hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Hadits Dha’if

2 Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

1.    LATAR BELAKANG

Hadits merupakan salah satu sumber rujukan dalam Islam setelah Al-Qur’an. Hadits yang begitu banyak jumlahnya tidak semuanya dijadikan pokok sandaran dalam Islam. Karena setelah dilihat, tidak semua hadits itu dapat diterima keshahihannya atau kehujahannya. Untuk mengetahui semua itu perlu adanya usaha atau kritik agar dapat diketahui kualitas hadits mana hadits yang dapat diterima dan mana hadits yang tidak dapat diterima.

Hadis bila ditinjau dari segi kehujjahannya dapat dibedakan menjadi dua yakni maqbul dan mardud. Hadis maqbul adalah hadis yang dapat diterima dan dijadikan sebagai hujjah, sementara hadis mardud adalah hadis yang tidak bisa dijadikan hujjah. Yang menyebabkan sebuah hadis menjadi mardud adalah cacat baik pada sanad ataupun pada matan. Hadis mardud terbagi kepada dua macam yakni hadis dha’if dan hadis maudhu’.

Salah satu klasifikasi hadits yang dilihat dari segi kualitasnya adalah hadits dhaif. Hadits dhaif ini dikenal dengan hadits yang lemah kualitasnya. Sebab-sebab kelemahan hadits ini sangatlah banyak ragamnya, jika dilihat dari segi sanad maupun matannya. Adapun dari segi kehujahannya, apakah hadits ini dapat diamalkan atau tidak, para ulama berbeda pendapat. Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang hadits dha’if.

2.    RUMUSAN MASALAH

 

  1. Apa pengertian dari pada hadits dha’if?
  2. Seperti apa kriteria-kriteria hadits dha’if?
  3. Macam-macam hadits dha’if?
  4. Bagaimana kehujjahan hadits dha’if?

3.    TUJUAN PERMASALAHAN

  1. Agar kita dapat mengetahui apa itu hadits dha’if.
  2. Agar kita dapat mengetahui seperti apa kriteria-kriteria hadits dha’if.
  3. Agar kita dapat mengetahui macam-macam hadits dha’if.
  4. Agar kita dapat mengetahui kehujjahan dari pada hadits dha’if.

4.    METODE PENELITIAN

Adapun metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah metode kepus-takaan dan internet.

BAB II

PEMBAHASAN

1.    PENGERTIAN HADIS DHA’IF

Kata dha’if secara bahasa adalah lawan dari al-Qowiy, yang berarti lemah, Hadis Dha’if ini adalah Hadis mardud, yaitu Hadis yang ditolak dan tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil dalam menetapkan suatu hukum.[1]

Imam Abi Amar Ibnu Shalah mendefenisikan Hadis Dha’if adalah “setiap Hadis –Hadis yang tidak terdapat padanya sifat Hadis Shahih dan tidak pula sifat-sifat Hadis Hasan maka dia disebut Hadis Dha’if.”[2]

Imam Hafiz Haan al-Mas’udi memberikan defenisi Hadis Dha’if sebagai Hadis yang kehilangan satu syarat atau lebih dari Hadis Shahih atau Hadis Hasan.[3]

Para ulama memberikan batasan bagi hadis dha’if :

الحديث الضعيف هو الحديث الذي لم يجمع صفات الحديث الصحيح ولا صفات الحديث

Artinya:

“hadis dha’if adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis shahih dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan”[4]

Jadi dapat kami simpulkan bahwa hadis dha’if adalah hadis yang lemah, yang tidak dapat dijadikan hujjah dan tidak terdapat di dalamnya sifat-sifat Hadis Hasan maupun Hadis Shahih, serta para ulama masih mempunyai dugaan yang lemah apakah hadis itu berasal dari Rasulullah atau bukan.

2.    KRITERIA-KRITERIA HADIS DHA’IF

Pada definisi di atas terlihat bahwa hadis dha’if tidak memenuhi salah satu dari kriteria hadis shahih ataupun hadis hasan adapaun kriteria dari hadis shahih adalah:

  1. Sanadnya bersambung
  2. Periwayat ‘adil
  3. Periwayat dhabith (kuat hafalan)
  4.  Terlepas dari syadz (kejanggalan)
  5. Terhindar dari ‘illat (cacat)

Adapun kriteria hadis hasan adalah:

  1. Sanadnya bersambung
  2. Periwayat adil
  3. Periwayat kurang dhabith (kuat hafalan)
  4. Terlepas dari syadz
  5. Terhindar dari ‘illat.[5]

3.    MACAM-MACAM HADIS DHA’IF

1. HADIS DHA’IF KARENA SANADNYA TERPUTUS

a)    HADIS MU’ALLAQ

Hadis mu’allaq adalah hadis yang terputus di awal sanad.[6] Hadis muallaq menurut bahasa berarti hadis yang tergantung. Dari segi istilah, hadis muallaq adalah hadis yang gugur satu rawi atau lebih diawal sanad. Contoh: Bukhari berkata, kala Malik, dari Zuhri,dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

لاتقاضلوابين الأنبياء

Artinya:

