Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Makalah’ Category

Al-Jarh Wa Ta’dil


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Al-Jarh Wa Ta’dil
Al-jarh menurut bahasa merupakan bentuk masdar dari jaraha-yajrahu, yang berarti “seseorang membuat luka pada tubuh orang lain yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu”. Dikatakan juga dengan hakim atau yang lain melontarkan sesuatu yang menjatuhkan sifat adil saksi, berupa kedustaan dan sebagainya.
Sedangkan menurut istilah ahli hadis adalah:
ظُهُوْرُصِفَةُفِى الرَّوِى يُفْسِدُعَدَ الَةِ اَوْحِيْلَ يُفْطِه وَ طَبَتُهُ مَا يُتَرَتِبُ عَا سُقُوُ طِ رِ وَ ا يَتِهِ اَوْ طَعْفُهَا وُ رُدَ هَا
Tampak suatu sifat pada perawi yang merusakkan keadilannya, hafalannya, karena gugurlah riwayatnya atau dipandang lemah (‘Ajaj al-khatib,1989: 260).
Di samping istilah tersebut, ada juga yang dinamakan dengan tarijh.
Tarijh menurut bahasa, berarti tsaqiq (melakukan) atau ta’jib (menggalibkan) (Idris Marbawi, tt : 324). Sedangkan menurut istilah ahli hadis , tarijh ialah :
وَصِفَةِ الرَّ ا وِ ى بِصِفا تِ تَقْضِى تضْعِيْف رِ وَبَتِهِ اَ وْ عَدَ مِ قيو لما
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menyebabkan lemah riwayatnya atau tidak diterima riwayatnya .(Ibid, 1981: 204).
Atau dengan perkataan lain tarjih adalah :
اِظْهَا رُ عَيْبُ يُرَ وِ يَهُ ا لرِ وَ ا يَةِ
Menempatkan suatu sifat cacat, yang karenanya ditolak riwayatnya (Hasbi,1981: 204).
Pengertian ta’dil dalam masalah periwayatan, dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :
1. Ta’dil dalam arti al- Tawsiyah (menyamakan) (Al-Munjid,491).
2. Ta’dil menurut istilah ahli hadis adalah :
وَ صفَةُ ا لرَّ ا وِ ى بِصِفَا تِ نَزْ كِيْهِ فَيُطَهِّرُ عَدَ ا لَةِ وَ نُقْبَلُ خَي هُ
Menafsirkan para perawi dengan sifat-sifat yang menetapkan kebersihannnya, maka tampaklah keadilannya, dan diterima riwayatnya. (Hasbi, 1981:205)

Sedangkan ‘urfuahli hadis memberikan batasan tentang pengertian ta’dil dengan:
ا لاِ عْتِرَ ا وِ بِعَدَ ا لَةِ ا لرَ ا وِ ى وَ طَبْطِهِ وَ ثِقَتِهِ
Mengakui keadilan seseorang ke- dhibit-annya dan kepercayaannya. (Hasbi, 1981 : 204)

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ilmu jarh wa al-ta’dil adalah sebagai berikut :
ا لعِلْمُ الَّذِ ى جُب فِى اَحْوَ ا لِ وَ ا هْ مِنْ قَبْلِ رِ وَ ا يَتِهِمْ
Ilmu yang mempelajari keadaan para perawi dari segi diterima atau ditolaknya riwayatannya. (Faturrahman,1907:204)

B. Pertumbuhan Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil
Ilmu Al-Jarh Wa Al Ta’dil tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan hadis dalam islam, karena untuk mengetahui hadis yang shahih dan keadaan para perawinya, sehingga dengan ilmu ini memungkinkan menetapkan kebenaran seorang perawi atau kedustaannya sampai mereka bisa membedakan antara yang diterima dan yang ditolak (maqbul dan mardud).Karena itu para ulama menanyakan pertama kali tentang keadaan para perawi, meneliti kehidupannya, dan mengetahui segala keadaan mereka, setiap yang lebih hapal, lebih kuat ingatannya dan lebih lama menyertai gurunya.
Demikianlah ilmu ini tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan, untuk menentukan bobot dan kualitas daripada suatu hadis. Sejak dahulu para ulama menerangkan tentang cacat atau tidaknya seorang perawi hadis sehingga membuka tabir kegelapan dalam menetukan nilai atau kualitas hadis bagi ulama berikutnya.

C. Pensyariatan Jarh Wa Ta’dil
Para ulama menganjurkan untuk melakukan Jarh dan Ta’dil. Dan tidak menganggap hal itu sebagai perbuatan ghibah yang terlarang berdasarkan dalil-dalil berikut ini, antara lain:
a. Sabda Rasulullah Saw. Kepada seorang laki-laki
“(Dia) itu seburuk-buruknya saudara di tangah-tengah keluarga-nya”.
b. Sabda Rasulullah Saw. Kepada Fatimah binti Qaisyang menanyakan tentang Muawiyah bin Abi Al-Jahm yang tengah melamarnya,
“Adapun Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (suka memukul), sedangkan Muawiyah seorang miskin tidak mempunyai harta.” (HR. Muslim)

seseorang, namun menunjukan dibolehkannya mencela kepada orang-orang yang lemah guna menjelaskan kelemahan mereka, dan menampakan cela dalam perkara yang berkenaan dengan halal dan haram-yaitu hadis-lebih utama daripada menjelaskan cela dalam konteks memberi saran tertentu.
Dan dalam ta’dil Rasulullah Saw. bersabda :
“sebaik-baiknya hamba Allah Khalid bin Walid, salah satu pedang diantara pedang-pedang Allah.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dan oleh sebab itu, para ulama membolehkan Jarh Wa Ta’dil guna menjaga syariat/agama ini, bukan untuk mencela manusia. Dan sebagaiman adibolehkan jarh dalam persaksian, maka pada perawipun juga dibolehkan, bahkan memperteguh dan mencari kebenaran dalam masalah agama lebih utama daripada masalah hak dan harta.
Faidah mengetahui ilmu Jarh Wa Ta’dil ialah menetapkan apakah periwayatan seorang rawi dapat diterima atau ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi dijarh oleh para ahli sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya harus ditolak dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil, niscaya periwayatannya diterima, selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist dipenuhi.

D. Jalan Mengetahui Keadilan dan Kecacatan Perawi dan Masalahnya
Menta’dilkan (menganggap adil seorang perawi) adalah memuji perawi dengan sifat-sifat yang membawa ke’adalahannya, yakni sifat-sifat yang dijadikan dasar penerimaan riwayat.
Keadilan seorang perawi itu dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketetapan berikut :
a. Dengan kepopulerannya dikalangan para ahli ilmu bahwa dia terkenal sebagai seorang yang adil. Seperti ketenarannya sebagai orang yang adil dikalangan para ahli ilmu bagi Anas ibn Malik, Sufyan Ats-Tsaury, Syu’bah ibn AL-Hajjaj, As-Syafi’i, Ahmad dan lain sebagainya. Oleh karena mereka sudah terkenal sebagai orang adil dikalangan para ahli ilmu, maka mereka tidak perlu lagi untuk diperbincangkan keadilannya.
b. Dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah). Yakni ditetapkan sebagai perawi yang adil oleh orang yang adil, yang semula perawi yang dita’dilkan itu belum dikenal sebagai perawi yang adil.

Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah dapat dilakukan oleh :
1. Seorang rawi yang adil. Jadi tidak perlu dikaitkan dengan banyaknya orang yang menta’dilkan. Sebab jumlah itu tidak menjadi syarat untuk penerimaan riwayat (hadist). Oleh karena itu jumlah tersebut tidak menjadi syarat pula untuk menta’dilkan seorang rawi. Demikian menurut pendapat kebanyakan muhadditsin. Berlainan dengan pendapat para fuqaha’ yang mengsyaratkan sekurang-kurangnya dua orang dalam mentazkiyahkan seorang rawi.
2. Setiap orang yang dapat diterima periwatannya, baik ia laki-laki maupun perempuan dan baik orang yang merdeka maupun budak, selama ia mengetahui sebab-sebab yang dapat mengadilkannya.

Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan:
1. Berdasarkan berita tentang ketenaran seorang perawi dalam keaibannya. Seorang perawi yang sudah dikenal sebagai orang yang fasiq atau pendusta dikalangan masyarakat, tidak perlu lagi dipersoalkan. Cukuplah ketenaran itu sebagai jalan untuk menetapkan kecacatannya.
2. Berdasarkan pentajrihan dari seorang yang adil yang telah mengetahui sebab-sebabnya dia cacat. Demikian ketetapan yang dipegangi oleh para muhadditsin. Sedangkan menurut fuqaha’ , sekurang-kurangnya harus ditajrih oleh dua orang laki-laki yang adil.

Adapun syarat-syarat bagi oarang yang menta’dilkan dan mentajrihkan yaitu:
1) Berilmu pengetahuan
2) Taqwa
3) Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat, dan dosa-dosa kecil dan makruhat/yang dibenci)
4) Jujur
5) Menjauhi fanatik golongan
6) Mengetahui sebab-sebab untuk menta’dilkan dan mentajrihkan.

Jumlah yang dipandang cukup menta’dilkan dan mentajrihkan perawi pun diperselisihkan:
a) Minimal dua orang, baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. Demikianlah pendapat kebanyakan fuqaha’Madinah dan lainnya.
b) Cukup seorang saja dan soal riwayah bukan dalam soal syahadah. Dikarenakan bilangan itu tidak menjadi syarat dalam penerimaan hadist, mka tidak pula disyaratkan dalam menta’dilkan dan mentajrihkan perawi.
c) Cukup seorang saja, baik dalam soal riwayah maupun dalam soal syahadah.

E. Sifat-Sifat yang Menyebabkan Seorang Perawi Dinilai Jarh
Seorang perawi hadis dapat diterima periwayatannya manakala terdapat suatu sifat atau beberapa sifat yang dapat menggugurkan keadilannya, yang akibatnya tidak dapat diterima periwayatannya. Sifat-sifat tersebut antara lain :
1. Dusta
Yang dimaksud dengan dusta dalam hal ini ialah bahwa orang itu pernah berbuat dusta terhadap sesuatu atau beberapa hadis. Dalam pengertian, seorang perawi berbuat dusta terhadap Rasulullah SAW, seperti membuat hadis palsu, pernah menjadi saksi palsu, kecuali ia sudah tobat.
Menetapkan kepalsuan suatu hadis yang diriwayatkan oleh orang yang pernah berbuat dusta adalah berdasarkan keyakinan yang kuat, bukan atas dasar sangkaan, sehingga mungkin suatu saat ia berbuat dusta dan dalam keadaan lain ia berkata sebenarnya. Dalam masalah ini ulama berpendapat menurut Imam Ahmad dan Abu Bakar al-Humaidi, guru Imam al-Bukhari, riwayatnya tidak dapat diterima meski ia sudah bertobat. Pendapat ini dikutip oleh Mudhaafar al Sam’any, sedangkan al Nawawi me-nasakh-kan atau menerima riwayatnya apabila ia betul telah bertobat.

2. Tertuduh Berbuat Dusta
Yang dimaksud dengan tertuduh dengan berbuat dusta adalah seorang perawi sudah tenar dikalangan masyarakat sebagai orang berdusta. Periwayatan orang yang tertuduh dusta dapat diterima apabila ia betul-betul telah bartaubat sehingga masyarakat tidak lagi menuduh pendusta.

3. Fasik (melanggar ketentuan syarak)
Yang dimaksud fasik disini ialah fasik dalam perbuatan yang tampak secara lahiriah, bukan dalam hal I’tiqiyah, nama tetap periwayatannya ditolak, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah (Q.S Al-Hujarat : 7)

•

“dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (Q.S Al-Hujarat :7)

4. Jahalah
Yang dimaksud dengan Jahalah adalah perawi hadis itu tidak diketahui kepribadiannya, apakah ia seorang yang atau tercacat (jarih). Dengan tidak diketahuinya itu, menjadi alasan untuk tidak diterima riwayatnya, kecuali dari golongan sahabat atau orang yang disebut dengan lafal yang menyebutkan atau menunjukkan kepada kepercayaaan, seperti dengan lafal hadatsan, tsiqan, atau akhbarnya ‘adlun dan sebagainya.

5. Ahli Bid’ah
Yang dimaksud dengan ahli Bid’ah yaitu perawi yang tergolong melakukan bid’ah dalam hal I’tikad yang menyebabakan ia kufur, maka riwayatnya ditolak.
6. Hukum MenJarh Seorang Perawi
An-Nawawi Muqaddimah Sahih Muslim mengatakan bahwa ulama telah sepakat membolehkan seseorang untuk mencacat (menjarh) orang lain. Hal ini didasarkan karena memelihara agama sehingga terhindar dari ketidakbenaran dalam menentukan kualitas suatu hadis (Muslim jil.I), mencacat ataumenjarh seperti ini tidaklah termasuk mengumpat atau mencela orang lain, melainkan dianggap sebagai nasihat yang harus diterima dengan lapang dada dan sesuatu yang kita lakukan demi kepentingan agama.
Martabat jarh dan ta’dil serta lafal-lafal yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Dengan kata yang menunjukkan tercelanya seorang perawi yakni mensifati perawidengan suatu sifat yang menunjukkan sifat yang sangat dusta atau menuduh memalsukan suatu hadis, misalnya dengan ungkapan berikut :
– ‘si fulan orang yang paling dusta.” (فلا ن ا كتن لفا س)
– “si fulan yang paling banyak membuat atau memalsukan hadis.”
(فلا ن ا وضع الفاس)
– “Dia tiang tonggak dusta” (هو ر كن ا لد دب)
– “Dias sumber Dusta” (هو ضع ا لد ب)
Dengan kata-kata sebagai berikut :
– Dia dajjal atau perusak
– Dia orang yang banyak memalsukan hadis.
– Dia orang yang sangat dusta.

b. Me-nafsihi perawi dengan salah satusifat dusta dan memalsukan hadis, tetapi tidak terlalu menekankan atau bersifat dengan yang agak kurang atau ringan keburukannya dari dusta dan memalsukan hadis, misalnya :
– Fulan tertuduh berdusta.(فلا ن منهم با لكد ا ب)
– Fulan memalsukan hadis (فلا ن منهم با لو ضع)
– Fulan seorang yang gugur (فلا ن سا قط )

c. Memakai dengan sebutan sebagai berikut
– Fulan membuang hadisnya (فلا ن القو ا حد يثه)
– Fulan dhaif sekali (فلا ن ضعيف جدا)
– Fulan orang yang ditolak (فلا ن ر دا)
-
d. Memakai sebutan-sebutan sebagai berikut
– Fulan tidak diambil hujjah-nya (فلا ن لا يحفج به)
– Fulan munkirul hadis (فلا ن منكر الحد يث)
– Fulan melemahkannya (فلا نضعفو ه)

e. Menggunakan kata-kata sebagai berikut
– Fulan dilemahkan (فلا ن فيه ضعيف)
– Fulan pada hadisnya ada kelemahan (فلا ن فى حيثة ضعف)
– Fulan padanya ada cacat (فلا ن فيه مقا ل)
Sebagai mana pada jarh, maka dalam ta’dil pun terdapat martabat pada lafal-lafal yang digunakan dalam menilai seseorang perawi hadis. Untuk menentukan martabat dalam ta’dil, para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan ada empat (pendapat Ibnu Abi Hatim, Ibnu Soleh, Nawawi), sedangkan Adz Dzahabi dan Iraq mengatakan ada lima martabat dan menurut pendapat al- Hafidh Ibnu Hajar adalah sebagai berikut :
a. Tiap-tiap ibarat yang masuk pada fi’il tafdil serta menyerupai fi”il tafdil, yang menunjukkan pada mubaligh, seperti lafal :
– fulan orang yang dipercaya
– fulan orang yang paling kuat hafalannya
– kepadanyalah segala kesudahan

b. tiap ibarat yang menunnjukkan derajat para perawi dengan mengulangi lafal yang menunjukan keadilan dua kali atau lebih, misalnya lafal
– kepercayaan-kepercayaan.
– Kepercayaan, kuat hafalan.

c. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi, dengan suatu lafal yang berarti pengertian bahwa perawi itu, kekuatannya seperti ungkapan berikut :
– Fulan orang yang teguh hati dan ibadah
– Fulan teguh hati dan baik riwayatnya
– Fulan orang teguh hati hafalannya

d. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan suatu lafal yang tidak memberi pengertian bahwa ia adalah orang yang kuat ingatannya, misalnya perkataan sebagai berikut :
– Fulan orang yang sangat benar .(فلا ن صد و ق)
– Fulan boleh dipegang perkataannya.(فلا ن ما مو ن)
– fulan boleh tidak ada cacat padanya

e. Ibarat yang menunjukkan kepada derajat perawi dengan sifat yang memberi pengertian, bahwa ia kuat ingatan dan amanahnya. Misalnya sebagai berikut :
– Fulan adalah orang yang dapat dipandang benar (فلا ن محله الاصد ق)
– Fulan orang yang suka pertengkaran.(فلا ن وسط )
– Fulan orang yang pertengahan dan syekh. (فلا ن و سط شيخ)

