hidayatullahahmad

Mencoba berbagi dengan apa yang telah didapat. Hanya segelintir orang yang ingin mewujudkan Mimpin dan juga Harapan

Makalah Bahasa Indonesia “Frase”

Tinggalkan komentar

BAB I

PENDAHULUAN

 1.      LATAR BELAKANG

 

Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia Kata “Indonesia” berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos yang berarti “India” dan nesos yang berarti “pulau”. Jadi kata Indonesia berarti kepulauan India, atau kepulauan yang berada di wilayah India. Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945.

Sejarah Bahasa Indonesia

  • Sebelum kemerdekaan
  • Prasasti tertua berbahasa Melayu dengan huruf Pallawa abad ke-7.
  • Masuknya agama Islam abad ke-13 membawa pengaruh tradisi tulis bahasa Melayu.
  • Huruf Arab digunakan untuk menulis bahasa Melayu (tulisan Jawi) sampai abad ke-19.
  • Masa penjajahan Belanda, bahasa Melayu digunakan sebagai sarana perhubungan luas, termasuk bahasa surat kabar.
  • Pada 28 Oktober 1928 kongres pemuda menyepakati Sumpah Pemuda yang mengubah nama bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia dan mencetuskannya sebagai bahasa persatuan.
  • Tahun 1938 diselenggaran kongres pertama bahasa Indonesia di Solo.
  • Masa penjajahan Jepang, bahasa Indonesia semakin berkembang karena pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa Beland

Setelah Kemerdekaan

  • Sehari setelah merdeka, 18 Agustus 1945, dalam UUD 1945 ditetapkanlah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara (pasal 36).
  • Ejaan Bahasa Indonesia dibakukan dan ditetapkan sejak 1972, setelah mengalami beberapa perubahan (tahun 1901 Ejaan van Ophuijsen dan tahun 1947 Ejaan Soewandi).
  • Tahun 1975 dikeluarkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)
  • Lima tahun sekali, Ejaan bahasa Indonesia senantiasa disempurnakan hingga sekarang melalui Kongres Nasional Bahasa Indonesia dengan motor penggerak Pusat Bahasa.
  • Di era kesejagatan kini, bahasa Indonesia dipelajari di berbagai PT nasional dan internasional.

Dengan melihat sejarah bahasa indonesia dapat di simpulkan bahwa, bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing.

Bahasa indonesia merupakan bahasa yang resmi dalam negara indonesia ini, oleh sebab itu penting bagi kita untuk mempelajari bahasa indonesia, baik dalam menulis maupun membacanya. Salah satu ilmu yang di pelajari dalam bahasa indonesia ini adalah frase dan paragraf.

2.      RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah :

  1. Apa itu frase dan seperti apa frase yang baik itu ?
  2. Bagaimanakah membuat paragraf yang baik dan benar dan apa itu paragraf ?

3.      TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui apa itu frase dan paragraf.

4.      METODE PENELITIAN

Adapun metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan.

BAB II

PEMBAHASAN

 1.    FRASE

A.    PENGERTIAN FRASE

Frase adalah gabungan dua buah kata atau lebih yang merupakan satu kesatuan, dan menjadi salah satu unsur atau fungsi kalimat(subjek, predikat, objek, atau keterangan). Contohnya, dalam kalimat “presiden suharto sudah meresmikan jalan tol itu kemaren pagi”, yang menjadi subjeknya adalah frase presiden suharto; yang menjadi predikatnya adalah frase sudah meresmikan; yang menjadi objeknya adalah frase jalan tol baru itu; dan yang menjadi keteranganya adalah frase kemarin pagi.[1]

B.     PEMBENTUKAN DAN PENGGUNAAN FRASE

Di dalam pertuturan atau karangan, bahasa itu diwujudkan dalam bentuk satuan-satuan bahasa yang di sebut kalimat. Sedangkan kalimat itu sendiri terbentuk dari satuan-satuan kata yang dirangkai-rangkaikan. Kalimat-kalimat ini, secara teoritis, dibentuk oleh unsur subjek(s), predikat(p), objek(o), keterangan(k). Subjek adalah bagian dari kalimat yang merupakan pokok pembicaraan; predikat adalah bagian dari kalimat yang memberikan penjelasan mengenai mengapa, bagaimana, atau apayang terjadi terhadap pokok pembicaraan itu; objek adalah bagian kalimat yang memberi penjelasan terhadap kejadian yang menyangkut pokok pembicaraan; keterangan adalah bagian dari kalimat yang memberi penjelasan tambahan mengenai kapan, dimana, atau dalam keadaan apa pristiwa yang dialami pokok pembicaraan yang berlangsung. Inilah unsur-unsur yang dapat membentuk frase. Dilihat dari unsur pembentuknya frase terbagi menjadi tiga macam yaitu sebagai berikut:

1.      Frase setara

Frase yang kedudukan kedua unsurnya sama derajatnya, yang satu tidak tergantung dengan yang lain, sehingga keduanya dapat menggantikan kedudukan frase itu di dalam kalimat. Misalnya frase ayah ibu di dalam kalimat:

  • Ternyata ayah ibu sudah tidak ada.

Frase ayah ibu dapat di ganti kedudukanya dalam kalimat dalam kalimat itu oleh kata ayah saja atau ibu saja, sehingga menjadi:

  • Ternyata ayah sudah tidak ada.
  • Ternyata ibu sudah tidak ada.

2.      Frase bertingkat

Frase yang kedudukan kedua unsurnya tidak sama, usur yang satu kedudukanya sangat penting sehingga tidak dapat di tinggalkan; sedangkan unsur yang lain kedudukanya hanya merupakan penjelas saja atau tambahan saja., sehingga dapat di tinggalkan. Contohnya frase sudah mendirikan dalam kalimat:

  • Mereka sudah mendirikan koperasi.

Kata mendirikan merupakan unsur penting di dalam frase itu sehingga kedudukanya tidak dapat di tinggalkan. Karena kalau ditinggalkan:

  • Mereka sudah koperasi

Kalimat menjadi tidak dapat di terima. Sebalikya, kata sudah karena merupakan unsur penjelas saja, kedudukanya dapat ditinggalkan. Kalau dikatakan:

  • Mereka mendirikan koperasi.

Kalimatnya masih bisa diterima.[2]

3.      Frase terpadu

Frase yang kedudukan kedua unsurnya tidak dapat ditinggalkan sama sekali. Kalau salah satu unsurnya di tinggalakan, maka kalimatnya tidak dapat diterima. Contohnya frase dari pasar dalam kalimat:

  • Ibu baru pulang dari pasar.

Kata dari atau kata pasar tidak dapat ditinggalkan, karena kalau di tinggalkan maka kalimatnya tidak dapat di terima. Contoh:

  • Ibu baru pulang dari.
  • Ibu baru pulang pasar.

Dilihat dari fungsi dan jenisnya di bedakan adanya empat macam frase, yaitu:

(1)   Frase benda (fb)

Lazimnya digunakan untuk menjadi subjek atau objek di dalam kalimat. Contoh:

-Kami mendengarkan pidato presiden melalui radio.

O

-Pidato presiden akan disiarkan lagi oleh rri.

S

(2)   Frase kerja (fk)

Lazimnya menjadi unsur predikat di dalam kalimat. Makna yang di dapat sebagai hasil penggabungan kedua kata itu menjadi sebuah frase kerja, contohnya:

-Kepastian atau kemungkinan[3].

(3)   Frase sifat (fs)

Lazimnya menjadi unsur predikat juga.

Contohnya:

-Indah sekali

-Kuat sekali

-Pandai skali

(4)   Frase depan dan frase keterangan.

Mempunyai struktur unsur pertama berupa kata penghubung dan unsur kedua merupakan kata keterangan atau kata-kata lain.Contohnya:

-Dengan hati-hati

-Sambil tersenyum

-Karena sakit keras

Jadi, sudah di sebutkan di muka bahwa frase dapat menggantikan kata sebagai unsur yang membentuk kalimat. Frase benda dapat menjadi unsur subjek atau objek, frase kerja menjadi unsur predikat, frase sifat dapat menjadi unsur predikat, dan frase proposisi dan frase keterangan menjadi unsur keterangan.[4]

2.    PARAGRAF

Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut. Sebuah paragraf mungkin terdiri atas sebuah kalimat, atau dua buah kalimat, dan mungkin juga lebih. Bbahkan sering kita jumpai suatu paragraf terdiri dari lima buah kalimat.