          “Jangan lah kamu melebihkan sbagian Nabi dan sebagian yang lain”. (HR. Bukhari).[7]

b)   HADIS MUNQATHI’

Keterputusan di tengah sand dapat terjadi pada sau sanad atau lebih, secara berturut-turut atau tidak. Jika keterputusan terjadi di tengah sanad pada suatu tempat atau dua tempat dalam keadaan tidak berturut-turut, hadis yang bersangkutan dinamakan hadis munqathi’.[8]

Hadis munqati menurut bahasa artinya terputus. Menurut sebagian para ulama hadis, hadis munqati’ ialah hadis yang dimana didalam sanadnya terdapat seseorang yang tidak disebutkan namanya oleh rawi, misalnya perkataan seorang rawi, “dari seseorang laki-laki”. Sedang menurut para ulama lain bahwa hadis muntaqi’ ialah hadis yang dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang gugur (tidak disebutkan) dari rawi-rawi sebelum sahabat, baik dalam satu atau beberapa tempat, namun rawi yang gugur itu tetap satu dengan syarat bukan pada permulaan sanad.[9] Contoh munqathi’:

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ شُعَيْبَ أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْد قَالَ ثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ عَنْ هِشَام بْنِ عُرْوَة عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْمُنْذِر عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ إِلا مَا فَتَقَ الْاَمْعَاءَ فِي الثَّدْيِ وَكَانَ قَبْلَ الْفِطَامِ. (المحلى 20: 10)

Artinya:

          “Berkata Ahmad bin Syu’aib: “Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu Awanah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari Fatimah binti Munzir dari Ummu Salamah ummul mukminin, ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Tidak menjadikan haram dari penyusuan, melainkan apa-apa yang sampai dipencernaan dari susu dan itu sebelum (anak) berhenti (dari minum susu).”

Sanad hadis ini kalau kita gambarkan akan tampak demikian: (1) Ahmad bin Syu’aib (An-Nasai), (2) Qutaibah bin Sa’id, (3) Abu Awanah, (4) Hisyam bin Urwah, (5) Fatimah binti Munzir, (6) Ummu Salamah, (7) Rasulullah saw.

Fatimah (No.5) tidak mendengar hadis tersebut dari Ummu Salamah (No.6), karena waktu Ummu Salamah meninggal, Fatimah ketika itu masih kecil dan tidak bertemu dengannya.[10]

c)    HADIS MU’DHAL

Menurut Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, hadis mu’dhal adalah hadis yang gugur dua orang sanadnya atau lebih secara berturut-turut. Kriteria-kriteria hadis mu’dhal adalah:

  1. Sanad yang gugur lebih dari satu
  2. Keterputusan secara berturut-turut
  3. Tempat keterputusan ditengah sanad

contohnya: “telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

للملةك طعامه وكسوته بالمعروف (رواه مالك)

Artinya:

          “Budak itu harus diberi makanan dan pakayan secara baik”. (HR. Malik).

Hadis tersebut diketahui mu’dhal karena tidak mungkin Malik ibn Anas menerima hadis langsung dari Abu Hurayrah.[11]

d)   HADIS MURSAL

Mursal, menurut bahasa, isim maf’ul, yang berarti yang dilepaskan. Adapun hadis mursal menurut istilah adalah hadis yang gugur rawi dari sanadnya setelah tabiin, baik tabiin besar maupun tabiin kecil. Seperti bila seorang tabiin mengatakan, “Rasulullah SAW. Bersabda begini atau berbuat seperti ini.”[12]

Seperti telah kita ketahui bahwa dalam hadis mursal itu, yang digugurkan adalah sahabat yang langsung menerima barita dari Rasulullah SAW., sedangkan yang menggugurkan dapat juga seorang tabiin. Oleh karena itu, ditinjau dari segi siapa yang menggugurkan dan segi sifat-sifat pengguguran hadis, hadis mursal terbagi pada mursal jali, mursal shahabi, dan mursal khafi.[13]

  1. Mursal Jali, yaitu bila pengguguran yang telah dilakukan oleh rawi (tabiin) jelas sekali, dapat diketahui oleh umum, bahwa orang yang menggugurkan itu tidak hidup sezaman dengan orang yang digugurkan yang mempunyai berita.
  2. Mursal Shahabi, yaitu pemberitaan sahabt yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW., tetapi ia tidak mendengar atau menyaksikan sendiri apa yang ia beritakan, karena pada saat Rasulullah hidup, ia masih kecil atau terakhir masuknya ke dalam agama Islam. Hadis mursal sahabi ini dianggap sahih karena pada galib-nya ia tiada meriwayatkan selain dari para sahabat, sedangkan para sahabat itu seluruhnya adil.
  3. Mursal Khafi, yaitu hadis yang diriwayatkan tabiin, di mana tabiin yang meriwayatkan hidup sezaman dengan shahabi, tetapi ia tidak pernah mendengar sebuah hadis pun darinya.

Contoh hadis mursal:

عَنْ مَالِكِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ بَكْرٍ بْنِ حَزمِ :أَنَّ فِيْ الْكِتَابِ الَّذِيْ كَتَبَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لِعَمْرٍو بْنِ حَزمِ أَنْ لَّا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ.