Read Full Post »

Hadis Maudhu’


BAB : II
PEMBAHASAN

Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam yang mengandung ayat-ayat yang bersifat mujmal, mutlak dan ‘am. Oleh karenanya kehadiran hadis berfungsi untuk “tabay’in wa taudhih terhadap ayat-ayat tersebut. Tanpa kehadiran hadis umat Islam tidak akan mampu menangkap dan merealisasikan hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Qur’an secara mendalam. Ini menunjukkan hadis menduduki posisi penting dalam literatur sumber hukum Islam.
Sungguh pun hadis mempunyai fungsi dan kedudukan begitu besar, namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang secara resmi telah ditulis pada zaman nabi dan dibukukan pada masa khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq. Hadis baru di tulis dan di bukukan pada masa kekhalifahan Umar ‘ibn ‘Abd Al-Aziz (abad ke-2 H) melalui perintahnya kepada Gubernur Abu BAkar Muhammad bin ‘Amr bin hazm dan bahkan kepada tani’in wanita Amrah binti Abd Al-Rahman.
Kesenjangan waktu antara sepeninggal rasulullah SAW dengan waktu pembukuan hadis (hampir 1 abad) merupakan kesempatan yang baik bagi orang-orag atau kelompok tertentu untuk memulai aksinya membuat dan mengatakan sesuatu yang kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Dengan alasan yang di buat-buat. Penisbatan sesuatu kepada Rasulullah SAW.seperti inilah yang selanjutnyaa dikenal dengaan hadis palsu atau hadis maudhu’.
Hadis maudhu’ ini sebenarnya tidak pantas untuk disebut sebagai sebuah hadis, karena ia sudah jelas bukan sebuah hadis yang bisa disandarkan pada Nabi SAW. Lain halnya dengan hadis dha’if yang diperkirakan masih ada kemungkinan ittishal pada nabi. Hadis maudhu ini berbeda dengan hadis dha’if. Hadis maudhu sudah ada kejelasan akan kepalsuannya sementara hadis dha’if belum jelas, hanya samar-samar. Sehingga karena kesamarannya, hadis tersebut disebut dengan dha’if. Tapi ada juga yang memasukkan pembahasan hadis maudhu’ ini ke dalam bahasan hadis Dha’if.
A. Pengertian hadis Maudhu’
Hadis Maudhu’ adalah hadist yang di buat-buat atau diciptakan atau didustakan atas nama Nabi. Menurut Ahmad Amin hadis maudhu’ sudah ada sejak masa Rasulullah.

Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah tempatnya di neraka (HR. Bukhari).
Ulama hadis lain berpendapat bahwa munculnya hadis maudhu adalah pada tahun 40 H, pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertikaian politik.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa hadis maudhu itu sebetulnya bukan hadis yang bersumber dari rasul atau dengan kata lain bukan dari hadis Rasul, paling tidak sebagian hanya saja disandarkan kepada Rasul.
B. Munculnya hadis maudhu’ dan faktor penyebab munculnya hadist maudhu’
1. Awal mula munculnya hadis maudhu’
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai terjadinya pemalsuaan hadist. Berikut ini akan dikemukakan pendapat mereka yakni :
a. Menurut Ahmad Amin bahwa hadis maudhu’ terjadi sejak masa Rasulullah masih hidup. Alasan yang dijadikan argumentasi adalah sabda Rasulullah.

Meurut hadis tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan pada zaman Rasulullah telah terjadi pemalsuan hadis. Alasan yang dikemukakan oleh Ahmad Amin sebetulnya hanya merupakan dugaan yang tersirat dalam hadis tersebut, sebab dia tidak memiliki alasan historis dan tidak pula tercantum alam kitab-kitab standart yag berkaitan dengan asbab al-wurud.
b. Salah al-Din al-Dlabi mengatakan bahwa pemalsuan hadis berkenaan dengan masalah keduniaan telah terjadi pada masa Rsulullah. Alasan yag dia kemukakan adalah hadis riwayat at-Thahawi dan at-Thabrani.
c. Menurut jumhur al-Muhaddisin bahwa pemalsuan hadis itu terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, mereka beralasan bahwa keadaan hadis sejak zaman Nabi hingga sebelum terjadinya pertentangan antara ‘Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan masih terhindar dari pemalsuan-pemalsuan.
2. Faktor penyebab munculnya hadis Maudhu’
Berdasarkan data sejarah yang ada, pemalsuan hadis tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam akan tetaapi juga dilakukana oleh orang-orang non- muslim. Ada beberapa motif yang mendorong mereka membuat hadis palsu, diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Pertentangan politik
Perpecahan umat Islam yang diakibatkan politik yang terjadi pada kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib besar sekali pengaruhnya terhadap pemunculan hadis-hadis palsu. Masing-masing golongan berusaha mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang tertentu. Dari akibat perpecahan politik ini yang pertama-tama membuat hadis palsu ini adalah dari golongan Syi’ah hal ini disampaikan oleh Ibnu Abi al-Hadid.
2. Usaha kaum zindiq, yaitu golongan yang beusaha merusak Islam dari dalam, seperti dilakukan oleh Abdul karim Ibn al-Auja’ yang mengaku telah membuat 4000 hadis palsu.
3. Sikap fanatik terhadap suku dan bangsa (ashabiyah).
4. Perselisihan dalam fiqih dan ilmu kalam.
Munculnya hadis-hadis palsu dalam masalah fiqih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut mazhab. Mereka berani melakukan pemalsuan hadis karena didorong sifat fanatik dan ingin menguatkan mazhabnya masing-masing.
Di antara hadis-hadis palsu tentang masalah ini, yaitu siapa yang mengangkat kedua tangannya ketika dalam shalat, maka shalatnya tidak sah.
5. Membangkitkan Gairah beribadat, tanpa mengerti apa yang dilakukan.
Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan dan bahkan mengira usahanya itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dan menjunjung tinggi agamanya. Mereka mengatakan “kami berdosa semata-mata untuk menjunjung tinggi nama Rasulullah dan bukan sebaliknya”. Nuh bin Abi maryam telah membuat hadis berkenaan dengan fadilah membaca surat-surat tertentu dalam al-Qur’an.
6. Menjilat penguasa
Seperti yang dilakukan Ghiyats bin Ibrahim pada masa pemerintahan al-Mahdi. Dia menambahkan perkataanya sendiri dalam hadis nabi hanya untuk menyenangkan khalifah.
C. Usaha penyelamatan hadis maudhu’
1. Menyusun kaidah penelitian hadis, khususnya kaidah tentang kesahihan sanadnya.
2. Menyusun kitab-kitab yang memuat tentang hadis maudu’ antara lain: al-Maudhu’ al-Kubra yang disusun oleh Abu al-Fajri.
D. Kaidah-kaidah untuk mengetahui hadis maudhu’
1. Atas dasar pengakuan para pembuat hadis palsu, sebagaimana pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia telah membuat hadis tentang fadilah membaca al-Quran, surat demi surat, Ghoyas bin Ibrahim dan lain-lain.
2. Ma’nanya rusak. Ibnu Hajar menerangkan bahwa kejelasan lafadz ini dititik beratkan pada kerusakan arti, sebab dalam sejarah tercatat “periwayatan hadis tidak mesti bi al-lafdzi akan tetapi ada yang bi al-ma’na, terkecuali bila dikatakan bahwa lafadznya dari Nabi, baru dikatakan hadis palsu. Contoh hadis maudhu’ tentang masalah ini antara lain:

3. Matannya bertentangan dengan akal atau kenyataan, bertentangan dengan al-Quran atau hadis yang lebih kuat, atau ijma’. Seperti hadis yang menyebutkan bahwa umur dunia 7000 tahun. Hadis ini bertentangan dengan al-Quran surat al-A’raf ayat 187, yang intinyabahwa umur dunia hanya ketahui oleh Allah.
4. Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil. Seperti hadis yang menyatakan bahwa anak hasil perzinahan tidak masuk surge hingga tujuh turunan. Ini menyalahi al-Quran surat al-An’am ayat 164 yang menyatakan bahwa Tidaklah seseorang (yang bersalah) memikul dosa orang lain.
5. Perawinya dikenal seorang pendusta.
Untuk menyelamatkan hadis Nabi di tengah-tengah gencarnya pembuatan hadis palsu, Ulama hadis menyusun berbagai kaidah penelitian hadis. Tujuan penyusunan kaidah-kaidah tersebut untuk mengetahui keadaan matan hadis. Dan untuk kepentingan penyusunan matan hadis tersebut, disusunlah kaidah kesahihan sanad hadis. bersamaan dengan ini muncullah berbagai macam ilmu hadis. Khusus ilmu hadis yang dikaitkan dengan penelitian sanad hadis, antara lain ialah ilmu rijal al-hadis dan ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil.
Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis, di samping telah dibukukannya hadis, mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu sangat sempit. Selain itu, hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. Dengan menggunakan berbagai kaidah dan ilmu hadis itu, Ulama telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu dalam kitab-kitab khusus.

Read Full Post »

Ingkar Sunah


1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ingkar Sunah
1. Pengertian Ingkar
Kata ingkar sunah terdiri atas dua kata, yaitu ingkar dan sunah. Menurut Ahmad Warson Munawir (1984-1569), kata ingkar berasal dari ankara-yunkiru-inkaaran, yang berararti sulit, tidak menagkui, atau mengingkari. Anton Maulana Muhammad (1088-379) memberikan definisi ingkar sebagai berikut: ingkar berarti menyangkal, tidak membenarkan, tidak mengakui, mungkar dan tidak menepati. Contoh : ia berusaha membela diri dengan mengingkari tuduhan yang diberikan kepadanya. Mengingkari dalam pengertian diatas, berarti tidak mengakui (menyangkal).1
2. Pengertian as-sunnah
As-Sunnah adalah penjelas dan penerang bagi Al-Qur‟an, “As-Sunnah dari sisi makna kembali kepada Al-Qur‟an, karena sunnah merupakan perincian dan penjelasan ringkas dari Al-Qur‟an.
Ibnu Taimiyah berkata, “Jika seseorang bertanya apa metode tafsir terbaik ? maka jawabannya adalah metode paling shahih dalam hal ini adalah menafsirkan Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an. Namun jika tidak memungkinkan maka tafsirkan Al-Qur‟an dengan As-Sunnah. Karena As-Sunnah adalah penjelas bagi Al-Qur‟an.2
Menurut bahasa, seperti dikemukakan oleh Ahmad Wardson Munawwir, yaitu sebagai berikut:
a. As-Sunnah dengan makna jalan
b. As-Sunnah dengan makna tabi‟at atau watak
c. As-Sunnah dengan makna al-hadis
Masyfuk Zuhdi memberikan ta’rif as-snnah menurut bahasa, yaitu “jalan yang ditempuh”. Hal ini sebagaimana dalam sabda Nabi saw.:
Artinya: “Barang siapa yang mempelopori mengerjakan suatu pekerjaan yang baik, maka baginya mendapat pahala atas perbuatan itu dan menerima pahala
1 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.141
2 Ali Muhammad Ash-Shallabi, Perjalanan Hidup Khalifah yang Agung Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, Jakarta: Darul Haq, 2010, h.366
2
orang-orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat. Dan barang siapa mempelopori mengerjakan suatu perbuatan yang jahat, maka ia berdosa atas perbuatannya itu dan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim, Masyfuk Zuhdi, 993:13)
Menurut ahli hadis, sunnah adalah sabda, pekerjaan, ketetapan, sifat atau tingkah laku Nabi saw., baik sebelum menjadi maupun sesudahnya.
Menurut ahli-ahli ushul-fiqh, sunnah adalah sabda Nabi saw., yang bukan berasal dari Al-Qur‟an, pekerjaan atau ketetapannya. Masyfuk Zuhdi memberikan definisi As-sunah menurut istilah, yaitu sebagai berikut:3
مَا نَقَلَ عَنِ النَّبِى صَلَّى اللََُّّ عَلَيْوِ وَسَ لّمّ مِنْ قّوْلٍ اَوْ فِعْلٍ اَوْ تَقْرِيْرٍ اّوْ غَيْرُ ذَلِكَ
sunnah ialah yang dinukilkan dari Nabi saw., baik berupa perkataan, perbuatan, takrirnya atau selain itu.
Jadi, yang dimaksud dengan ingkar sunnah adalah orang-orang yang tidak mengakui (mengingkari) akan keberadaan as-sunnah atau al-hadis sebagai sumber hukum dalam islam.4
B. Argumentasi Kelompok Ingkar Sunnah
M. Syuhudi Ismail, mengemukakan bahwa memang cukup banyak argumen yang telah dikemukakan oleh para pengingkar sunnah, baik oleh mereka yang hidup pada zaman imam syafi‟i maupun oleh orang yang hidup pada zaman sesudahnya. Dari berbagai argumentasi yang jumlahnya banyak itu, ada berupa argumen-argumen naqli (Al-Qur‟an dan Al-Hadis) dan ada yang berupa argumen-argumen non-naqli.
a. Argumen-argumen Naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen naqli ialah alasan pengingkar sunnah yang menggunakan dalil, baik dari Al-Qur‟an maupun dari hadis Nabi.
Argumen dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang mereka gunakan, antara lain sebagai berikut:
3 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.141-142
4 Ibid, h.142
3
1. Q.S. An-Nahl ayat 89










Dan Kami turunkan kitab Al-Qur’an kepadamu untk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)5
2. Q.S. Al-An‟am ayat 38











Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan didalam kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.6
3. Hadis
مَا جَاءَعَنٌىِ فَ أعَْرِضُوه عَلَى كِتَبَ الٌلَّ فَمَا وَافَقَوُ فَأنََاقُلْتوُ Artinya: “Apa yang datang kepadamu dari saya, maka konfirmasikanlah dengan kitabullah, maka hal itu berarti aku telah mengatakannya, dan suatu yang menyalahi Al-Qur’an, berarti aku tidak mengatakannya”
Menurut pengingkar sunnah, dengan dua ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia telah menerangkan dan memerinci segala sesuatu sehingga tidak perlu keterangan lain seperti sunnah. Seandainya Al-Qur‟an belum lengkap, apa maksud dari ayat tersebut? Jika demikian, berarti Allah menyalahi pemberitaan-Nya sendiri. Hal ini sangatlah mustahil. Padahal menurut para ulama, kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur‟an mencakup segala sesuatu yang berkenaan dengan urusan agama, mencakup hukum-hukumnya dunia akhirat.7
b. Argumen-argumen non-naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen non-naqli ialah argumen-argumen yang tidak berupa Alquran dan hadis-hadis Nabi. Walaupun sebagian
5 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002, h.278
6 Ibid, h. 133
7 Badri Khaeruman, Ulum Hadis, cet.1, Bandung:Pustaka Setia, 2010, h. 203
4
argumen-argumen itu ada yang menyinggung sisi tertentu dari ayat Al-Qur‟an ataupun Al-Hadis, tetapi karena yang dibahasnya bukanlah ayat ataupun matan hadisnya secara khusus, maka argumen-argumen tersebut dimasukkan kedalam argumen-argumen non-naqli.
Diantara argumen non-naqli yang diungkapkan oleh pengingkar sunnah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Al-qur‟an diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad (melalui Malaikat Jibril) dalam bahasa arab. Orang-orang mengerti secara langsung, tanpa harus memerlukan penjelasan dari hadis Nabi. Dengan demikian, hadis Nabi tidak diperlukan untuk memahami petunjuk Al-Qur‟an.
2. Dalam sejarah, umat Islam telah mengalami kemunduran. Umat Islam mundur karena umat Islam terpecah-pecah. Perpecahan itu terjadi karena umat Islam berpegang kepada hadis Nabi. Jadi, menurut para pengingkar sunnah, hadis Nabi merupakan sumber kemunduran umat Islam. Agar umat Islam maju, maka umat Islam harus meninggalkan hadis Nabi.
3. Asal mula hadis Nabi yang dihimpun dalam kitab-kitab hadis adalah dongeng-dongeng semata. Dinyatakan demikian, karena hadis-hadis Nabi lahir setelah Nabi wafat.8
C. Perkembangan Ingkar Sunnah
Sebelumnya, pada masa sahabat sudah ada orang-orang yang kurang memperhatikan kedudukan sunnah, tetapi mereka masih bersifat perorangan. Kemudian, menjelang abad kedua, muncullah golongan yang mengingkari sunnah yang di-mutawatirkan-saja.
Ada beberapa golongan yang menyikapi sunnah Nabi secara universal, dan ada pula yang menolak hadis atau sunnah karena diriwayatkan oleh sahabat tertentu. Golongan yang pro dan kontra terhadap sunnah ialah golongan khawarij, golongan mu‟tajilah dan golongan syi‟ah.
1. Sikap khawarij terhadap sunnah
8 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.144
5
Kata khawarij merupakan bentuk jamak dari kata kharij yang berarti sesuatu yang keluar. Sementara menurut pengertian terminologis khawarij adalah kelompok atau golongan yang pertama keluar dan tidak loyal terhadap pimpinan yang sah.
Dan yang dimaksud dengan khawarij disini adalah golongan tertentu yang memisahkan diri dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib r.a. Ada sumber yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat sebelum terjadinya fitnah yang mengakibatkan terjadinya perang saudara. Yaitu perang jamal (antara sahabat Ali r.a dengan Aisyah) dan perang Siffin ( antara sahabat Ali r.a dengan Mu‟awiyah r.a). Dengan alasan bahwa sebelum kejadian tersebut para sahabat dinilai sebagai orang-orang yang „adil (muslim yang sudah akil-baligh, tidak suka berbuat maksiat, dan selalu menjaga martabatnya). Namun, sesudah kejadian fitnah tersebut, kelompok khawarij menilai mayoritas sahabat Nabi SAW sudah keluar dari islam. Akibatnya, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat setelah kejadian tersebut mereka tolak.9
Golongan khawarij memakai sunnah dan mempercayainya sebagai sumber hukum Islam, hanya saja ada sumber-sumber yang menyebutkan bahwa mereka menolak hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat tertentu, khususnya setelah peristiwa tahkim. As-siba‟i mengemukakan bahwa khawarij dengan berbagai kelompoknya yang berbeda itu, sebelum terjadinya perang saudara antara sahabat, menganggap semua sahabat Nabi dapat dipercaya, kemudian mereka mengkafirkan Ali, Utsman, para pengikut Perang Onta, dua orang utusan perdamaian (tahkim) dan orang-orang yang membenarkan salah seorang atau dua utusan perdamaian tadi.10
2. Sikap syi‟ah terhadap sunnah
Kata syiah berarti „para pengikut‟ atau para pendukung. Sementara menurut istilah ,syiah adalah golongan yang menganggap Ali bin Abi Thalib lebih utama daripada khalifah yang sebelumnya, dan berpendapat bahwa al-bhait lebih berhak menjadi khalifah daripada yang lain. Golongan syiah terdiri dari berbagai kelompok dan tiap kelompok menilai kelompok yang lain sudah keluar dari islam. Sementara kelompok yang masih eksis hingga sekarang
9 http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)
10Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia,2010, h.145
6
adalah kelompok Itsna „asyariyah. Kelompok ini menerima hadits nabawi sebagai salah satu syariat islam. Hanya saja ada perbedaan nmendasar antara kelompok syiah ini dengan golongan ahl sunnah (golongan mayoritas umat islam), yaitu dalam hal penetapan hadits. Golongan syiah menganggap bahwa sepeninggal Nabi SAW mayoritas para sahabat sudah murtad kecuali beberapa orang saja yang menurut menurut merekamasih tetap muslim. Karena itu, golongan syiah menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mayoritas para sahabat tersebut. Syiah hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahli baiat saja.
Sebagian besar golongan syi‟ah yang dimaksud disini adalah mereka yang masih berbeda dalam lingkungan Islam, mendiskualifikasikan (menganggap tidak cakap dan mampu) kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, serta umumnya para sahabat yang mengikuti mereka, Mu‟awiyah dan Amr ibn Ash, serta sahabat lain yang terlibat dalam perampasan kekhalifahan Ali. Lebih jauh, kaum syiah sesungguhnya mendiskualifikasikan umumnya para sahabat, kecuali beberapa orang yang dikenal kecintaannya kepada Ali. Mereka menolak sunnah umumnya dari sahabat, kecuali yang diturunkan oleh para pengikut Ali.11
3. Ingkar sunnah masa kini
Sesudah abad kedua Hijriyah, tidak ada catatan sejarah yang menyatakan kelompok muslim yang menolak hadis. Namun ketika negara-negara Barat menjajah negara Islam, mereka mulai menyebar benih-benih busuk untuk melumpuhkan kekuatan Islam. Pada saat itulah, di Irak muncul orang yang menolak as-sunnah, sedangkan di Mesir, hal itu muncul pada masa Muhammad Abduh mengatakan bahwa “ Umat Islam saat ini tidak mempunyai pemimpin lain, kecuali Al-Qur‟an. Islam yang benar adalah Islam tempo dulu, sebelum munculnya perpecahan dalam tubuh muslimin.12
D. Penyebab Ingkar Sunnah
Latar belakang yang menyebabkan ingkar sunnah adalah karena beberapa faktor, antara lain sebagai berikut :
1. Salah paham terhadap penafsiran Al-Qur‟an. Hal ini terlihat dalam memahami surat al-An‟am ayat 38
11 Ibid, h.145
12 Ibid, h.146
7






Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan didalam kitab13
Disamping adanya salah faham terhadap penafsiran surat al-An‟am tersebut, mereka (pengingkar sunnah) terlalu sempit dalam meneliti al-Qur‟an. Hal ini terbukti dengan adanya pemikiran yang terlalu parsial.
2. Faktor dari sebab-sebab adanya ingkar sunnah ialah terkait dengan adanya larangan Nabi.
3. Mereka (pengingkar sunnah) merasa angkuh dan gengsi. Karena pada prinsipnya para pengingkar sunnah tidak mengakui ayat lain atau hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu.14
E. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengingkar Sunnah
Imam Baihaqi, seperti yang dikemukakan oleh Jalaludin as Suyuti (1997;39) tentang penjelasan oleh sebagian orang yang bersikap menolak sunah Rasulullah, yaitu yang diriwayatkan oleh orang-orang hadisnya dinilai Dha’if. Maksudnya, dengan hadist tersebut untuk menolak sunnah Rasulullah dan terbatas hanya menerima al-Qur‟an saja.
Sebagaiman telah disinggung dalam pembahasan diatas, bahwa umat Islam sejak zaman Nabi saw. meyakini bahwa al-hadits merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Dasar utama dari keyakinan itu, menurut M. Syuhudi Ismail adalah berbagai petunjuk al-Qur‟an, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Al-Qur‟an Surat al-Hasyr ayat 7

















Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.
13 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002, h.133
14 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010, h.146-147
8
2. Al-Qur‟an Surat Ali-Imran ayat 32













Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.
3. Al-Qur‟an Surat Al-Nisa ayat 80







Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. 15
Berdasarkan dalil-dalil diatas, pengingkar sunnah termasuk sesat karena tidak sesuai dengan ajaran al-Qur‟an, dimana mereka tidak konsekuen dalam melaksanakan secara total dan menyeluruh, dan mereka tidak mengakui kebenaran As-Sunnah dan mereka juga membenci As-Sunnah, maka mereka bukan termasuk umat Nabi saw . Seperti sabda Nabi saw.:
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُ نَّ تِى ف لَ يسَ مِ نّى )متفق عليو(
Artinya : “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (Muttafaqun Alaih)16
F. Pandangan Orientalis tentang Hadis Sebagai Sumber Hukum
Menurut Joseph Schacht, tujuan Muhammad selaku Nabi bukanlah untuk membuat sistem hukum yang baru, tetapi sekedar mengajarkan manusia bagaimana harus bertindak agar selamat menghadapi perhitungan pada hari pembalasan dan agar masuk surga.
Menurut Anderson, bahwa Muhammad tidak berusaha menyelesaikan sistem hukum yang komprehensif, tetapi hanya melakukan sedikit amandemen terhadap hukum adat yang sudah ada.
Snouck Hurgronje juga menyatakan bahwa Muhammad sangat menyadari batapa kurang memenuhi syaratnya untuk menyelesaikan urusan dibidang hukum, kecuali kalau benar-benar mendesak. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh
15 Ibid, h.147-149
16 Muhammad Nashiruddin Albani, Takhrij Kitab Sunnah, Jak-Sel: Najla Press, Desember, 2003, h.43
9
E. Tyan bahwa jika seseorang melihat sepintas karya Muhammad, maka akan dengan mudah meyakini bahwa Muhammad tidak bermaksud untuk membuat hukum baru.
Beberapa pandangan diatas menunjukkan bahwa dimata para orientalis, Nabi Muhammad tidak memiliki kapasitas dan otoritas dalam menetapkan hukum. Mereka menolak adanya penetapan hukum yang sistematis dari Nabi, yang konsekuensinya pada penolakan sunnah sebagai sumber hukum islam. Kalaupun ada sunnah yang menjadi sumber hukum islam, maka hal itu bukan sesuatu yang berasal dari Nabi, tetapi berasal dari tradisi yang sudah ada danberkembang dalam masyarakat.
Terlebih lagi, para orientalis beranggapan bahwa Al-Qur‟an adalh perkataan Nabi Muhammad dan sunnah atau hadis adalah buatan para sahabat, tabi‟in, dan para ulama atau fuqaha. Mereka menganggap bahwa dasar hukum Islam diambil dari hukum-hukum gereja Timur. Bahkan merekamenuduh bahwa hukum Islam mengacu kepada hukum perundang-undangan Romawi.
Anggapan dasar para orientalis yang keliru tersebt, para ulama sangat jauh berbeda dengan pandangan dan keyakinan umat Islam bahwa Al-Qur‟an adalah wahyu dan firman Allah sedangkan hadis atau sunnah adalah perkataan, perbuatan atau persetujuan Nabi. Karena itu, pandangan orientalis bahwa hukum agama Islam itu mengacu pada hukum dan perundang-undangan Romawi atau diambil dari hukum gereja-gereja Timur, juga sangat bertentangan dengan pendapat seluruh ulama dan umat Islam. Bahwa hukum Islam bersumber dari Al-Qur‟an, Al-Hadis, Ijma‟ dan Qiyas.17
G. Kritik, Koreksi Terhadap Pandangan Orientalis dan Bantahan Para Ulama
Mengenai tuduhan mereka mengenai adanya larangan penulisan hadis oleh Nabi dan tidak adanya peninggalan tertulis, Shubhi al-Shalih mengatakan bahwa larangan penulisan tersebut disampaikan secara umum pada awal turunnya wahyu Al-Qur‟an karena Nabi khawatir hadis tercampur dengan Al-Qur‟an tetapi setelah sebagian besar Al-Qur‟an telah diturunkan, maka Nabi memberikan izin penulisan hadis secara umum kepada para sahabat.18 Abd Allah bin Mas‟ud berpendapat bahwa orang yang menghindari sunnah tidak termasuk orang beriman bahkan dia orang kafir. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, sebagai berikut: “Jika kamu
17 Idri, Studi Hadis, cet.1, Jakarta: Prenada Media Group, oktober 2010, h. 319-320
18 Ibid, h.321
10
bersembahyang di rumah-rumah kamu dan kamu tinggalkan masjid-masjid kamu, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan berarti kamu kufur.” (H.R. Abu Dawud :91). Allah SWT telah menetapkan untuk mentaati Rasul, dan tidak ada alasan dari siapa pun untuk menentang perintah yang diketahui berasal dari Rasul. Allah telah membuat semua manusia (beriman) merasa butuh kepadanya dalam segala persoalan agama dan memberikan bukti bahwa sunnah menjelaskan setiap makna dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah dalam kitabnya. Sunnah Rasul mempunyai tugas yang amat besar, yakni untuk memberikan pemahaman tentang Kitabullah, baik dari segi ayat maupun hukumnya. Orang yang ingin mempedalam pemahaman Al-Quran, ia harus mengetahui hal-hal yang ada dalam sunnah , baik dalam maknanya, penafsiran bentuknya, maupun dalam pelaksanaan hukum-hukumnya. Contoh yang paling baik dalam hal ini adalah masalah ibadah shalat. Tegasnya setiap bagian Sunnah Rasul SAW. Berfungsi menerangkan semua petunjuk maupun perintah yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran. Siapa saja yang bersedia menerima apa yang ditetapkan Al-Quran dengan sendirinya harus pula menerima petunjuk-petunjuk Rasul dalam Sunnahnya. Allah sendiri telah memerintahkan untuk selalu taat dan setia kepada keputusan Rasul. Barang siapa tunduk kepada Rasul berarti tunduk kepada Allah, karena Allah jugalah yang menyuruh untuk tunduk kepadaNya. Menerima perintah Allah dan Rasul sama nilainya, keduanya berpangkal kepada sumber yang sama (yaitu Allah SWT). Dengan demikian, jelaslah bahwa menolak atau mengingkari sunnah sama saja dengan menolak ketentuan-ketentuan Al-Quran, karena Al-Quran sendiri yang memerintahkan untuk menerima dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.19
19 http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)
11
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas dapat ditegaskan di sini bahwa alasan mendasar yang mereka kemukakan untuk menolak keberadaan hadis Nabi saw. sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur‟an adalah statement al-Qur‟an yang menyatakan bahwa al-Qur‟an telah menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Islam (QS. al-Nahl [16]: 89). Di samping itu mereka juga meragukan keabsahan kitab-kitab hadis (yang memuat hadis-hadis Nabi saw.) yang kodifikasinya baru dilakukan jauh setelah Nabi saw. wafat. Menurut para ulama, seperti al-Syafi‟i, argumentasi mereka tersebut adalah keliru. Kekeliruan sikap mereka itu sejauh ini diidentifikasi sebagai akibat kedangkalan mereka dalam memahami Islam dan ajarannya secara keseluruhan.
12
DAFTAR PUSTAKA
Albani, Nashiruddin, Muhammad, Takhrij Kitab Sunnah, Jak-Sel: Najla Press, Desember, 2003
Ash-Shallabi, Ali, Muhammad , Perjalanan Hidup Khalifah yang Agung Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, Jakarta: Darul Haq, 2010
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tterjemahannya edisi tahun 2002
Idri, Studi Hadis, cet.1, Jakarta: Prenada Media Group, oktober 2010
Khaeruman, Badri, Ulum Hadis, cet.1, Bandung:Pustaka Setia, 2010
Sahrani, Sohari, Ulumul Hadis, cet. 1, Bogor:Ghalia Indonesia, 2010
http://ulumhadis.wordpress.com/2013/11/08/inkar-sunah/(diakses pada tanggal 22 maret 2014)

Read Full Post »


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evaluasi sebagaimana kita ketahui merupakan pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.Evaluasi merupakan penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.
Evaluasi belajar memiliki tujuan dan fungsi yang dengannya akan dapat mengetahu hasil prestasi belajar siswa-siswinya begitupula dengan psikologis siswa-siswinya.Indikator prestasi belajar pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Ranah atau jenis indicator tersebut antara lain ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), ranah karsa (psikomotor). Hasil keberhasilan prestasi belajar para siswa-siswi dapat dilihat melalui batas minimal prestasi belajar yang telah ditentukan. Berdasarkan pemaparan diatas, maka dalam makalah ini penulis ingin membahas apa itu pengertian evaluasi dan prestasi belajar, ragam evaluasi, dan indikator prstasi belajar.

B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa itu Evaluasi dan Prestasi Belajar?
2. Apa saja Ragam Evaluasi?
3. Apa itu Indikator Prestasi Belajar dan Batas Minimal Prestasi Belajar?
4. Bagaimana mengukur keberhasilan siswa melalui Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikotor.

C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu hakikat itu Evaluasi dan Prestasi Belajar.
2. Untuk mengetahui Ragam Evaluasi.
3. Untuk mengetahui Indikator Prestasi Belajar.
4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan prestasi belajar melalui Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikotor.

D. Metode Penulisan
Metode penuisan makalah ini adalah dengan menggunakan kajian pustaka, yaknidengan mengkaji buku-buku yang sesuai dengan topik yaitu Evaluasi dan Prestasi Belajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi Pendidikan.
Evaluasi merupakan pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode materil dan lain-lain . Adapun pengertian evaluasi pendidikan menurut beberapa tokoh antara lain:
1. Bloom.
Evaluasi, sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.
2. Stufflebeam.
Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.
3. Cronbach.
Evaluasi merupakan suatu proses terus menerus sehingga di dalam proses kegiatannya dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan adanya suatu kesalahan.

Selain istilah evaluasi seperti yang tercantum dalam definisi di atas, kita dapati pula istilah pengukuran dan penilaian. Ketiga istilah tersebut pada umumnya cenderung diartikan sama. Padahal sebenarnya ketiga istilah tersebut tidak sama artinya. Setidak-tidaknya ada kaitan antara ketiga istilah tersebut.