Seperti dalam tulisan-tulisan mungkin kita akan menjumpai topik paragraf, seperti:

  1. Peranan bahasa dalam kehidupan;
  2. Penyebab kebakaran hutan;
  3. Manfaat koperasi;
  4. Tragedi semanggi;
  5. Kehidupan di ruang angkasa;
  6. Trisakti sebagai kampus reformasi

Topik paragraf adalah pikiran utama di dalam sebuah paragraf yang menjadi topik persoalan atau pokok pembicaraan atau juga disebut gagasan pokok.Syarat-syarat paragraf:

Paragraf yang baik harus memiliki dua ketentuan, yaitu kesatuan paragraf dan kepaduan paragraf.

a. Kesatuan paragraf

Di dalam sebuah paragraf hanya terdapat satu pokok pikiran. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satu kalimat pun yang menyimpang dari ide pokok paragraf itu.

b. Kepaduan paragraf

Kepaduan paragraf dapat dilihat melalui penyusunan kalimat secara logis dan melalui ungkapan-ungkapan (kata-kata) pengait antarkalimat. Urutan yang logis akan terlihat dalam susunan kalimat-kalimat dalam paragraf itu. Sehingga dalam paragraf itu tidak ada kalimat yang sumbang atau keluar dari ide pokok.

A.    Pengait paragraf

Agar paragraf menjadi padu digunakan pengait paragraf, yaitu berupa 1) ungkapan penghubung transisi 2) kata ganti, atau 3) kata kunci.

1)      Beberapa kata transisi

  1. Hubungan tambahan

Contoh: lebih lagi, selanjutnya, tambahan pula, di samping itu, lalu, berikutnya, demikian pula, begitu juga, lagi pula.

2. Hubungan pertentangan

Contoh: akan tetapi, namun, bagai mana, walaupun demikian, sebaliknya, meskipun begitu, lain halnya.

3. Hubungan perbandingan

Contoh: sama dengan itu, dalam hal yang demikian, sehubungan

dengan itu.

4. Hubungan akibat

Contoh: oleh sebab itu, jadi, akibatnya, oleh karena itu, maka, oleh sebab itu.

5. Hubungan tujuan

Contoh: untuk itu, untuk maksud itu.

6.Hubungan singkatan

Contoh: singkatnya, pendeknya, akhirnya, pada umumnay, dengan kata lain, sebagai simpulan.

7. Hubungan waktu

Contoh: sementara itu, segera setelah itu, beberapa saat kemudian.

8. Hubungan tempat

Contoh: berdekatan dengan itu.

2)      Kata ganti

Ungkapan pengait paragraf dapat juga berupa kata ganti, baik kata ganti orang maupun kata ganti yang lain.

  • Kata ganti orang

Dalam usaha memadu kalimat-kalimat dalam suatu paragraf, kita banyak menggunakan kata ganti orang. Pemakaian kata ganti rang ini berguna untuk menghindari penyebutan nama orang berkali-kali. Seperti saya, aku, kamu, kita, mereka, kalian, kami, engkau,mu, kau, kamu sekalian, dia, ia, beliau, dan nya.

  • Kata ganti yang lain

Kata ganti lain yang digunakan dalam menciptakan kepaduan paragraf ialah itu, ini, tadi, begitu, demikian, di situ, di atas, di sana, di sini dan sebagainya.

3)      Kata kunci

Di samping itu ungkapan pengait dapat juga berupa pengulangan penggunaan kata kunci. Pengulangan penggunaan kata kunci ini harus dilakukan dengan hati-hati (jangan terlalu sering).

Pembagian paragraf menurut jenisnya:

1)      Paragraf pembuka

Paragraf ini merupakan pembuka atau pengantar untuk sampai pada segala pembicaraan yang akan menyusul nantinya. Oleh karena itu, paragraf permbuka harus  menarik minat dan perhatian para pembaca, serta sanggup menghubungkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan disajikan selanjutnya. Yaitu bisa dengan cara mengutip pernyataan yang meberikan rangsangan dari para orang terkemuka atau orang terkenal.

2)      Paragraf pengembang

Paragraf pengembang adalah paragraf yang terletak di antara paragraf pembuka dan paragraf yang terakhir sekali di dalam bab ataupu anak bab itu. Paragraf pengembangan mengemukakan inti persoalan yang akan dikemukakan. Paragraf itu dapat dikembangkan dengan cara ekspositoris, dengan cara deskriptif, dengan cara naratif, atau dengan cara argumentatif yang akan dibicarakan pada halaman-halaman selanjutnya.

3)      Peragraf penutup

Paragraf penutup adalah paragraf yang terdapat pada akhir karangan atau pada akhir suatu kesatuan yang lebih kecil di dalam karangan itu. Biasanya, paragraf penutup berupa kesimpulan semua pembicaraan yang telah dipaparkan pada bagian-bagian sebelumnya.