Artinya:

          “Dari Malik dari Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm, bahwa dalam surat yang Rasulullah saw. Tulis kepada “Amr bin Hazm (tersebut): “Bahwa tidak menyentuh Qur’an melainkan orang yang bersih”.

Abdullah bin Abu Bakar ini seorang tabii sedang seorang tabii tidak semasa dan tidak bertemu dengan Nabi saw. Jadi, semestinya Abdullah menerima riwayat itu dari seorang lain atau sahabat.

e)    HADIS MU’AN’AN DAN MUANNAN

Kata mu’an’an merupakan bentuk maf’ul dari kata ‘an’ana yang berarti periwayat berkata, “dari. . . dari . . .” yang berarti pernyataan periwayat: si anu dari si anu. Kata annana yang berarti periwayat berkata, “bahwa” yang menunjukan bahwa periwayat meriwayatkan hadis dari periwayat lain dengan menggunakan merode anna.[14] Contohnya adalah:

(البخاري) حدثنا ابو نعيم قال حدثنا زكريا عن عامر قال سمع النعمان بن بشير يقول سمعت رسولالله صلى الله عليه وسلم يقول: الحلال بين و الحرام بينو بينهما مشتبهات لا يعلمها كثير من الناس

Artinya:

“(Berkata Bukhari): Telah menceritakan ke pada kami, Abu Nu’aim, ia berkata: Telah menceritakan ke pada kami, Zakariya, dari Amir, ia berkata: Aku tela mendengar Nu’aim bi Basyir berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw, bersabda: “Barang yang halal itu terang, dan yang haram pun  sudah nyata, tetapi antara kedua-duanya ada beberaa barang yang samar-samar yang tidak diketahui kebanyakan orang……………………………”.

Dalam sanad hadits tersebut, Zakaria berkata” dari Amir”. Karena Zakaria mudallis , maka hadits mu’an’an ini tidak ittisholu as sanad.

Secara bahasa muannan adalah isim maf’ul dari kata dasar annana dengan arti “berkata anna (sesungguhnya) dan inna (bawasannya).” Dalam ilmu hadits, bermakna satu hadits yang dalam sanadnya ada huruf anna atau inna. Atau dari urf hadits mendefinisikan dengan:

مايقال في سنده ان

“Hadits yang diriwayatkan dengan memakai pekataan anna: bahwasanya”. Umpamanya perawi mengatakan, “Telah diceritakan kepadaku oleh si polan, “bahwasanya” si anu berkata:”…”.[15]

f)    HADIS MAWQUF DAN HADIS MAQTHU’

Hadis mawquf adalah hadis yang disandarkan kepada sahabat nabi atau hadis yang diriwayatkan dari para sahabat berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya. Hadis maqthu’ berasal dari kata qatha’a (memotong) lawan kata washala (menghubungkan). Secara istilah berarti hadis yang disandarkan kepada seorang abi’i atau sesudahnya baik perkataan maupun perbuatan.[16]

2. HADIS DHA’IF KARENA PERIWAYATANYA TIDAK ADIL

a)    HADIS MAUDHU’

Hadis maudhu’ adalah hadis yang dicipta serta dibuat oleh seseorang (pendusta), yang ciptaan itu dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Secara palsu dan dusta, baik disengaja maupun tidak.[17]

Ciri-ciri yang terdapat pada sanad hadis, yaitu adanya pengakuan dari si pembuat sendiri,qarinah-qarinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadis maudhu’, dan qarinah-qarinah yang berpautan dengan tingkah lakunya.

Adapun ciri-ciri yang terdapat pada matan, dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi ma’na dan segi lafazh. Dari segi ma’na, yaitu bahwa hadis itu bertentangan dengan Al-Qur’an, hadis mutawatir, ijma’, dan logika yang sehat. Dari segi lafazh, yaitu bila susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih. Contoh hadis maudhu’:

Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dari jalan Abdurrahman ibn Zaid ibn Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya dari Nabi saw.:

إِنَّ سَفِيْنَةَ نُوْحٍ طَافَتْ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَصَلَّتْ خَلْفَ المْقَاَمِ رَكْعَتَيْنِ

          “Bahwasanya bahtera Nuh a.s. mengelilingi Ka’bah 7 kali dan shalat di belakang maqam Nabi Ibrahim 2 rakaat.”

Riwayat ini sangatlah berlawanan dan bersalahan dengan akal, karena itu terlihatlah ia salah satu dari dongengan Abdurrahman.

b)   HADIS MATRUK

Hadis matruk adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang tertuduh sebagai pendusta.[18] Rawi yang tertuduh dusta adalah seorang rawi yang terkenal dalam pembicaraan sebagai pendusta, tetapi belum dapat dibuktikan bahwa ia sudah pernah berdusta dalam membuat hadis. Seorang perawi yang tertuduh dusta, bila ia bertobat dengan sungguh-sungguh, dapat diterima periwayatan hadisnya.