Sebagai contoh:
Pasar, merupakan suatu tempat bertemunya orang-orang yang akan menjual dan membeli. Sebelum menentukan barang yang akan dibelinya, seorang pembeli akan memilih dahulu mana barang yang lebih baik menurut ukurannya. Apabila ia akan membeli jeruk, dipilihnya jeruk yang besar, kuning dan kulitnya halus. Semuanya itu dipertimbangkan karena menurut pengalaman sebelumnya. Jenis jeruk-jeruk yang demikian ini rasanya akan manis. Sedangkan jeruk yang masih kecil, hijau dan kulitnya agak kasar, biasanya rasanya masam.
Dari contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa sebelum menentukan pilihan, kita mengadakan penilaian terhadap benda-benda yang akan kita pilih. Sebenarnya kita juga mengukur, yakni membandingkan jeruk-jeruk yang ada dengan ukuran tertentu.Setelah itu kita menilai, menentukan pilihan mana jeruk yang paling memenuhi ukuran itulah yang kita ambil.
Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itulah yang disebut mengadakan evaluasi, yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran.
1. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
2. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
3. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah yang di atas yakni mengukur dan menilai.
Di dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation.Dari kata evaluation inilah di peroleh kata indonesia evaluasi yang berarti menilai.
Evaluasi mempunyai arti yang berbeda untuk guru yang berbeda. Berikut beberapa arti yang telah telah secara luas dapat diterima oleh para guru di lapangan.
“Evaluation is a process which determines the extent to which objectives have been achieved (Cross, 1973: 5)”. “Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai”.
Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, mengomonikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambil keputusan.
Dalam berbagai firman Allah SWT memberitahukan kepada kita, bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidikan. Hal ini misalnya dapat dipahami dari ayat yang berbunyi sebagai berikut:
•
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” 32. mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Sedangkan prestasi belajarialahhasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif.
B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
1. Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua,yaitu :
a. Unuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan perserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan kurikuler.
b.Untuk mengukur dan menilai sampai dimanakah efektivitas mengajar dan metode-metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik, serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik.
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah :
a. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
b. Untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
2. Fungsi Evaluasi
Disamping memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
a. Fungsi administrative untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku raport.
b. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelusan.
c. Fungsi diagnostic untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dan merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
d. Sumber data BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan (BP).
e. Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode data dan alat-alat PBM.

C. Ragam Evaluasi
Pada prinsipnya, evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan.Oleh karena itu, ragamnya pun banyak, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.
1. Pre test dan post test
Kegiatan pre test dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi baru. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan. Evaluasi seperti ini berlangsung singkat dan sering tidak memerlukan instrument tertulis.Sedangkan post test adalah kebalikan dari pre test, yakni kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh guru pada setiap akhir penyajian materi.Tujuannya adalah untuk mengetahui taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan.
2. Evaluasi Prasyarat
Evaluasi jenis ini mirip dengan pre test. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan. Contoh evaluasi penguasaan penjumlahan bilangan sebelum memulai pelajaran perkalian bilangan, karena penjumlahan merupakan prasyarat atau dasar perkalian .
3. Evaluasi Diagnostic
Evaluasi ini dilakukan setelah selasai penyajian satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentuyang belumdikuasai siswa. Instrumentevaluasi jenis ini dititik beratkan pada bahasan tertentu yang di pandang telah membuat siswa mendapatkan kesulitan.
4. Evaluasi Formatif
Evaluasi ini dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul.Tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik, yakni untuk mendiagnosis (mengetahui penyakit / kesulitan) kesulitan belajar siswa.Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebgai bahan pertimbangan rekayasa pengajaran remedial (perbaikan).
5. Evaluasi Submatif
Ragam penilaian submatif dilakukan untuk mengukur kinerja akademi atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran.Evaluasi ini lazim dilakukan di setiap akhir semester atau akhir ajaran.Hasilnya dijadikan bahan laporan resmi mengenai kinerja akademi siswa dan bahan penentu naik atau tidaknya siswa ke kelas yang lebih tinggi.
6. EBTA dan EBTANAS
EBTA (Evaluasa Belajar Tahap Akhir) dan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa, namun, EBTA dan EBTANAS ini dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas tinggi pada suatu jenjang pendidikan tertentu seperti jenjang SD dan MI (Madrasah Ibtidaiyah), dan seterusnya .

D. Indikator Prestasi Belajar
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit.Hal ini disebabkan oleh perubahan hasil belajar yang bersifat intangible (tidak dapat diraba).Oleh karena itu yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah dengan mengetahui garis – garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) yang dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.

E. Batas Minimal Prestasi Belajar
Selain indikator belajar seorang guru juga perlu mengetahui bagaimana kita menetapkan batas minimal keberhasilan belajar para siswanya.Hal ini penting karena mempertimbangkan batas terendah prestasi siswa yang dianggap berhasil dalam arti luas bukanlah perkara mudah.Keberhasilan dalam arti luas berarti keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.
Ranah-ranah psikologi, walaupun berkaitan satu sama lain, kenyataannya sukar diungkapkan sekaligus bila hanya melihat perubahan yang terjadi pada salah satu ranah. Contoh; seorang siswa memiliki nilai tinggi dalam bidang studi agama islam misalnya, belum tentu rajin beribadah shalat . Sebaliknya, siswa lain yang hanya mendapat nilai cukup dalam bidang studi tersebut, justru menunjukkan perilaku yang baik dalam kehidupan beragama sehari-hari.
Menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar. Ada beberapa alternative norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar-mengajar. diantara norma-norma pengukuran tersebut ialah:
1) Norma skala angka dari 0 sampai 10;
2) Norma skala angka dari 0 sampai 100;
Angka terendah yang menyatakan kelulusan atau keberhasilan belajar (passing grade) skala 0-10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0-100 menyelesaikan lebih dari separuh tugas atau dapat menjawab lebih dari setengah instrument evaluasi dengan benar, ia dianggap telah memenuhi target minimal keberhasilan belajar. Namun demikian, kiranya perlu dipertimbangkan oleh para guru sekolah penetapan passing grade yang lebih tinggi (misalnya 65 atau 70) untuk pelajaran-pelajaran inti (core subject). Pelajaran inti antara lain meliputi matematika dan bahasa, karena kedua bidang studi ini (tanpa mengurangi pentingnya bidang-bidang studi lainnya). Merupakan “kunci pintu” pengetahuan-pengetahuan lainnya.
Selain norma-norma diatas, terdapat norma lain yang ada dinegara kita yakni di perguruan tinggi, yaitu norma prestasi belajar dengan menggunakan symbol huruf-huruf A, B, C, D dan E. symbol huruf ini dapat dipandang sebagai terjemahan dari symbol angka-angka.

Table 1
Perbandingan Nilai Angka dan Huruf
Simbol-Simbol Nilai Angka dan Huruf Predikat
Angka Huruf
8 – 10 = 80 – 100 = 3,1 – 4 A Sangat Baik
7 – 7,9 = 70 – 79 = 2,1 – 3 B Baik
6 – 6,9 = 60 – 69 = 1,1 – 2 C Cukup
5 – 5,9 = 50 – 59 = 1 D Kurang
0 – 4,9 = 0 – 49 = 0 E Gagal

F. Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikomotor
1. Evaluasi Prestasi Kognitif
Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin banyaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang face to face (berhadapan langsung).
Dampak negative yang tak jarang muncul akibat tes yang face to face ialah sikap dan perlakuan yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukanpun tingkat kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Disatu pihak ada siswa yang diberi soal yang mudah dan terarah (sesuai dengan topic) sedangkan di pihak lain ada pula siswa yang ditanyai masalah yang sukar bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.
Untuk mengatasi masah subjektivitas tersebut, semua jenis tes tertulis baik yang berbentuk subjektif maupun objektif (kecuali tes B-S), seyogyanya dipakai sebaik-baiknya oleh para guru.Namun demikian, apabila menghendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S, tes pilihan berganda juga sebaiknya tidak digunakan.Sebagai gantinya, sangat dianjurkan untuk menggunakan tes pencocokan (matching test), tes isian, tes esai.Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sistesis siswa, juga lebih dianjurkan menggunakan tes esai, karena tes ini adalah satu-satunya instrument evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa tersebut .

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى
رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.[17]

2. Evaluasi Prestasi Afektif
Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seyogyanya dapat perhatian khusus.Karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.


3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Salah satu bentuk ranah rasa yang popular ialah “Skala Likert” (likert Scale) yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan atau sikap mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skala ini diberi ekor 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung dengan kebutuhan dengan cacatan skor-skor itu dapat dicerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai “sanga tidak”. Perlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecendrungan efektif siswa yang represntatif, iten-item skala sikap sebaliknya dilengkapi dengan identitas sikap yang meiputi: 1)doktrin; 2)komitmen; 3)penghayatan; 4)wawasan.
4. Evaluasi Prestasi Psikomotorik
Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi.Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah diartikan sebagai sejenis tes mengenai peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Namun observasi harus dibedakan dari eksperimen, karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi.
Guru yang hendak melakukan observasi perilaku psikomotor siswa-siswanya seyogyanya mempersiapkan langkah-langkah yang cermat dan sistematis menurut pedoman yang terdapat dalam lembar format observasi itu sendiri .

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Evaluasi merupakan pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode materil dan lain-lain. Sedangkan Prestasi belajar ialahhasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif.
2. Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah (a) untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan;(b)untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan. Selain itu fungsi-fungsi sebagai berikut (a)Fungsi administrative; (b) Fungsi promosi; (c) Fungsi diagnostic; (d) Sumber data BP; (e) Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode data dan alat-alat PBM.
3. Macam ragam evaluasi sendiri antara lain: Pre test dan post test, Evaluasi Prasyarat, Evaluasi Diagnostic, Evaluasi Formatif, Evaluasi Submatif, EBTA dan EBTANAS.
4. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah dengan mengetahui garis – garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) yang dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.
Menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar.
5. Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seyogyanya dapat perhatian khusus. Kemudian mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakuhkan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan dan arahan serta saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Gito Supriadi. 2011, Evaluasi Pembelajaran. Malang: Intimedia.
Muhibbin Syah. 2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya Offset.
Nana Sudjana.2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Karya Offset.
Sukardi.2011. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta Timur: Bumi Aksara.

Read Full Post »


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hadist dapat didefinisikan sebagai segala perbuatan, ucapan dan ketetapan yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw. Penyandaran ini bisa dilakukan secara lafdzi – (dikutip kata perkata sebagaimana Rasulullah mengucapkan pertama kali) dan maknawi ( dikutip hanya menurut isinya saya sedang redaksinya telah berubah ). Adapun periwayatan mengenai perbuatan dan ketetapan ( bisa berupa diamnya atau bahasa isyarat lain dari Rasulullah yang mempunyai arti tertentu ), bisa dipastikan bersifat maknawi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pada umumnya hadist – hadist Nabi diriwayatkan secara maknawi. Pada makalah ini penulis akan membahas tentang penerimaan dan periwatan hadist serta syarat – syarat menjadi periwayat hadist.
Hadist – hadist Nabi tersebut diterima oleh sahabat yang terdiri dari berbagai kalangan yang diantaranya adalah anak – anak, orang kafir dan orang fasik yang masih dianggap sah penerimaannya oleh jumhur hadist, melalui berbagai macam metode penerimaan yang diantaranya adalah al-sima’, al-qira’ah dan sebagainya.
Setelah itu diriwayatkan oleh ahli – ahli hadist yang memenuhi syarat – syarat menjadi perawi hadist. Itu semua dibuat hanya untuk meminimalisir terjadinya hadist – hadist palsu yang beredar hanya untuk kepentingan Pribadi, politik dan sebaginya.

B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Siapa Saja yang dapat Menerima Periwayatan Hadis?
2. Bagaimanakah Cara Penerimaan Hadis ?
3. Apa Saja Syarat-syarat Bagi Periwayatan Hadis?
C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Siapa Saja yang dapatMenerima Periwayatan Hadis
2. Untuk Mengetahui Cara-cara Penerimaan Hadis
3. Untuk Mengetahui Syarat-syarat Bagi Periwayatan Hadis

D. Metode Penulisan
Metode penuisan makalah ini adalah dengan menggunakan kajian pustaka, yaknidengan mengkaji buku-buku yang sesuai dengan topik yaitu Penerimaan dan Periwayatan Hadis.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Penerimaan Hadis
Para ulama ahli hadist mengistilahkan menerima dan mendengar suatu periwayatan hadist dari seorang guru dengan beberapa metode penerimaan hadist dengan istilah Tahammul.

Penerimaan Anak – Anak, Orang Kafir dan Orang Fasik
Para ulama hadis berbeda pendapat mengenai penerimaan hadist terhadap anak yang belum sampai umur (belum mukallaf), orang yang menerima hadist dalam keadaan kafir serta dalam keadaan fasik. Jumhur muhaddistin berpendapat bahwa seorang yang menerima hadist waktu masih kanak – kanak, atau masih dalam keadaan kafir atau dalam keadaan fasik dapat diterima periwayatannya setelah masing – masing dewasa, memeluk Islam dan bertobat. Adapun alasannya anak yang belum dewasa dapat dibenarkan menerima riwayat, ialah ijma’. Yakni seluruh umat Islam tidak ada yang membantah dan tidak ada yang membeda – bedakan riwayat – riwayat para sahabat yang diterima sebelum dan sesudah dewasa. Para sahabat yang menerima hadist sebelum dewasa diantaranya Al-Hasan, Al-Husein, Ibnu ‘Abbas, Nu’man bin Basyir dan lainnya. . Tetapi mereka memperselisihkan masalah batas minimal umur anak yang belum dewasa, yang dapat dibenarkan dalam penerimaan riwayat. Beberapa pendapat diantaranya :

Pertama, Al-Qadhi Iyad mengatakan bahwa batas minimal adalah 5 tahun, sebab pada usia ini anak sudah mampu menghafal apa yang dia ingat serta mengingat – ingat yang dihafal. Pendapat ini didasarkan pada hadist riwayat Bukhari dari sahabat Mahmud bin Al-Rubai’
:
عَقَلْتُ مِنَ النَّبِي صلي الله عليه وسلم مَجَّةً مَجَّهَا فِي وجْهِي مِنْ دَلْوٍ و أنَاابْنُ خَمْسِ سِنِيْنَ”
Saya ingat Nabi Saw. Meludah air yang diambilnya dari timba kemukaku, sedang pada saat itu aku berumur lima tahun”

Kedua, pendapat Al-Hafidz Musa ibn Harun al-Hammal, yaitu bahwa kegiatan mendengar yang dilakukan oleh anak kecil dinilai absah bila ia telah mampu membedakan antara sapi dengan himar. Saya merasa yakin bahwa yang dimaksudkan adalah tamyiz. Beliau menjelaskan pengertian tamyiz dengan keadaan sekitar.

Ketiga, pendapat Abu Abdullah Al-Zuba’i yang dikutip oleh Mundzier Suparta mengatakan bahwa sebaiknya anak diperbolehkan menulis hadis pada usia 10 tahun. Sebab pada usia ini akal mereka sudah dianggap sempurna dalam arti bahwa mereka sudah mempunyai kemampuan untuk menghafal dan mengingat hafalannya serta sudah beranjak dewasa.

Keempat, berbeda dengan pendapat ulama syam memandang usia yang ideal bagi seorang untuk meriwayatkan hadist pada usia 30 tahun, dan ulama kufah berpendapat minimal berusia 20 tahun ..Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan ketamyizan seseorang diantaranya situasi dan kondisi yang berbeda. Oleh karena itu ketamyizan seseorang bukan diukur dari usia tetapi didasarkan pada tingkat kemampuan menangkap dan memahami pembicaraan dan mampu menjawab pertanyaan dengan benar serta adanya kemampuan menghafal dan mengingat-ingat hafalannya.
Mengenai penerimaan hadist oleh orang kafir jumhur ulama ahli hadist menganggap sah, asalkan hadis tersebut diriwayatkan kepada orang lain pada saat mereka telah masuk Islam dan bertaubat. Dalil yang digunakan oleh jumhur adalah hadist Jubair bin Muth’im :

أنَّهُ سَمِعَ النَّبِي صلي الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي المَغْرِبِ بِالطُّوْرِ
“Bahwa ia mendengar Nabi Muhammad membaca surat At-Thur pada shalat maghrib”. Jubair mendengar sabda Rasulullah saw. tersebut pada saat tiba di Madinah untuk penyelesaian urusan tawanan perang Badar, dalam keadaan kafir. Yang akhirnya ia memeluk Islam. Imam Ibnu Hajar menerima riwayat orang fasik dengan dalil qiyas “babul-aula”. Artinya, kalau penerimaan riwayat orang kafir yang disampaikan setelah memeluk agama Islam dapat diterima, palagi penerimaan orang fasik yang disampaikan setelah ia bertobat dan diakui sebagai orang yang adil, tentu lebih dapat diterima. Kecuali riwayat orang gila yang diriwayatkan setelah sehat tetap tidak dapat diterima, lantaran diwaktu ia gila, hilanglah kesadarannya, hingga tidak lagi dikatakan sebagai orang yang dhabith.

