hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Periode Moderen

Tinggalkan komentar

Periode Moderen

            Periode ini tidak dapat dilepaskan dari periode sebelumnya, terutama Renaissance, bahkan dalam hal-hal tetentu suli dibedakan. Periode Moderen sebagai zaman keemasan Rasionalistik pendewaan terhadap akal pikiran manusia. Akal (rasio) dan pengalaman (empiri) dipakai sebagai sumbu pengetahuan yang secara alami terdapat pada manusia, meskipun terdapat kecenderungan memilih salah satu dari keduanya. Kecendurungan tersebut menimbulkan dua aliran besar yang saling bertentangan, yakni Rasionalisme dan Empirisme.

            Rasionalisme berpendapat akal atau rasio adalah sumber pengetahuan paling memadai dan dapat dipercaya memenuhi syarat umum dan mutlak yang dituntut oleh pengetahuan ilmiah. Akal tidak membutuhkan pengalaman karena pengalaman hanya dapat dipakai untuk menguatkan pengetahuan yang didapat melalui akal. Empirisme berpendapat pengalaman atau empiri, baik batiniah maupun lahiriah adalah sumber pengetahuan. Akal bukan sumber pengetahuan karena hanya mengolah bahan-bahan yang diperoleh pengalaman (Hadijiono, 1980:18).

            Terlepas dari pertentangan kedua aliran di depan, perlu kiranya dilacak bagaimana periode modern muncul. Oleh karena itu, Descartes yang diakui sebagai bapak filsafat modern karena pemikirannya yang berlian dikemukaan lebih detail guna keperluan tersebut. Menurut Descartes, untuk menemukan basis yang kuat dalam berfilsafat, hendaklah orang meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan, termasuk meragukan semua yang dapat diserap oleh indera. Keraguan muncul disebabkan oleh pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan pengalaman bertemu makhluk halus. Pada keempat kondisi ini seseorang seakan-akan mengalami peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi.

Saya belajar untuk tidak terlalu mempercayai hal-hal yang hendak ditanamkan ke dalam keyakinan saya hanya berdasarkan teladan dan kebiasaan semata-mata. Demikian sedikit demi sedikit saya membebaskan diri dari banyak kekeliruan yang dapat mengaburkan cahaya alami kita dan membuat kita kurang mampu memahami kebenaran (Descartes, 1995:11).

            Descartes (1995:19)selanjutnya menawarkan empat prinsip agar tepat dalam mengambil keputusan:  pertama,tidak pernah menerima apapun sebagai benar terkecuali mengetahui secara jelas bahwa hal tersebut memang benar. Kedua, menilai satu-persatu yang akan dikaji menjadi bagian-bagian kecil sebanyak mungkin guna memudahkan penyelesaiannya. Ketiga, berfikir runtut, mulai dari objek-objek sederhana meningkat sedikit demi sedikit sampai ke masalah paling rumit, jika perlu menata dalam urutan objek-objek yang secara alami tidak berurutan. Keempat, membuat perincian selengkap mungkin dan pemeriksaan menyeluruh sampai tidak ada yang terlupakan.

            Apabila orang secara sistematis mencoba meragukan sebanyak mungkin pengetahuannya, orang tersebut akan mencapai titik yang tidak dapat diragukan lagi sehingga pengetahuan dapat dibangun di atas dasar kepastian absolut. Keraguan yang diteruskan sejauh-jauhnya akan membuka tabir sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi, jika hal itu memang ada. Menurut Descartes, persoalan dasar filsafat pengetahuan bukan bagaimana manusia dapat tahu, tetapi mengapa manusia dapat membuat kekeliruan. Kekeliruan karena mengira tahu yang tidak diketahui dan tidak tahu apa yang telah diketahui. Itu semua terjadi akibat tidak adanya perhatian yang penuh karena kecurigaan, keangkuhan, emosi, dan sebagainya (Hadi,1994:29-30).