Di antara sebab-sebab tertuduhnya dusta seorang perawi, ada beberapa kemungkinan yaitu sebagai berikut:

  1. Periwayatan hadis yang menyendiri atau hanya dia sendiri yang meriwayatkannya. Hal ini dikarenakan tidak ada seorang pun yang meriwayatannya selain dia.
  2. Seorang perawi dikenal sebagai pembohong dan pendusta pada selain hadis tertentu.
  3. Menyalahi kaidah-kaidah yang maklum seperti kewajiban beragama, kewajiban shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain.

Contoh hadis matruk: hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Ady katanya: “diceritakan kepada kami oleh Yaqub ibn Sufyan ibn Ashim, dicertakan kepada kami oleh Isa ibn Ziyad, telah dicertakan kepada kami oleh Abdurrahim ibn Zaid dari ayahnya dari Said ibn Al Musayyab dari Umar ibn Khattab, katanya: “Rasulullah saw. Bersabda:

لَوْلَا النِّسَاءَ لَعَبِدَ اللهَ حَقًّا

          “Sekiranya tak ada wanita di dunia, tentulah hamba Allah menyembah Allah dengan sebenar-benarnya.”

Kata Ibnu Ady: “Hadis ini matruk, karena Abdurrahim dan ayahnya dua orang yang matruk, tak boleh diambil hadisnya.”

c)    HADIS MUNKAR

Hadis munkar bersala dari kata al-inkar (mengingkari) lawan dari al-iqrar (menetapkan). Kata munkar digunakan untuk hadis yang seakan mengingkari atau berlawanan dengan hadis lain yang lebih kuat. Dikalangan ulama hadis, hadis munkar didefinisikan dengan, hadis yang dalam sanadnya terdapat periwayatnya yang mengalami kekeliruan yang parah, banyak mengalami kesalahan, dan pernah berbuat fasik,, hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang dha’if bertentangan dengan riwayat periwaya yang tsiqah.[19] Contoh hadis munkar:

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Hubaib ibn Habib, saudara Hamzah ibn Habib Az Zaiyat Al Muqri, dari Abi Ishaq dari Al Aizar ibn Hurais, dari Ibn Abbas, dari Nabi saw. Bersabda:

مَنْ أَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَحَجَّ الْبَيْتَ وَصَامَ رَمَضَانَ وَقَرَى الضَّيْفَ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Artinya:

          “Barang siapa mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji, berpuasa ramadhan, dan memuliakan tamu masuklah ke surga.

Abu Hatim berkata: “Hadis ini munkar”. Menurut riwayat orang lain dari Hubaib, perkataan ini bukan perkataan Nabi, hanya perkataan Ibnu Abbas. Hubaib menyandarkan perkataan ini kepada Rasulullah. Dengan itu, jadilah riwayat ini sebenarnya atsar mauquf bukan hadis marfu’. Walhasil, hadis munkar itu ialah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang lemah, berlawanan pula dengan riwayat orang kepercayaan.

Jelasnya, bila seseorang yang lemah meriwayatkan sesuatu riwayat dan riwayatnya berlawanan dengan riwayat orang yang kuat, maka riwayat silemah dinamai Munkar, dan riwayat yang kuat dinamai Ma’ruf.

3. HADIS DHA’IF KARENA PERIWAYATANYA TIDAK DHABITH

a)    HADIS MUDALLAS

Mudallas menurut bahasa artinya yang ditutup atau yang disamarkan. Menurut istilah ada-lah hadis yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan bahwa hadis itu tidak bernoda.[20] Menurut ilmu Hadis, Mudallas adalah hadis yang diriwayatkan seorang rawi dari orang yang hidup semasanya, namun ia tidak pernah bertemu dengan orang yang diriwa-yatkannya tersebut dan tidak mendengarnya dari nya karena kesamaran mendengarkannya”.[21] Contoh hadis mudallas:

رَوَى النُّعْمَانُ بْنُ رَاشَد عَنِ الزُّهْرِي عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَضْرِبِ امْرَأَةً قَطُّ، ولا خادماً، إِلا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (علل الحدبث 324: 1)

Artinya:

          “Diriwayatkan oleh Nu’man bin Rasyid dari Zuhri dari Urwah dari Aisyah bahwa Rasulullah saw tidak pernah sekali-kali memukul seorang perempuan dan tidak juga seorang pelayan, melainkan ia berjihad di jalan Allah.

Keterangan: dengan sepintas lalu-melihat susunan sanad ini-dapat dikatakan bahwa Zuhri mendengar riwayat itu dari Urwah karena memang biasa Zuhri meriwayatkan darinya.

Anggapan ini keliru, karena Imam Abu Hatim berkata: “Zuhri tidak pernah mendengar hadis dari Urwah”. Ini berarti antara Zuhri dan Urwah ada seorang yang tidak disebut oleh Zuhri.

