi diterima atau ditolaknya riwayatannya. (Faturrahman,1907:204)

B. Pertumbuhan Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil
Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan hadis dalam islam, karena untuk mengetahui hadis yang shahih dan keadaan para perawinya, sehingga dengan ilmu ini memungkinkan menetapkan kebenaran seorang perawi atau kedustaannya sampai mereka bisa membedakan antara yang diterima dan yang ditolak (maqbul dan mardud).Karena itu para ulama menanyakan pertama kali tentang keadaan para perawi, meneliti kehidupannya, dan mengetahui segala keadaan mereka, setiap yang lebih hapal, lebih kuat ingatannya dan lebih lama menyertai gurunya.
Demikianlah ilmu ini tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan, untuk menentukan bobot dan kualitas daripada suatu hadis. Sejak dahulu para ulama menerangkan tentang cacat atau tidaknya seorang perawi hadis sehingga membuka tabir kegelapan dalam menetukan nilai atau kualitas hadis bagi ulama berikutnya.

C. Pensyariatan Jarh Wa Ta’dil
Para ulama menganjurkan untuk melakukan Jarh dan Ta’dil. Dan tidak menganggap hal itu sebagai perbuatan ghibah yang terlarang berdasarkan dalil-dalil berikut ini, antara lain:
a. Sabda Rasulullah Saw. Kepada seorang laki-laki
“(Dia) itu seburuk-buruknya saudara di tangah-tengah keluarga-nya”.
b. Sabda Rasulullah Saw. Kepada Fatimah binti Qaisyang menanyakan tentang Muawiyah bin Abi Al-Jahm yang tengah melamarnya,
“Adapun Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (suka memukul), sedangkan Muawiyah seorang miskin tidak mempunyai harta.” (HR. Muslim)

seseorang, namun menunjukan dibolehkannya mencela kepada orang-orang yang lemah guna menjelaskan kelemahan mereka, dan menampakan cela dalam perkara yang berkenaan dengan halal dan haram-yaitu hadis-lebih utama daripada menjelaskan cela dalam konteks memberi saran tertentu.
Dan dalam ta’dil Rasulullah Saw. bersabda :
“sebaik-baiknya hamba Allah Khalid bin Walid, salah satu pedang diantara pedang-pedang Allah.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dan oleh sebab itu, para ulama membolehkan Jarh Wa Ta’dil guna menjaga syariat/agama ini, bukan untuk mencela manusia. Dan sebagaiman adibolehkan jarh dalam persaksian, maka pada perawipun juga dibolehkan, bahkan memperteguh dan mencari kebenaran dalam masalah agama lebih utama daripada masalah hak dan harta.
Faidah mengetahui ilmu Jarh Wa Ta’dil ialah menetapkan apakah periwayatan seorang rawi dapat diterima atau ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi dijarh oleh para ahli sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya harus ditolak dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil, niscaya periwayatannya diterima, selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist dipenuhi.

D. Jalan Mengetahui Keadilan dan Kecacatan Perawi dan Masalahnya
Menta’dilkan (menganggap adil seorang perawi) adalah memuji perawi dengan sifat-sifat yang membawa ke’adalahannya, yakni sifat-sifat yang dijadikan dasar penerimaan riwayat.
Keadilan seorang perawi itu dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketetapan berikut :
a. Dengan kepopulerannya dikalangan para ahli ilmu bahwa dia terkenal sebagai seorang yang adil. Seperti ketenarannya sebagai orang yang adil dikalangan para ahli ilmu bagi Anas ibn Malik, Sufyan Ats-Tsaury, Syu’bah ibn AL-Hajjaj, As-Syafi’i, Ahmad dan lain sebagainya. Oleh karena mereka sudah terkenal sebagai orang adil dikalangan para ahli ilmu, maka mereka tidak perlu lagi untuk diperbincangkan keadilannya.
b. Dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah). Yakni ditetapkan sebagai perawi yang adil oleh orang yang adil, yang semula perawi yang dita’dilkan itu belum dikenal sebagai perawi yang adil.

Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah dapat dilakukan oleh :
1. Seorang rawi yang adil. Jadi tidak perlu dikaitkan dengan banyaknya orang yang menta’dilkan. Sebab jumlah itu tidak menjadi syarat untuk penerimaan riwayat (hadist). Oleh karena itu jumlah tersebut tidak menjadi syarat pula untuk menta’dilkan seorang rawi. Demikian menurut pendapat kebanyakan muhadditsin. Berlainan dengan pendapat para fuqaha’ yang mengsyaratkan sekurang-kurangnya dua orang dalam mentazkiyahkan seorang rawi.
2. Setiap orang yang dapat diterima periwatannya, baik ia laki-laki maupun perempuan dan baik orang yang merdeka maupun budak, selama ia mengetahui sebab-sebab yang dapat mengadilkannya.

Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan:
1. Berdasarkan berita tentang ketenaran seorang perawi dalam keaibannya. Seorang perawi yang sudah dikenal sebagai orang yang fasiq atau pendusta dikalangan masyarakat, tidak perlu lagi dipersoalkan. Cukuplah ketenaran itu sebagai jalan untuk menetapkan kecacatannya.
2. Berdasarkan pentajrihan dari seorang yang adil yang telah mengetahui sebab-sebabnya dia cacat. Demikian ketetapan yang dipegangi oleh para muhadditsin. Sedangkan menurut fuqaha’ , sekurang-kurangnya harus ditajrih oleh dua orang laki-laki yang adil.

Adapun syarat-syarat bagi oarang yang menta’dilkan dan mentajrihkan yaitu:
1) Berilmu pengetahuan
2) Taqwa
3) Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat, dan dosa-dosa kecil dan makruhat/yang dibenci)
4) Jujur
5) Menjauhi fanatik golongan
6) Mengetahui sebab-sebab untuk menta’dilkan dan mentajrihkan.

Jumlah yang dipandang cukup menta’dilkan dan mentajrihkan perawi pun diperselisihkan:
a) Minimal dua orang, baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. Demikianlah pendapat kebanyakan fuqaha’Madinah dan lainnya.
b) Cukup seorang saja dan soal riwayah bukan dalam soal syahadah. Dikarenakan bilangan itu tidak menjadi syarat dalam penerimaan hadist, mka tidak pula disyaratkan dalam menta’dilkan dan mentajrihkan perawi.
c) Cukup seorang saja, baik dalam soal riwayah maupun dalam soal syahadah.

E. Sifat-Sifat yang Menyebabkan Seorang Perawi Dinilai Jarh
Seorang perawi hadis dapat diterima periwayatannya manakala terdapat suatu sifat atau beberapa sifat yang dapat menggugurkan keadilannya, yang akibatnya tidak dapat diterima periwayatannya. Sifat-sifat tersebut antara lain :
1. Dusta
Yang dimaksud dengan dusta dalam hal ini ialah bahwa orang itu pernah berbuat dusta terhadap sesuatu atau beberapa hadis. Dalam pengertian, seorang perawi berbuat dusta terhadap Rasulullah SAW, seperti membuat hadis palsu, pernah menjadi saksi palsu, kecuali ia sudah tobat.
Menetapkan kepalsuan suatu hadis yang diriwayatkan oleh orang yang pernah berbuat dusta adalah berdasarkan keyakinan yang kuat, bukan atas dasar sangkaan, sehingga mungkin suatu saat ia berbuat dusta dan dalam keadaan lain ia berkata sebenarnya. Dalam masalah ini ulama berpendapat menurut Imam Ahmad dan Abu Bakar al-Humaidi, guru Imam al-Bukhari, riwayatnya tidak dapat diterima meski ia sudah bertobat. Pendapat ini dikutip oleh Mudhaafar al Sam’any, sedangkan al Nawawi me-nasakh-kan atau menerima riwayatnya apabila ia betul telah bertobat.

2. Tertuduh Berbuat Dusta
Yang dimaksud dengan tertuduh dengan berbuat dusta adalah seorang perawi sudah tenar dikalangan masyarakat sebagai orang berdusta. Periwayatan orang yang tertuduh dusta dapat diterima apabila ia betul-betul telah bartaubat sehingga masyarakat tidak lagi menuduh pendusta.

3. Fasik (melanggar ketentuan syarak)
Yang dimaksud fasik disini ialah fasik dalam perbuatan yang tampak secara lahiriah, bukan dalam hal I’tiqiyah, nama tetap periwayatannya ditolak, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah (Q.S Al-Hujarat : 7)

•

“dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (Q.S Al-Hujarat :7)

4. Jahalah
Yang dimaksud dengan Jahalah adalah perawi hadis itu tidak diketahui kepribadiannya, apakah ia seorang yang atau tercacat (jarih). Dengan tidak diketahuinya itu, menjadi alasan untuk tidak diterima riwayatnya, kecuali dari golongan sahabat atau orang yang disebut dengan lafal yang menyebutkan atau menunjukkan kepada kepercayaaan, seperti dengan lafal hadatsan, tsiqan, atau akhbarnya ‘adlun dan sebagainya.