B. Cara Penerimaan Hadis
Para ulama ahli hadis menggolongkan metode menerima suatu periwayatan hadis menjadi delapan macam.
a. Al-Sima’
Yakni suatu cara penerimaan hadis dengan cara mendengarkan sendiri dari perkataan gurunya dengan cara didekatkan baik dari hafalannya maupun dari tulisannya. Sehingga yang menghadirinya mendengar apa yang disampaikannya tersebut. Menurut jumhur ahli hadis bahwa cara ini merupakan cara penerimaan hadis yang paling tinggi tingkatannya. Sehingga mereka ada yang mengatakan bahwa al-sama’ yang dibarengi dengan al-kitabah mempunyai nilai lebih tinggi dan paling kuat. Karena terjamin kebenarannya dan terhindar dari kesalahan dibanding dengan cara-cara lainnya, disamping para sahabat juga menerima hadis dari Nabi SAW dengan cara seperti ini.
Termasuk dalam kategori sama’ juga seseorang yang mendengarkan hadis dari syeikh dari balik sattar (semacam kain pembatas/penghalang). Jumhur ulama membolehkannya dengan berdasar pada para sahabat yang juga pernah melakuhkan hal demikian ketika meriwayatkan hadis hadis Rasulullah melalui ummahat al mu’minin (para istri nabi).
Menurut Al-Qadhi ‘Iyad, para ulama tidak memperselisihkan kebolehan rawi dalam meriwayatkannya menggunakan kata – kata:
حَدَّثَنَا (seorang telah menceritakan kepada kami)
أَخْبَرَنَا (seorang telah mengabarkan kepada kami)
أَنْبَأَنَا (seorang telah memberitakan kepada kami)
سَمِعْتُ فُلاَنًا (saya telah mendengar seseorang)
قَالَ لَنَا فُلاَنٌ (seseorang telah berkata kepada kami)
ذَكَرَ لَنَا فُلاَنٌ (seseorang telah menuturkan kepada kami)

b. Al-Qari’ah ‘Ala Al-Syaikh atau ‘Aradh Al-Qira’ah
Yakni suatu cara penerimaan hadis dengan cara seseorang membacakan hadis dihadapan gurunya, baik dia sendiri yang membacakannya maupun orang lain, sedang sang guru mendengarkan atau menyimaknya, baik sang guru hafal maupun tidak tetapi dia memegang kitabnya atau mengetahui tulisannya atau dia tergolong tsiqqah.
Ajjaj Al-Khatib dengan mengutib pendapat Imam Ahmad mensyaratkan orang yang membaca (qari) itu mengetahui dan memahami apa yang dibaca. Sementara syarat bagi Syeikh dengan mengutip pendapat Imam Haramain hendaknya yang ahli dan teliti ketika mendengar atau menyimak dari apa yang dibacakan oleh qari’, sehingga tahrif maupun tashif dapat terhindrkan. Jika tidak demikian maka proses tahammul tidak sah.
Para ulama sepakat bahwa cara seperti ini dianggap sah, namun mereka berbeda pendapat mengenai derajat al-qira’ah. Diantara mereka, seperti Al-Lias bin Sa’ad, Syu’aban, Ibnu Juraih, Sufyan Al-Tsauri, Abu Hanifah, Menganggap bahwa al-qari’ah lebih baik jika dibanding al-sama’, sebab dalam al-sama’ bila bacaan guru salah, murid tidak leluasa menolak kesalahan, tetapi dalam al-qari’ah bila bacaan murid salh guru segera membenarkannya. Imam Malik, Bukhari, sebagian besar ulama Hijaz dan Kufah menganggap bahwa antara al-qira’ah dengan al-sama’ mempunyai derajat yang sama. Ibnu Abbas mengatakan (kepada muridnya) “Bacakanlah kepadaku, sebab bacaan kalian kepadaku seperti bacaanku kepada kalian”. Sementara Ibnu Al-Shalah, Imam Nawawi dan Jumhur ulama memandang bahwa al-sama’ lebih tinggi derajatnya dibanding dengan cara al-qira’ah.

c. Al-Ijazah
Yakni seorang guru memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan hadis atau kitab kepada seseorang atau orang-orang tertentu, sekalipun murid tidak membacakan kepada gurunya atau tidak mendengar bacaan gurunya, seperti;
ا جز ت لك ا ن تر و ي عنى
(saya mengijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku)
Para ulama berbeda pendapat mengenai penggunaan ijazah ini sebagai cara untuk meriwayatkan hadis. Ibnu Hazm mengatakan bahwa cara meriwayatkan hadis dengan menggunakan ijazah ini dianggap bid’ah dan tidak diperbolehkan dan bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan bahwa ijazah ini benar-benar diingkari. Sedangkan ulama yang memperbolehkan cara ijazah ini menetapkan syarat hendaknya sang guru benar-benar mengerti tentang apa yang diijazahkan dan naskah muridnya menyamai dengan yang lain, sehingga seolah-olah naskah tersebut adalah aslinya serta hendaknya guru yang memberi ijazah itu benar-benar ahli ilmu.
Al- Qadhi ‘iyad membagi Ijazah menjadi enam macam, sedang Ibnu Al-Sahalah menambah satu macam lagi, sehingga menjadi tujuh macam. Ketujuh macam al-ijazah tersebut sebagai berikut:
Pertama, seseorang guru mengijazahkan kepada seseorang tertentu atau kepada beberapa orang tertentu sebuah kitab, atau beberapa kitab yang dia sebutkan kepada mereka. Al-ijazah seperti ini diperbolehkan menurut jumhur.
Kedua, bentuk ijazah kepada orang tertentu untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu, seperti “saya ijazahkan kepadamu sesuatu yang saya riwayatkan untuk kamu riwayatkan dariku”. Cara seperti ini menurut jumhur juga tergolong yang diperbolehkan.
Ketiga, bentuk al-ijazah secara umum seperti ungkapan “saya ijazahkan kepada kaum Muslimin atau kepada orang-orang yang ada (hadir)”.
Keempat, bentuk al-ijazah kepada orang yang tidak tertentu untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu. Cara seperti ini dianggap fasid (rusak).
Kelima, bentuk al-ijazah kepada orang yang tidak ada, seperti mengijazahkan kepada bayi yang masih dalam kandungan. Bentuk ijazah seperti ini tidak sah.
Keenam, bentuk al-ijazah mengenai sesuatu yang belumdiperdengarkan atau dibacakan kepada penerima ijazah, seperti ungkapan ”saya ijazahkan kepadamu untuk kamu riwayatkan dari sesuatu yang akan kudengarnya”. Cara seperti ini dianggap batal.
Ketujuh, bentuk al-ijazah al-mujaz, seperti perkataan guru “saya ijazahkan kepada kamu ijazahku”. Bentuk ini termasuk yang diperbolehkan.

d. Al-Munawalah
Yakni seorang guru memberikan hadis atau beberapa hadis atau sebuah kitab kepada muridnya untuk diriwayatkan. Ada juga yang mengatakan, bahwa al-munawalah ialah seorang guru memberi keda seorang murid, kitab asli yang didengar dari gurunya, atau sesuatu naskah yang sudah dicocokkan, sambil berkata “inilah hadis-hadis yang sudah saya dengar dari seseorang, maka riwayatkanlah hadis itu dariku dan saya ijazahkan kepadamu untuk diriwayatkan”.
Al-Munawalah itu mempunyai dua bentuk, yakni:
Pertama, al-munawalah dibarengi dengan ijazah. Misalnya setelah sang guru menyerahkan kitabnya yang telah dia riwayatkan atau naskahnya telah dicocokkan, lalu dia katakan kepada muridnya “ini riwayat saya, maka riwayatkanlah dariku”, kemudian menyerahkan dan sang murid menerima sambil sang guru berkata “saya ijazahkan kepadamu untuk kamu riwayatkan dariku”. Cara seperti ini menurut Al-Qadhi ‘Iyad termasuk periwayatan yang dianggap sah oleh para ulama ahli hadis. Hadis berdasar atas munawalah bersama ijazah biasanya menggunakan redaksi :
ا نبا نا ا نبا نى (seseorang telah memberitahukan kepadaku/kami)
Kedua, al-munawalah tanpa dibarengi dengan ijazah, seperti perkataan guru kepada muridnya “ini hadis saya” atau “ini adalah hasil pendengaranku atau periwayatanku” dan tidak mengatakan “riwayatkanlah dariku atau saya ijazahkan kepadamu”. Menurut kebanyakan ulama al-munawalah dalam bentuk ini tidak diperbolehkan. Hadis yang diriwayatkan berdasarkan munawalah tanpa dibarengi ijazah ini biasanya menggunakan redaksi :
ا نبا نا ا نبا نى (seseorang telah memberitahukan kepadaku/kami)

e. Al-Mukatabah
Yakni seorang guru menuliskan sendiri atau menyuruh orang lain untuk menuliskan sebagian hadisnya guna diberikan kepada murid yang ada dihadapannya atau yang tidak hadir dengan jalan dikirimi surat melalui orang yang dipercaya untuk menyampaikannya.
Al-Mukatabah ada dua macam, yakni:
Pertama, al-muktabah yang dibarengi dengan ijazah, yaitu sewaktu sang guru menuliskan beberapa hadis untuk diberikan kepada muridnya disertai dengan kata-kata “ini adalah hasil periwayatanku, maka riwayatkanlah” atau “saya ijazah (izin)-kan kepadamu untuk kamu riwayatkan kepada orang lain”. Kedudukan al-muktabah dalam bentuk ini sama halnya dengan al-munawalah yang dibarengi dengan ijazah, yakni dapat diterima.
Kedua, al-muktabah yang tidak dibarengi dengan ijazah yakni guru menuliskan hadis untuk diberikan kepada muridnya dengan tanpa disertai perintah untuk meriwayatkan atau mengijazahkan. Al-muktabah dalam bentuk ini diperselisihkan oleh para ulama. Ayub, Mansur, Al-Lais, tidak sedikit dari ulama Syafi’iyah dan ulama usul menganggap sah periwayatan dengan cara ini. Sedangkan Al-Mawardi menganggap tidak sah.

f. Al-I’lam
Yakni pemberitahuan seorang guru kepada muridnya, bahwa kitab atau hadis yang diriwayatkannya dia terima dari seseorang (guru), dengan tanpa memberi izin kepada muridnya untuk meriwayatkannya atau menyuruhnya. Sebagian ulama ahli ushul dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Al-Shalah menetapkan tidak sah periwayatan hadis dengan cara ini. Karena dimungkinkan bahwa sang guru sudah mengetahui ada atau sedikit banyak cacatnya. Sedangkan kebanyakan ulama ahli hadis, ahli fiqih, dan ahli ushul memperbolehkannya.

g. Al-Wasiyah
Yakni seorang guru, ketika akan meninggal atau bepergian meninggalkan pesan kepada orang lain untuk meriwayatkan hadis atau kitabnya, setelah sang guru meninggal atau bepergian. Periwayatan hadis dengan cara ini oleh jumhur dianggap lemah. Sementara Ibnu Sirin membolehkan mengamalkan hadis yang diriwayatkan atas jalan wasiat ini. Orang yang diberi wasiat ini tidak boleh meriwayatkan hadis dari si pemberi wasiat dengan redaksi
حد تنى فلا ن بكذ ا (seseorang telah memberitahukan kepadaku begini), karena si penerima wasiat tidak bertemu dengannya.

h. Al-Wijadah
Yakni seseorang memperoleh hadis orang lain dengan mempelajari kitab-kitab hadis dengan tidak melalui cara al-sama’, al-ijazah atau al-munawalah. Para ulama berselisih pendapat mengenai cara ini. Kebanyakan ahli hadis dan ahli fiqih dari mazhab Malikiyah tidak memperbolehkan meriwayatkan hadis dengan cara ini. Imam Syafi’i dan segolongan pengikutnya memperbolehkan beramal dengan hadis yang periwayatannya melalui cara ini. Ibnu Al-Shalah mengatakan, bahwa sebagian ulama Muhaqqiqin mewajibkan mengamalkannya bila diyakini kebenarannya.

C. Periwayatan Hadis
Sebagaimana telah disebutkan, bahwa al-‘ada ialah menyampaikan atau meriwayatkan hadis kepada orang lain. Oleh karenanya, ia mempunyai peranan penting dan sudah barang tentu menurut pertanggungjawaban yang cukup berat, sebab sah atau tidaknya suatu hadis juga sangat tergantung padanya. Mengingat hal-hal seperti ini, jumhur ahli haditsm ahli ushul dan ahli fiqih menetapkan beberapa syarat bagi periwayatan hadis, yakni sebagai berikut:

a. Islam
Pada waktu meriwayatkan suatu hadis, maka seseorang perawi harus muslim, dan menurut Ijma, priwayatan kafir tidak sah. Seandainya perawinya seorang fasik saja kita disuruh bertasawuf, maka lebih-lebih perawi yang kafir. Kaitannya dengan masalah ini bisa kita bandingkan dengan firman Allah sebagai berikut:
       •          
Artinya ”Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang-orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat (49):6)

b. Baligh
Yang dimaksud baligh ialah perawinya cukup usia ketika ia meriwayatkan hadis, walau penerimanya sebelum baligh. Hal ini didasarkan pada hadis rosul:
ر فح ا لقلم عن ثلا ثة عن ا لمجنو ن المخلو ب على عقله حتى يفيق و عن النا ءم حتى يستيقظ و عن الصبي حتى يحتلم (رواه ابو داود)
Artinya” Hilang kewajiban menjalankan syari’at Islam dari tiga golongan, yaitu orang gila, sampai dia sembuh, orang yang tidur sampai bangun dan anak-anak sampai ia mimpi”. (HR. Abu Daud dan Nasai).

c. ‘Adalah
Yang dimaksud dengan adil adalah suatu sifat yang melekat pada jiwa seseorang yang menyebabkan orang yang mempunyai sifat tersebut, tetap taqwa, menjaga kepribadian dan percaya pada diri sendiri dengan kebenarannya, menjauhkan diri dari dosa besar dan sebagian dosa kecil, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang mubah, tetapi tergolong kurang baik dan selalu menjaga kepribadian.

d. Dhabit
Dhabit ialah teringat kembali perawi saat penerimaan dan pemahaman suatu hadis yang ia dengar dan hafal sejak waktu menerima hingga menyampaikannya.
Jalannya mengetahui ke-dhabitan perawi dengan jalan i’tibar terhadap berita-beritanya dengan berita-berita yang tsiqat dan memberikan keyakinan.
Ada yang mengatakan, bahwa di samping syarat-syarat sebagaimana disebutkan diatas, antara satu perawi dengan perawi lain haris bersambungm hadis yang disampaikan itu tidak syadz, tidak ganjil dan tidak bertentangan dengan hadis-hadis yang lebih kuat ayat-ayat Al-Quran.
Dari uraian diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa al-thammul dan al-ada’ merupakan masalah yang cukup berat, baik berkaitan dengan cara bertahammul maupun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam al-ada’.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mengenai penerimaan hadist pada anak-anak serta orang kafir dan orang fasik adalah sah, sebab semua orang dapat menerima hadist asalkan pada waktu meriwayatkannya memenuhi syarat – syarat periwayatan hadist. Kecuali orang gila yang tidak dapat menerima hadist, sebab ketika orang gila tersebut sudah waras (sadar) dia tidak dapat mengingat apa yang terjadi ketika dia dalam keadaan gila. Banyak perbedaan mengenai batas minimal usia seseorang dapat menerima hadist dikalangan ulama’ hadist, tapi penulis berpendapat bahwa seseorang dapat menerima hadist ketika dia sudah tamyiz (dewasa), sedang ukuran tamyiz itu sendiri merunut penulis adalah apabila dia sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk, dapat menjawab pertanyaan dengan benar serta dapat mengingat apa yang dia lihat dan dengar dengan baik. Sedangkan penerimaan hadist dengan cara sama’ adalah penerimaan hadist dengan melalui pendengaran baik itu melihat orang yang menyampaikan ataupun tidak melihatnya. Tetapi kalau tidak melihatnya, sang murid (yang mendengar) haruslah yakin bahwa suara itu adalah suara sang guru. Kalau tidak disertai keyakinan, maka penerimaan hadist dengan cara sama’ ini tidak dapat diterima. Begitu juga mengenai penerimaan hadist dengan menggunakan alat tehknologi seperti zaman sekarang ini, sang murid haruslah yakin kalau itu adalah suara sang guru. Mengenai periwatan hadist itu dilakukan pada zaman tabi’it tabi’in, sebab kalau seandainya periwayatan hadist dilakukan sampai sekarang, maka yang terjadi adalah hadist – hadist palsu. Itu semua terjadi karena periode yang panjang secara turun temurun sehingga sulit untuk menjaga keaslian dari hadist – hadist tersebut. Oleh sebab itu setelah periode tabi’it tabi’in hanyalah mempelajari serta meneliti hadist saja tidak meriwayatkannya.
Dari makalah yang telah kami tulis diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa penerimaan dan periwayatan hadist :
1. Penerimaan hadist kepada anak-anak, orang kafir dan orang fasik adalah sah.
2. Tahammul adalah penerimaan hadist sedang al-ada’ adalah menyampaikan (meriwayatkan) hadist.
3. seorang perawi (periwayat hadist) harus memenuhi syarat antara lain dia harus beragama Islam, Baligh, Adil serta dhabit.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan dan arahan serta saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suparta, Mundzier. Ilmu Hadist, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2003.

Fatchur Rahman. Mustholahul Hadist. Yogyakarta: PT. Al-Ma’ary. 1970.