Karena Zuhri dan Urwah semasa dan bertemu, sedang ia tidak mendengar riwayat tersebut dari Urwah. Tetapi ia mendengar dari perawi lain, maka tersamarlah sanadnya, sehingga orang menyangka Zuhri mendengar dari Urwah. Boleh jadi Zuhri yang menyamarkannya. Maka riwayat itu dinamakan mudallas.

b)   HADIS MUDRAJ

Mudraj secara bahasa adalah yang termasuk, yang tercampur, yang disisipkan. Sedangkan secara istilah adalah hadis yang asal sanadnya atau matannya tercampur dengan sesuatu yang bukan bagiannya. Dalam istilah udraj dibagi dua macam yaitu mudraj pada sanad dan mudraj pada matan.Mudraj pada sanad ialah hadis yang diubah konteks sanadnya. Mudraj sanad ini banyak sekali kemungkinannya terjadi, misalnya:

a)      Sekelompok jamaah meriwayatkan suatu hadis dengan beberapa sanad yang berbeda, kemudian diriwayatkan oleh seorang perawi dengan menyatukan ke dalam satu sanad dari beberapa sanad tersebut tanpa menerangkan ragam dan perbedaan sanad.

b)      Seseorang meriwayatkan matan tetapi tidak sempurna, kesempurnaannya ia temukan melalui sanad yang lain. Kemudian ia meriwayatkannya dengan menggunakan sanad pertama.

c)      Seorang perawi menyampaikan periwayatan, di tengah-tengah menyampaikan sanad terhalang oleh suatu gangguan, kemudian ia berbicara dari dirinya sendiri. Di antara pendengarnya ada yang mengira pembicaraan tersebut adalah matan hadis, kemudian ia meriwayatkannya. Mudraj pada matan yaitu hadis yang dimasukkan ke dalam matannya sesuatu yang tidak bagian dari padanya tanpa ada pemisah.

Maksud mudraj pada definisi di atas adalah tambahan atau sisipan dari seorang perawi untuk menjelaskan atau memberikan pengantar matan hadis tetapi tidak ada pemisah yang membedakan antara tambahan atau sisipan dan matan hadis tersebut. Tambahan atau sisipan ini bisa jadi di awal matan atau di tengah atau di akhir matan, tetapi pada umumnya di akhir matan, sekalipun terkadang juga ada di depan dan tengah matan sedikit. Di antara faktor penyebab kemungkinan terjadinya mudraj karena seorang perawi menjelaskan syarah lafal hadis yang gharib (sulit dipahami). Penjelasan dan syarah itu diduga oleh pendengarnya bahwa hal itu bagian dari hadis. Contoh hadis mudraj:

قال رسولوالله صلي الله عليه وسلم: انا زعيم، والزعيم الحميل لمن أمن بي واسلم وجاهدفي سبيل الله يبيت في ريض الجنة (رواه النسائ)

Artinya:

“Rasulullah Saw bersabda: saya itu adalah Zaim dan Zaim itu adalah penanggungjawab dari orang yang beriman kepadaku, taat dan berjuang di jalan Allah, dia bertempat tinggal di dalam surga.” (HR. Nasai).

c)    HADIS MAQLUB

Maqlub pada bahasa artinya yang dipalingkan, yang dibalikkan, yang ditukar, yang dirubah,yang terbalik. Adapun menurut istilah hadis maqlub adalah hadis yang terjadi padanya taqdim atau takhir, yakni (mendahulukan yang kemudian atau sebaliknya) pada sanad atau matan atau menggantinya dengan yang lain.[22] Seperti hadis Abu Hurairah pada Imam Muslim tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat di bawah naungan arsy-Nya, di dalamnya disebutkan:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ

Artinya:

          “Dan laki-laki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan tangan kirinya”.

Bunyi hadis ini dirubah oleh seorang perawi, padahal yang sebenarnya:

 وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمُ شمِاَلَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Artinya:

          “Dan laki-laki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan tangan kanannya”.

Sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Bukhari.

d)   HADIS MAZID

Jika sebuah hadis mendapat tambahan kata atau kalimat yang buka berasal dari hadis itu baik pada sanad maupun matan, maka hadis itu disebut hadis mazid. Tambahan dapat terjadi pada sanad atau matan. Tambahan pada sanad dilakukan dengan menambah nama periwayat atau me-marfu’-kan hadis mawquf atau me-mawshul-kan hadis mursal. Hadis mazid dari segi matan dapat terjadi dengan adanya tambahan kata atau kalimat dalam matan hadis itu.[23]

e)    HADIS MUDHTHARIB

Mudhtharab pada lughah ialah yang goncang dan bergetar. Kegoncangan suatu hadis karena terjadi kontra antara satu hadis dengan hadis lain, berkualitas sama dan tidak dapat dipecahkan secara ilmiah. Menurut istilah hadis mudhtharib adalah hadis yang diriwayatkan pada beberapa segi yang berbeda, tetapi sama dalam kualitasnya.[24]

Di antara sebab idhthirab-nya suatu hadis adalah karena lemahnya daya ingat perawi dalam meriwayatkan hadis tersebut, sehingga terjadi kontra yang tak kunjung dapat diselesaikan solusinya.