B.     Tanda paragraf

Sebuah paragraf dapat ditandai dengan memulai kalimat pertama agak menjorok ke dalam, kira-kira lima ketukan mesin ketik atau kira-kira dua sentimeter. Dengan begitu pembaca akan dengan mudan dapat melihat permulaan tiap paragraf. Selain itu, penulis juga dapat menambahkan tanda dengan memberikan jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya.

C.    Rangka atau struktur sebuah paragraf

Rangka atau struktur sebuah paragraf terdiri atas kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Maka, apa bila di dalam sebuah paragraf terdapat lebih dari sebuah topik, paragraf itu tidak termasuk paragraf yang baik. Kalimat di dalam seuah paragraf itu harus saling mendukung, saling menunjang, kait-terkait satu denagn yang lainnya.

Kalimat topik adalah kalimat yang berisi topik pembicaraan pengarang. Karena topik paragraf adalah pikiran utama dalam sebuah paragraf. Setiap paragraf hanya mempunyai sebauh topik dan satu kalimat utama.

Kalau kita melihat perkembangan peragraf yang kita perbincangkan ini, dapat dikatakan bahwa sebelum kalimat itu ditambahkan pada paragraf itu, kalimat utama paragraf itu berada di awal paragraf, sedangkan setelah ditambahkan, kalimat utama (kalimat topik) terletak di akhir paragraf.

D.    Paragraf deduktif dan paragraf induktif

Letak kalimat topik pada paragraf itu berbeda-beda. Paragraf yang meletakkan kalimat topik pada awal paragraf disebut paragraf deduktif, sedangkan paragraf yang meletakkan kalimat topik di akhir paragraf disebut paragraf induktif.

Ada pula paragraf yang tidak memperhatikan kalimat utamanya. Gagasan utama paragraf itu berada di seluruh paragraf. Paragraf seperti ini tidak memiliki kalimat yang umum. Semua kalimat bersifat khusus. Paragraf yamg seperti ini biasanya terdapat pada paragraf yang bersifat naratif.

Kalimat topik yang ideal adalah kalimat topik yang jelas maksudnya dan mudah difahami. Yaitu, kalimat yang sederhana, ringkas, dan tidak berbelit-belit. Penulis yang berpengalaman tidak akan membuat kalimat penjelas yang masih bersifat umum karena akan menyebabkan pembaca harus meraba-raba makna paragraf.

E.     Pengembangan paragraf

Mengapa itu merupakan usaha pengembangan beberapa kalimat topik. Dengan demikian, kita harus mengembangkan paragraf demi paragraf, dan kita juga harus hemat menempatkan kalimat topik.

Teknik pengembangan paragraf:

Teknik pengembangan paragraf itu, secara garis besar ada dua macam. Pertama, dengan menggunakan ‘’ilustrasi’’, kedua, dengan ‘’analisis’’. Yaitu dianalisis secara logis sehingga pernyataan tersebut meyakinkan.

Dalam praktik, kedua teknik di atas dapat dirinci lagi menjadi beberapa cara yang lebih praktis, di antaranya (a) dengan memberikan contoh, (b) dengan menampilkan fakta-fakta, (c) dengan memberikan alasan-alasan, (d) dan denagn bercerita.

a. Dengan memberikan contoh atau fakta

Biasanya, pembaca senang dengan paragaarf-paragaraf yang dikembangkan denagn cara ini. Dan dalam menggunakan cara ini, penulis hendaknya pandai mencari conto-contoh yang umum, contoh yang respentatif, yang dapat mewakili keadaan yang sebenarnya, dan bukan contoh yang terlalu dicari-cari.

b. Dengan memberikan alasan-alasan

Dalam cara ini, apa yang dinyatakan oleh kalimat topik dianalisis berdasarkan logika, dibuktikan dengan uraian-uraian yang logis dengan menjelaskan sebab-sebab mengapa demikian.

c. Dengan bercerita

Iasanya pengarang mengungkapkan kembali peristiwa-peristiwa yang sedang atau sudah berlalu apaila ia mengembangkan paragraf dengan cara ini. Dengan paragraf itu, pengarang berusaha membuat lukisannya itu hidup kembali.

Pembagian paragraf menurut teknik pemaparannya

Menurut teknik pemaparannya paragraf di bagi ke dalam empat macam, yaitu deskriptif, ekpositoris, argumentatif, dan naratif.

