hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Demokrasi Surgawi

Tinggalkan komentar

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:30)

Sekarang ini orang lagi hangat-hangatnya membicarakan tentang pergantian “orang nomor satu” di berbagai daerah dan instansi seperti pemilihan kepala daerah dan pemilihan rektor atau ketua di berbagai Perguruan Tinggi. Namun, dalam tulisan sederhana ini, penulis ingin mengangkat demokrasi yang terjadi di alam malakut sana sebagai ajaran, untuk tidak mengatakan perbandingan, terhadap apa yang terjadi di dunia ini.

Pada penggalan ayat di atas, yang artinya “Dan ingatlah Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Menggambarkan bahwa segala sesuatu harus transparan, tidak tergesa-gesa, atau mendadak dalam melakukan suatu hajat, terlebih lagi demi orang banyak. Allah sebagai penguasa tunggal sebenarnya bisa saja tidak menginformasikan kehendak-Nya dengan langsung menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Tetapi, Allah memberitahukan, atau menawarkan apa yang akan terjadi kelak dengan muka bumi ini, yakni adanya khalifah, “wakil” Tuhan, pemimpin, penguasa atau pengelola bumi.

Begitu informasi itu sampai, reaksi yang muncul sungguh di luar dugaan, malaikat yang sering dibicarakan dan dicerahmahkan di mimbar-mimbar sebagai makhluk yang paling taat kepada Allah itu, ternyata mempunyai jiwa pemberontak, protes, setidak-tidaknya, tidak begitu saja menerima apa yang dikehendaki oleh sang penguasa. Mereka menanyakan mengapa Tuhan melakukan itu. Para malaikat tidak melakukan apa yang biasa dilakukan oleh sahabat dengan mengatakan “sami’nâ wa atha’nâ (kami mendengar dan kami mentaati).” Jadi, malaikat tidak mengenai istilah ABS (Asal Bapak Senang) atau menanyakan gizi (baca: materi) apa yang akan didapat jika mengikuti kemauan yang berkehendak.

Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.”

Meskipun demikian, tentu saja malaikat tidak asal protes, tidak asal tidak setuju, tidak asal-asalan ketika tidak sependapat dengan pihak lain, tidak seperti orang kebanyakan yang hanya bisa protes, tidak memberikan alasan mengapa tidak setuju. Pada penggalan ayat selanjutnya di atas, pertanyaan malaikat itu disertai argumentasi. Seakan-akan malaikat heran kenapa manusia akan dijadikan pimpinan di muka bumi, padahal manusia adalah “orang yang akan membuat kerusakan” dan manusia juga senang “menumpahkan darah.” Alasan malaikat ini kalau kita saksikan pada manusia sekarang ini menjadi kenyataan. Sejarah manusia tidak dapat dilepaskan dari apa yang dinamakan perang, baik besar maupun kecil. Rupa-rupanya malaikat sebelum bertanya sudah melalakukan pengkajian, apakah calon pimpinan itu layak atau tidak dijadikan pilihan. Kalau layak boleh jadi tidak ada yang perlu ditanyakan, kalau tidak berikan alasan mengapa tidak layak.

Apa yang dilakukan malaikat, pernah pula dilakukan oleh manusia surgawi zaman dulu. Di Madinah, sebagai cerminan negeri surgawi, pada masa Rasulullah Muhammad saw, para sahabat tidak segan-segan menanyakan bila ada keputusan beliau yang dianggap membahayakan pasukan umat Islam di medan perang. Misalnya ketika perang Badr, Rasulullah Muhammad saw berhenti di suatu tempat. Al-Hubab bin Al-Mundzir dalam menyusun strategi perang. Sahabat ini bertanya: “Wahai rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keputusan berhenti di tempat ini, apakah ini tempat berhenti yang diturunkan Allah kepada engkau? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan kami maju atau mundur dari tempat ini, ataukah ini sekedar pendapat, siasat, dan taktik perang?” Beliau menjawab, “Ini adalah pendapatku, siasat dan taktik perang.” Lalu Al-Hubab memberi saran untuk pindah ke tempat lain, dan Muhammad Rasulullah saw mengikutinya. Begitu pula ketika perang Khandaq, beliau menerima saran Salman Al-Farisi. Sebagai tanda setuju, beliau juga ikut sibuk menggali parit yang mengelilingi Madinah sebagai benteng untuk menahan serangan musuh.

Pada penggalan ayat selanjutnya, malaikat memberikan solusi setelah melakukan protes. Hal ini yang jarang kita temui di muka bumi, orang kebanyakan hanya protes dan protes, demo, mogok makan, bahkan ada yang bunuh diri karena tidak setuju dengan suatu keputusan. Berkaca pada apa yang dilakukan malaikat, seyogyanya orang yang memprotes memberikan argumentasi dan solusi sedemikian rupa sehingga apa yang menjadi harapan dapat terwujud. Kita pun sah-sah saja menonjolkan diri atau orang yang akan kita pilih dengan argumentasi yang layak dan masuk akal. Setelah menunjukkan kelemahan calon pemimpin di muka bumi, malaikat menawarkan diri, tentu saja dengan argumentasi.

“… padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Sayangnya, data yang dimiliki para malaikat masih sepotong-sepotong, ada hal-hal lain yang belum mereka ketahui. Allah juga tidak sembarangan memutuskan begitu saja, Adam sebagai sang calon pemimpin di muka bumi diberi kesempatan unjuk kebolehan dengan mendemonstrasikan keahliannya dalam memaparkan data-data yang mana malaikat tidak bisa melakukannya.

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah [2]:32)

Keputusan menjadi bulat, yang tadinya protes, tidak setuju, sekarang tunduk terhadap keputusan. Loyalitas tetap berjalan meski sebelumnya ada ketidaksepakatan. Ibarat musim kampanye, atribut warna-warni kembali dilepaskan, masing-masing orang kembali pada kehidupan keseharian, kembali mengabdi dengan sepenuh hati. Di belahan lain dunia ini juga ada peristiwa semacam itu. Hal ini terjadi ketika Barack Hussein Obama berseteru dengan Hillary Clinton untuk mendudiki orang nomor satu di AS. Nyonya Clinton yang dikalahkan tetap loyal terhadap partainya, dan ujung-ujungnya beliau diangkat sebagai salah seorang kepercayaan sang presiden. Dan kita juga tahu, bagaimana malaikat dengan serta merta menyanggupi untuk taat pada keputusan dan siap untuk membantu manusia mengelola bumi.

Dan ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (QS. Al-Baqarah [2]:33).

Sedangkan mereka yang sakit hati, tidak mau menerima keputusan, digolongkan oleh ayat di atas sebagai Iblis. Semoga menjadi renungan!

oleh

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s