Kebanyakan mudhtharib terjadi pada sanad dan sedikit terjadi pada matan. Contohmudhtharib pada sanad, seperti hadis Abu Bakar r.a. Berkata “Ya Rasulullah aku melihat engkau beruban. Rasulullah menjawab: “Syayyabatni Hudun wa akhawatuha” (membuat uban rambutku Surah Hud dan saudara-saudaranya) (H.R. At-Tirmidzi)

Ad-Daruquthni berkata “Hadis ini mudhtharib, karena hanya diriwayatkan melalui Abu Ishaq dan diperselisihkan dalam sekitar 10 segi masalah. Di antara mereka ada yang meriwayatkan secara mursal dan ada yang maushul. Di antara mereka ada yang menjadikannya dari Musnad Abi Bakar, Musnad Aisyah, Musnad Sa’ad, dan lain-lain. Semua tsiqah tetapi tidak dapat dikompromikan dan tidak dapat di-tarjih.[25]

Contoh mudhtharib pada matan, seperti hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Syarik dari Abu Hamzah dari Asy-Sya’bi dari Fatimah bin Qays berkata: Rasulullah saw. Ditanya tentang zakat menjawab: “Inna fil mali lahaqqan siwa az-zakah” (sesungguhnya pada harta itu ada hak selain zakat).

Sementara pada riwayat Ibnu Majah melalui jalan ini Rasulullah saw. Bersabda: “Laisa fil mali haqqun siwa az-zakah” (tidak ada hak pada harta selain zakat).

Al-Iraqi berkata: “Hadis di atas terjadi Idhthirab tidak mungkin ditakwilkan.” Hadis pertama menyatakan adanya hak bagi harta selain zakat, sedangkan hadis kedua menyatakan sebaliknya, yakni tidak adanya hak selain zakat atau hanya zakat saja sebagai hak harta.

f)    HADIS MUSHAHHAF

          Mushahhaf secara lughah artinya yang dirubah. Secara istilah adalah hadis yang terjadi padanya perbedaan dengan riwayat yang tsiqat (kepercayaan) yang lain, dengan mengubah satu huruf atau beberapa huruf serta tetap rupa tulisan yang asli.[26] Contoh mushahhaf, hadis Nabi saw.:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالِ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهَرَ

Artinya:

          “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dan diikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka ia sama dengan berpuasa satu tahun.”

Hadis ini di-tashhif-kan oleh Abu Bakar Ash-Shuli dengan ungkapan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ اتَّبَعَهُ شَيْئًا مِنْ شَوَّالِ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ

g)   HADIS MAJHUL

          Majhul pada lughah adalah yang tidak diketahui, yang tidak dikenal. Pada istilah hadis majhul adalah seorang perawi yang tidak dikenal jati diri dan identitasnya.

Sebab-sebab tidak dikenal jati diri atau identitas itu (jahalah) ada beberapa faktor penyebab, di antaranya:

  1. Seseorang mempunyai banyak nama atau sifat, baik nama asli, nama panggilan, gelar, sifat profesi atau suku dan bangsa. Sementara orang tersebut hanya dikenal sebagian namanya saja, tetapi kemudian disebutkan nama atau sifat yang tidak dikenal karena ada tujuan tertentu, maka ia diduga perawi lain.
  2. Seorang perawi yang sedikit periwayatan hadis, tidak banyak orang yang mengambil perawi yang kecuali hanya satu orang saja misalnya.
  3. Tidak tegas penyebutan nama perawi karena diringkas menjadi nama kecil atau nama panggilan atau karena tjuan lain.

Macam-macam hadis majhul yaitu majhul ‘ain dan majhul hal (mastur).

          Hadis majhul ‘ain adalah hadis yang pada sanadnya ada si perawi yang disebut namanya, tetapi tidak diketahui orangnya dan yang meriwayatkan daripadanya hanya seorang saja.

Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Al-Hakim melalui jalan Hisyam bin Yusuf dari Abdullah bin Sulaiman An-Nufali dari Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari ayahnya dari kakeknya secara marfu’:

أُحِبُّوْا اللهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ، وَأَحِبُّونِي لِحُبِّ اللَّهِ، وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي لِحُبِّي

Artinya:

          “Cintailah Allah karena sesuatu yang diberikan kepadamu dari pada nikmat-nikmat-Nya, cintailah aku karena cinta Allah, dan cintailah ahli keluarganya karena mencintaiku.”

Abdullah bin Sulaiman An-Nufali tidak diketahui jati dirinya (majhul ‘ain), kaena tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hisyam bin Yusuf.

Adapun hadis majhul hal adalah hadis yang pada sanadnya ada perawi yang disebut namanya dan diketahui orangnya, diriwayatkan daripadanya dua orang yang adil atau lebih, tetapi perawi tersebut tidak diketahui kepercayaannya.[27]

Contohnya, hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah melalui Itsam bin Ali dari Al-a’masy dari Abu Ishaq dari Hani’ bin Hani’ berkata: Ammar masuk ke rumah Ali, maka Ali menyambutnya: “Selamat datang seorang suci dan disucikan” aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

مُلِئَ عَمَّارٌ إِيمَانًا إِلَى مُشَاشِهِ

Artinya:

          Ammar dipenuhi imannya sampai ke tulang-tulangnya.