‘Ajaj, M, Khathib. Ushul Al-Hadits Jakarta: Gaya Media Pratama. 1998.

Abi Abdullah, al-Imam hakim. Ma’rifatu ‘Ulum Al-Hadist. Maktabah al-mutanabbi.

Read Full Post »

Hadits Dha’if


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ilmu hadits merupakan salah satu pilar-pilar tsaqofah islam yang memang sudah selayaknya dimiliki oleh setiap kaum muslim. Dewasa ini, begitu banyak opini umum yang berkembang yang mengatakan bahwa ilmu hadits hanya cukup dipelajari oleh para salafus sholeh yang memang benar-benar memilki kredibilitas dalam ilmu agama sehingga stigma ini membuat sebagian kaum muslim merasa tidak harus untuk mempelajari ilmu hadits.
Hal ini tentu sangat tidak dibenarkan karena dapat membuat masyarakat muslim menjadi kurang tsaqofah islamnya terutama dalam menjalankan sunnah-sunnah rosul. Terlebih dengan keadaan saat ini dimana sangat bayak beredar hadits-hadits dho’if dan hadits palsu yang beredar di tengah-tengah kaum uslim dan tentunya hal ini akan membuat kaum muslimin menjadi pelaku bid’ah. Jika kaum muslim masih memandang remeh tentang ilmu hadits ini maka tentu ini adalah suatu hal yang sangat berbahaya bagi aqidah kaumm muslimin dalam menjalankah sunnah rosul. Oleh karena itulah, perlunya kita sebagai umat muslim memilki pengetahuan yang luas tentang ilmu hadits.
Seperti yang telah diketahui bahwa hadits dho’if adalah hadits yang lemah atau hadits yang tidak memilki syarat-syarat hadits shohih dan hadits hasan. Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits dhiof ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah namun sebagian ulama yang lainnya juga ada yang berpendapat bahwa hadits dhoif ini dapat digunakan sebagai hujjah. Dengan adanya khilafiah atau perbedaan pendapat diantara para ulama,maka sangat perlulah kita sebagai umat muslim mengetahui bagaimana cara kita bersikap dalam menghadapi hadits dhoif tersebut karena hal ini akan langsung berkaitan dengan aqidah dan ibadah-ibadah kita kepada Allah SWT.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Hadits Dha’if ?
2. Apa saja kriteria Hadits Dha’if ?
3. Apa saja macam-macam Hadits Dha’if ?
4. Bagaimana status kehujahan Hadits Dha’if ?
5. Kitab-kitab yang Memuat Hadits Dhaif ?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian Hadits Dha’if
2. Untuk mengetahui kriteria Hadits Dha’if
3. Untuk mengetahui macam-macam Hadits Dha’if
4. Untuk mengetahui status kehujahan Hadits Dha’if
5. Untuk mengetahui Kitab-kitab yang Memuat Hadits Dhaif

D. BATASAN MASALAH
Mengingat begitu banyaknya materi maupun hal-hal yang berhubungan dengan rumusan masalah diatas, maka penulis membatasi pembahasan ini sesuai yang terdapat dalam rumusan masalah. Mengenai hal lain yang tidak memiliki hubungan dengan hal-hal yang tercantum pada rumusan masalah diatas tidak penulis uraikan pada makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hadits Dha’if
Hadits dha’if menurut bahasa berarti hadist yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasullullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadits dha’if:
اَلْحَدِيْثُ الضَّعِيْفُ هُوَ الْحَدِيْثُ الّذِىْ لَم يُجْمِعْ صِفَاتِ الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ وَلَا صِفَاتِ الْحَدِيْثِ
Artinya :
“Hadits dha’if adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
Seperti yang kita ketahui, bahwa syarat-syarat dalam hadits shahih ialah: harus bersambung sanadnya (ittishal al-Sanad), rawi-rawinya adil (‘adalah al-Ruwat), rawi harus mempunyai hafalan dan daya ingat yang kuat (dhabth al-Ruwat), tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih (‘adam al-Syudzudz), tidak mengandung penyakit (‘adam al-Illlah).
Dengan memperhatikan beberapa syarat dalam hadits shahih ini, maka sebuah hadits dinyatakan dha’if (lemah) bila:
1) Ada sebuah Hadits yang tidak bersambung sanadnya,atau
2) Ada sebagian rawinya yang tidak adil, atau
3) Ada sebagian rawi dalam Hadits yang tidak dhadith, atau
4) Haditsnya mengandung illat (penyakit), atau
5) Haditsnya bertentangan dengan hadist lain (syadz).
B. Kriteria Hadits Dha’if
Kriteria hadits dha’if yaitu hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadits sahih dan hasan. Dengan demikian, hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadist hasan. Pada hadits dha’if itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
Kehati-hatian dari para ahli hadits dalam menerima hadits sehingga mereka menjadikan tidak adanya petunjuk keaslian hadits itu sebagai alasan yang cukup untuk menolak hadits dan menghukuminya sebagai hadits dhaif. Padahal tidak adanya petunjuk atas keaslian hadits itu bukan suatu bukti yang pasti atas adanya kesalahan atau kedustaan dalam perawiannya atau kedustaan dalam periwayatan hadits, seperti kedhaifan hadits yang disebabkan oleh rendahnya daya hafal rawinya atau kesalahan yang dilakuhkan dalam meriwayatkan suatu hadits, padahal sebetulnya ia jujur dan dapat dipercaya. Hal ini tidak memastikan bahwa rawi itu salah pula dalam meriwayatkan hadits yang dimaksud, bahkan mungkin sekali ia benar. Akan tetapi karena ada kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadits yang dimaksud, maka mereka menetapkan untuk menolaknya .

C. Macam-macam Hadits Dhaif
Secara garis besar yang menyebabkan suatu hadits digolongkan menjadi hadits dha’if dikarenakan dua hal, yaitu: gugurnya rawi dalam sanadnya dan adanya cacat pada rawi atau matan.

1. Hadits Dhaif Karena Gugurnya Rawi
a. Hadits Mursal
Hadits Mursal, menurut bahasa berarti hadits yang terlepas. Para ulama memberikan batasan hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya diakhir sanad. Yang dimaksud disini adalah rawi pada tingkat sahabat. Jadi hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah.
Contoh hadits Mursal:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ك: بَيْنَن وَبَيْنَ الْمُنَافِقِيْنَ ثُهُوْدُ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ لَايَسْتَطِيْعُوْنَ. (رواه مالك)
Artinya:
“Rasulullah bersabda, “Antara kita dengan kaum munafik (ada batasan), yaitu menghindari jamaah Isya dan Shubuh; mereka tidak sanggup menghindarinya”
Hadits tersebut diriwatkan Imam Malik, dari Abdurrahman, dari Harmalah, dan dari Said bin Mutsayyab. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Said Bin Mutsyyab, tidaklah disebutkan dalam sanad diatas.
b. Hadits Munqati
Menurut bahasa, hadits munqati’ adalah hadits yang terputus. Para ulama memberi batasan hadits munqati adalah hadits yang gugur satu atau dua rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawinya diakhir sanadnya adalah sahabat Nabi, maka rawi menjelang akhir sanadnya adalaha tabiin. Jadi hadits munqati’ bukanlah rawi ditingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabiin.
Contoh hadits munqati’ :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَاذَخَلَ الْمَسْجِدَ قَالَ : بِسْمِ اللهِ وَالسَّلَاُمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اللّهُمَّ اغْفِرْلىِ ذُنُوْبِى وَافْتَحْ لِى اَبْوَابَرَحْمَتِكَ. (رواه ابن ماجه)
Artinya:
“Rasulullah SAW. Bila masuk kedalam masjid, membaca: dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampinilah segala dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatmu.” (HR. Ibnu Majah)
c. Hadits Mudal
Menurut bahasa, hadits mudal berarti hadits yang sulit dipahami. Para ulama memberi batasan hadits mudal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya atau lebih secara beriringan dalam sanadnya.
Contoh hadits nudal adalah hadits Imam Maliki hak hamba dalam kitab AL-Muwata. Dalam kitab tersebut Imam Malik berkata, “Telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda:
لِلْمُلُوْكَ طعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بِلْمَعْرُوْفِ. (رواه مالك)
Artinya: “ Budak itu harus diberi makanan dan pakaian secara baik” (HR. Malik)
Imam Malik dalam kitabnya tidak menyebut dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Dua orang rawi yang gugur itu diketahui melalui riwayat Imam Malik diluar kitab Al-Muawata’. Malik meriwayatkan hadits yang sama yaitu: “Dari Muhammad bin Ajlan dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah”. Dua rawi yang gugur secara beriringan adalah Muhammad bin Ajlan dan Ayahnya.
d. Hadits Muallaq
Hadits muallaq menurut bahasa, berarti hadits yang tergantung. Dari segi istilah, hadits muallaq adalah hadits yang gugur satu rawi atau lebih diawal sanad. Juga termasuk hadits muallaq, bila semua rawinya digugurkan (tidak disebutkan).
Contoh hadits muallaq
Bukhari berkata, kata Malik, dari Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:
لَاتَفَاضَلُوْا بَيْنَ الْاَنْبِيَاءِ. (رواه البخارى)
Artinya:
“Janganlah kamu melebihkan sebagian Nabi dan sebagian yang lain”. (HR.Bukhari)
2. Hadits Dha’if Karena Cacat pada Rawi atau Matan
Hadits yang bercacat rawi atau mutannya, atau kedua-duanya digolongkan hadits dha’if. Banyaknya macam cacat yang dapat menimpa para rawi ataw menimpa matan, di antaranya pendusta, pernah berdusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah, merupakan cacat, yang masing-masig dapat menghilangkan sifat dabit rawi. Banyak keliru, banyakfaham, buruk hapalan, lalu mengusahakan hapalan dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya, merupakan cacat-cacat, yang masing-masingnya terdapat sisipan ditengah-tengah lafaz hadits atau lafaz hadits itu diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dengan maksud lafaz yang sebagainya. Diantara hadits dha’if yang cacat perawi atau matannya adalah:
a. Hadits Maudu’
Dari segi bahasa, hadits maudu’ berarti palsu atau hadits yang dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan hadits maudu’ adalah hadits yang bukan hadits Rasulullah SAW, tetapi disandarkan kepada beliau oleh orang secara dusta dan sengaja atau secara keliru tanpa sengaja.
Hadits maudu’ merupakan seburuk-buruk hadits dha’if. Siapa yang telah mengetahui kepalsuan suatu hadits, maka ia tidak boleh meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasulullah SAW, kecuali dengan maksud untuk menjelaskan kepalsuannya. Rasulullah SAW memberikan peringatan sebagai berikut:

Contoh Hadits Maudu’:
مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مَتَعَمِّدًافَلْيَتَبَوَّوأْمَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. (رواه البخارى ومسلم وغيرهما)
Artinya:
“Barang siapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menepati tempat duduknya di neraka”. (HR. Bukhari Muslim dan lain-lain.

Banyak tanda untuk menetapkan suatu hadis maudu’. Petunjuk terpenting adalah makna hadis tersebut adalah rusak atau batil, yakni: tidak masuk akal, bertentangan dengan akal sehat, bertentangan dengan kebenaran yang sudah dapatdipastikan secara ilmiah/historis, bertentangan dengan hadis-hadis yang lebih kuat, atau bertentangan dengan ayat Al-Quran.
Berikut contoh hadis maudu’
لَايَدْخُلُ وَلَدُ الزِّنَا الْجَنَّةَ اِلَى سَبْعِ اَبْتَاءٍ
Artinya:
“ Anak zina itu tidak masuk surga hingga tujuh turunan”

Hadits tersebut bertentangan dengan ayat Al-qur’an/ Firman Allah SWT:
وَلَاتَزِرُوَازِرَتٌ وِزْرَ اُخْرى . ( الانعام : 164)
Artinya:
“Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa orang lain”. (QS.Al-An’am : 164)

b. Hadits Matruk atau Hadits Matruh
Dari segi bahasa, hadits matruk berarti yang ditinggalkan dan hadits matruh berarti dibuang. Para ulama memberikan batasan hadits matruk (hadits matruh) adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh pernah berdusta (baik berkenaan dengan hadits atau mengenai urusan lain), atau tertuduh pernah mengerjakan maksiat, atau lalai, atau banyak fahamnya.
Contoh:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْلَاالنِّسَاءُلَعُبِدَاللهُ حَقًّا.
Artinya:
“ Rasulullah bersabda, “Sekiranya tidak ada wanita, tentu Allah disembah (ditaati) dengan sungguh-sungguh”.

Hadits tersebut diriwayatkan Yaqub bin Sufyan bin Asyim dengan sanad terdiri serentetan rawi: Muhammad bin Imran, Isa bin Ziyad, Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya, Said bin Musayyab, dan Umar bin Khattab. Diantara nama-nama dalam sanad itu, Abdur Rahim dan ayahnya tertuduh pernah berdusta, oleh karena itu, hadits diatas dikenal dengan sebutan hadits matruk atau matruh.
c. Hadits Munkar
Hadits munkar, dari segi bahasa, berarti hadits yang diingkari atau hadits yang tidak dikenal. Para ulama meberikan batasan hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah yang menyalahi (berlawanan dengan) rawi yang kuat (keparcayaan).
Contoh:
مَنْ اَقَامَ الصَّلَاةَ وَ ا تَى الزَّ كَاةَ وَحَجَّ وَصَامَ وَقَرَى الضَّيْفَف (اَضَافَهُ وَاَكْرَمَهُ) دَخَلَ الْجَنَّةَ . (رواه ابن الب حاتم)
Artinya:
“ Barang siapa yang mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan haji, berpuasa dan menghormati tamu, niscaya masuk surga”. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Hadits di atas berasal dari rasulullah, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari serangkaian rawi-rawi yang lemah. Ibnu Abi Hatim sendiri memendang hadits tersebut sebagai hadits munkar, karena rawi-rawinya lemah dan matannya berlainan dengan matan hadits-hadits yang lebih kuat.

d. Hadits Muallal
Muallah, dari segi bahasa berarti yang terkena illat (penyakit atau bencana). Para ulama memberi batasan hadits muallah adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi (tidak mudah untuk diketahui) yang menjatuhkan derajatnya.
Illat yang menjatuhkan derajat hadits itu bisa terdapat pada sanad atau matan serta bisa pada keduanya.
Contoh:

Hadits tersebut diriwayatkan Yala bin Ubaid bersanad Sufyan Ats-Tsauri, dari Amru bin Dinar, dari Ibnu Umar. Matan hadits diatas sahih, tetapi sanadnya memiliki illat. Seharusnya bukan dari Amru bin Dinar, melainkan dari Abdullah bin Dinar.

e. Hadits Mudraj
Hadits Mudraj, dari segi bahasa, berarti hadits yang dimasuki sisipan. Dari segi istilah hadits mudraj adalah hadits yang dimasuki sisipan, yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. Sisipan itu pada sanad, matan dan bisa pada keduanya.
Contoh:
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ : اَ نَا زَعِيْمٌ وَالزَّعِيْمُ الحَمِيْلُ لِمَنْ امَنَ لبِ وَاَسْلَمَ وَخَاهَدَ فِى سَبِلِ اللهِ يَبِيْتُ فِى
رَيضِ الْجَنَّةِ. (رواه النّسائ)
Artinya:
“ rasulullah bersabda, “ Saya adalah zaim dan zaim itu adalah penanggung jawab bagi orang yang berimankepadaku, taat dan berjuang di jalan Allah, dia bertempat tinggal di taman surga”.(HR. Nasai)
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Nasai, dan disebut hadis mudraj, karena ungkapan وَالزَّعِيْمُ الحَمِيْلُ adalah sisipan, tidak berasal dari sabda Rasulullah SAW.
f. Hadits Maqlub
Dari segi bahasa, hadits maqlub berarti hadits yang diputar balik. Dari segi istilah hadits maqlub adalah hadits yang terjadi pemutarbalikan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain.
Bila hadits sebenarnya diriwayatkan oleh Kaab bin Murrah (misalnya), tetapi Kaab bin Murrah itu dibalik mejadi Murrah bin Kaab, maka hadits itu disebut hadits maqlub.
Contoh:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا امَرْتُكُمْ بِشَىْءٍفَاجتَنِبُوْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ
(رواه الطبرانى)
Artinya:
“Rasulullah bersabda, “ Apabila aku menyuruh kami mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah dia; apabila aku melarang kamu dari sesuatu, maka jauhilah dia sesuai dengan kesanggupan kamu.” (HR.Thabrani)
Matan hadist diatas, merupakan pemutarbalikan. Berdasarkan hadis bukhari dan muslim, seharusnya hadis itu berbunyi:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَرَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَانَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَ مَا اَ مَرْ تُكَمْ بِهِ فَا فْعَلُوْهُ مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. (رواه البخارى ومسلم)
Artinya:
“ Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “ Apa-apa yang kami cegah dari kamu semua maka jauhilah dan apa-apa yang kami perintahkan kepadamu sekalian perbuatlah menurut kemampuannya”. (HR. Bukhari-Muslim)

g. Hadits Syaz
Menurut bahasa, hadits syaz berarti hadits yang ganjil. Para ulama memberi batasan hadits syaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya, tetapi haditsnya itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. Hadits tersebut mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits lain yang kuat. Keganjilan itu dapat berupa pada sanad, matan atau pada keduannya.
Contoh:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَوْمُ عَرَفَةَ وَاَيَّامُ التَّشْرِيْقِ اَيَّامُ اَكْلٍ وَشُرْبٍ (رواه موسى بن على)
Artinya:
“Rasulullah bersabda, “ Hari Arafah dan hari tasyrik adalah hari-hari makan dan minum”. (HR. Musa bin Ali)
Hadis diatas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Kubah dengan sanad dari serentetan rawi yang dipercaya, namun matan hadis tersebut ganjil, jika dibandingkan dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya. Pada hadis-hadis lain tidak dijumpai ungkapan يَوْمُ عَرَفَةَ Keganjilan hadis di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut.

