hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Filsafat Alam

Tinggalkan komentar

Filsafat Alam

… Selama berabad-abad, orang-orang Yunani mempertahankan dan mempercayai mitodologi berupa agama rakyat dan kebudayaan yang meliputi Pantheon dewa-dewi. Olimpiyan dan para pahlawan mitologis seperti Zeus, Hercules, dan Apolo yang seolah-olah hitoris. Lahirnya filsafat Yunani karena menekankan pada pentingnya dan orisinalitas pemikiran manusia. Para filsuf awal seperti Thales, Anaximandros, dan Anaximenes mempersiapkan bahan mentah yang banyak dalam penekanan pentingnya teori mengenai kosmos dan status matematika sebagai pengetahuan ideal.

            Karakteristik yang paling menonjol pada periode ini ditunjukannya perhatian para filsuf pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai upaya menemukan asal segala sesuatu (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya segala gejala. Para fisuf membedakan penampilan (appearance) dengan hakikat (essence) suatu perwujudan. Penampilan dapat berubah-ubah menurut sudut pandang dan tergantung pada modus keberadaan suatu gejala, sedangkan hakikat tetap, tidak terpengaruh, dan mandiri.

            Thales (625-545) misalnya, tidak mempergunakan kepercayaan umum ketika menanyakan asal segala sesuatu itu, tetapi berdasarkan pengalaman ketika berkelana sampai ke Mesir dan melihat betapa tergantungnya rakyat Mesir pada air sungai Nil. Thales menyimpulkan segala sesuatu itu berasal dari air. Tokoh lain adalah murid Thales, Anaximandros (610-547) dan murudnya; Anaximenes (585-528). Anaximandros berpendapat segala sesuatu berasal dari yang satu, yakni Apeiron atau yang tidak terbatas, sedangkan Anaximenes berpendapat segala sesuatu itu berasal dari udara.

            Kendati pendapat para filsuf alam di depan menggelikan bagi orang sekarang, akan tetapi, mereka telah memulai babak baru pemikiran manusia. Pertanyaan dan jawaban yang diberikan merupakan hal baru pada zamannya: sesuatu tidak begitu saja ada, tetapi terjadi dari katakanlah air, apeiron, udara dan sebagainya. Hal tersebut antara lain disebabkan sikap orang Yunani yang tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman secara pasif-reseptif, menerima yang tidak apa adanya, mereka juga mempunyai sikap dan pemikiran kritis (an inquiring attitude and an inquiring mind) sebagai perintis ilmu pengetahuan modern.

            Muncul pertanyaan lain, bagaimana bahan dasar dapat berubah menjadi bahan yang lain? Pertanyaan ini dijawab Pythagoras (590-500), Parmenides (540-470), dan Heraclitus (533-475). Pythagoras berbicara bentuk-bentuk (forms) dan hubungan-hubungan (relationships) seperti segitiga dan angka-angka. Parmenides mempertahankan yang eksis dan tidak eksis dengan cara abstrak. Parmenides mengatakan “one can speak and think only of what is” (yang dapat dibicarakan dan sipikirkan pastilah ada). Ini berarti yang tidak dapat dipikirkan tidak ada. Parmenides seolah-olahmemberikan kesimpulan bahwa tidak ada yang namanya kebenaran, kecuali dapat diopinikan. Kebenarannya hanya satu, tidak ada tempat bagi pluralitas. Pluralitas secara tidak langsung menunjukkan perbedaan (difference/distinction) dan disparitas (disparity/perpisahan): jika A dan B berbeda, maka A ada dan B tidak ada. Being is, not being is not (yang ada itu ada dan yang tidak ada itu tiada). Segala sesuatu yang dapat berubah dari yang tidak eksis ke yang eksis tidak akan dapat eksis lagi. Keabadian tidak dapat berganti ke sesuatu tanpa berhenti menjadi keabadian itu sendiri, yang nyata itu ada dan tidak dapat dipisahkan dari kenyataan.

            Heraclitus berlawanan dengan Parmenides. Bagi Heraclitus, segala sesuatu berubah dan berganti. Segala sesuatu mengalami perubahan terus menerus, tidak ada yang tetap, naik turun atau turun naik sama saja; api menjadi air, air menjadi tanah, atau sebaliknya; dari tanah menjadi air, kemudian kembali menjadi api, panta rhei kai uden menei. Ibarat orang menyebrangi sungai, ia tidak pernah menyebranginya untuk kali kedua karena air yang larut itu bukan air yang sama ketika orang itu pertama kali menyebranginya.