Hani’ bin Hani’ tidak diketahui identitasnya (majhul al-hal), karena tidak ada seorang tsiqah yang meriwayatkan hadisnya atau tidak ada yang menerangkan tentang ke-tsiqahan-nya. Dengan demikian hadis di atas hukum periwayatan hadis majhul tertolak (mardud) menurut pendapat yang shahih yaitu mayoritas ulama hadis.

4. HADIS DHA’IF KARENA MENGANDUNG SYADZ

Hadis syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang maqbul, yang menyalahi riwayat orang yang lebih utama darinya, baik karena jumlahnya lebih banyak ataupun lebih tinggi daya hafalnya.[28]

Contoh hadis syadz pada sanad, Hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah melalui jalan Ibnu Uyaynah dari Amr bin Dinar dari Aisyah dari Ibnu Abbas, bahwa seorang laki-laki wafat pada masa Rasulullah saw. Dan tidak meninggalkan pewaris kecuali budak yang ia merdekakan. Nabi bertanya: “Apakah ada seseorang yang menjadi pewarisnya? “Mereka menjawab: Tidak, kecuali seorang budak yang telah dimerdekakannya, kemudian Nabi menjadikannya sebagai pewaris baginya.”

Hammad bin Zaid [seorang tsiqah, adil dan dhabith] juga meriwayatkan hadis di atas dari Amr bin Dinar dari Ausajah, tetapi tidak menyebutkan Ibnu Abbas. Maka periwayatan Hammad bin Zaid Syadz, sedang periwayatan Ibnu Uyaynah mahfuzh. Contoh hadis syadz pada matan, hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi melalui Abdul Wahid bin Zayyad dari Al-a’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah secara marfu’ (Rasulullah saw. Bersabda):

إِذَا صَلَّى أحَدُكُمْ رَكْعَتَي الفَجْرِ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى يَمِينِهِ

Artinya:

          “Jika telah shalat dua rakaat Fajar salah seorang di antara kamu, hendaklah tidur pada lambung kanan.”

Al-Baihaqi berkata: periwayatan Abdul Wahid bin Zayyad adalah Syadz karena menyalahi mayoritas perawiyang meriwayatkan dari segi perbuatan Nabi bukan sabda beliau. Abdul Wahid menyendiri di antara para perawi tsiqah. [29]

5. HADIS DHA’IF KARENA MENGANDUNG ‘ILLAT (CACAT)

Jika dalam sebuah hadis terdapat cacat tersembunyi dan secara lahiriyah tampak shahih, maka hadis itu dinamakan hadis mu’allal, yaitu hadis yang mengandung ‘illat.[30] Muallal menurut istilah para ahli hadits ialah hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi, yang kondosif berakibat cacatnya hadits itu, namun dari sisi lahirnya cacat tersebut tidak tampak.

Adapun jalan mengetahui penyakit itu dengan cara: mengumpulkan segala jalan datang hadis, menyelidiki satu persatu, melihat kelainan-kelainan yang terjadi pada riwayat itu, dan dilihat juga jurusan kuat lemahnya ingatan dan hafalan perawinya. Maka jika menurut perasaan pemeriksa ada penyakit yang telah menimpai hadis itu, ia pun memberikan hukumnya; bahkan terkadang pemeriksa itu memperoleh keyakinan yang kuat bahwa hadis itu berpenyakit, tapi jika ditanya apa gerangan penyakit itu, tak sanggup ia menerangkannya.

Contohnya, hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Daud, dari Qutaibah bin Sa’id, memberitakan kepada kami Abdussalam bin Harb Al-Mala’i dari Al-a’masy dari Anas berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ لم يَرْفَعْ ثَوْبَهُ حَتَّى يَدْنُوَ مِنَ الْأَرْضِ

Arinya:

          “Nabi saw ketika hendak hajat tidak mengangkat kainnya sehingga dekat dengan tanah.

Hadis di atas lahirnya shahih karena semua perawi dalam sanad tsiqah tetapi Al-a’masy tidak mendengar dari Anas bin Malik, Ibnu Al-Madani mengatakan, bahwa Al-a’masy tidak mendengar dari Anas bin Malik. Dia melihatnya di Mekkah shalat di belakang Maqam Ibrahim.

4.    KEHUJJAHAN HADIS DHA’IF

Pendapat pertama hadits dha’if tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkaitan dengan masalah halal, haram, maupun kewajiban, dengan syarat tidak ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampai kan oleh beberapa imam, seperti: Imam Ahmad bin Hambal, Abu Daud dan sebagainya.

Pendapat yang kedua dipandang baik mengamalkan hadits dha’if dalam fadailul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.