D. Status Kehujaahan Hadits Dha’if
Cacat-cacat hadits dhaif berbeda-beda, baik macamnya maupun berat ringannya. Oleh karena itu tingkatan (martabat) hadits-hadits dhaif tersebut juga berbeda. Dari hadits-hadits yang mengandung cacat pada rawi (sanad) atau matannya, yang paling rendah martabatnya adalah hadits maudu’, kemudian hadits matruk, hadits munkar, hadits muallal, hadits mudraj, hadits maqlub dan hadits-hadits lain. Dari hadits-hadits yang gugur rawi atau sejumlah rawinya, yang paling lemah adalah hadits muallaq (kecuali hadits-hadits sahih, yang diriwayatkan secara muallaq oleh Bukhari dalam kitab sahihnya), hadits mudal, lalu hadits munqati, kemudian hadits mursal.
Bila suatu hadits dhaif dimungkinkan bahwa rawinya benar-benar hapal dan menyampaikannya dengan cara yang benar, maka hal ini telah mengandung perbedaan pendapat yang serius dikalangan ulama sehubungan dengan pengalamannya.
Pendapat yang pertama; hadits dhaif tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkenaan dengan masalah halal haram, maupun kewajiban, dengan syarat tidak ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa imam, seperti; Imam Ahmad bin Hambal, Abu Dawud dan sebagainnya.
Pendapat ini tentunya berkenaan dengan hadits yang tidak terlalu dhaif, karena hadits yang sangat dhaif itu ditinggalkan oleh para ulama. Disamping itu, hadits dhaif yang dimaksud tidak boleh bertentangan dengan hadits lain.
Pendapat kedua; dipandang baik mengamalkan hadits dhaif dalam fadailul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.
Pendapat ketiga; hadits dhaif sama sekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadailil amal maupun yang berkaitan dengan halal-haram. Pendapat ini dinisbatkan kepada Qadi Abu Bakar Ibnu Arabi.
Selanjutnya yang disebut hadits maudu’ (palsu) adalah pernyataan yang sesungguhnya bukanlah hadits Nabi, tetapi beberapa kalangan menyebutnya sebagai hadits Nabi. Isi hadits palsu tidaklah selalu buruk atau bertentangan dengan ketentuan umum ajaran Islam.
Sebagian ulama memasukkan hadits maudu’ (palsu) kedalam salah satu jenis hadits dhaif, dalam hal ini adalah jenis yang paling buruk dan sebagian ulama lagi tidak memasukkannya kedalam jenis hadits.

E. Kitab-kitab yang Memuat Hadits Dhaif
Para Imam hadits telah menyusun berbagai kitab yang menjelaskan hadits-hadits maudu’. Untuk itu, mereka mencurahkan segala kemampuan untuk membela kaum muslimin agar tidak terjerumus dalam kebatilan dan untuk memurnikan agama.
Diantara kitab-kitab sumber hadits maudu’ yang terpenting adalah:
1. Al-maudu’at, karya Al Imam Al-Hafiz Abdul Faraj Abdur Rahman bin Al-Jauzi (W.597 H). Kitab ini merupaka kitab yang pertama dan paling luas bahasannya dibidang ini. Akan tetapi kekurangan kitab ini adalah banyak sekali memuat hadits yang tidak dapat dibuktikan kepalsuannya, melainkan hanya berstatus dhaif bahkan ada diantaranya yang berstatus hasan dan sahih. Hal ini melebihi batas dan hanya dikira-kira saja.
2. Al-Laali Al-Masnuah fi Al-Mauduah, karya Al-Hafizh Jalaludin Al-Suyuti (w. 911 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ibnu Al-Jauzi disertai penjelasan tentang kedudukan hadits-hadits yang bukan maudu’ dan ditambah dengan hadits-hadits maudu’ yang belum disebutkan oleh Ibnu Al-Juzi. Dengan demikian, kitab ini sangat komplit dan besar manfaatnya.
3. Tanzih Al-Syariah Al-Marfuah an Al-Ahadis Al-Syaniah Al-Mauduah, karya Al-Hafizh Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bun Iraq Al-Kannani (w.963 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ibnu Al-Jauzi dan tambahan Al-Suyuti serta tambahan ulama lainnya dalam kitab mereka. Kitab ini diberi muqqadimah yang menyebutkan nama-nama rawi yang pendusta yang jumlahnya lebih dari 1900 orang, dan hal ini merupakan suatu ilmu yang sangat berharga yang terkandung dalam kitab ini.
4. Al-Manar Al-Munif fi Al-Sahih wa Al-Daif, karya Al-Hafizh Ibnul Qayyim Al-Juziyah (w. 751 H).
5. Al-Masnu fi Al-Hadis Al-Maudu’, karya Ali Al-Qari (w. 1014 H). Kedua kitab terakhir ini ringkas dan sangat bermanfaat.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Hadits dha’if menurut bahasa berarti hadist yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasullullah SAW. Sedangkan menurut para ulama “Hadits dha’if adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
2. Kriteria hadits dha’if yaitu hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadits sahih dan hasan. Dengan demikian, hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadist hasan. Pada hadits dha’if itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
3. Secara garis besar yang menyebabkan suatu hadits digolongkan menjadi hadits dha’if dikarenakan dua hal, yaitu: gugurnya rawi dalam sanadnya dan adanya cacat pada rawi atau matan.
4. Cacat-cacat hadits dhaif berbeda-beda, baik macamnya maupun berat ringannya. Oleh karena itu tingkatan (martabat) hadits-hadits dhaif tersebut juga berbeda. Bila suatu hadits dhaif dimungkinkan bahwa rawinya benar-benar hapal dan menyampaikannya dengan cara yang benar, maka hal ini telah mengandung perbedaan pendapat yang serius dikalangan ulama sehubungan dengan pengalamannya.
5. Diantara kitab-kitab sumber hadits maudu’: Al-maudu’at, karya Al Imam Al-Hafiz Abdul Faraj Abdur Rahman bin Al-Jauzi (W.597 H), Al-Laali Al-Masnuah fi Al-Mauduah, Tanzih Al-Syariah Al-Marfuah an Al-Ahadis Al-Syaniah Al-Mauduah, Al-Manar Al-Munif fi Al-Sahih wa Al-Daif, Al-Masnu fi Al-Hadis Al-Maudu’

B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

H. Munzier Suparta. Ilmu Hadis. Jakara: PT. Raja Grafindo Persada. 2001.

Read Full Post »

Makalah Ppkn Korupsi


BAB I

PENDAHULUAN

A.        LATARBELAKANG

Akhir-akhir ini masalah korupsi sedang hangt-hangatnya dibicarakan publik, terutama dalam media massa baik lokal maupun nasional. Banyak para ahli mengemukakan pendapatnya tentang masalah korupsi ini. Pada dasarnya, ada yang pro adapula yang kontra. Akan tetapi walau bagaimanapun korupsi ini merugikan negara dan dapat meusak sendi-sendi kebersamaan bangsa.

Pada hakekatnya, korupsi adalah “benalu sosial” yang merusak struktur pemerintahan, dan menjadi penghambat utama terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Dalam prakteknya, korupsi sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin dapat diberantas, oleh karena sangat sulit memberikan pembuktian-pembuktian yang eksak.

. Namun karena penyakit tersebut sudah mewabah dan terusmeningkat dari tahun ke tahun bak jamur di musim hujan, maka banyak orang memandang bahwa masalah ini bisa merongrong kelancaran tugas-tugas pemerintah dan merugikan ekonomi Negara. Persoalan korupsi di Negara Indonesia terbilang kronis, bukan hanya membudaya tetapi sudah membudidaya.

Disamping itu sangat sulit mendeteksinya dengan dasar-dasar hukum yang pasti. Namun akses perbuatan korupsi merupakan bahaya latent yang harus diwaspadai baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat itu sendiri. Korupsi adalah produk dari sikap hidup satu kelompok masyarakat yang memakai uang sebagai standard kebenaran dan sebagai kekuasaaan mutlak. Sebagai akibatnya, kaum koruptor yang kaya raya dan para politisi korup yang berkelebihan uang bisa masuk ke dalam golongan elit yang berkuasa dan sangat dihormati. Mereka ini juga akan menduduki status sosial yang tinggi dimata masyarakat.

Praktek ini akan berlangsung terus menerus sepanjang tidak adanya kontrol dari pemerintah dan masyarakat, sehingga timbul golongan pegawai yang termasuk OKB-OKB (orang kaya baru) yang memperkaya diri sendiri (ambisi material).

B.     RUMUSAN MASALAH

1.     Apa pengertian Korupsi?

2.     Apa saja factor-faktor pendorong terjadinya Korupsi?

3.   Bagaimana Korupsi menurut pandangan Islam?

3.      Apa saja macam-macam Korupsi?

4.   Apa saja dampak Korupsi?

5.   Apa saja cara-cara untuk dapat memberantas korupsi di Indonesia?

C.    TUJUAN

1.      Mahasiswa mampu  memahami Korupsi.

2.      Mahasiswa mampu memahami dengan baik sebab-sebab Korupsi.

3.   Mahasiswa mampu memahami macam-macam Korupsi dan dampak Korupsi.

4.   Mahasiswa mampu memahami cara-cara memberantas Korupsi di Indonesia.

D.    MANFAAT

1.      Untuk megetahui pengertian Korupsi.

2.      Untuk mengetahui sebab-sebab korupsi.

3.      Untuk mengetahui macam-macam Korupsi dan dampak Korupsi.

4.      Untuk mengetahui cara-cara memberantas Korupsi di Indonesia.

E.     METODE PENULISAN

Metode penulisan makalah ini adalah kajian pustaka, yakni dengan mengkaji buku-buku  yang sesuai dengan topik yakni KORUPSI.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Korupsi.

Korupsi berasal (dari bahasa latin : corupption = penyuapan; corruptore = merusak), korupsi merupakan gejala dimana para pejabat, badan-badan negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan pemalsuan serta ketidak beresan lainnya. Adapun arti harfiah dari korupsi dapat berupa kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidak jujuran. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan sosok dan sebagainya.

1. Korup (busuk, suka menerima uang suap, uang sogok, memakai kekuasaan untuk kepentingan sendiri dan sebagainya.

2. Korupsi (perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.
3. Koruptor (orang yang melakukan korupsi).

Banyak para ahli yang mencoba merumuskan korupsi, yang jka dilihat dari struktrur bahasa dan cara penyampaiannya yang berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai makna yang sama. Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan – kekuatan formal (misalnya denagan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.

Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. Wertheim (dalam Lubis, 1970) menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang menawarkan hadiahdalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi. Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada keluarganya atau partainya/ kelompoknya atau orang orang yang mempunyai hubungan pribadi dengannya, juga dapat dianggap sebagai korupsi. Dalam keadaan yang demikian, jelas bahwa ciri yang paling menonjol di dalam korupsi adalah tingkah laku pejabat yang melanggar azas pemisahan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, pemisaham keuangan pribadi dengan masyarakat.

B.        Sebab-Sebab Korupsi

Penyebab adanya tindakan korupsi sebenarnya bervariasi dan beraneka ragam. Akan tetapi, secara umum dapatlah dirumuskan, sesuai dengan pengertian korupsi diatas yaitu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi /kelompok /keluarga/ golongannya sendiri.

Faktor-faktor secara umum yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan korupsi antara lain yaitu :

  1. Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu memberi ilham dan mempengaruhi tingkah laku yang menjinakkan korupsi.
  2. Kelemahan pengajaran-pengajaran agama dan etika.
  3. Kolonialisme, suatu pemerintahan asing tidaklah menggugah kesetiaan dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung korupsi.
  4. Kurangnya pendidikan.
  5. Adanya banyak kemiskinan.
  6. Tidak adanya tindakan hukum yang tegas.
  7. Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti korupsi.
  8. Struktur pemerintahan.
  9. Perubahan radikal, suatu sistem nilai yang mengalami perubahan radikal, korupsi muncul sebagai penyakit transisional
  10. Keadaan masyarakat yang semakin majemuk.

Dalam teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering disebut GONE Theory, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi meliputi :

  1. Greeds(keserakahan) : berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang.
  2. Opportunities(kesempatan) : berkaitan dengankeadaan organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan.
  3. Needs(kebutuhan) : berkaitan dengan faktor-faktor yamg dibutuhkan oleh individu-individu untuk menunjang hidupnya yang wajar.
  4. Exposures(pengungkapan) : berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan melakukan kecurangan.

Bahwa faktor-faktor Greeds dan Needs berkaitan dengan individu pelaku (actor) korupsi, yaitu individu atau kelompok baik dalam organisasi maupun di luar organisasi yang melakukan korupsi yang merugikan pihak korban. Sedangkan faktor-faktor Opportunities dan Exposures berkaitan dengan korban perbuatan korupsi (victim) yaitu organisasi, instansi, masyarakat yang kepentingannya dirugikan.

Menurut Dr.Sarlito W. Sarwono, faktor penyebab seseorang melakukan tindakan korupsi yaitu faktor dorongan dari dalam diri sendiri (keinginan, hasrat, kehendak, dan sebagainya) dan faktor rangsangan dari luar (misalnya dorongan dari teman-teman, kesempatan, kurang kontrol dan sebagainya).

C.    Macam-Macam Korupsi

Tindak pidana korupsi yang dilakukan cukup beragam bentuk dan jenisnya. Namun, bila diklasifikasikan ada tiga jenis atau macamnya, yaitu bentuk, sifat, dan tujuan.

1.      Berdasarkan Bentuk korupsi

Berdasarkan bentuk, korupsi terdiri atas dua macam, yaitu: Materiil dan immateriil. Jadi korupsi tidak selamanya berkaitan dengan penyalahgunaan uang negara.Korupsi yang berkaitan dengan uang termasuk jenis korupsi materiil. Contoh Seorang pejabat yang dipercaya atasan untuk melaksanakan proyek pembangunan, karena tergoda untuk mendapatkan keuntungan besarproyek yang nilainya Rp 4.000.000,00 di mark-up (dinaikkan) menjadi Rp6.000.000,00 bentuknya jelas penggelembungan nilai proyek yang terkaitdengan keuntungan uang.Sedangkan yang immaterial adalah korupsi yang berkaitan denganpengkhianatan kepercayaan, tugas, dan tanggung jawab. Tidak disiplin kerja adalah salah satu bentuk korupsi immaterial. Memang negara tidak dirugikan secara langsung dalam praktik ini. Tetapi, akibat perbuatan itu,pelayanan yang seharusnya dilakukan negara akhirnya terhambat.Keterlambatan pelayanan inilah kerugian immaterial yang harus ditanggung negara atau lembaga swasta. Begitu juga dengan mereka yang secara sengaja memanfaatkan kedudukan atau tanggung jawab yangdimiliki untuk mengeruk keuntungan pribadi.

2. Berdasarkan Sifatnya

A). Korupsi Publik

Dari segi publik menyangkut nepotisme, fraus, bribery, dan birokrasi.Nepotisme itu terkait dengan kerabat terdekat. Segala peluang dan kesempatan yang ada sebesar-besarnya digunakan untuk kemenangan kerabat dekat. Kerabat dekat bisa keponakan, adik-kakak, nenek atau kroni. Fraus, artinya, berusaha mempertahankan posisinya dari pengaruh luar. Berbagai cara dilakukan untuk kepentingan ini.

Bribery, artinya pemberian upeti pada orang yang diharapkan dapat memberikan perlindungan atau pertolongan bagi kemudahan usahanya. Bribery juga memiliki dampak yang cukup signifikan bagi kemajuan usaha. Namun, sasarannya, lebih tertujupada out put (hasil kerja). Birokrasi juga bagian tak terpisahkan dari praktik korupsi. Birokrasi yang seharusnya berfungsi mempermudah memberikan pelayanan pada masyarakat, justru berubah menjadikendala pelayanan. Orang yang datang meminta pelayanan pada birokrat seharusnya mendapat peta yang jelas dari pintu mana diamemulai usahanya. Tetapi, sebaliknya, orang langsung melihat ketidak jelasan terhadap apa yang diharapkan. Birokrasi tidak diciptakan untuk kepentingan masyarakat, tetapi kepentingan birokrat.