            Puncak filsafat Yunani ketika tiga serangkai fisuf besar: Socrates, Plato dan Aristoteles sebagai peletak prinsip dasar filsafat, meskipun terdapat anggapan itu semua tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Socrates seorang. Plato dengan teori idea-idea (theory of ideas) atau teori bentuk-bentuk (theory of forms) menerangkan berbagai hal di jagad raya ini, seperti: segitiga, Kucing, dan Pohon pada hakikatnya mengambil bentuk dan arti dari idea sempurna, ide abadi benda yang ditiru benda harian. Bentuk-bentuk itu tidak hanya terbatas pada benda-benda saja, tetapi juga pada hal-hal abstrak seperti: persahabatan, keadilan, dan keindahan.

            Plato memandang apa pun di dunia sini  pernah dijalankan di “dunia sana” terserah manusia di dunia ini membuktikannya, manusia cuma mengulang atau mengingat kembali yang dulu dilakuhkan. Berkaitan dengan maksud ini, realitas menurut pandangan plato di bagi menjadi dua dunia. Pertama dunia yang terbuka bagi rasio. Kedua dunia yang terbuka bagi panca indra. Dunia fisik yang dirasakan indra adalah keadaan yang terus menerus berubah sedangkan realitas yang disadari rasio bersifat abadi. Manusia termasuk kedua dunia karena mengenalnya. Melalui rasio, manusia memurnikan dugaan-dugaan tentang ide universal sehingga mendekati realitas sesungguhnya. Plato mendamaikan kontra diksi antara pemikiran Parmenides dan Heraclitus; yang satu terfokus pada dunia ide dan yang lain pada jasmani.

            Aristoteles adalah murid Plato. Filsafat yang dikembangkannya terpusat pada persoalan benda dan bentuk. Aristoteles memisahkan yang absolut antara ide dan kenyataan lahir karena bentuk turut serta memberikan kenyataan kepada benda; benda yang lahir adalah barang yang berbentuk. Segitiga, kucing, dan pohon tidak semu, melainkan realitas sesungguhnya. Alam ini tidak bisa tidak ada. Alam adalah cetakan ontologis yang tidak mungkin fana. Aristoteles mengajukan sejumlah dalil yang menentang habis teori dunia ide Plato. Ia menegaskan ide atau bentuk bersifat individual dan mustahil bersifat umum: jika bentuk “manusia” memang berdiri sendiri, berarti bentuk ini merupakan individu, sebagaimana individu konkret yang bernama Socrates. Itu sebabnya mengapa di perlukan manusia ketiga sebagai proto type, baik bagi “manusia” maupun bagi individu Socrates.

            Pendekatan Plato terhadap dunia secara hakiki bersifat religious. Pendekatan Aristoteles cenderung ilmiah. Aristoteles memang setuju jika kucing tertentu berubah dan tidak ada kucing yang hidup selamanya. Aristoteles setuju jika bnetuk nyata kucing itu abadi, tetapi kucing ide itu konsep yang dibentuk manusia setelah melihat beberapa kucing tertentu. Kucing ide tidak memiliki eksistensinya sendiri.

            “Ilmu pengetahuan” pada masa Yunani masih berdifat filosofis, Thales dan murid-muridnya berangkat dari bahan dasar yang satu, kaum Pythagorian berdasarkan angka-angka, dalam filsafat spekulatif Plato berarti adanya ketentuan dari dunia sana dan harus dijalankan di dunia sini, sedangkan Aristoteles melihat kondisi rill inilah, orang selanjutnya menentukan yang lebih baik untuk masa yang akan dating,. Kendati masih sangat spekulatif, tetapi ciri keilmuan mulai muncul. Filsafat dan ilmu pengetahuan cukup sulit didefinisikan mengingat pada awalnya, ilmu pengetahuan masih menyatu dengan filsafat. Aristoteles misalnya, membicarakan berbagai bidang seperti: biologi, fisika, metafiska dan politik. Pada fisuf Yunani melakuhkan semacam observasi, mengembangkan, membuat dugaan kesimpulan sehingga tampak sistematis…(disarikan dari: Syairil Fadli, 2003, Kritik Feyerabend atas Determinisme Ilmu Pengetahuan,tesis PPS UGM Yogyakarta.Hlm. 59-65).

            Pertanyaan tentang “apa yang menyusun alam semesta?” merupakan permasalahan utama filsafat yang digeluti para filsuf Yunani kuno hingga masa Socrates. Mereka menaruh minat yang sangat besar pada “phusis”, kodrat utama dan pertama penyusun realitas. Sebagai salah satu filsuf prasokratik, Demokritos (460-370 SM) pun mengalami hal yang sama. Ia mewarisi dan mengembagkan pemikiran gurunya, Leukippos, yang menggagas konsep “atom” (yakni gugusan unsur-unsur terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (a=tidak, tomos=terbagi). Atom inilah yang menurut pemikiran filsuf kelahiran Abdera, Yunani Utara, ini dapat menjelaskan segala-galanya tentang alam semesta.

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s