  1. Deskriptif

Paragraf deskriptif disebut juga paragraf melukiskan (lukisan). Paragraf ini melukis apa yang terrlihat di depan mata. Paragraf ini bersifat tata ruang atau tata letak. Pembicaraannya dapat berurutan dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan.

  1. Ekspositoris

Paragraf ekspositoris disebut juga paragraf paparan. Paragraf ini menampilkan suatu objek. Peninjauannya tertuju pada satu unsur saja. Dan penyampaiannya dapat menggunakan perkembangan analisis kronologis atau keruangan.

  1. Argumentatif

Paragraf  argumentatif sebenarnya dapat dimasukkan ke dalam paragraf ekspositoris . Paragraf argumentatif disebut juga persuasi. Paragraf ini lebih bersifat membujuk atau meyekinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisiss.

  1. Naratif

Karangan naratif biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi ahnya kita temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.

  1. 3.    PARAGRAF

 

  1. Pengertian paragraf

Paragraf didefinisikan secara bermacam-macam, mulai dari yang sederhana hinngga yang cuku rumit dan terperinci. Pertama, perlu disebutkan bahwa paragraf sengguhnya merupakan sebuha karangan mini. Dikatakan sebagai karangan mini karena sesuatu yang lazim terdapat didalam karangan atau tulisan, sesuai dengan prinsif dan tata kerja karang-mengarang  dan tulis-menulis pula,  terdapat pula dalam sebuah paragaf. Maka dapat dimengerti kalai di dunia perguruan tinggi, misalnya saja, tugas untuk mengarang atau menulis ilmiah itu sering hanya dibatasi dalam satu paragraf.

Atau setidaknya, panjang pendeknya karangan itu dihitung dalam sesuai dengan banyak atau jumlah paragraf. Pemahaman didepan dapat pula diperluas , sehingga menjadi seperti berikut ini: paragaraf adalah satuan bahasa tertulis yang terdiri dari beberapa kalimat. Kalimat-kkalimat  dalam paragraf itu harus disusun secara runtun dan sistematis, sehingga dapat dijelaskan hubungan antara kalimat satu dengan kalimat yang lainnya dalam paragraf itu. Satu hal lagi yang harus dicatat dalam sebuah paragraf, yakni bahwa paragraf itu harus merupakan satu kesatuan yang padu dan utuh.

Ide pokok dalam suatu paragraf sesungguhnnya menjadi suatu keharusan. Sam persis dalam sebuah kalimat harus memiiliki pesan pokok yang harus disampaikan, sebuah paragaraf juga mutlak memiliki ide utama atau ide pokok itu barulah akan dianggap  sebuah paragraf. Dengan demikian dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa sebuah paragraf harus mengemban ide atau ide utama.

  1. Ide utama dan kalimat utama paragraf

Sebuah pargraf harus memiliki ide utama atau ide pokok. Dapat dikatana demikian karena ide pokkok atau ide utama sebuah paragraf inilah yang akan menentukan wijud dari paragraf itu. Dalam sebuah paragraf tidak mungkin ada lebih dari satu ide pokok atau ide utama. Paragraf yang tidak memiliki ide pokok tidak dapat dianggap sebagai sebuah paragraf bentuk kebahasaan itu hanya merupakan untaian yang konstruktif atau bentuknya menyerupai paragraf. Jadi sebuah paragraf itu mutlak harusmemiliki ide pokok . Lazimnya, sebuah gagasan utama atau pikiran utama atau ide pokok dalam paragraf dikemas dalam sebuah kalimat. Kalimat yng mmengandung ide pokok atau ide utama atau  fikiran utama paragraf itulah yang disebut dengan kalimat utama atau kalimat pokok.

Jadi, kalimat  utama atau kalimat pokok paragraf itu harus berisi ide utama dari paragraf yang bersangkutan, contoh ; misalnya ide pokok paragraf yang berbunyi, ‘lambatnya penelitian’ maka ide pararaf itu dapat dikemas menjadi sebuah kalimat utama yang berbunyi, ‘lambatnya penelitian di indonesia disebabkan oleh   rendahnya insentif bagi para peneliti.’

  1. Kalimat utama di awal paragraf

Kemungkinan posisi kalimat utama yang pertama adalah diawal kalimat, maka perincian dan jabaran kalimat utama akan menyertainya pada kalimat-kalimat berikutnya . Biasanya kalimat-kalimat yang mennyertai kalimat utama yang berada di awal paragraf itu akan berupa perincian-perincian, contoh-contoh, keterangan-keterangan, deskripsi dan/atau analisis.