            Descartes berpendapat bahwa yang diketahui pikiran secara langsung tanpa perantara adalah ide-ide. Ide-ide menjadi alat untuk mengenal hal-hal di luar pikiran. Pikiran menemukan dalam dirinya sendiri ide-ide itu sebagai ide-ide yang menampakan diri dan mencerminkan objek-objek atau sasaran di luar. Ide yang benar-benar jelas dan terpilah-pilah tadi ternyata sesuai dengan yang digambarkan. Bagi Descartes, pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman langsung atas sensasi sifatnya jelas, sebab itu tidak akan pernah keliru jika orang menyetujui atas apa yang ia peroleh sebagai benar dan terpilah-pilah. Ia muncul dalam akal tanpa melalui terangnya refleksi.

            Menjawab pertanyaan mengapa kebenaran itu bersifat pasti, Descartes berargumentasi: karena saya itu dengan jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly). Hanya saya yang mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah harus diterima sebagai benar. Apa saja yang diterima dengan jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly) ada tiga ide bawaan (innate ideas) yang sudah ada dalam diri manusia sejak lahir, yaitu: Pemikiran, Tuhan, dan Keluasan (Bertens, 2000: 46). Ketiga ide tersebut terdapat pada setiap orang meskipun pengetahuan setiap orang tidak sama karena ada saja orang yang tidak merawat akalnya dengan baik akibat beberapa factor, baik internal maupun eksternal, misalnya karena cacat tubuh maupun karena menjalani kehidupan yang kurang layak.

Kendati Descartes termasuk tokoh rasionalisme, tetapi di lain pihak, sebetulnya dia juga dekat dengan empirisme. Ini terjadi karena rasionalisme berpedoman bahwa sumber pengetahuan adalah akal pikir manusia, sesuai pandangan Descartes bahwa orang harus meninggalkan pola dari luar ke dalam, dan mulai dengan pola dari dalam ke luar (Hadiwijiono, 1980:19). Pendapat Descartes yang menyatakan bahwa sensasi langsung yang hadir dalam pengalaman merupakan pengetahuan yang kepastiannya bersifat absolut itulah yang menyebabkan kedekatannya dengan empirisme. Descartes juga beranggapan filsafat klasik terlalu gampang memasukkan penalaran karena itu harus dibuang:

Saya harus menggunakan banyak waktu untuk menyiapkan diri, dengan mencabut dari pikiran saya segala pendapat yang tidak benar yang pernah saya terima sebelumnya, maupun dengan mengumpulkan bebrapa pengalaman yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan penalaran saya, dan dengan selalu berlatih menggunakan metode yang telah saya tetapkan bagi diri sendiri agar semakin dikuasai (Descartes, 1995:23).

Pendekatan Descartes terhadap teori pengetahuan itulah memainkan peran penting dalam agenda awal zaman modern. Descartes disebut-sebut sebagai bapak filsafat modern berangkat dari pendapatnya yang berkenaan dengan manusia sebagai subjek berfikir (res cogitas) berhadapan dengan realitas di luar dirinya yang dipikirkan (res extensa).

Menurut Descartes ada tiga macam objek atau subtansi:

  1. Tuhan, sebagai subtansi abadi.
  2. Ciptaan Tuhan berupa pikiran.
  3. Ciptaan Tuhan berupa barang atau tubuh.

Manusia termasuk nomor 2 dan 3, karena manusia tahu dan dapat merasakan bahwa ia terkadang ragu-ragu, mengerti, menolak, atau menerima. Kedua subtansi ini yang membuat manusia bercampur baur: antara pikiran dan tubuh (Pojman, 1998:257-263).

            Manusia juga dapat memikirkan apa yang ada di luar dirinya melalui pengetahuan, sedangkan dunia sebagai objek, baru ada jika dipirkan oleh subjek yang berfikir itu. Dengan demikian, tuhan menjadi tersingkirkan dan yang tertinggal Cuma hubungan dualism res cogitas-res extensa sebagai dikotomisasi antara subjek yang otonom dengan “yang lain”. Perantara keduanya adalah ilmu pengetahuan. Manusia menjadi sentral kehidupan, sedangkan alam semesta tempat manusia berada dan yang dipikirkan itu hanya diam apa adanya, tergantung konsepsi yang diberikan menusia terhadapnya.

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s