5. Ahli Bid’ah
Yang dimaksud dengan ahli Bid’ah yaitu perawi yang tergolong melakukan bid’ah dalam hal I’tikad yang menyebabakan ia kufur, maka riwayatnya ditolak.
6. Hukum MenJarh Seorang Perawi
An-Nawawi Muqaddimah Sahih Muslim mengatakan bahwa ulama telah sepakat membolehkan seseorang untuk mencacat (menjarh) orang lain. Hal ini didasarkan karena memelihara agama sehingga terhindar dari ketidakbenaran dalam menentukan kualitas suatu hadis (Muslim jil.I), mencacat ataumenjarh seperti ini tidaklah termasuk mengumpat atau mencela orang lain, melainkan dianggap sebagai nasihat yang harus diterima dengan lapang dada dan sesuatu yang kita lakukan demi kepentingan agama.
Martabat jarh dan ta’dil serta lafal-lafal yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Dengan kata yang menunjukkan tercelanya seorang perawi yakni mensifati perawidengan suatu sifat yang menunjukkan sifat yang sangat dusta atau menuduh memalsukan suatu hadis, misalnya dengan ungkapan berikut :
– ‘si fulan orang yang paling dusta.” (فلا ن ا كتن لفا س)
– “si fulan yang paling banyak membuat atau memalsukan hadis.”
(فلا ن ا وضع الفاس)
– “Dia tiang tonggak dusta” (هو ر كن ا لد دب)
– “Dias sumber Dusta” (هو ضع ا لد ب)
Dengan kata-kata sebagai berikut :
– Dia dajjal atau perusak
– Dia orang yang banyak memalsukan hadis.
– Dia orang yang sangat dusta.

b. Me-nafsihi perawi dengan salah satusifat dusta dan memalsukan hadis, tetapi tidak terlalu menekankan atau bersifat dengan yang agak kurang atau ringan keburukannya dari dusta dan memalsukan hadis, misalnya :
– Fulan tertuduh berdusta.(فلا ن منهم با لكد ا ب)
– Fulan memalsukan hadis (فلا ن منهم با لو ضع)
– Fulan seorang yang gugur (فلا ن سا قط )

c. Memakai dengan sebutan sebagai berikut
– Fulan membuang hadisnya (فلا ن القو ا حد يثه)
– Fulan dhaif sekali (فلا ن ضعيف جدا)
– Fulan orang yang ditolak (فلا ن ر دا)

d. Memakai sebutan-sebutan sebagai berikut
– Fulan tidak diambil hujjah-nya (فلا ن لا يحفج به)
– Fulan munkirul hadis (فلا ن منكر الحد يث)
– Fulan melemahkannya (فلا نضعفو ه)

e. Menggunakan kata-kata sebagai berikut
– Fulan dilemahkan (فلا ن فيه ضعيف)
– Fulan pada hadisnya ada kelemahan (فلا ن فى حيثة ضعف)
– Fulan padanya ada cacat (فلا ن فيه مقا ل)
Sebagai mana pada jarh, maka dalam ta’dil pun terdapat martabat pada lafal-lafal yang digunakan dalam menilai seseorang perawi hadis. Untuk menentukan martabat dalam ta’dil, para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan ada empat (pendapat Ibnu Abi Hatim, Ibnu Soleh, Nawawi), sedangkan Adz Dzahabi dan Iraq mengatakan ada lima martabat dan menurut pendapat al- Hafidh Ibnu Hajar adalah sebagai berikut :
a. Tiap-tiap ibarat yang masuk pada fi’il tafdil serta menyerupai fi”il tafdil, yang menunjukkan pada mubaligh, seperti lafal :
– fulan orang yang dipercaya
– fulan orang yang paling kuat hafalannya
– kepadanyalah segala kesudahan

b. tiap ibarat yang menunnjukkan derajat para perawi dengan mengulangi lafal yang menunjukan keadilan dua kali atau lebih, misalnya lafal
– kepercayaan-kepercayaan.
– Kepercayaan, kuat hafalan.

c. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi, dengan suatu lafal yang berarti pengertian bahwa perawi itu, kekuatannya seperti ungkapan berikut :
– Fulan orang yang teguh hati dan ibadah
– Fulan teguh hati dan baik riwayatnya
– Fulan orang teguh hati hafalannya

d. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan suatu lafal yang tidak memberi pengertian bahwa ia adalah orang yang kuat ingatannya, misalnya perkataan sebagai berikut :
– Fulan orang yang sangat benar .(فلا ن صد و ق)
– Fulan boleh dipegang perkataannya.(فلا ن ما مو ن)
– fulan boleh tidak ada cacat padanya

e. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan sifat yang memberi pengertian, bahwa ia kuat ingatan dan amanahnya. Misalnya sebagai berikut :
– Fulan adalah orang yang dapat dipandang benar (فلا ن محله الاصد ق)
– Fulan orang yang suka pertengkaran.(فلا ن وسط )
– Fulan orang yang pertengahan dan syekh. (فلا ن و سط شيخ)

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s