Alur pikiran yang lazim diterapkan dalam paragraf dengan kalimat utama yang berada di awal paragraf adalah alur pikir deduktif. Jadi, penalaran deduktif berkaitan dengan penyusunan paragraf adalah penalaran dengan model umum-khusus. Maksudnya, kita berangkat dari sesuatu yang sifatnya umum dulu, lalu diteruskan dengan perincian-perincian yang sifatnya khusus dan mendetail.

  1. Kalimat utama di akhir paragraf

Kalimat pokok yang tempatnya di akhir paragraf terlebih dahulu diawali dengan kalimat-kalimat penjelas. Yang dapat berupa perincian-perincian, analisis dan deskripsi, contoh- contoh dan sejumlah pemaparan serta argumentasi. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kalimat topik yang berada di akhir paragraf itu fungsinya yang paling utama adalah untuk menyimpulkan yang lazimnya berupa sebuah generalisasi yang merupakan intisari dari paparan-paparan dan perincian-perincian yang sudah disampaikan sebelumnya.

  1. Kalimat utma di dalam paragraf

Kalimat utama juga mungkin terdapat di dalam paragraf yakni diengah paragraf. Paragraf jenis ini ada yang menyebutnya sebagai paragraf ineratif. Pada model ini, kalimat utama yang terletah di tengah diibaratkan sebagi puncak, kalimat-kalimat yang berada di awal dikatakan sebagai awal-awal manuju puncak, sedangkan kalimat-kalimat yang berada setelah kalimat utama itu merupakan kalimat penjelas, derajatnya semakin melemah.

  1. Kalimat utama di awal dan di akhir paragraf

Kalimat utama yang berada di awal dan di akhir paragarf adalah kalimat utama yang merupakan pengulangan dari kalimat utama yang pertama, dengan demikian maka kalimat utama paragraf itu menjadi lebih jelas. Bila di kaitkan dengan alur pikir, paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal disebut deduktif, kalimat yang terletak di akhir disebut induktif, dengan demikian paragarf yang kalimat utamanya berada diawal dan diakhir paragraf disebut paragraf yang beralur pikir abduktif.

  1. Kalimat utama tersirat

Adakalanya pula, sebuah paragaraf dalam bahasa indonesia itu secara kasat mata menunjukan kalimat utamanya. Akan tetapi, harus tetap dicatat bahwa rumusan kalimat utama itu sesungguhnya berada di balik paragraf itu. Di dalam narasi yang mengutamakan urutan waktu atau di dalam deskripsi yang mengutamakan urutan spesial, lazimnya banyak ditemukan jenis paragraf yang demikian itu.

  1. Kalimat penjelas

Unsur penting kedua dalam sebuah paragraf adalah kalimat penjelas (support sentences). Dikatakan sebagai kalimat penjelas kalrena tugas dari kalimat itu menjabarkan dan menjelaskan lebih lanjut dari ide pokok dan kalimat utama yang terdapat dalam paragraf itu.

  1. Kalimat penjelas mayor (major support sentences)

Adalah kalimat penjelas utama yang bertugas menjelaskan seccara langsung ide pokok dan kalimat utama yang terdapat dalam paragraf itu.

  1. Kalimat penjelas minor

Adalah kalimat penjelas yang tidak secara langsung menjelaskan ide pokok dan kalimat utama paragraf. Akan tetapi, kalimat penjelas minor menjelaskan kalimat penjelas mayor secara langsung.

  1. Kalimat penegas

Kehadiran kalimat penegas didalam sebuah paragraf  bersifat tentatif, bersifat mana suka. Bilamana memang dirasakan perlu maka silahkan dihadirkan dalam paragraf tersebut.

  1. Unsur-unsur pengait paragraf

Berikut adalah konjungsi yang dapat diperankan sebagai pengait paragraf, yaitu:

  • Pengait berupa konjungsi intrakalimat
  • Pengait berupa konjungsi antarkalimat
  • Pengait berupa konjungsi korelatif
  • Pengait berupa preposisi
  • Pengait dengan teknik pengacuan
  • Pengait yang memerantikan kalimat

[1] Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Tahun 2006.Hal.301

[2] Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Tahun 2006.Hal.302

[3] Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Tahun 2006.Hal.303

[4] Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Tahun 2006.Hal.324

Penulis: hidayatullahahmad

Sekedar berbagi dengan apa yang telah didapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s