B). Korupsi Privat

Korupsi ditinjau dari privat, yang dimaksud privat ada dua,yaitu badan hukum privat dan masyarakat. Praktik korupsi terjadi dibadan umum privat dan masyarakat terjadi karena adanya interaksiantara badan hukum privat dengan birokrasi, antara masyarakat dengan birokrasi. Jadi, sifat interaksi yang terjadi adalah timbal balik.Interaksi tersebut menghasilkan deal-deal tertentu yang salingmenguntungkan. Jadi, korupsi tidak hanya di lembaga-lembaga institusi negara, tetapi dengan swasta bergulir, karena ada interaksi.Tanpa ada interaksi antar swasta dengan pemerintah tidak akan terjadi.

Korupsi telah didefinisikan secara jelas oleh UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 dalam pasal-pasalnya. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, terdapat 33 jenis tindakan yang dapat dikategorikan sebagai korupsi. 33 tindakan tersebut dikategorikan ke dalam 7 kelompok yakni :

1. Korupsi yang terkait dengan merugikan keuangan Negara

2. Korupsi yang terkait dengan suap-menyuap

3. Korupsi yang terkait dengan penggelapan dalam jabatan

4. Korupsi yang terkait dengan pemerasan

5. Korupsi yang terkait dengan perbuatan curang

6. Korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan

7. Korupsi yang terkait dengan gratifikasi

 

  1. D.  Pandangan Islam Tentang Korupsi

Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi sangat tegas: haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam yang ingin menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan semesta (iqâmat al-‘adâlah alijtimâ’iyyah wa al-mashlahat al-‘âmmah), korupsi juga dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang akuntabel. Oleh karena itu, baik al- Qur’an, al-Hadits maupun ijmâ’ al- ‘ulamâ menunjukkan pelarangannya secara tegas (sharih).

Dalam al-Qur’an, misalnya, dinyatakan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.” Dalam ayat yang lain disebutkan: “Hai orangorang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” Sedangkan dalam al-Hadits lebih konkret lagi, dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah melaknati penyuap dan penerima suap dalam proses hukum.” Dalam redaksi lain, dinyatakan: “Rasulullah SAW melaknati penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya.” Kemudian dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah SAW bersabda: “penyuap dan penerima suap itu masuk ke neraka.”

Ini artinya, secara mendasar, Islam memang sangat anti korupsi. Yang dilarang dalam Islam bukan saja perilaku korupnya, melainkan juga pada setiap pihak yang ikut terlibat dalam kerangka terjadinya tindakan korupsi itu. Bahkan kasus manipulasi dan pemerasan juga dilarang secara tegas, dan masuk dalam tindakan korupsi. Ibn Qudamah dalam al-Mughnî menjelaskan bahwa “memakan makanan haram” itu identik dengan korupsi. Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasysyaf juga menyebut hal yang sama. Umar Ibn Khaththab berkata: “menyuap seorang hakim” adalah tindakan korupsi.

Dalil-Dalil yang Melarang Korupsi Dalam Islam

Surat Al-Baqarah: 188

Ÿwur (#þqè=ä.ù’s? Nä3s9ºuqøBr& Nä3oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ (#qä9ô‰è?ur !$ygÎ/ ’n<Î) ÏQ$¤6çtø:$# (#qè=à2ù’tGÏ9 $Z)ƒÌsù ô`ÏiB ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Y9$# ÉOøOM}$$Î/ óOçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇÊÑÑÈ

Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya.

Surat Ali Imran :161

$tBur tb%x. @cÓÉ<oYÏ9 br& ¨@äótƒ 4 `tBur ö@è=øótƒ ÏNù’tƒ $yJÎ/ ¨@xî tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4 §NèO 4’¯ûuqè? ‘@à2 <§øÿtR $¨B ôMt6|¡x. öNèdur Ÿw tbqßJn=ôàムÇÊÏÊÈ

Artinya : Tidaklah pantas bagi seorang Nabi untuk berlaku ghulul (khianat), barang siapa yang berlaku ghulul maka akan dihadapkan kepadanya apa yang dikhianati dan akan dibalas perbuatannya dan mereka tidak akan dizhalimi.

Surat Al-Maidah : 33 dan 38

$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/͑$ptä† ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 ӓ÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã ÇÌÌÈ ž ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ

Artinya : Sesungguhnya balasan orang-orang yang berbuat hirobah (perampokan) dengan maksud memerangi Allah dan Rasulnya dan berbuat kerusakan di muka bumi dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berbeda, atau dihilangkan dari bumi (dibunuh), itulah balasan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar.

Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya, sebagai balasan bagi pekerjaan keduanya, sebagai balasan dari Allah dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

Surat Al-Kahfi : 79

$¨Br& èpoY‹Ïÿ¡¡9$# ôMtR%s3sù tûüÅ3»|¡yJÏ9 tbqè=yJ÷ètƒ ’Îû ̍óst7ø9$# ‘NŠu‘r’sù ÷br& $pkz:‹Ïãr& tb%x.ur Nèduä!#u‘ur Ô7Î=¨B ä‹è{ù’tƒ ¨@ä. >puZŠÏÿy™ $Y7óÁxî ÇÐÒÈ

Artinya : Adapun kapal adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku akan merusaknya karena di belakang mereka seorang raja yang selalu mengambil hak mereka dengan jalan ghosob.

Di samping itu, kita juga dapat menemukan hadits Rasul saw. yang secara tegas berbicara tentang kolusi dan korupsi, yaitu :

“Rasulullah -shallallahu `alaihi wasallam- melaknat orang yang memberikan uang sogok (risywah), penerima sogok dan perantara keduanya (calo).”

Lebih jauh lagi, Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis yang berasal dari ‘Addiy bin ‘Umairah al-Kindy yang bunyinya, “Hai kaum muslim, siapa saja di antara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Lalu, kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti… . Siapa yang kami beri tugas hendaknya ia menyampaikan hasilnya, sedikit atau banyak. Apa yang diberikan kepadanya dari hasil itu hendaknya ia terima, dan apa yang tidak diberikan janganlah diambil.” Sabdanya lagi, “Siapa saja yang mengambil harta saudaranya (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaan), ia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan diharamkan masuk surga.” Seorang sahabat bertanya,“Wahai Rasul, bagaimana kalau hanya sedikit saja?’ Rasulullah saw. menjawab, “Walaupun sekecil kayu siwak” (HR Muslim, an-Nasai, dan Imam Malik dalam al-Muwwatha).

Al-Jassos mengatakan bahwa pengambilan harta orang lain dengan jalan batil ini bisa dalam 2 bentuk:

1. Mengambil dengan cara zhalim, pencurian, khianat, dan ghosob (menggunakan hak orang lain tanpa izin).

2. Mengambil atau mendapatkan harta dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang, seperti dari bunga/riba, hasil penjualan khamar, babi, dan lain-lain.

 

E. Dampak Korupsi

1. Lesunya Perekonomian

Lesunya Perekonomian Korupsi memperlemah investasi dan pertumbuhan ekonomi Korupsi merintangi akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan yang berkualitas Korupsi memperlemah aktivitas ekonomi, memunculkan inefisiensi, dan nepotisme Korupsi menyebabkan lumpuhnya keuangan atau ekonomi suatu negara

2. Meningkatnya Kemiskinan

Meningkatnya Kemiskinan Efek penghancuran yang hebat terhadap orang miskin: Dampak langsung yang dirasakan oleh orang miskin Dampak tidak langsung terhadap orang miskin Dua kategori penduduk miskin di Indonesia: Kemiskinan kronis (chronic poverty) Kemiskinan sementara (transient poverty) Empat risiko tinggi korupsi: Ongkos finansial (financial costs) Modal manusia (human capital) Kehancuran moral(moral decay) Hancurnya modal sosial (loss of capital social).

3. Tingginya angka kriminalitas

Tingginya angka kriminalitas Korupsi menyuburkan berbagai jenis kejahatan yang lain dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat korupsi, semakin besar pula kejahatan. Menurut Transparency International, terdapat pertalian erat antara jumlah korupsi dan jumlah kejahatan. Rasionalnya, ketika angka korupsi meningkat, maka angka kejahatan yang terjadi juga meningkat.

3. Demoralisasi

Demoralisasi Korupsi yang merajalela di lingkungan pemerintah dalam penglihatan masyarakat umum akan menurunkan kredibilitas pemerintah yang berkuasa. Jika pemerintah justru memakmurkan praktik korupsi, maka lenyap pula unsur hormat dan trust (kepercayaan) masyarakat kepada pemerintah.

4. Kehancuran birokrasi

Kehancuranbirokrasi Birokrasi pemerintah merupakan garda depan yang behubungan dengan pelayanan umum kepada masyarakat. Korupsi melemahkan birokrasi sebagai tulang punggung negara. Korupsi menumbuhkan ketidakefisienan yang menyeluruh de dalam birokrasi.

5. Terganggunya Sistem Politik dan Fungsi Pemerintahan

Terganggunya Sistem Politik dan Fungsi Pemerintahan Dampak negatif terhadap suatu sistem politik : Korupsi Mengganggu kinerja sistem politik yang berlaku. Publik cenderung meragukan citra dan kredibilitas suatu lembaga yang diduga terkait dengan tindakan korupsi. Contohnya : lembaga tinggi DPR yang sudah mulai kehilangan kepercayaan dari Masyarakat Lembaga Politik diperalat untuk menopang terwujudnya berbagai kepentingan pribadi dan kelompok.

6. Buyarnya Masa Depan Demokrasi

Buyarnya Masa Depan Demokrasi Faktor Penopang Korupsi ditengah Negara Demokrasi  Tersebarnya kekuasaan ditangan banyak orang telah meretas peluang bagi merajalelanya penyuapan. Reformasi neoliberal telah melibatkan pembukaan sejumlah lokus ekonomi bagi penyuapan, khususnya yang melibatkan para broker perusaaan publik. Pertambahan sejumlah pemimpin neopopulis yang memenangkan pemilu berdasar pada kharisma personal malalui media, terutama televisi, yang banyak mempraktekan korupsi dalam menggalang dana.

F. Cara Memberantas Korupsi

Upaya yang Dapat Ditempuh dalam Pemberantasan Korupsi

Ada beberapa upaya yang dapat ditempuh dalam memberantas tindak korupsi di Indone-sia, antara lain sebagai berikut :

  1. Upaya pencegahan (preventif).
  1. Menanamkan semangat nasional yang positif dengan mengutamakan pengabdian pada bangsa dan negara melalui pendidikan formal, informal dan agama.
  2. Melakukan penerimaan pegawai berdasarkan prinsip keterampilan teknis.
  3. Para pejabat dihimbau untuk mematuhi pola hidup sederhana dan memiliki tang-gung jawab yang tinggi.
  4. Para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada jaminan masa tua.
  5. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin kerja yang tinggi.
  6. Sistem keuangan dikelola oleh para pejabat yang memiliki tanggung jawab etis tinggi dan dibarengi sistem kontrol yang efisien.
  7. Melakukan pencatatan ulang terhadap kekayaan pejabat yang mencolok.
  8. Berusaha melakukan reorganisasi dan rasionalisasi organisasi pemerintahan mela-lui penyederhanaan jumlah departemen beserta jawatan di bawahnya.
  1. Upaya penindakan (kuratif).

Upaya penindakan, yaitu dilakukan kepada mereka yang terbukti melanggar dengan dibe-rikan peringatan, dilakukan pemecatan tidak terhormat dan dihukum pidana. Beberapa contoh penindakan yang dilakukan oleh KPK :

  1. Dugaan korupsi dalam Proyek Program Pengadaan Busway pada Pemda DKI Jakarta (2004).
  2. Dugaan penyalahgunaan jabatan dalam pembelian tanah yang merugikan keuang-an negara Rp 10 milyar lebih (2004).
  3. Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment dan placement deposito dari BI kepada PT Texmaco Group melalui BNI (2004).
  4. Kasus penyuapan panitera Pengadilan Tinggi Jakarta (2005).
  5. Kasus penyuapan Hakim Agung MA dalam perkara Probosutedjo.
  1. Upaya edukasi masyarakat/mahasiswa.
  1. Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial terkait dengan kepentingan publik.
  2. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh.
  3. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga ke tingkat pusat/nasional.
  4. Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan peme-rintahan negara dan aspek-aspek hukumnya.
  5. Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.
  1. Upaya edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).
  1. Indonesia Corruption Watch (ICW) adalah organisasi non-pemerintah yang meng-awasi dan melaporkan kepada publik mengenai korupsi di Indonesia dan terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi me-lalui usaha pemberdayaan rakyat untuk terlibat melawan praktik korupsi. ICW la-hir di Jakarta pd tgl 21 Juni 1998 di tengah-tengah gerakan reformasi yang meng-hendaki pemerintahan pasca-Soeharto yg bebas korupsi.
  2. Transparency International (TI) adalah organisasi internasional yang bertujuan memerangi korupsi politik dan didirikan di Jerman sebagai organisasi nirlaba se-karang menjadi organisasi non-pemerintah yang bergerak menuju organisasi yang demokratik. Publikasi tahunan oleh TI yang terkenal adalah Laporan Korupsi Global. Survei TI Indonesia yang membentuk Indeks Persepsi Korupsi (IPK) In-donesia 2004 menyatakan bahwa Jakarta sebagai kota terkorup di Indonesia, disu-sul Surabaya, Medan, Semarang dan Batam. Sedangkan survei TI pada 2005, In-donesia berada di posisi keenam negara terkorup di dunia. IPK Indonesia adalah 2,2 sejajar dengan Azerbaijan, Kamerun, Etiopia, Irak, Libya dan Usbekistan, ser-ta hanya lebih baik dari Kongo, Kenya, Pakistan, Paraguay, Somalia, Sudan, Angola, Nigeria, Haiti & Myanmar. Sedangkan Islandia adalah negara terbebas dari korupsi.

G. Upaya Yang Di Lakukan Dalam Menyikapi Korupsi

1. Peran Serta Pemerintah dalam Memberantas Korupsi

Partisipasi dan dukungan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengawali upaya-upaya pemerintah melalui KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan aparat hukum lain. KPK yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk mengatasi, menanggulangi, dan memberan-tas korupsi, merupakan komisi independen yang diharapkan mampu menjadi “martir” bagi para pelaku tindak KKN.

Adapun agenda KPK adalah sebagai berikut :

a)      Membangun kultur yang mendukung pemberantasan korupsi.

b)      Mendorong pemerintah melakukan reformasi public sector dengan mewujudkan good governance.

c)      Membangun kepercayaan masyarakat.

d)     Mewujudkan keberhasilan penindakan terhadap pelaku korupsi besar.

e)      Memacu aparat hukum lain untuk memberantas korupsi.

BAB III

 

A.    KESIMPULAN

Uraian mengenai fenomena korupsi dan berbagai dampak yang ditimbulkannya telah menegaskan bahwa korupsi merupakan tindakan buruk yang dilakukan oleh aparatur birokrasi serta orang-orang yang berkompeten dengan birokrasi. Korupsi dapat bersumber dari kelemahan-kelemahan yang terdapat pada sistem politik dan sistem administrasi negara dengan birokrasi sebagai prangkat pokoknya. Keburukan hukum merupakan penyebab lain meluasnya korupsi. Seperti halnya delik-delik hukum yang lain, delik hukum yang menyangkut korupsi di Indonesia masih begitu rentan terhadap upaya pejabat-pejabat tertentu untuk membelokkan hukum menurut kepentingannya.Dalam realita atau fakta di lapangan, banyak kasus untuk menangani tindak pidana korupsi yang sudah diperkarakan bahkan terdakwapun sudah divonis oleh hakim, tetapi selalu bebas dari hukuman.Itulah sebabnya kalau hukuman yang diterapkan tidak drastis, upaya pemberantasan korupsi dapat dipastikan gagal. Meski demikian, pemberantasan korupsi jangan menjadi jalan tak ada ujung´, melainkan jalan itu harus lebih dekat ke ujung tujuan´. Upaya-upaya untuk mengatasi persoalan korupsi dapat ditinjau dari struktur atau sistem sosial, dari segi yuridis, maupun segi etika atau akhlak manusia.

B.     SARAN

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya, kiranya kritik dan saran yang membangun sangat penulis butuhkan untuk kesempurnaan makalah ini ke depannya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca sekalian, khususnya bagi penulis. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Drehel, Axel and Christos Kotsogiannis, Corruption Around the World: Evidence from a Structural Mode. 2004.

Nurul, Irfan Muhammad.2009. Tindak Pidana Korupsi di Indonesia dalam Prespektif Fiqih Jinayah. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.

htttp://www.pdfqueen.com/pdf/…/’pengertian-korupsi-menurut-para-ahli/

http://wawasanfadhitya.blogspot.com/2012/07/upaya-pemberantasan-korupsi-di-indonesia.html

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.647 pengikut lainnya.