Pendapat ketiga hadits dha’if samasekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadailul amal maupun halal haram. Pendapat ini dinisbatkan kepada Qadi Abu Bakar ibnu arabi.[31]

5.    KITAB-KITAB YANG MEMUAT HADIS DHA’IF

  1. Al-Maudu’at, karya Al-Imam Al-Hafiz Abul Faraj Abdur Rahman bin Al-Jauzi (579 H)
  2. Al-Laali Al- Masnuah fi Al-Hadits Al-Mauduah, Karya Al-Hafiz Jalaludin Al-Suyuti (911 H)
  3. Tanzih Al-Syariah Al-Marfuah An Al-Ahadits Al-Syaniah Al-Mauduah, karya Alhafizh Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Bun Iraq Al-Kannani (963 H)
  4. Al-Manar Al-Munif fi Shahih wa Al-Dafi, karya Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah ( 751 H )
  5. Al-Masnu fi Al-Hadits Al-Maudu’ karya Ali Al-Qari ( 1014 H )[32

    BAB III

    PENUTUP

1.    KESIMPULAN

Hadis dha’if adalah hadis yang lemah, yang tidak dapat dijadikan hujjah dan tidak terdapat di dalamnya sifat-sifat Hadis Hasan maupun Hadis Shahih, serta para ulama masih mempunyai dugaan yang lemah apakah hadis itu berasal dari Rasulullah atau bukan.Pendapat-pendapat mengenai kehujjahan hadits dha’if:

Pendapat pertama hadits dha’if tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkaitan dengan masalah halal, haram, maupun kewajiban, dengan syarat tidak ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampai kan oleh beberapa imam, seperti: Imam Ahmad bin Hambal, Abu Daud dan sebagainya.

Pendapat yang kedua dipandang baik mengamalkan hadits dha’if dalam fadailul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.

Pendapat ketiga hadits dha’if samasekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadailul amal maupun halal haram. Pendapat ini dinisbatkan kepada Qadi Abu Bakar ibnu arabi.

2.    SARAN

Sebelumnya kami penyusun makalah ini mohon ma’af apabila terdapat kesalahan dalam penulisan kata-kata, dan makalah kami pun di sini masih belum sempurna, untuk itu sekiranya apabila masih di rasa pembaca masih belum cukup bahasan-bahasan di dalam makalah ini di sarankan untuk mencari sumber referensi dari buku-buku atau sumber-sumber yang semacamnya.


             [1] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, (Jakarta : Mutiara Sumber Widya, 1997), Hal. 236.

             [2] Ibid., Hal. 236.

             [3] Hafiz Hasan Mas’udi, Minhatu Al-Mughits Pil Mustholahul Hadis (Surabaya: Ahmad Nabni,) Hal. 10.

             [4] Muhammad Ahmad. M. Mudzakir, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia. 2000), Hal. 112.

             [5] Idri, Studi Hadis, (Jakarta: Kencana, 2010), Hal. 178.

             [6] Ibid., Hal. 179.

             [7] Muhammad Ahmad. M. Mudzakir, Op. Cit., Hal. 27.

             [8] Idri, Op. Cit., Hal. 185.

             [9] Muhammad Alwi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), Hal. 92.

             [10] Fatchur Rahman. Ikhtisar Mushthalah Al-Hadis, (Bandung: Al-Maarif, 1974), Hal. 220.

             [11] Idri, Op. Cit., Hal. 189-190.

             [12] Muhammad Ajjaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadis Ulumuhu Wa Musthalahuhu, (Kairo: Dar Al-Fikri, 1989), Hal. 337.

             [13] Fatchur Rahman, Op. Cit., Hal. 209.

             [14] Idri, Op. Cit., Hal. 188.

             [16] Idri, Op. Cit., Hal. 200-202.

             [17] Endang Soetari. Ilmu Hadis: Kajian Riwayah Dan Dirayah. (Bandung: Mimbar Pustaka. 2005), Hal. 120.

             [18] Idri, Op. Cit., Hal. 206.

             [19] Ibid., Hal. 208.

             [20] Abdurrahman Bin Abu Bakar As-Suyuti, Tadrib Al-Rawi, (Riyadh: Maktabah Al-Riyadh), Hal. 258.

             [21] Izzudin Balig, Minhaj As-Sholihin Min Al-Hadis Wali Songo As-Sunnah Khatim Al-Anbiyaa’ Wali Songo Mursalin (Beirut: Daar Pikr), Hal. 49.

             [22] M. Hasby Ash Shiddiqy. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis. (Jakarta: Bulan Bintang. 1961), Hal. 129.

             [23] Idri, Op. Cit., Hal. 224-227.

             [24] Abdul Majid Khun. Ulumul Hadis. (Jakarta: Amzah. 2010), Hal. 194.

             [25] Ibid., Hal 195.

             [26] M. Hasby Ash Shiddiqy. Op. Cit. Hal. 138.

[27] Ibid., Hal. 142.

             [28] M. Agus Solahudin, Agus Suyadi. Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), Hal. 151

             [29] Abdul Majid Khun, Op. Cit., Hal. 198.

             [30] Idri, Op. Cit., Hal. 242.

             [31] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, (Jakarta: Pustaka Firdaus,1997), Hal. 186.

             [32] Muhammad Ahmad, M. Mudzakir, Op. Cit., Hal. 208.

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

2 thoughts on “Hadits Dha’if

  1. subhanallah,, terima kash atas semua pemberitahuan tentang hadits dha’if & hadits shohih& smua’a ..🙂 saya jadi, dpt memahami’a🙂 syukran katsiran🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s